
Rapat pada pagi itu bersama para wakil direktur berjalan dengan baik. Semua bagian memberi laporan yang memuaskan. Reputasi perusahaan mereka semakin baik di mata klien dan konsumen. Keuntungan mereka tahun itu hingga saat ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya pada bulan yang sama. Kompetensi di antara pegawai juga baik dan pelatihan terus diadakan dengan teratur.
Kembali ke ruangannya, dia segera mengirim surel kepada Reynand dan memintanya secara khusus untuk memeriksa latar belakang Kirana. Dia ingin tahu semua tentangnya yang tidak bisa dia dapat melalui identitas pribadi dan daftar riwayat hidupnya. Dialah calon yang tidak punya satu pun akun media sosial sehingga sulit untuk melacak kehidupan pribadinya. Reynand berjanji akan berusaha mencari info lebih dalam.
Malam itu dia baru tiba di rumah pada jam sebelas malam. Janji makan malamnya berjalan dengan baik dan dia puas bisa menambah rekan kerja yang mempunyai mimpi yang sama di bidangnya. Baru saja akan masuk ke kamar mandi, ponselnya berbunyi. Dia mengambilnya dari meja kecil di samping tempat tidurnya. Dia mendesah pelan melihat nama pada layar.
“Rizal.” sapa Miles dengan terpaksa.
“Miles, aku dengar kamu semakin bagus saja memimpin perusahaanmu.” ucapnya sarkas.
“Ini sudah malam, Rizal. Katakan ada apa?” Dia sudah tahu tidak ada hal penting hingga pria itu meneleponnya.
“Aku tidak melihat ada fotomu bersama seorang wanita di majalah. Ada apa? Apa kamu masih berduka atas kehilanganmu? Angie masih sering datang menghantuimu?” Rizal tertawa.
“Kalau hanya itu saja yang ingin kamu sampaikan, kamu hanya membuang-buang waktumu.” ucap Miles dengan tenang.
“Setelah apa yang kamu lakukan kepadanya, kamu pantas menderita seumur hidupmu. Aku tidak peduli apakah kamu mandul atau tidak. Itu tidak bisa menjelaskan mengapa adikku mati muda di tanganmu.” ucap Rizal setengah mengancam.
__ADS_1
“Begini saja, datanglah ke Jakarta. Aku akan mengirim tiket kalian semua lewat surelmu. Besok sore bisa? Kita bicara di bandara lalu kalian bisa kembali dengan penerbangan yang terakhir besok malam juga. Kalian tidak perlu mengambil cuti.”
“Mengapa tidak kamu saja yang datang ke sini?” tantangnya.
“Aku tidak bodoh, Rizal. Begitu aku sampai di sana, aku tahu aku tidak akan pernah keluar lagi dari kota itu. Kalian bisa pengaruhi siapa saja untuk menjebloskan aku ke dalam penjara, bahkan tanpa bukti sekalipun. Aku tahu reputasi keluargamu.” ucap Miles datar. Sesaat tidak terdengar respons dari seberang sampai dia berpikir hubungan telepon sudah berakhir. Tetapi ketika memeriksa layar ponselnya, keterangan pada layar menunjukkan hal yang sebaliknya.
“Baiklah. Besok sore.” ucap Rizal akhirnya.
“Aku akan beri jawaban yang kalian cari-cari.”
Pada keesokan paginya, dia segera meminta Kemala untuk membeli enam tiket untuk keluarga almarhumah istrinya untuk penerbangan pada sore dan malam itu. Sepuluh menit kemudian, dia memberitahunya bahwa semuanya telah beres. Miles tersenyum melihat kecepatan kerja asistennya itu. Dia juga berhasil mengosongkan jadwalnya pada sore itu tanpa masalah.
Tepat pada jam lima sore, Markus sudah berada di depan pintu gedung bersama mobilnya. Dia segera masuk ke dalam mobil dan meminta sopirnya untuk menuju bandara. Saat mobilnya mulai meluncur, dia melihat Kirana keluar dari mobil di depannya bersama dua orang pria. Mereka berbincang dengan akrab sambil tertawa. Dia melihat wanita itu sampai masuk ke dalam gedung.
Miles hanya bertemu dengannya dua kali sejak dia bekerja untuknya, kemarin pagi dan siang ini. Dia benar-benar menginginkan wanita itu hanya untuknya. Tetapi dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya. Akan ada banyak waktu bagi mereka untuk berbincang dan saling mengenal nanti. Dia tidak akan bisa ke mana-mana karena dia sudah menandatangani kontrak untuk bekerja di perusahaannya selama dua tahun ke depan.
Dua jam kemudian, dia telah tiba di bandara. Dia memberi uang kepada Markus untuk makan malam di mana saja yang dia mau sambil menunggunya. Dari papan pemberitahuan, dia melihat pesawat yang ditumpangi keluarga istrinya telah mendarat. Dia menunggu di restoran tempat janji temu mereka. Secangkir kopi hitam menemaninya selama menunggu.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, keenam orang yang dinantinya telah tiba. Kedua mertuanya dan keempat kakak iparnya. Miles berdiri dan mempersilakan mereka untuk duduk. Dia tidak terkejut melihat ekspresi wajah mereka yang begitu membencinya. Tetapi dia tidak berhenti tersenyum. Sikap mereka tidak lagi mampu mengintimidasinya. Dia sudah berhenti khawatir pada apa pun yang akan mereka ucapkan kepadanya.
“Kalian ingin memesan sesuatu?” Miles memberikan buku menu kepada mereka. Rizal segera mengambilnya.
“Tentu saja. Kami lapar.” ucapnya dingin.
Mereka berenam memesan minuman dan makanan mereka masing-masing. Miles hanya mengajak mereka berbincang hal-hal ringan sambil menunggu makanan mereka datang. Dia tidak ingin merusak selera makan mereka dengan berita yang ingin disampaikannya. Mereka membutuhkan waktu setengah jam untuk menyantap makanan mereka.
“Aku tahu kita punya masa lalu yang kurang menyenangkan. Aku mengundang kalian datang hanya ingin berdamai. Tidak perlu lagi meneleponku dengan nada mengancam seolah-olah hidupku tidak cukup menderita dengan masalah pernikahanku dan kepergian istriku. Kalian berada di pihak yang kalian pikir benar karena dia bagian dari keluarga kalian. Aku,”
“Tutup mulutmu itu.” Yanto menginterupsi. “Kamu tidak bisa membuat kami membenci saudara kami sendiri. Angie hanya korban. Hormati jasadnya.” Miles tersenyum lalu memberikan amplop yang dari tadi ada di pangkuannya.
“Apa lagi ini? Hasil lab yang mengatakan bahwa kamu tidak mandul?” ejek Andhika. Ketiga saudaranya ikut tertawa mengejek.
“Buka dan baca. Kamu seorang dokter. Kamu pasti mengerti apa yang tertulis di situ.” ucap Miles dengan santai. Andhika menyipitkan matanya.
Dia pasti penasaran sehingga mengambil amplop itu dari atas meja dan membukanya. Matanya menyapu kertas itu mulai dari atas hingga ke bawah. Mulutnya kemudian terbuka lebar, matanya membulat tidak percaya. Melihat ekspresinya itu, dua orang yang duduk di dekatnya melihat ke arah kertas tersebut.
__ADS_1
“Angelica?” Rizal membaca nama pada bagian atas kertas. “Apa yang dikatakan kertas ini mengenai Angie, Dhika?” tanyanya tidak sabar. Miles menyesap kopinya dan membiarkan Andhika yang menjelaskannya kepada keluarganya.