
Pria bertubuh besar, gemuk, dan setengah botak duduk di belakang meja di tengah kantor tersebut. Dia tersenyum lebar ketika Kirana menghampirinya. Kirana menyukainya karena dia adalah atasan yang baik dan menyenangkan. Hal yang membuatnya percaya bahwa tidak baik menilai orang hanya dari penampilan fisiknya semata.
“Kirana, silakan duduk.” ucap pria itu dengan ramah kepadanya.
“Saya tidak tahu kita ada urusan penting hari ini, Pak. Bukankah rapat manajerial kita baru akan dilaksanakan pada hari Senin depan?” tanya Kirana heran.
“Ini bukan mengenai pekerjaan.” Dia mengulurkan sebuah amplop kepadanya. “Aku harap kamu tidak keberatan sedikit lembur malam ini untuk berkemas-kemas.” Pria itu tersenyum penuh arti. Kirana mengerutkan keningnya saat membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya.
“Tiket pesawat ke Mataram?” Kirana membulatkan matanya.
“Iya. Ucapan terima kasih untuk pekerjaan baikmu selama tahun ini. Seperti biasa, hotel, dan akomodasi sudah beres. Paket tur juga sudah dipesan.” ucap pria itu menjelaskan. Wajah terkejut Kirana berubah.
“Saya akan tinggal di mana, Pak? Mataram? Senggigi?” tanyanya harap-harap cemas.
“Kamu harus menunggu besok untuk mengetahuinya. Itu kejutan.” Pria itu mengedipkan sebelah matanya. Kirana tersenyum bahagia.
“Terima kasih banyak, Pak.” ucapnya terharu. Meskipun sudah dua kali mendapatkan paket liburan gratis dari perusahaannya, Kirana tidak pernah menyangka bahwa dia akan terus seberuntung itu. Dia bekerja dengan baik karena perusahaan ini telah menolongnya bangkit dari keterpurukan. Dia tidak pernah mengharapkan imbalan apa pun selain mendapatkan haknya sebagai karyawan, yaitu gaji bulanannya.
“Tidak. Akulah yang berterima kasih. Penjualan kantor cabang kita yang paling tinggi dari kantor cabang lainnya. Kantor pusat sangat puas. Terima kasih kepadamu.” Pria itu tersenyum semringah.
“Apakah itu artinya saya boleh mengajak teman-teman untuk fieldtrip akhir minggu depan?” tanya Kirana penuh harap.
Pada dua bulan terakhir, dia telah menguras tenaga dan pikiran rekan-rekannya di bagian pemasaran. Mereka layak mendapatkan satu hari berlibur bersama dengan berjalan-jalan di tempat hiburan. Salah satu bentuk apresiasinya atas kerja keras mereka. Dia sudah mengajukan permohonan fieldtrip awal minggu ini namun belum mendapatkan respons.
__ADS_1
“Tentu saja. Berikan kepadaku proposalnya, akan aku tanda tangani.” ucap Simon cepat. Wajah Kirana semakin cerah.
“Terima kasih banyak, Pak.” Kirana mengulurkan tangannya. Sambil tertawa terbahak-bahak, atasannya menerima uluran tangannya.
“Selamat berlibur.” ucapnya di tengah-tengah tawanya.
“Saya harap kali ini saya tidak akan menemukan Bapak dan keluarga di kamar sebelah saya.” ucap Kirana setengah bercanda.
Tahun lalu saat dia ke Sabang, dia terkejut mendapati atasannya tersebut juga berlibur bersama keluarganya di sana. Yang paling mengejutkan, mereka menginap di hotel yang sama, di kamar yang berada tepat di samping kamarnya. Tentu saja dia tidak keberatan. Tetapi dia tidak suka kejutan.
“Tidak. Tidak tahun ini.” Pria itu masih tertawa terbahak-bahak.
Tepat pada jam dua belas siang, Kirana menghentikan pekerjaannya. Dia meraih tas sandangnya dan tas bekalnya lalu berjalan keluar dari ruangannya. Di lantai dasar, dia bergegas menuju pintu masuk utama. Dia tersenyum saat petugas keamanan yang bertugas tersenyum kepadanya. Begitu keluar dari pintu, terdengar bunyi klakson. Sebuah mobil berhenti di dekatnya. Kirana menoleh.
“Ng, aku tidak bisa. Aku,” Kirana kesulitan mencari kata yang tepat untuk menolak ajakan itu.
“Kami tahu Ibu mau ke mana.” Pria itu keluar lalu membukakan pintu tengah untuknya. “Kita satu arah. Ayo, Bu. Daripada Ibu berdesakan di dalam bus.”
“Kalian memang keras kepala.” Kirana masuk ke dalam mobil. Pria itu hanya tertawa. “Terima kasih.”
Mereka berbincang mengenai rencana pemasaran mereka pada akhir pekan itu. Kirana memuji dan memberi masukan di mana perlu. Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di depan gedung sekolah putranya. Kirana keluar dan berterima kasih kepada kedua bawahannya tersebut.
William segera berlari mendekatinya. Kirana memintanya mengambil tasnya agar mereka bisa segera berangkat. Sembari menunggu, dia menyampaikan kepada guru putranya bahwa dia tidak akan masuk sekolah esok hari dan mengenai rencana kepergian mereka. Wanita muda itu tersenyum kepadanya dan mengucapkan selamat menikmati akhir pekan. Kirana mengucapkan hal yang sama. William kembali sambil membawa tasnya. Mereka pamit kepada gurunya dan bergegas menuju halte bus.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di tempat penitipan anak yang berada tidak jauh dari kantor Kirana. Mereka makan siang bersama. Dengan riang, putranya bercerita mengenai pelajaran mereka di sekolah pada hari itu. Sepuluh menit kemudian, dia mencium putranya dan pamit. Jarak antara tempat penitipan tersebut dengan kantornya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Tepat pada jam satu siang, dia sudah sampai di lantai di mana ruangannya berada. Bawahannya sudah mengantri untuk menunjukkan laporan mereka masing-masing. Kirana tersenyum dan mempersilakan mereka semua untuk masuk ke ruangannya. Dia meminta asistennya untuk menyiapkan minuman. Pada jam lima sore, pekerjaannya telah selesai. Asistennya pamit dan dia pun keluar dari ruangannya.
Setelah menjemput William, mereka pulang bersama-sama. Kirana menceritakan tentang rencana mereka pergi berlibur pada keesokan hari. Putranya bersorak senang. Dia membantu mamanya mengepak pakaian mereka. Satu koper berukuran sedang telah siap diisi dengan barang-barang pribadi mereka. Tas ransel kecil milik William juga telah diisi dengan buku, boneka binatang, dan mainan yang dipilihnya untuk dibawa.
Dengan buku pilihan William, Kirana membacanya hingga putranya tertidur. Dia memperbaiki letak selimut anaknya, mengatur suhu kamar, mematikan lampu kamar, dan membiarkan pintunya sedikit terbuka. Dia tidur di kamar di sebelah kamar anaknya. Tanpa menutup pintu kamarnya, dia berbaring di tempat tidur. Dan air matanya jatuh saat tidak ada tangan yang melingkari tubuhnya. Tidak ada dada bidang yang menghangatkan punggungnya. Dia merindukan Romeonya.
Keesokan harinya, mereka tiba di bandara satu jam sebelum keberangkatan. Kirana mendudukkan William di troli sehingga dia lebih mudah berjalan dengan cepat. Antrian telah sepi, dia bergegas menuju konter check-in. Setelah mendapatkan boarding pass, dia mendesah lega. Tanpa kopernya, dia lebih mudah berjalan sambil menggandeng tangan putranya.
“Kita hampir terlambat karena kamu terlambat bangun, Mom.” tuduh William.
“Kalau kamu tidak menghabiskan begitu banyak waktu untuk sarapan, kita sudah sampai di sini tiga puluh menit yang lalu.” balas Kirana tidak mau kalah. Mereka berjalan, nyaris berlari, menuju eskalator.
“Aku ingin tinggi seperti teman-temanku. Aku harus banyak makan.” protes William. Kirana memutar bola matanya.
“Kamu hanya menambah pengeluaran, bukan menambah tinggi badan.” ralat Kirana.
“Aku harus ke toilet, Mom.” ucap William saat mereka melewati toilet.
“Nanti setelah kita di dekat ruang tunggu.” tolak Kirana dengan cepat. Di sana juga ada toilet yang bisa mereka gunakan.
“Ngga tahan lagi, Mom.” William menarik tangan mamanya. Kirana menggeram pelan dan terpaksa menuruti keinginannya.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam toilet wanita. Tidak ada yang sedang mengantri di dalam. Kirana memilih bilik terdekat. Dia menutup pintu dan menguncinya. Ikat pinggang William dilepasnya, begitu juga kancing dan ristleting celananya, lalu dia membiarkannya menggunakan kamar mandi. Setelah selesai, Kirana merapikan celana dan baju putranya kembali. Sekali lagi, mereka bergegas menuju ruang tunggu penumpang.