
Kirana bermimpi dia diangkat dari tempat tidur. Tidak lama kemudian, dia berada pada posisi duduk di atas sebuah tempat tidur lagi dan disandarkan ke kepala ranjang. Dia membuka matanya. Miles benar. Dia tidak sempat makan siang, dia juga tidak boleh melewatkan makan malam. Ada janin yang butuh asupan gizi untuk terus tumbuh dalam rahimnya. Tetapi dia sangat mengantuk sehingga tidak bisa melawan rasa berat di matanya.
“Ini cokelat hangat kesukaanmu. Minumlah.” Terdengar suara Miles tepat dari sebelahnya. Kirana membuka matanya lagi. Karena dia melihat pria itu duduk di sisinya, dia melingkarkan tangannya di pinggang pria itu lalu menyandarkan kepalanya di pundaknya. Ini yang dia sebut dengan rumah.
“Kirana, kamu harus bangun sekarang.” ucap Miles tegas. Kirana cemberut.
“Iya, iya. Kamu tidak harus galak begitu.” Kirana menerima mug dari Miles dan meneguk cokelat hangat di dalamnya. Saat dia merasa cukup, dia mengembalikan mug itu kepada Miles.
“Kamu harus menghabiskan makananmu. Aku serius. Semuanya.” Miles meletakkan sebuah piring besar di pangkuan Kirana. Dia mengerang pelan melihat makanan dalam porsi besar di atasnya.
“Miles, ini banyak sekali.” protes Kirana.
“Bukankah kamu biasanya makan dalam porsi besar?” tanya Miles heran. Iya, dia benar. Tetapi saat ini dia hanya ingin makan secukupnya karena dia ingin tidur. Kirana menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mau kentang halus. Bisakah kamu memberiku kentang goreng saja?” Kirana menatap Miles dengan tatapan mengiba yang hampir meluluhkan hatinya. Hampir.
“Kamu dan William sama menjengkelkannya. Tidak boleh. Kamu harus memakan itu. Kentang ini jauh lebih sehat.” Miles bersikeras.
“Dia putraku. Tentu saja kami punya selera yang sama.” Kirana menyuapkan kentang ke dalam mulutnya dengan garpu. Dia menggumam pelan memuji kelezatannya. “Ini enak sekali.” Miles tertawa kecil. Dalam sekejap dia sudah menghabiskan semua makanan dan minumannya.
“Aku segera kembali.” Miles mencuri sebuah ciuman sebelum berdiri. Dia membawa baki dengan piring, mug, dan gelas kosong itu keluar dari kamar.
Tidak bisa menahan dirinya, Kirana tertidur lagi. Dia tidak bisa membuka matanya saat seseorang membaringkannya di tempat tidur. Sambil mendesah lega, dia memperbaiki posisi tidurnya, mencari posisi yang nyaman. Tempat tidur bergoyang ketika seseorang berbaring di belakangnya.
Sebuah tangan yang besar dan berat melingkari tubuhnya dan melebarkan telapak tangannya di perutnya. Tetapi dia tidak mengeluh dengan beratnya lengan itu. Punggungnya menjadi hangat ketika tubuh mereka dekat. Sebuah ciuman malas bergerak dari leher bagian belakang ke bawah telinganya dan berakhir di bahunya.
“Miles,” ucap Kirana setengah berbisik.
__ADS_1
“Tidurlah. Aku di sini.” jawabnya.
“Will?” tanya Kirana khawatir.
“Tidur pulas di kamar sebelah setelah memaksaku membaca dua buku untuknya.” Miles tertawa kecil. Kirana ikut tertawa.
“Kamu beruntung. Dia biasanya sudah tidur saat aku masih mencapai setengah halaman buku pertama. Aku tidak pernah sampai ke buku kedua.” ujar Kirana dengan nada cemburu.
“Beruntung?” pekik Miles tercekik. “Dia terus menghujaniku dengan pertanyaan. Kalau hanya membaca buku, aku tidak keberatan. Menjawab pertanyaannya, aku ketakutan karena ucapanmu tadi siang. Bahwa aku harus berhati-hati saat memberikan jawaban.”
“Ke mana motto favoritmu itu? Tidak peduli pada penilaian orang lain?” Kirana cekikikan.
“Lucu, Kirana. Lucu sekali.” ucap Miles sarkas. Kirana tersenyum. “Anak itu sangat cerdas, aktif, dan sehat. Terima kasih telah membesarkannya, Kirana. Kamu ibu yang hebat.” Miles mencium bahunya. Air mata kembali mendesak keluar dari pelupuk mata Kirana, sangat terharu.
“Aku tidak mau membesarkannya seorang diri lagi, Miles.” ucap Kirana terisak. Dia merasakan Miles mempererat pelukannya.
“Kita hampir saja kehilangan dia.” isak Kirana begitu sedih.
“Dan aku berhasil mendapatkannya kembali.” Miles berusaha menenangkannya. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil dia dari sisi kita. Kalau ada yang berani mencoba melakukannya lagi, kita pasti akan menemukannya kembali. Selama aku hidup, aku akan melindungimu dan Will sekuat tenaga. Tenanglah, sweetheart.”
“Apa menurutmu mereka akan melakukannya lagi?” Kirana begitu ingin membuka matanya tetapi tidak bisa.
“Aku tidak tahu. Kita belum tahu siapa yang merencanakan penculikan tersebut. Begitu polisi tahu siapa pelakunya, kita akan jebloskan mereka ke penjara.” ucap Miles meyakinkannya.
“Menurutku, aku tidak punya musuh. Bagaimana denganmu?”
“Kecurigaanku jatuh pada keluarga istriku. Mereka adalah satu-satunya orang di bumi ini yang punya motif untuk menyakitiku dan orang-orang yang aku sayangi.”
__ADS_1
“Mengapa? Apa salahmu kepada mereka?”
“Mereka tidak bisa menerima kematian Angelica sampai hari ini. Mereka masih menyalahkan aku atas kematiannya. Aku sudah melakukan segala upaya untuk memberi pengertian. Hasilnya nihil.” ucap Miles pelan. “Mereka pasti mengetahui keberadaan Will dari para pria yang mengikutiku sejak kemarin. Aku tidak tahu, mungkin lebih lama dari itu. Itu pun kalau mereka yang membayar pria itu. Mereka selalu memikirkan yang terburuk tentangku.”
“Melihat William dan menebak usianya adalah hal yang mudah. Aku bisa bayangkan mereka mencerna setiap fakta di kepala mereka, dan menyimpulkan bahwa aku mengkhianati istriku.” Miles menelan ludah dengan berat. “Menyakitiku sekarang sudah mudah. Mereka bisa melakukannya lewat kamu dan William.”
“Kita akan jaga Will bersama-sama. Tidak ada yang bisa mendekatinya.” Segala hal yang berhubungan dengan melindungi putranya membuat Kirana tegar.
“Dan aku akan pastikan kalian berdua selalu dalam keadaan aman.”
“Lalu bagaimana denganmu? Siapa yang akan melindungimu?” tanya Kirana.
“Sweetheart, tentu saja kamu yang akan melakukannya. Kepada siapa lagi aku akan memercayakan hidupku?” Miles membelai pipinya.
“Maaf aku tidak memberitahumu tentang dia lebih cepat.” bisik Kirana penuh penyesalan.
“Kita sudah membicarakannya. Aku mengerti.”
Kirana membuka matanya. Mendadak dia tidak mengantuk lagi. Dia membalikkan badan dan berbaring berhadapan dengan Miles. Pria itu bergeser memberinya tempat. Untuk sesaat, dia hanya menatapnya. Pria paling tampan yang pernah dilihatnya seumur hidup. Lalu tangannya membelai pipinya. Rambut halus yang menutupi pipi dan rahangnya mulai tumbuh. Pria itu memejamkan matanya. Kirana tersenyum dan mencium bibirnya. Miles membalas ciumannya dengan enggan.
“Kirana, kamu butuh istirahat.” Miles tahu betul apa yang dia inginkan tanpa harus mengatakannya. Dia tersenyum melihat sinar kekhawatiran di mata biru yang indah itu.
“Aku menginginkanmu, Miles. Aku membutuhkanmu. Aku bisa tidur nyenyak setelah ini.” pinta Kirana. Miles tersenyum. Dia tidak akan pernah menolak permintaannya, apalagi permintaan yang satu itu.
Miles adalah pria pertama yang belum pernah menolaknya. Usai malam pertama mereka bersama, dialah yang membujuknya untuk pindah ke kamarnya. Ketika liburan berakhir, dia juga yang memohon agar mereka bersama lebih lama lagi. Saat mereka akhirnya bertemu lagi, dia juga yang berinisiatif mengulang kisah mereka kembali. Dan kini Kirana bekerja di untuknya, dia tidak berhenti melamarnya, tidak peduli betapa sakitnya Kirana menolaknya.
Mungkinkah ada kenyataan seindah ini? Mungkinkah ini bukan mimpi? Akankah suatu hari nanti dia terbangun dan menemukan dirinya sendiri lagi? Bisakah dia menemukan jalan untuk berada di sisi Miles lagi ketika dia kehilangannya? Benarkah pria itu mencintainya sepenuh hatinya? Mungkinkah ada pria yang bisa mencintainya? Atau Miles hanya bingung dengan perasaannya sendiri?
__ADS_1