
Merasakan tubuhnya diguncang-guncang, Miles membuka mata. Dia mengedip-ngedipkan matanya sampai wajah Angelica tampak jelas di hadapannya. Rambut lurus panjangnya kelihatan berantakan. Wajah sawo matangnya basah oleh air mata. Dulu dia tidak pernah bisa menahan dirinya untuk segera bangun dan memeluk wanita itu. Berharap pelukannya dapat mengurangi kesedihannya. Kini apa pun yang dia lakukan tidak akan bisa menghentikan air mata itu. Kecuali dia memberikan apa yang diidam-idamkan istrinya. Satu hal yang tidak bisa diberikannya kepadanya.
“Ada apa, honey?” tanya Miles sambil mengusap-usap matanya.
“Kamu gagal lagi.” tuduh istrinya.
Kamu gagal lagi. Dia tidak menyebut KITA gagal lagi. Sejak kapan kesalahan itu hanya miliknya seorang? Dia lelah dengan semua tuduhan itu. Tetapi tidak berdaya membela dirinya sendiri. Dia juga lelah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Mengapa kamu tidak bisa melakukan hal sesederhana itu? Apa begitu sulit bagimu membuatku hamil? Lima belas tahun, Alastair. Lima belas tahun! Kalau kamu tidak bergerak cepat, aku sudah keburu menopause.” Wanita itu berjalan bolak-balik di kamar mereka dan berteriak ke arah suaminya.
Usia Angelica tiga puluh delapan tahun. Masih ada banyak waktu sebelum akhirnya dia berhenti datang bulan. Dia jelas-jelas tidak bisa melakukan apa pun mengenai itu. Mereka selalu berhubungan intim sehari sebelum dan pada masa subur istrinya. Untuk memastikan dia sedang subur, mereka menggunakan alat tes. Mereka bahkan memeriksanya lebih dari satu kali. Sayangnya, dua minggu kemudian alat tes lain membuktikan bahwa mereka gagal lagi.
Lima tahun pertama pernikahan mereka, tidak satu pun dari mereka yang curiga ada yang salah dengan ketidakhadiran anak. Tetapi mereka berdua sangat bahagia. Cepat atau lambat, dia akan hamil juga. Setelah sepuluh tahun, istrinya mulai merindukan kehadiran buah hati. Mereka melakukan hubungan intim secara teratur setiap bulan. Lima tahun berusaha tanpa ada hasil, istrinya mulai panik dan marah besar.
__ADS_1
Pada hari dia mendapati dirinya haid, dia akan marah-marah seperti yang dilakukannya saat ini. Mereka akan bertengkar sepanjang hari tanpa ada jalan keluar. Istrinya selalu memprovokasinya dengan ucapan-ucapan yang tidak benar. Dia mencoba bertahan beberapa saat sembari mendinginkan suasana. Tetapi tidak akan ada satu pun dari ucapannya yang akan membuat istrinya tenang. Meskipun demikian, dia tidak berhenti mencoba.
“Sudah saatnya kita menemui dokter, honey. Mereka bisa menolong kita untuk menemukan letak masalahnya dan mencarikan jalan keluar yang terbaik.” bujuk Miles. Meskipun dia tahu bujukannya akan sia-sia saja.
“Tidak! Apa pun hasilnya nanti bisa saja akan merusak pernikahan kita. Bagaimana kalau kamu mandul? Apa itu artinya aku harus mencari laki-laki lain untuk membuatku hamil? Menurutku, program bayi tabung bukan pilihan terbaik. Kata orang, banyak pasangan yang gagal dan usahanya hanya membuang-buang uang saja. Cara ini membuat wanita lebih emosional. Aku tidak suka menjadi emosional!” teriaknya dengan cemas.
Ada yang tidak benar mengenai pemahaman istrinya mengenai emosional. Wanita itu sama sekali tidak sadar itulah yang sedang terjadi kepadanya saat ini. Bicara dengan suara setengah berteriak, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, merasa diri sendiri paling benar, memancing lawan bicara untuk melakukan hal yang sama adalah bukti dia sedang emosional. Tetapi Miles tidak akan mencoba untuk meralatnya.
“Mungkin masalahnya bukan pada kemandulan. Kita tidak akan pernah tahu kalau kamu terus menolak memeriksakan diri. Dan mengapa kamu segera menyimpulkan akulah yang bermasalah di sini? Bisa saja kamu yang mandul. Apa kamu tidak pernah memikirkan kemungkinan itu?” Miles tersinggung.
“Ayo, kita ke dokter dan buktikan itu. Kalau benar aku yang mandul, aku akan menceraikanmu. Kamu boleh mencari lelaki lain yang bisa memberimu seorang anak yang kamu idam-idamkan. Kalau kamu yang mandul, kita bisa mengadopsi satu atau dua orang anak. Aku tidak keberatan.” Dia masih mencoba untuk membujuknya.
“Kalau kamu mandul, kamu akan menceraikan aku? Mengapa begitu? Apa kamu punya simpanan yang tidak sabar untuk segera kamu nikahi? Begitukah?” Dia menyipitkan matanya penuh curiga.
__ADS_1
Entah dari mana datangnya ide itu hingga masuk ke dalam kepala istrinya, dia tidak tahu. Bertahun-tahun, dia setia kepadanya. Dia tidak pernah selingkuh atau mendekati wanita lain hanya untuk bersenang-senang. Setiap hari dia bertemu banyak wanita muda yang cantik. Beberapa bahkan tidak segan-segan menggoda dan merayunya. Tetapi dia tidak mengacuhkan mereka semua. Tidak seorang pun yang pernah mendapat sinyal iya darinya. Tidak seorang pun. Dia juga tidak tertarik kepada seorang pun dari mereka.
Rekan-rekan kerja dan sahabatnya sering mengajaknya untuk menikmati satu malam dalam pelukan wanita lain di tempat tidur setiap kali dia dinas keluar kota. Tetapi dengan sopan dia menolak dan mengunci diri di kamarnya sepanjang malam. Walaupun dia selalu berkata tidak, mereka tidak berhenti berusaha. Sering sekali perempuan cantik berpakaian minim mengetuk pintu kamarnya. Dia hanya mengabaikannya saja. Hubungan intim adalah aktivitas eksklusif hanya milik suami istri. Bukan hanya untuk hubungan satu malam.
Pernikahannya memang sedang berada dalam masa sulit. Tetapi pernikahan mana yang tidak pernah mengalaminya. Mereka pasti bisa melaluinya bersama. Dia tidak seperti rekan-rekannya yang suka lari dari masalah dengan menjatuhkan diri ke dalam pelukan wanita lain. Dia memilih untuk menghadapi masalah dan mencari jalan keluar yang terbaik.
“Aku tidak punya wanita simpanan, honey.” jawabnya dengan tenang.
“Lalu mengapa kamu tidak bisa melakukannya? Mengapa kamu tidak bisa memberiku anak? Pasti kamu sudah sering membuang benihmu pada wanita lain. Kalau tidak, aku pasti sudah lama hamil!”
Miles menatap istrinya dengan putus asa. Dia tahu bila dia menenangkannya dengan menyentuhnya, istrinya akan marah dan menepis tangannya. Karena itu dia berhenti melakukannya. Begitu teriakan istrinya meninggi, dia tahu ini saatnya dia mundur. Atau pertengkaran akan semakin buruk dan dia tidak bisa bertanggung jawab atas apa yang sanggup dia lakukan terhadap istrinya bila dia marah.
“Bisakah kamu berhenti berteriak? Kita bisa bicara dengan intonasi yang normal. Aku belum tuli. Dan tolong, duduklah. Kepalaku sakit karena harus mengikutimu berjalan ke sana kemari.” pintanya.
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa tenang, Alastair?!” Angelica berhenti hanya untuk memberinya sebuah tatapan tajam. “Aku harus menunggu selama dua minggu untuk mencoba lagi. Jam biologisku terus berdetak. Dia tidak akan berhenti hanya karena aku belum hamil juga. Lakukan sesuatu!”