Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 11


__ADS_3

Kembali ke hotel, dia tersenyum melihat burung-burung merpati yang ada di taman hotel. Karena terburu-buru, saat pertama kali datang dan pergi tadi dia tidak melihat burung-burung tersebut. Dia mendekat dan mengamati mereka baik-baik. Semuanya terlihat gemuk dan sehat. Kirana tahu dia tidak boleh memberi makan burung dara di negara ini kalau tidak mau terkena denda yang jumlahnya cukup besar. Ada beberapa orang yang melakukan hal yang sama dengannya, mengamati burung tersebut.


Dia berdiri di sana untuk beberapa saat menikmati pemandangan dan segarnya udara untuk menyegarkan pikirannya. Ketika dia melihat matahari mulai terbenam, ini adalah saatnya baginya untuk bersiap-siap. Dia tersenyum, membalikkan badan, lalu masuk ke dalam hotel.


Tiga puluh menit berdiri di bawah air pancur, dia membersihkan seluruh tubuhnya dengan sempurna. Dengan handuk, dia mengeringkan rambut dan badannya. Setelah memakai mantel mandi untuk menutupi tubuhnya, dia mengeringkan rambut menggunakan alat pengering rambut. Tidak lupa dia mengoleskan pelembab ke bahu, tangan, dan kakinya. Dia tersenyum puas melihat gaun berwarna merah yang dikenakannya membuat kulit pucatnya tampak cerah dan rambut hitamnya berkilau.


Gaun itu melekat sempurna membentuk tubuhnya, tetapi Kirana merasa sedikit risih. Ini berlebihan. Jelas sekali terlihat bahwa tidak akan ada pria yang berpaling bila melihatnya. Tetapi dia cepat-cepat mengabaikan pikiran itu. Dia suka melihat dada dan panggulnya memberi lekukan yang dia inginkan. Alasan itulah yang membuatnya tidak berpikir dua kali untuk membeli gaun tersebut.


Setengah jam berikutnya dia gunakan untuk merias wajah dan menata rambutnya. Dia memilih untuk membiarkan rambutnya tergerai dan mempertegas spiral alami pada ujungnya. Untuk pertama kalinya, dia begitu bangga dengan rambutnya. Sebagai sentuhan terakhir, dia memakai sepatu berwarna keemasan dengan hak setinggi sepuluh senti. Kalau sebelumnya dia tidak percaya diri dengan tinggi badannya, sekarang dia senang melihatnya tampak tinggi semampai.

__ADS_1


Dia sudah siap untuk melakukan misi rahasianya. Sebelum keluar dari kamar mandi, dia memeriksa alat tes yang ada di atas konter. Kirana mendesah pelan melihat hasilnya negatif. Ternyata dugaannya salah. Hitungannya sudah tepat tetapi malam ini bukan masa ovulasinya. Semoga saja keesokan hari adalah hari yang dia tunggu itu.


Melihat bayangannya kembali di cermin, dia tersenyum. Untuk malam ini akan dia anggap sebagai latihan. Lagipula dia memang membutuhkannya. Dia tidak punya pengalaman apa pun dalam merayu atau berhubungan intim dengan lawan jenis. Mendadak dia bergidik pelan. Setelah berhari-hari berhasil meyakinkan diri sendiri, keraguan itu kembali datang membayangi pikirannya.


Apakah dia yakin ingin melakukannya? Apakah dia ingin menyerahkan kesuciannya kepada orang asing hanya demi mendapatkan seorang anak? Bagaimana kalau dia tidak menyukai hubungan badan nanti dan pria itu tetap memaksakan kehendaknya? Bukankah itu sama saja dengan dia merelakan seorang pria asing memerkosanya? Oh, tidak. Dia selalu gagal membaca sinyal yang diberikan pria kepadanya. Bagaimana kalau kali ini dia gagal lagi? Pria itu setuju untuk melakukannya dengan hati-hati tetapi kemudian dia malah bersikap kasar. Seumur hidup dia akan trauma seperti yang dialami oleh salah satu temannya yang telah menikah.


Cepat-cepat Kirana menepis semua pertanyaan itu. Dia terlalu jauh berpikir. Kelemahannya yang harus diperbaikinya. Tidak penting apa yang akan terjadi nanti. Tidak masalah apa risiko dan konsekuensi dari tindakannya malam ini. Fokusnya saat ini adalah melakukan langkah pertama, yaitu menemukan seorang pria. Apakah selanjutnya dia berhasil membujuk pria itu untuk tidur bersama, akan dihadapinya nanti. Dia punya tiga malam untuk mencoba lagi bila pada malam pertama misinya gagal.


Taksi yang dipesannya telah menunggunya di depan pintu masuk penginapan. Dia menyebutkan tujuannya dan sopir itu mengendarai mobilnya dengan hati-hati. Tidak lama kemudian mereka pun tiba. Dia tersenyum melihat hotel bintang lima yang ada di hadapannya itu. Setelah membayar ongkos taksi, dia tidak perlu repot membuka pintu mobil karena seorang pegawai hotel telah melakukan itu untuknya.

__ADS_1


“Thank you.” ucap Kirana ramah. Pria itu mengulurkan tangannya untuk membantunya keluar. Dia menerima uluran tangan tersebut.


Pegawai hotel yang menerimanya pada pintu masuk menunjukkan kepadanya arah restoran yang ditujunya. Kirana mengikuti petunjuknya dan masuk ke lobi hotel. Bagian dalam bangunan itu benar-benar mewah dan modern. Pilar-pilarnya kokoh, lantainya dari marmer yang berkilau, sofa-sofa nyaman diatur demikian rupa di beberapa tempat pada lobi, ada meja-meja kecil berwarna keemasan dengan vas bunga kristal berisi bunga-bunga segar di beberapa sudut, langit-langitnya dipenuhi dengan lampu-lampu kristal yang mewah yang menerangi ruangan tersebut. Pemandangan yang jauh berbeda dengan tempat penginapannya.


Tiba di depan restoran, seorang pria yang menjaga pintu membukakannya untuknya. Sekali lagi Kirana mengucapkan terima kasih. Seorang wanita di bagian penerima tamu menyambutnya. Dia menanyakan namanya lalu wanita itu mencari nama samarannya di dalam daftar tamu. Begitu menemukan nama dan pesanan mejanya, wanita itu meminta seorang pria mengantarnya ke meja yang telah dipesan. Kirana berterima kasih kepadanya lalu mengikuti pria di depannya.


Interior di dalam restoran itu tidak kalah mewahnya dengan lobi hotel. Lantainya terbuat dari marmer, lampu kristal yang menggantung di langit-langit meskipun berbeda desain namun tidak kalah mewahnya, mejanya terbuat dari kayu kokoh berukir, begitu juga dengan kursinya. Di dalam ruangan itu dilarang merokok, sedangkan bagi tamu yang merokok disediakan beberapa meja di ruangan khusus. Dia melihat meja di bagian teras juga penuh dengan tamu. Melihat pemandangan malam yang indah dari jendela, dia menarik napas terkejut. Lampu-lampu dari bangunan di sekitarnya berpadu menerangi malam hingga kota itu terlihat secerah siang hari.


Dia beruntung diantar ke meja untuk dua orang yang berada di tengah-tengah restoran. Dengan begitu, dia tidak akan kesulitan melihat ke seluruh sisi restoran, dan pada saat yang bersamaan, menjadi pusat perhatian setiap orang. Andai ada pria yang tertarik kepadanya, dia bisa melihat dengan jelas bahwa dia duduk seorang diri. Dia sudah membaca beberapa artikel dan buku mengenai cara mendekati seorang pria, tetapi dia tidak yakin bahwa dia bisa melakukannya. Kirana memejamkan mata dan menarik napas panjang. Dia bisa melakukan ini. Dia harus bisa melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2