
Kirana baru bisa bernapas lega setelah mereka duduk di kursi pesawat. Dia memasang sabuk pengaman William lalu sabuk pengamannya. Jika beberapa orang ketakutan pada saat pesawat lepas landas, hal itu tidak terjadi pada putranya. Pada satu jam pertama, dia tidak berhenti bertanya tentang pemandangan yang dilihatnya dari jendela. Dia bertanya tentang awan, laut, gunung, sampai dia mengatakan tentang sebuah cerita mengenai laut yang diajarkan gurunya di sekolah. Setengah jam berikutnya, dia meminta dibacakan buku cerita yang dibawanya.
“Mom, kapan aku ulang tahun?” tanya William setelah mamanya selesai membacakan buku cerita. Kirana memutar bola matanya saat dia memasukkan buku itu kembali ke tas putranya.
“Bulan depan.” jawabnya waswas. Kirana tahu bahwa putranya berencana bicara lebih dari sekadar menanyakan tanggal ulang tahunnya.
“Apakah aku sudah boleh bilang aku mau kado apa?” tanya William penuh harap.
“Will, kamu sudah bilang itu,” Kirana menghitung dengan jarinya. “Lebih dari dua puluh kali. Apa kamu pikir aku akan lupa?”
“Kamu selalu lupa, Mom.” William mengangkat kedua alisnya.
“Pintar sekali, Will. Kamu berani mengejekku.” Kirana mengerutkan keningnya.
“Kamu janji akan memberiku Darth Vader kalau aku mau masuk kelas di hari pertama sekolah. Aku malah dapat Winobi.” Putranya menyilangkan tangan di depan dadanya.
“Apa bedanya? Mereka sama-sama tokoh Star Wars.” ucap Kirana tidak mengerti.
“Darth Vader warna hitam, Mom, pakai jubah hitam dan topeng hitam. Winobi itu warna putih.” ucap William menjelaskan hal yang sama berulang kali. Kirana tidak memahami di mana bedanya.
“Kalau mau meminta sesuatu, kamu harusnya bersikap manis.” ucap Kirana mengingatkan.
“Itu untuk kado Natal, Mom. Aku tahu. Kado ulang tahun, manis atau tidak, kamu telah berjanji akan memberi apa pun yang aku minta.” Anak kecil itu memutar bola matanya.
__ADS_1
“O, my gosh. Who taught to talk this way?” keluh Kirana. Ya, ampun. Siapa yang mengajarimu berbicara seperti ini?
“You are.” jawab William dengan cepat. Mamanya segera terdiam.
“You did, not you are.” Kirana meralat jawaban putranya. Benar juga, pikir Kirana. Siapa lagi yang ditiru putranya kalau bukan mamanya?
Dia melihat putranya berusaha meraih tas ranselnya yang ada di lantai. Dia membantunya untuk mengambil tas tersebut. William membuka tasnya dan mencari-cari sesuatu dari dalam. Kirana menatapnya heran. Apa lagi yang mau dilakukannya? Apa dia sudah berhenti bicara dan sekarang minta dibacakan buku cerita yang lain? Diam-diam Kirana merasa lega. Dia lebih suka membaca buku untuk putranya daripada menanggapi kata-kata cerdasnya.
“Berapa usia anak ibu?” tanya wanita yang duduk di samping Kirana. Dia menoleh.
“Tiga tahun sebelas bulan satu minggu.” jawabnya. Lega bisa bicara dengan orang yang bisa saling mengerti.
“Dia termasuk cerdas untuk anak seusianya.” puji wanita itu ramah.
“Iya. Hal pertama yang dilakukannya adalah bicara. Begitu dia bisa membentuk kata, dia tidak berhenti bicara dan bertanya. Tetapi pertumbuhan badannya termasuk lambat.” ucap Kirana sedikit khawatir.
“Semoga, Bu.” ucap Kirana penuh harap.
“Ini, Mom.” William meletakkan sebuah foto di pangkuan ibunya. Kirana kembali menoleh ke arahnya lalu ke arah foto di pangkuannya.
“Apa ini?” Kirana mengambil foto tersebut untuk melihatnya lebih dekat.
“Kado ulang tahunku. Jangan salah beli lagi, ya, Mom. Oke?” ucap William penuh harap.
__ADS_1
“Dari mana kamu dapatkan ini?” tanya Kirana terkejut.
“Miss Daria. Dia yang cetak itu untukku di sekolah.” jawab William, menyebut nama gurunya.
Kirana kembali menoleh ke sisinya yang lain. Wanita tadi hanya tertawa geli. Melihat itu Kirana ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Anaknya selalu punya cara agar kado yang didapatnya tepat seperti yang dia inginkan.
Mendengar pemberitahuan bahwa pesawat yang mereka tumpangi akan segera mendarat, William melihat ke arah jendela. Karena tubuhnya tidak cukup tinggi, dia berusaha melepaskan sabuk pengamannya. Kirana mencegahnya. Melihat anaknya bersikeras ingin melihat pemandangan di luar, Kirana pindah ke tempat duduknya, memangkunya putrnya, lalu memasang sabuk pengaman melewati pinggang mereka. William bersorak senang melihat pemandangan kota di bawahnya. Pria kecilnya itu memang tidak pernah takut pada ketinggian.
Keluar dari terminal kedatangan, dia melihat ada seorang pria memegang selembar kertas bertuliskan namanya. Kirana mengajak William mendekati pria tersebut. Mereka kemudian dibawa menuju sebuah mobil. Di dalamnya sudah ada beberapa penumpang yang lain. Kirana tersenyum kepada mereka lalu duduk di kursi tengah tepat di samping jendela.
William melihat keluar jendela dan menikmati pemandangan yang mereka lewati. Dia bertanya mengenai tempat yang mereka lewati. Sudah siap dengan info mengenai provinsi itu, Kirana menjawab semua pertanyaan putranya dengan mudah.
Satu jam kemudian mereka tiba di kota Mataram. Kirana tersenyum melihat jalan yang mereka lewati hanya satu arah. Mereka tidak menemui kemacetan sama sekali. Seperti kota lainnya, Mataram juga memiliki beberapa pertokoan dan mall. William tidak banyak bertanya mengenai hal itu. Mereka berhenti sesaat untuk ke toilet. Kirana menggunakan kesempatan itu untuk membeli kacang. William akan menyukai apa yang akan mereka lakukan nanti.
Kirana tersenyum ketika mereka memasuki daerah hutan. Jalannya berkelok-kelok dan tidak banyak mobil yang berlalu lalang. William bersorak senang melihat seekor monyet yang bersantai di tepi jalan. Dia meminta Kirana agar menyuruh sopir untuk berhenti sebentar. Belum lagi Kirana menjawab, mobil yang mereka tumpangi melambat lalu menepi.
Tidak perlu menunggu penjelasan dari sopir tersebut, Kirana tahu mereka berada di mana. Pusuk, hutan di mana monyet-monyet dibiarkan hidup bebas di alam. Kirana mengeluarkan kacang yang tadi dibelinya. William bersorak senang bisa memberi makan kawanan monyet dengan kacang tersebut. Dia tertawa senang melihat binatang itu dengan ahli membuka kulit kacang dan memakan biji di dalamnya. Serentak monyet-monyet itu mengulurkan tangan meminta tambah.
Mereka menghabiskan dua jam lebih perjalanan dari bandara hingga tiba di pelabuhan. Kirana melihat papan nama di dekatnya. Pelabuhan Bangsal. Sopir tadi membawa mereka mendekati sebuah kapal kayu. Kirana mendesah lega. Dia bisa menikmati pemandangan di sekitar mereka dengan perahu tersebut. Speed boat memang akan menyingkat waktu, tetapi mereka tidak bisa melihat indahnya pemandangan di bawah air laut.
William tertawa senang setiap kali melihat tanaman-tanaman dalam laut dari tepi perahu. Lautnya sangat jernih. Mereka bisa melihat terumbu karang yang indah berbagai warna di sekitar mereka. Setelah empat puluh menit, perahu mereka tiba di pulau tujuan. Kirana bersorak senang begitu mengetahui tempat yang ada di hadapannya. Gili Trawangan.
Tiba di kamar, jantung Kirana melompat bahagia melihat pemandangan dari jendela kamar. Langit dan laut biru memanjakan matanya. Dia belum pernah ke surga, tetapi dia melihat sedikit kepingannya di hadapannya.
__ADS_1
Putranya merengek meminta celana renangnya. Kirana membuka koper mereka dan memberikan celana itu kepada William. Dia bergegas membuka pakaiannya dan mengenakan celana tersebut. Kirana mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaus tanpa lengan. Mereka berjalan bersama menuju pantai.
Diam-diam Kirana berterima kasih untuk kehidupan baru yang dimilikinya. Untuk putranya yang mencintainya tanpa syarat. Untuk rekan-rekan kerjanya yang mudah diajak bekerja sama. Untuk atasannya yang tidak segan-segan memberinya kompensasi atas kerja keras dan prestasi yang diraihnya di perusahaan tersebut. Hidupnya tidaklah sempurna. Tetapi yang dimilikinya saat ini lebih dari sempurna.