
Kirana bersikap seperti anak kecil pada pertanyaannya yang tidak dijawab. Tetapi Miles tidak mau dia pergi dan menutup diri darinya lagi. Dia memeluknya sampai dia berhenti memberontak. Dia tidak mengerti apa yang membuat wanita itu begitu marah. Dia sendiri yang berinisiatif mengenai kesepakatan tidak ada pembicaraan pribadi. Dan dia yang menolak ide itu sekarang?
Tetapi Kirana benar. Dia tidak ingin wanita itu menganggapnya hanya menginginkan tubuhnya dengan tidur bersamanya. Jika dia serius ingin menikahinya, maka wanita itu perlu mengetahui segala hal yang akan memengaruhi hubungan mereka di masa depan. Dia harus menjawab setiap keingintahuannya. Bukankah rasa ingin tahunya mengenai kehidupan pribadinya adalah salah satu bukti bahwa dia peduli kepadanya?
“Dia menginginkan seorang anak, oke?” akunya setelah yakin bahwa dia siap untuk menceritakan sisi gelap hidupnya kepada Juliettnya. Kirana mendadak berhenti memberontak untuk lepas darinya. Dia melihat ke arah Miles, mengharapkan dia melanjutkan ceritanya. “Dan setelah sepuluh tahun kami berkonsentrasi pada hal itu, aku tidak bisa membuatnya hamil. Setiap kali dia haid, kami bertengkar hebat. Tapi setiap kali dia sedang subur, kami berhubungan intim.”
“Sepuluh tahun terus direndahkan dan dihina oleh orang yang kamu cintai, kamu akan mulai mempertanyakan perasaan dan komitmenmu kepadanya. Percayalah. Kamu bahkan akan mulai menyesali keputusanmu menikahinya.” Miles mendesah pelan.
“Aku mulai membenci berhubungan intim dan muak dijadikan mesin pembuat anak. Dia tidak mau menemui dokter namun begitu yakin bahwa akulah yang mandul. Dengan asumsinya itu, dia terus memakai aku untuk membuat dirinya hamil. Pada bulan-bulan terakhir kami bersama, aku lelah dan berhenti berusaha. Dia mau memakai tubuhku, aku tidak peduli. Gairahku sudah lama mati. Aku mulai percaya bahwa aku bukan laki-laki normal. Aku tidak mampu memberi istriku seorang anak.”
Miles menarik napas panjang. “Lalu pada hari peringatan pernikahan kami yang kedua puluh, dia mengakhiri hidup sendirinya.”
Kirana menarik napas terkejut. Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya. “Miles, aku sangat menyesal telah memintamu menceritakannya. Kamu tidak perlu melanjutkannya lagi. Cukup. Aku tidak ingin membuatmu bersedih.”
“Biar aku selesaikan.”
“Tapi,” protes Kirana. Miles mencium bibirnya dan menjauh sebelum dia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri. Dia menatap wajah wanita itu sambil membelai pipinya. Kirana merapatkan bibirnya.
__ADS_1
“Aku ingin melanjutkan hidupku. Jadi, aku harus menyelesaikan cerita ini.” ucapnya dengan lembut. Kirana menganggukkan kepalanya.
“Aku mengizinkan tubuhnya diautopsi. Aku tidak bisa bernapas sampai akhirnya dokter memastikan bahwa benar dia bunuh diri dan tidak ada yang mencoba membunuhnya. Keluarganya marah besar dan menuduhku telah membunuhnya. Mereka satu kata dengan mengatakan bahwa akulah yang membuat dia depresi dan bunuh diri.”
“Aku memberikan hasil lab kepada mereka, yang membuktikan bahwa aku tidak mandul. Tapi itu tidak menghentikan usaha mereka untuk membuat hidupku menderita. Aku mengerti pada saat itu. Mereka pasti terpukul dan sedih dengan kepergian putri dan adik mereka.”
“Aku menemui psikolog secara teratur selama sekitar sembilan bulan untuk memulihkan diri. Aku depresi karena pernikahanku yang buruk. Dan kamu tahu apa yang menolongku untuk tidur?” tanya Miles. Kirana menggelengkan kepalanya. Pria itu menciumnya dengan lembut. “Parfum dan sabun mandi yang biasa kamu pakai.”
“Parfum dan sabun yang biasa aku pakai?” Kirana membulatkan matanya.
“Iya. Aku senang aku mengingat aroma parfum dan sabunmu. Dengan menciumnya, aku bisa merasakan kamu berada di dekatku. Kamu percaya atau tidak, aku berkata jujur.” ucapnya pelan.
“Karena itu aku ingin kamu menikahiku. Aku membutuhkanmu, Kirana. Aku tidak mau hidup dengan bayanganmu semata. Aku ingin hidup bersamamu dalam kehidupan nyata. Aku ingin lebih dari apa yang kita miliki saat berada di Singapura atau ketika kita hanya berdua. Aku tahu ini terdengar klise dan berlebihan, tapi setelah apa yang terjadi dalam hidupku, aku tidak bisa hidup tanpamu. Dan aku tidak mau hidup tanpamu.”
“Aku,” ucap Kirana bingung.
“Setidaknya beri aku sebuah kehormatan dengan mempertimbangkannya.” Dia sedang memohon kepadanya, tetapi dia tidak peduli bila harus merendahkan diri. “Aku telah membuka hatiku dan menyampaikan perasaanku dengan jujur kepadamu. Tolong, jangan beri jawaban sebelum kamu benar-benar serius memikirkan lamaranku.”
__ADS_1
“Baiklah.” Kirana mengalah. “Akan aku pikirkan. Tapi aku yakin bahwa aku tidak akan memberikan jawabanku yang berbeda kepadamu.”
“Aku tahu bagaimana mengubah pikiranmu.” Mata Miles berkilat senang. Kirana mengerutkan keningnya.
Miles mendorong tubuhnya hingga berbaring di atas sofa. Kirana memekik terkejut. Kemudian mereka tertawa bersama. Miles perlahan menurunkan wajahnya dan mencium bibirnya. Kirana memejamkan mata menikmati ciuman itu dan hubungan intim mereka yang pertama di atas sofa. Film pun terlupakan. Begitu juga dengan masa lalu mereka.
Ketika wanita itu tertidur, Miles membopongnya ke kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur. Dia mengunci pintu depan, mematikan lampu, lalu tidur sambil memeluk Juliettnya.
Seminar hari pertama dimulai pada jam sembilan pagi. Kirana dengan setia berdiri di sisinya saat dia menyapa kenalan dan rekan kerjanya yang juga menghadiri acara tersebut. Tidak lupa dia juga memperkenalkannya kepada mereka. Dengan kemampuan bahasa Inggrisnya yang fasih, dia tidak menemukan kesulitan berkomunikasi dengan semua koleganya.
Selama seminar berlangsung, dia tidak bisa berkonsentrasi. Wanita yang duduk di sisinya tidak bisa lepas dari perhatiannya. Padahal dia sama sekali tidak mencoba bicara, menyentuh, atau melihat ke arahnya. Miles tidak tahu mengapa. Hanya dengan duduk di sisinya, wanita itu mampu mengalihkan perhatiannya.
Dalam sesi di mana peserta bisa bertanya kepada narasumber, Kirana menanyakan dua pertanyaan yang membuktikan dia menyimak presentasi tersebut. Si pembicara terlihat bangga mendengarnya dan menjawab pertanyaan itu dengan antusias. Seharusnya dia tidak duduk di samping wanita itu sejak dari awal.
Pada saat makan siang, Miles tidak perlu repot-repot menghindari Kirana. Narasumber tadi mengajaknya duduk bersama di meja yang telah disediakan khusus untuk para pembicara. Diam-diam, dia memerhatikan mereka mengobrol begitu akrab tidak jauh dari meja di mana dia makan bersama para pengusaha kenalannya.
Pada sesi berikutnya, Kirana tidak mencoba mencarinya atau kembali duduk di tempatnya semula. Dia duduk bersama pembicara tadi di barisan kursi terdepan. Kadang-kadang pria itu mendekat dan bicara dengan Juliettnya. Miles menyipitkan matanya. Seorang wanita duduk di kursi kosong di sisinya berusaha menarik perhatiannya. Miles mengabaikannya dan mengawasi bagaimana pria tadi memperlakukan Kirana.
__ADS_1
Dia siap sedia untuk melompat dengan cepat jika pria itu mencoba untuk menggoda atau merayunya di depan matanya. Tetapi pria itu adalah pria yang sopan. Dia hanya bicara dengan riang bersamanya dan tidak menyentuh Kirana. Sebaliknya, wanita yang duduk di sisinya mengusap lengannya, paha, atau tangannya setiap saat dia bicara. Tidak peduli sudah berapa kali Miles memintanya untuk diam. Tidak bisa dipercaya.