
Menurut Pranaja saat membaca hasil tersebut, Angelica mengalami masalah pada saluran sel telurnya hingga benih suaminya tidak bisa mendekati sel telur untuk membuahinya. Juga ada masalah komplikasi pada indung telurnya yang terjadi secara alami. Kelainan itu tidak bisa dioperasi atau diobati. Dua hal yang membuatnya tidak bisa memiliki anak.
Miles sangat terkejut saat menemukan hasil lab itu di antara barang-barang pribadi milik istrinya. Untung saja dia sendiri yang membereskan semua barangnya. Kalau pembantunya yang melakukan semua itu tanpanya, pasti mereka membuang semua kertas tanpa memeriksanya lebih dahulu. Dan dia mungkin masih bertanya-tanya apa yang salah dengan tubuhnya yang diklaim sehat oleh dokter.
Surat itu bertanggal sebelas tahun yang lalu. Pada tahun yang sama di mana istrinya menyampaikan keinginannya untuk punya anak dan mereka memulai program tersebut. Selama sepuluh tahun istrinya bungkam. Tetapi selama sepuluh tahun itu juga dia bertingkah seolah-olah tidak ada yang salah pada dirinya, malah menuduh suaminyalah yang bermasalah.
Mungkin karena tidak sanggup bicara jujur kepadanya dan tidak kuat lagi menghadapi kenyataan, dia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Pertanyaan yang tidak akan pernah dia ketahui jawabannya karena Angelica telah tiada. Hanya dia seorang yang tahu alasan dari semua tindakannya.
“Angie punya masalah sehingga dia tidak bisa punya anak. Dan surat ini bertanggal sebelas tahun yang lalu.” ucap Andhika pelan. Keluarganya yang mendengar itu hanya diam, mencoba memproses informasi yang baru saja mereka dengar.
Keempat pria dan kedua mertuanya itu tidak mengucapkan apa pun lagi. Mereka saling bertukar pandang lalu berdiri. Tidak ada pamit atau permintaan maaf. Mereka hanya pergi begitu saja. Miles tidak keberatan. Dia memang ingin mengakhiri hubungannya dengan mereka. Pada malam itu, dia kembali ke rumah tanpa ada beban lagi di pundaknya. Satu masalah telah diselesaikannya.
Dia melihat Reynand telah menunggunya di depan ruangannya pada pagi itu. Miles tersenyum kepadanya. Ketika melihat pria itu membalas senyumnya, Miles tertawa geli. Wajah pria itu segera berubah cemberut. Akhirnya, Miles bisa bersikap normal lagi. Dia sudah bebas dari masalah.
“Kemala,” kata Miles kepada asistennya.
“Saya mengerti, Pak. Dua cangkir kopi akan diantar ke ruangan Anda dan saya tidak akan masuk ke dalam sampai Rey keluar.” ucap Kemala sambil mengangkat gagang teleponnya.
“Terima kasih.” Miles tersenyum penuh arti. Kemala memutar bola matanya. Kemudian Miles melihat ke arah Reynand. “Tidakkah menurutmu dia cantik?”
__ADS_1
“Pak, saya mohon, bisakah kita selesaikan semua ini segera? Saya masih punya pekerjaan lain.” protes Reynand. Miles mengerutkan keningnya. Dia melirik Kemala, kemudian menyipitkan matanya kepada Reynand. Barulah dia tertawa kecil.
Miles membuka pintu ruangannya, mempersilakan Reynand masuk, lalu menutup pintu. Dia mengabaikan tumpukan berkas yang perlu diperiksa di atas mejanya dan duduk di samping pria itu. Setelah duduk dengan posisi yang nyaman, Miles menoleh ke arah pria di sampingnya.
“Oke. Apa yang kamu dapat.” Miles menepuk kedua tangannya.
“Pertama, Bapak akan kaget dengan hal pertama yang saya dapat.” Reynand memberikan berkas yang sudah disiapkannya. Miles membuka sampul depannya dan mengerti apa yang ingin Reynand sampaikan kepadanya.
“Deposito dan rekening tabungan?” Miles membulatkan matanya melihat jumlah angka yang tertera pada lembar pertama. Hasil yang dicetak dari catatan bank. Entah bagaimana Reynand bisa mendapatkan akses untuk memperoleh informasi itu, dia tidak peduli. “Kalau dia punya uang sebanyak ini, mengapa dia masih bekerja sebagai karyawan? Dia bisa membuka usahanya sendiri.”
“Deposito itu dibuka dua minggu setelah kematian kedua orang tuanya dalam kecelakaan. Deposito itu hanya untuk lima tahun tetapi dia memperpanjangnya lagi untuk lima tahun berikutnya tanpa mengambil bunganya.” ucap Reynand menjelaskan.
“Itu akan ada pada berkas lain, pak.”
“Baik. Selanjutnya apa?”
“Uang pada tabungannya berasal dari warisan kedua orang tuanya. Itu untuk halaman pertama.” ucap Reynand. Dia membuka lembar berikutnya. Miles melakukan hal yang sama. Ada foto sebuah rumah. “Selain tabungan dan deposito, dia juga punya sebuah rumah dua lantai di Semarang.”
“Sebelum bekerja di cabang perusahaan Anda di sini, dia telah bekerja selama dua belas tahun di sebuah cabang perusahaan telekomunikasi di Semarang. Saya tahu Anda sudah tahu itu. Tapi yang tidak Anda ketahui adalah dia dipecat karena terbukti mencuri sejumlah besar uang perusahaan. Ini yang paling menarik. Bukti tersebut ditemukan di dalam laci meja kerjanya pada saat dia sedang cuti. Kabarnya, dia berlibur ke Singapura.” ucap Reynand sambil menoleh ke arah Miles. “Menarik, bukan? Dia pergi berlibur tapi lupa membawa pulang uang curiannya?”
__ADS_1
“Jelas sekali ada yang berusaha menjebaknya.” Miles mengerutkan keningnya. Dia segera teringat pada pertemuan mereka di Singapura, pasti setelah pulang dari sana kejadian ini menimpanya. Demi pekerjaan ini, dia menolak tawaran Miles untuk lebih lama bersama. Namun justru pekerjaan ini pula yang mengecewakannya dengan tuduhan sejahat itu. “Tapi, mengapa?”
“Aku dapat kabar yang tidak ada hubungannya dengan Kirana. Beberapa bulan kemudian, salah satu pegawai bagian keuangan ketahuan telah membuat pembukuan palsu. Dia telah mencuri uang perusahaan dengan jumlah yang sangat besar hanya dalam waktu dua tahun lebih bekerja di sana. Tidak ada yang mencium tindakannya itu karena dia sangat teliti dan licik. Diduga dialah yang telah menjebak Kirana karena takut wanita itu akan mengadu bahwa dia punya kemungkinan besar mencuri uang perusahaan.”
“Kemungkinan besar seperti apa maksudnya?” tanya Miles tidak mengerti.
“Dia membeli dua mobil mewah dalam waktu yang berdekatan saat baru dua tahun bekerja di sana. Gajinya tidak besar, Pak.”
“Atasannya tidak curiga sama sekali?” tanya Miles terkejut.
“Dia berasal dari keluarga kaya raya. Tidak akan ada yang menduga dia mencuri untuk membeli mobil. Lagipula tidak ada yang tahu bahwa keluarganya sudah bangkrut.”
“Baik. Apa lagi?” Miles melihat foto seorang pria yang wajahnya mirip dengan Kirana pada halaman selanjutnya dan foto seorang wanita. Itu adalah foto kedua orang tua Kirana yang telah meninggal dunia. Ada potongan berita koran pada halaman selanjutnya.
“Kedua orang tuanya meninggal enam tahun yang lalu dalam kecelakaan. Sebuah truk menabrak mobil yang dikendarai ayahnya. Menurut pemeriksaan medis, pasangan suami istri itu tewas di tempat. Sopir truk hanya luka memar. Kirana dan saudaranya mencabut tuntutan mereka begitu mendapat uang santunan dari perusahaan pemilik truk tersebut. Tidak ada polisi atau pengadilan.”
“Saudara?” tanya Miles.
“Iya. Ada pada halaman selanjutnya.” Reynand membalikkan berkas di tangannya. Miles membuka lembar berikutnya dengan rasa ingin tahu. Di sana ada beberapa foto lagi.
__ADS_1