Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 14


__ADS_3

Pada siang harinya, dua mobil telah menunggu di depan pintu hotel untuk membawa mereka pada pembukaan restoran. Setelah acara pembukaan singkat, mereka masuk ke dalam restoran tersebut dan menikmati hidangan khas Asia yang tersedia pada meja besar di tengah dan sudut ruangan. Makanan kesukaan Miles, khususnya makanan Asia. Karena setiap makanan kaya akan berbagai jenis bumbu dan cita rasa, jauh lebih baik dibandingkan dengan makanan khas dari negaranya sendiri.


Miles mengerutkan keningnya. Saat mencuci tangan, dia merasakan perih dan gatal pada jarinya. Dia memeriksa satu-persatu jari kanannya. Tidak ada yang aneh. Mungkin hanya sisa air kolam yang masih terasa di lipatan antara jemarinya. Dia mengeringkan tangan dengan handuk yang tersedia lalu kembali ke meja di mana koleganya berada. Minuman mereka masing-masing telah diantar bahkan tanpa mereka pesan. Semua disajikan sesuai selera masing-masing. Untuk Miles, kopi hitam.


Mereka kenyang karena begitu banyak makanan yang disajikan. Saat Gregory mengajak mereka untuk berkeliling dapur, serentak mereka setuju. Manajer restoran tersebut mengantar mereka berkeliling sambil menjelaskan setiap bagian yang mereka masuki. Dengan singkat dan jelas, dia menjawab setiap pertanyaan yang mereka ajukan.


Miles tersenyum melihat manajer restoran tersebut begitu muda. Hal yang dia sukai dari para koleganya. Mereka tidak selalu mempekerjakan orang-orang berpengalaman tetapi juga memberi kesempatan pada anak-anak muda yang punya semangat kerja dan ide-ide brilian. Hasilnya tidak mengecewakan.


Mereka diantar kembali ke hotel pada sore hari. Setelah menyepakati jam bertemu kembali di restoran untuk makan malam, mereka menuju kamar masing-masing. Miles melirik jam tangannya dan memutuskan menggunakan dua jam itu untuk berolahraga di ruang kebugaran. Berganti baju dengan pakaian olahraga, dia kembali merasakan gatal-gatal pada jari kanannya.


Dia memeriksa jemarinya di kamar mandi. Ada bercak merah pada jari manis kanannya, di antara cincin kawinnya. Dia melepas cincin tersebut dan melihat jarinya merah dengan bercak putih tepat di dua garis bekas bagian tepi cincin tersebut. Dia mencuci tangan menggunakan sabun lalu menyimpan cincinnya di dalam dompetnya. Iritasi kulitnya bisa saja tidak membaik jika dia memakai cincin tersebut.


Pada hari berikutnya, mereka makan malam bersama di rumah keluarga Gregory. Mereka disambut dan dilayani dengan ramah oleh istrinya yang cantik. Anak-anaknya juga begitu riang dan ramah kepada mereka. Pada hari selanjutnya, mereka menikmati hari di kapal pesiar. Dengan bebas, mereka memancing ikan dan menyelam. Mereka tertawa setiap kali ponsel mereka tidak berhenti berbunyi karena telepon, pesan, dan surel yang masuk. Pada hari terakhir, mereka melakukan kegiatan masing-masing dan bertemu pada malam harinya untuk minum di bar.

__ADS_1


Pada hari Jumat siang, para koleganya bersiap untuk kembali ke negara mereka masing-masing. Miles mengantar mereka sampai ke depan pintu utama hotel. Mereka masing-masing mendapat mobil yang berbeda yang siap mengantar mereka ke bandara, termasuk koleganya yang berasal dari Singapura yang akan berakhir pekan di Phuket bersama keluarganya.


“Jangan lupa kunci pintu kamarmu, Miles. Kamu takkan pernah tahu siapa yang akan mengetuk pintumu malam ini.” goda salah satu koleganya.


“Oh, ayolah, guys. Hentikan semua itu.” ucap Miles pura-pura marah.


“Semangatlah, kawan. Kamu terlalu tegang.” hibur yang lain. Sambil tertawa mereka masuk ke dalam mobilnya masing-masing.


Satu-persatu dokumen ditandatanganinya lalu dimasukkan ke dalam mesin pemindai. Hasil pemindaian dikirimnya ke surel Kemala dan Reynand untuk diedit atas sepengetahuan asistennya tersebut. Puas dengan pekerjaannya hari itu, dia meregangkan badannya. Laptop, mesin pencetak, dan mesin pemindai dimatikannya. Dia tidak mau melewatkan jam olahraganya pada sore itu meskipun banyak pekerjaan.


Miles menikmati sorenya berlari di atas treadmill. Hanya ada dua orang wanita mencoba untuk bicara dengannya. Yang satu ditolak dengan halus. Yang lain, karena memaksa terus, diabaikannya saja. Di sini dia tidak bisa mengancam untuk memanggil petugas keamanan. Dia tidak ingin membuat Gregory susah. Puas berolahraga, dia kembali ke kamarnya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, dia berdiri di depan cermin. Dia memerhatikan bayangannya baik-baik. Rambutnya sengaja tidak dia beri jel hingga terlihat alami. Wajahnya rapi telah bercukur tadi pagi. Kulitnya pucat terlalu lama berada di dalam ruangan. Walau dia suka memiliki kulit kecokelatan, dia tidak suka berjemur di bawah sinar matahari langsung. Dengan kemeja biru tua yang dikenakannya, mata biru cerahnya semakin bercahaya.

__ADS_1


Apa yang dilihat orang banyak sehingga mereka menoleh ke arahnya setiap kali berpapasan? Apa yang dilihat para wanita yang tidak dia lihat yang membuat mereka terus mencoba menarik perhatiannya? Apakah karena rambut pirang dan mata birunya? Ataukah karena bentuk badannya yang atletis? Lalu mengapa yang menarik perhatian orang banyak, tidak bisa menarik perhatian istrinya sama sekali? Mungkinkah dia hanya menarik kalau bisa memberi istrinya seorang anak? Itukah masalahnya?


Tidak! Dia memperpanjang masa tinggal di hotel itu bukan untuk meratapi pernikahan atau menyiksa diri dengan mengingat semua tuduhan istrinya. Dia ingin mencari ketenangan dan menikmati liburan jauh dari pekerjaan dan pernikahannya. Jika ada hal pada dirinya yang menarik perhatian para wanita, berarti dia pria yang menarik. Titik. Tidak perlu mengaitkannya dengan istrinya. Saat pulang nanti, dia akan memikirkan ini kembali. Tetapi sekarang, dia ingin menjauh dari masalahnya.


Seperti malam-malam sebelumnya, restoran hotel itu ramai dengan pengunjung. Ingin merayakan malam pertama liburannya, dia memesan segelas anggur merah. Dia selalu suka warna merah. Dia menghirup anggur itu sebelum meminumnya. Bila ada minuman yang lebih baik dari kopi hitam kesukaannya, maka itu adalah anggur, lebih tepatnya anggur merah.


Dia baru saja meletakkan gelasnya ketika bayangan merah datang dari sisi kanannya. Dia menoleh. Seorang wanita bergaun merah mengikuti seorang pelayan pria menuju meja kosong tidak jauh dari hadapannya. Rambut panjangnya digerai menutupi seluruh punggungnya dengan ikal indah pada ujungnya. Yang membuat dia bersiul adalah lekuk tubuhnya yang sempurna. Dengan tinggi badannya, wanita itu tidak ragu menggunakan sepatu hak tinggi. Dia menyukai wanita yang penuh rasa percaya diri.


Dari jarak itu, dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita tersebut. Dari warna rambut dan bentuk wajah jelas sekali dia orang Asia. Warna kulitnya yang membuat dia bingung. Mungkin dia campuran. Tepatnya dari negara yang mana, dia tidak bisa menebaknya. Kemungkinan besar Asia Tenggara. Itu pun tidak banyak membantu karena ada banyak negara di Asia Tenggara selain Indonesia dan Singapura di mana dia telah banyak menghabiskan waktunya.


Tetapi dia tidak akan pernah tahu jawabannya. Dia tidak punya niat menambah teman wanita. Apalagi di negeri orang. Lagipula, tidak mungkin dia datang sendiri ke tempat ini. Mungkin sebentar lagi suami atau kekasihnya akan datang. Melihat pilihan gaunnya, tentulah ada yang dirayakannya malam ini.


Memangnya andai dia datang sendiri, apa yang akan kamu lakukan, Miles? Kamu sudah menikah. Kamu telah menolak semua wanita yang datang ke kamarmu atau yang menyapa dan terang-terangan menggodamu. Maka kamu juga bisa menolak pesona wanita bergaun merah itu. Atau kamu mulai tergoda hanya karena warna merah adalah warna kesukaanmu?

__ADS_1


__ADS_2