
Siap untuk melanjutkan hidup, akhir pekan itu Miles membereskan barang-barang pribadi milik istrinya. Para pembantunya di rumah menolongnya. Miles mempersilakan mereka mengambil apa pun yang mereka sukai. Sepatu, tas, asesoris, baju, atau buku. Sisanya akan dia sumbangkan. Seluruh perhiasan milik istrinya dia jual, termasuk cincin pertunangan dan cincin kawinnya. Rekening pribadi istrinya dia tutup. Mobilnya juga dia jual. Tidak ada satu barang pun yang dia simpan.
Segala peralatan memasak dan makan serta perabotan yang dibeli sejak istrinya tinggal bersamanya, dia jual. Dia mengganti semuanya dengan yang baru. Seluruh ruangan dicat ulang, seluruh keramik dibongkar dan diganti dengan yang baru, termasuk dinding dan lantai kamar mandi di mana istrinya meninggal. Tanaman dan bunga di kebun dicabut dan diganti dengan yang baru.
Hari itu tepat satu tahun kematian almarhumah istrinya. Dia mengunjungi makamnya pada saat istirahat makan siang. Buket bunga kesukaan istrinya dia letakkan di atas makamnya. Tidak ada lagi yang dia rasakan untuk wanita yang telah bersamanya selama dua puluh tahun itu. Tidak ada marah, benci, juga tidak ada lagi cinta. Terlalu banyak kebohongan di dalam pernikahan mereka. Kini pernikahan itu terasa tidak nyata lagi. Entah apa yang membuatnya dahulu mau mempertahankannya.
“Aku memaafkan perbuatanmu, Angelica. Semuanya. Sayang sekali kamu lebih memilih jalan pintas daripada melibatkan aku menghadapi masalahmu. Itu penyesalanku yang terdalam.” ucap Miles pelan. Masih banyak pertanyaan di dalam kepalanya, namun jawabannya dibawa istrinya ke alam baka.
Pergi dari tempat itu, Miles berjanji di dalam hati. Dia tidak akan pernah kembali lagi. Tidak ada yang perlu dikenang atau diingat dari seorang Angelica di dalam hidupnya. Satu hari dalam satu tahun juga tidak layak diberikan kepadanya. Tanpanya, dia bahagia bahkan bisa menikmati hidupnya yang bebas. Tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi tuntutan egois dari seorang istri. Dia bahagia sekarang.
Pada hari Senin itu matahari bersinar sangat cerah, secerah wajah Miles. Para pembantu dan sopirnya senang melihat ekspresi wajahnya. Bahkan di tempat kerjanya pun semua orang kembali bersikap normal. Tidak ada lagi yang melihatnya dengan wajah prihatin. Asistennya kembali mengeluh karena atasannya itu tidak membiarkannya beristirahat sejenak dengan perintah demi perintah yang diucapkannya. Miles hanya tertawa kecil.
“Pak, Ibu Tisha ingin menemui Anda.” ucap Kemala melalui interkom.
“Persilakan dia masuk.” ucap Miles. Begitu pintu ruangannya terbuka, seorang wanita muda yang tersenyum ramah itu mendekati meja kerjanya. “Silakan duduk, Tisha.”
“Tidak perlu, Pak. Terima kasih. Saya hanya sebentar.” Dia meletakkan amplop yang dibawanya ke atas meja Miles. Pria itu mengerutkan keningnya.
“Jangan bilang kamu mau mengundurkan diri.” Miles menyipitkan matanya. Wanita itu menunjukkan cincin pertunangan yang tersemat di jari manisnya.
“Saya akan menikah bulan depan, Pak. Saya tidak bisa bekerja di sini lagi karena akan ikut tunangan saya yang bekerja di kota lain. Dan Bapak tahu itu.” Dia mengingatkan atasannya.
__ADS_1
Iya, tentu saja dia mengetahuinya. Tetapi dia berpura-pura tidak memedulikannya. Wanita ini adalah kehilangan terbesar yang pernah dialami oleh perusahaannya. Dia masih tidak percaya bahwa semua usahanya untuk mengubah pikiran wanita itu tidak berhasil sama sekali. Padahal gaji dan fasilitas yang didapatkan calon suaminya dari perusahaan di mana dia bekerja, jauh lebih rendah darinya.
Di sisi lain, dia bisa memahami alasan wanita itu tetap pada pendiriannya. Dia sedang jatuh cinta. Itu bukanlah hal yang dialami setiap hari dengan setiap orang. Itu bisa jadi pengalaman satu-satunya dalam kehidupannya, jadi wajar saja jika dia tidak mau melepaskan kesempatannya untuk menikah dengan pria yang baik. Dia pernah berada pada posisi itu, jatuh cinta kepada seorang wanita hingga rela melakukan apa saja demi kebahagiaannya.
“Mengapa kalian semua selalu lebih memilih cinta daripada pekerjaan?” ucap Miles sarkas. Wanita itu tertawa geli. “Tidak bisakah kamu tetap bekerja di sini demi aku?”
“Tidak bisa, Pak.” Tisha menggelengkan kepalanya. “Paling lama saya akan menunggu satu bulan ke depan sampai Anda mendapatkan pengganti saya.”
“Kamu pegawaiku yang paling setia dan berprestasi. Tidak akan mudah mencari penggantimu.” keluh Miles. Wanita itu tersenyum.
“Bapak tahu saya tidak akan berubah pikiran apa pun yang Bapak katakan ‘kan?” goda wanita itu.
“Saya permisi, Pak. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.” Dia membalikkan badan lalu berjalan menuju pintu.
“Kalau perusahaanku sampai bangkrut, itu semua salahmu. Aku pasti akan menuntutmu.” ancamnya.
“Silakan, Pak.” Wanita itu tertawa kecil lalu keluar dari ruangan Miles.
Dia mendesah pelan lalu menekan tombol interkomnya. “Kemala, panggil kepala bagian SDM ke kantorku sekarang.”
“Baik, Pak.” balas Kemala.
__ADS_1
Miles berjalan dengan resah di kantornya. Lima menit kemudian ada yang mengetuk pintu dan seorang pria muda masuk ke dalam ruangannya. Dia membawa beberapa map di tangannya. Miles menatap map itu dengan kesal lalu mempersilakannya duduk. Pria itu tersenyum melihat ekspresi atasannya tersebut.
“Kalian semua mengesalkan. Setelah bekerja bertahun-tahun bersamaku, kalian meninggalkan aku demi pacar kalian.” ucap Miles kesal. Dia kembali duduk di kursinya, sedangkan pria itu duduk di depannya.
“Tisha sudah memberitahu mengenai rencana pengunduran dirinya berminggu-minggu yang lalu, Pak. Itu bukan keputusan yang mendadak. Tidak seharusnya Anda marah karena hal ini. Anda tidak marah saat mendengarnya pertama kali.” ucapnya heran.
“Iya. Tapi beritahu aku, siapa yang mau menolak gajinya dinaikkan tiga kali lipat, diberi fasilitas mobil dan liburan dua kali setahun yang semuanya ditanggung oleh perusahaan, naik jabatan begitu posisi di atasnya lowong?” Miles menunggu pria itu menjawab. Tetapi dia malah menjawabnya sendiri. “Tidak ada! Baru kalian yang berani menolaknya.”
“Kalau bapak begitu khawatir akan kesulitan mencari penggantinya, saya sudah membawa beberapa calon dari bawahan Tisha dan kantor cabang, Pak. Mereka sangat kompeten dan menunjukkan prestasi kerja yang memuaskan.” Pria itu memberikan tumpukan map yang dibawanya kepadanya. Miles menggelengkan kepalanya, menolak map tersebut.
“Aku tidak mau tahu. Kalian saja yang urus semuanya. Pekerjaanku menumpuk dan aku benci harus melakukan wawancara lagi. Segera beritahu aku begitu kalian mendapat tanggal wawancaranya. Minta Kemala menyisipkannya di jadwalku. Kalau harus membatalkan salah satu janji temu, dia tahu apa yang harus dia lakukan.”
“Baik, Pak. Ada lagi?” tanyanya sopan.
“Tidak. Kamu boleh kembali ke ruanganmu.” Miles mempersilakannya untuk pergi.
“Baik, Pak.” Pria itu berdiri lalu berjalan menuju pintu.
“Nathan,” panggil Miles. Pria tadi berhenti dan menoleh ke arahnya. “Kalau kamu mau menikah, pastikan istrimu yang ikut denganmu. Bukan kamu yang ikut dengannya.”
Pria itu hanya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1