
Untuk menyenangkan putranya, Kirana memasak spaghetti meatballs dan menyiapkan selada pada malam itu. William makan dengan lahap. Dia bahkan meminta bagian mamanya saat dia melihat Kirana tidak menghabiskan bagiannya. Kirana tidak bisa berhenti berpikir bagaimana sebaiknya dia mengatakan kepadanya tentang perjalanan dinas tersebut.
Ketika dia tidak menemukan cara lain, dia memilih untuk mengatakan yang sebenarnya. Berita itu akan menyakitinya, tetapi dia tidak punya jalan keluar yang lain. Dia harus pergi sendiri dan William tidak bisa ikut dengannya untuk kali ini.
“Menurut pendapatmu, apakah kamu bisa tidur tanpa aku membacakan buku cerita untukmu selama dua malam?” tanya Kirana sambil meletakkan gelas berisi air minum ke atas meja. William mengangkat kepalanya. Mamanya tersenyum lalu membersihkan saus tomat di pipinya dengan tisu.
“Kamu capai, Mom? Tidak apa-apa. Aku juga capai. Aku pasti bisa langsung tidur. Kamu tidak perlu membacakan cerita untukku.” ucap William pengertian. Kirana tersenyum sedih.
“Bagaimana kalau makan malam bukan aku yang memasak? Apa kamu masih mau makan?” tanya Kirana pelan. Mata William membulat senang.
“Piza? Aku mau!” soraknya senang. Kirana tertawa. Setiap kali dia tidak memasak itu artinya mereka akan memesan makanan dari salah satu restoran kesukaannya.
“Iya. Kamu boleh pesan piza.” Kirana mengizinkannya. William mulai mengkhayalkannya seraya mengangkat garpu yang penuh dengan spageti ke mulutnya. Bahkan saat sedang menikmati makanan kesukaannya, dia masih bisa memikirkan makanan kesukaannya yang lain.
“Aku mau lebih banyak pepperoni nanti, juga lebih banyak daging.” pintanya. Kirana tersenyum.
“Kalau aku tidak tidur di rumah selama dua malam pada akhir pekan ini, apa kamu akan baik-baik saja?” tanya Kirana lagi. Pertanyaan terakhir itu membuat William menatap mamanya begitu lama.
“Mom,” William melingkarkan tangannya di pinggang Kirana. “Apa aku telah melakukan hal yang salah? Apa aku sudah membuatmu sedih? Maafkan aku, Mom. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku mencintaimu, Mom, sepenuh hatiku.”
“Tidak, sweetheart. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu anak yang baik.” Kirana membelai rambutnya lalu menciumnya. “Aku harus pergi selama dua malam pada akhir pekan ini. Aku pergi pada hari Jumat dan pulang pada hari Minggu malam. Ada pekerjaan yang harus aku lakukan.”
__ADS_1
“Mengapa aku tidak bisa ikut bersamamu?” isak William. Dada Kirana mulai terasa sesak. “Kamu selalu pergi bersamaku, Mom. Selalu. Mengapa kali ini aku tidak bisa ikut?”
“Tidak bisa, Will. Kalau ini untuk berlibur, aku dengan senang hati akan membawamu bersamaku. Tapi aku tidak mungkin membawamu untuk urusan pekerjaan. Aku tidak bisa makan, menonton, berenang, atau bermain bersamamu.” Dia berusaha untuk menjelaskannya sesederhana mungkin.
“Tapi hari Minggu ini hari ulang tahunku, Mom.” protes William setengah menangis.
“Aku sudah membeli kadomu. Aku tidak lupa. Aku janji aku juga tidak akan lupa membeli cupcake kesukaanmu.” ucapnya meyakinkan putranya.
“Kamu tega meninggalkan aku di sini seorang diri? Kamu serius? Aku bahkan belum genap lima tahun, Mom.” isaknya. Di dalam hatinya, Kirana mengutuk Miles dengan berbagai jenis kecelakaan agar segera menimpanya. Dia benci saat harus melihat putranya menangis sesedih ini.
“Tentu saja kamu tidak akan tinggal sendiri. Miss Helen yang akan menemanimu selama aku tidak ada.” ucapnya memberitahukan. Kirana membiarkan putranya menangis untuk beberapa saat. Mereka tidak akan bisa bicara bila dia masih menangis seperti ini.
Dia juga perlu mencari kalimat yang tepat untuk meminta pengertiannya. Bukan hanya putranya, dia pun sulit untuk memutuskan hal ini. Meskipun Helen adalah orang yang mereka kenal, dia tidak sepenuhnya bisa memercayakan William dalam pengawasannya. Menyerahkannya selama beberapa jam di tempat penitipan jelas jauh berbeda dengan memercayakannya selama tiga hari dua malam kepada orang lain.
“Tentu saja boleh.” Dengan mudah dia mengizinkannya.
“Banana split?” tanyanya lagi. Kirana menyipitkan matanya.
“Boleh.” jawabnya penuh curiga.
“Hamburger?” tanya William penuh harap. Kirana bersiap untuk menolak ketika putranya masih menambahkan, “Mom, kamu akan meninggalkan putramu selama tiga hari. Kamu harus membuatnya bahagia agar dia menjawab iya.”
__ADS_1
“Will, kamu tahu bahwa kamu tidak bisa memakan semua itu dalam tiga hari berturut-turut.” tolak Kirana dengan mendesah berat. “Ingat, makanan cepat saji tidak sehat untuk tubuhmu. Lebih sehat kalau aku yang memasakkan semua makanan itu untukmu. Aku janji akan memasak makanan favoritmu saat aku sudah di sini lagi.”
“Oke.” William mengalah. “Apa kamu akan meneleponku?”
“Aku akan meneleponmu setiap pagi dan malam.” janji mamanya. William mendesah penuh drama.
“Baiklah. Kamu boleh pergi. Tapi harus kembali pada hari Minggu malam.” ancam William. Kirana mendesah lega.
“Aku akan pulang pada hari Minggu malam. Terima kasih banyak, sayang.” Kirana melingkarkan tangannya di tubuh kecil putranya.
“Will.” protes William. Kirana memutar bola matanya. Tetapi dia senang segalanya telah kembali dengan normal.
“Terima kasih banyak, Will.” ucapnya menurut.
“Aku akan rindu kamu, Mom.” William mempererat pelukannya. Kirana tersenyum.
“Aku juga akan merindukanmu.”
Sebelum tidur, William menolong mamanya mengepak pakaian ke dalam sebuah koper kecil. Dia bahkan memasukkan satu bukunya untuk dibacakan oleh mamanya lewat telepon. Dia juga memilihkan pakaian apa yang harus dipakai mamanya selama tiga hari itu. Saat dia memasukkan sebuah gaun tidur, Kirana diam-diam mengeluarkannya lagi. Dia tidak bisa membawa pakaian sejenis itu. Itu akan memberi sinyal yang salah kepada Romeonya.
Romeonya. Seolah-olah nanti mereka akan tinggal di kamar yang sama. Dia sudah bilang bahwa mereka akan tidur di kamar yang berbeda. Hal itu melegakan. Tetapi dia merasakan penolakan halus saat mendengar Miles mengatakannya siang tadi. Pria itu telah menciumnya berulang kali. Apakah dia keliru membaca tandanya? Mungkinkah pria itu tidak menginginkannya lagi.
__ADS_1
Tidak, tidak, tidak. Dia tidak bisa berharap bahwa mereka akan kembali bersama lagi. Mereka tidak punya hubungan apa pun. Yah, dia melamar, tetapi Kirana telah menolaknya. Bagaimana mungkin dia membicarakan pernikahan saat mereka baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun berpisah? Miles mendorongnya menjauh dengan sikap antusiasnya. Pada saat yang bersamaan, pria itu menarik perhatiannya begitu kuat sehingga dia tidak kuasa menolaknya.
Dia harus berhati-hati saat mereka berada di Singapura nanti. Kirana harus menghindarinya sejauh yang dia bisa. Dia jatuh begitu mudah pada pertemuan pertama mereka di masa lalu. Bisakah dia menolak pria itu selama dua malam mereka bersama nanti? Tidak. Pertanyaan yang benar adalah apakah dia ingin menolak pesona pria itu? Ya ampun, dia benar-benar menyedihkan. Dia menolak pria itu dengan pikirannya ketika di sisi lain tubuhnya justru mendambakan sentuhannya.