Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 30


__ADS_3

Dengan langkah tegap dan mengangkat kepalanya penuh percaya diri, Kirana keluar dari ruang kerja atasannya. Tidak ada yang bisa membuatnya menundukkan kepala. Uang itu bukan miliknya, juga bukan hasil perbuatannya. Dia tidak kalah hanya karena bukti itu ditemukan di dalam lacinya. Sekuat tenaga dia akan membela diri dengan memakai pengacara terbaik.


Dia melihat sekretaris atasannya menatapnya sedih. Kirana tersenyum. Dia mengulurkan tangannya kepada wanita baik hati itu. “Aku tahu kamu tidak bersalah, Kirana.” ucap Aprilia penuh simpati. “Jika ada yang bisa aku bantu, apa saja, jangan segan datang kepadaku.”


“Terima kasih sudah memercayaiku.” Kirana meremas tangannya sebelum melepaskannya. “Dan aku akan menagih janjimu tadi karena aku pasti akan membutuhkan bantuanmu.” Wanita itu tersenyum kemudian mereka berdua tertawa bersama.


Dia sedang berdiri menunggu di depan elevator saat satu-persatu orang datang dan berdiri di dekatnya. Kirana tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu bahwa mereka menatapnya dengan penuh simpati. Hal yang tidak dibutuhkannya saat ini. Air matanya nyaris memaksa keluar dari pelupuk matanya.


“Wah! Pencuri ada di sini. Apa yang kamu lakukan di lantai ini? Mencoba mencuri uang lagi?” Suara yang sudah tidak asing lagi di telinga Kirana. Dia hanya mengabaikannya saja.


“Ada apa? Lidahmu kelu? Kamu tidak punya sanggahan atau komentar atas temuan itu?” ejek Caraka. Kirana mengangkat kedua alisnya.


“Hanya orang bodoh yang percaya bahwa aku yang mencuri uang itu.” ucapnya tanpa melihat ke arah Caraka.

__ADS_1


“Maksudmu, direktur kita orang bodoh?” tantang pria itu. Kirana tahu dia sengaja melakukan itu supaya dia marah dan menghina bos mereka di depan semua orang.


“Tergantung seberapa meyakinkannya seorang saksi mengatakan dia melihat perbuatan seseorang dan tiba-tiba tahu benar di mana bukti disimpan.” ucap Kirana tanpa basa-basi.


“Kalau saksi itu berbohong, tentu dia tidak bisa meyakinkan siapa pun mengenai perbuatan jahat yang disaksikannya sendiri.” balas Caraka.


Kirana tersenyum lalu menoleh ke arah pria itu. Dia melihat ada lima orang yang berdiri melihatnya dan pria itu sedang berdebat. Mereka melihat ke arahnya, menunggu tanggapannya selanjutnya.


“Kamu tahu mengapa aku bilang yang percaya bahwa aku mencuri uang itu adalah orang bodoh? Pertama, laci itu tidak pernah dikunci. Aku menyimpan kuncinya di rumahku karena aku tidak membutuhkannya. Apa kamu pikir aku seorang yang idiot yang menyimpan uang curian di tempat yang tidak terkunci?”


“Ketiga, aku sedang berlibur selama tiga hari di luar negeri. Apa kamu pikir aku ini begitu bodoh meninggalkan uang itu dan tidak menggunakannya untuk berbelanja di sana? Aku perempuan, Caraka. Aku pasti akan membelanjakan uang sebanyak itu untuk membeli baju, tas, sepatu, atau perhiasan mahal yang asli, bukan palsu. Kesempatan seperti itu tidak akan aku sia-siakan. Dan Singapura adalah surga belanja. Ada banyak butik terkenal di sana.”


Lima orang pegawai yang mengelilingi mereka mengangguk-anggukkan kepala. Wajah Caraka berubah pucat pasi. Mungkin sebelumnya dia tidak mempertimbangkan ketiga hal itu. Kirana senang begitu mengetahui bahwa dia berada di atas angin. Pria itu belum tahu siapa yang dipilihnya sebagai lawan. Dia akan menyesali perbuatannya karena niat jahatnya terlalu mudah untuk dipatahkan.

__ADS_1


“Kalau saksi itu berpikir dia sudah berhasil membuatku dilempar keluar dari perusahaan ini, dia salah besar. Aku akan melawan. Aku tidak bersalah. Dan seandainya aku dipecat, aku akan mendapat sejumlah uang yang besar sebagai pesangon. Uang itu cukup untuk membiayai pengacara terbaik untuk membelaku di persidangan nanti. Itu pun kalau perusahaan ini cukup cerdas untuk menuntutku.” Kirana menaikkan dagunya, menantang pria itu untuk membalas ucapannya.


Terdengar bunyi tanda elevator telah tiba. Kirana menegakkan badannya. Beberapa orang keluar dari lift tersebut. Mereka menatap heran ke arah Kirana dan orang-orang yang mengelilingnya. Dia hanya tersenyum. Lalu Kirana masuk ke dalam elevator dan menekan angka lantai di mana kantornya berada. Hanya lima pegawai tadi yang masuk ke dalam lift. Dia tidak melihat Caraka ada di antara mereka tetapi dia tidak peduli.


Begitu jam kerja berakhir, Kirana merapikan mejanya. Dia ingin segera keluar untuk berbelanja membeli kebutuhan sehari-hari karena isi kulkasnya kosong. Mendengar bunyi getar di atas meja kerjanya, dia menoleh ke arah ponselnya. Air matanya jatuh membaca pesan yang masuk. Bank memberitahu adanya uang masuk sebesar dua belas bulan gaji di dalam rekeningnya. Dia dipecat.


Niatnya untuk pulang tepat waktu dan pergi ke swalayan harus ditunda. Atasannya dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak perlu datang lagi besok untuk bekerja. Dia duduk sesaat di kursinya dan melihat ke sekeliling ruangannya. Tidak mudah baginya untuk bisa duduk di posisinya sekarang. Dia bekerja keras sehingga bisa memimpin divisi pemasaran. Saingannya tidak sedikit, mereka juga tidak kalah kreatif. Tetapi dia harus puas berada di ruangan ini hanya sampai pada hari ini.


Barang pribadinya tidak banyak, jadi dia hanya membutuhkan sebuah kotak untuk memasukkan semuanya ke dalamnya. Bingkai fotonya bersama kedua orang tuanya, jam meja, peralatan menulis miliknya, pot bunga, mug hadiah dari asistennya, kotak tisu unik dari salah satu bawahannya, dua pasang baju kerja untuk keadaan darurat, agenda kerjanya pada tahun-tahun sebelumnya, dan beberapa buku mengenai pemasaran.


Dengan berat hati, Kirana membuka pintu ruangannya. Matanya membulat melihat rekan-rekan kerjanya berdiri di hadapannya. Pasti ada yang memberitahu mereka mengenai pemecatannya. Sayang, dia hanya diberitahu lewat pesan dari banknya. Sungguh tragis. Dua belas tahun bekerja sepenuh hati dan penuh pengabdian, harus berakhir karena tuduhan yang sebenarnya mudah saja untuk dilawannya.


Satu-persatu dari mereka memeluknya dan mengucapkan selamat tinggal. Mereka berjanji akan mendukungnya di pengadilan bila perusahaan menuntutnya. Mereka juga berjanji akan bersaksi mengenai kejujuran dan kerja kerasnya di perusahaan tersebut. Kirana berterima kasih. Dukungan mereka sangat dibutuhkannya, terutama sekarang, di mana hanya mereka yang berada di sisinya.

__ADS_1


Kini dia telah kehilangan pekerjaannya juga. Apakah akan ada lagi yang menyusul sebagai hukuman berikutnya? Dia tidak punya apa pun lagi. Tidak ada orang tua, tidak ada Ratri, tidak ada pacar, apalagi suami, tidak ada seorang sahabat, tidak ada pekerjaan. Rekan-rekan kerja yang semula dia pikir akan menjadi harapan satu-satunya, harus dia tinggalkan.


Romeo, kamu benar-benar masih lajang ‘kan? Kamu benar-benar belum menikah ‘kan? Tidak ada istri yang sedang melindungimu dengan doanya dan menghukumku dengan doa yang sama? Kalau benar kamu masih sendiri, mengapa hukumannya tidak berakhir juga?


__ADS_2