Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 54


__ADS_3

Pada minggu berikutnya, pekerjaannya begitu padat. Dia mendelegasikan beberapa pekerjaan kepada rekannya. Dari pagi dia belum sempat sekadar menarik napas panjang. Kirana melirik jam tangannya. Sudah jam makan siang. Dia segera menjemput William dari sekolahnya. Mereka makan siang bersama di restoran Amerika kesukaan William. Dia terlambat bangun pagi tadi sehingga tidak sempat menyiapkan makan siang mereka.


Setelah mengantar putranya ke tempat penitipan anak, dia berjalan kaki dengan santai menuju kantornya. Tiba di pintu masuk, dia melihat Miles berjalan di depannya dan segera menghindar. Dia memeriksa lift. Yang terdekat sedang berada dua lantai di atasnya menuju lantai atas. Terlalu lama bila menunggu hingga elevator itu turun lagi. Dia tidak mau berada di ruangan yang sama dengan pria itu. Dia berlari menuju tangga darurat.


“Juliett,” panggil seseorang dari arah belakangnya. Mengenali pemilik suara itu, Kirana tidak berhenti. Mengapa dia malah memanggilnya dengan nama itu? Dia mempercepat langkahnya. Melihat tanda toilet di depannya, dia berubah pikiran dan menuju toilet wanita. Berharap dengan begitu pria itu tidak akan mengikutinya lagi. Dia berdiri menghadap cermin saat berusaha untuk menenangkan diri. Mendengar bunyi pintu dibuka, dia menoleh.


Dan di sanalah dia berdiri dengan segala ketampanannya. “Pak Bradford, ini toilet wanita. Toilet pria ada di sebelah.” ucap Kirana mencoba untuk tenang. Miles menutup pintu dan berdiri di dekat pintu tersebut. Kirana mengerutkan keningnya.


“Pak Bradford? Ke mana nama Romeo? Kamu selalu memanggilku dengan nama itu saat kita hanya berdua saja.” Miles tersenyum penuh arti.


“Kita sudah sepakat bahwa apa yang terjadi di Singapura akan tinggal di sana.” Kirana melihat ke sekelilingnya. Jalan keluarnya hanya ada satu dan itu berarti harus melewati pria itu.


“Dan aku telah dan sedang melakukannya. Aku sama sekali tidak menyebut nama aslimu, tidak membicarakan hal pribadi, tidak menanyakan nomor telepon. Kamu tidak bilang kesepakatan kita termasuk nama panggilan khusus itu.” Miles mengedikkan salah satu bahunya.


“Nama saya Kirana, bukan Juliett.”


“Aneh. Kamu lebih cocok dengan nama Juliett. Dengan dua huruf t.” goda Miles sambil meniru saat Kirana memperkenalkan dirinya. Wanita itu memicingkan matanya. “Aku tidak menemuimu selama beberapa minggu terakhir untuk membuatmu merasa nyaman menyesuaikan diri di kantor ini. Tapi aku tidak bisa menunggu lebih dari itu, Juliett.”


“Saya masih ada pekerjaan. Saya harus kembali ke ruangan saya sekarang.” Kirana berjalan melewati Miles yang masih berdiri di dekat pintu. Pria itu meraih lengannya.

__ADS_1


“Pak Bradford,” protes Kirana. Miles melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dan tangannya yang lain menyentuh pipinya.


“I miss you, Juliett. Don’t you miss me, too?” Aku rindu kamu, Juliett. Tidakkah kamu merindukan aku juga? Miles menelengkan kepalanya. Dia melihat ke arah Kirana dengan tatapan serius.


“Aku benci mendengarmu berbahasa Inggris. Seharusnya kamu memberitahuku kalau kamu bisa berbahasa Indonesia.” desis Kirana. Dia mengabaikan bahasa formal dan memilih bicara dengan bahasa kasual dengannya.


“Aku tidak bisa menebak kamu berkebangsaan apa. Kamu bisa jadi orang Thailand, Malaysia, atau Filipina. Garis wajah kalian sangat mirip. Dari aksenmu, tebakan pertamaku memang Indonesia. Tapi karena kesepakatan kita, aku tidak bisa bertanya. Ingat?” Miles mengangkat kedua alisnya. Kirana merapatkan bibirnya.


“Apakah kamu mengejekku? Saat kita sedang makan malam di restoran membahas kesepakatan itu, kamu terlihat sangat tertarik. Sama sekali tidak merendahkanku seperti yang sedang kamu lakukan sekarang.” Kirana mengerutkan keningnya. Miles tersenyum.


“Aku tidak mengejekmu, sweetheart. Sekarang jawab pertanyaanku. Apa kamu rindu aku juga?” Dengan tangannya, dia menyeka poni yang menutupi kening Kirana.


“Tidak. Aku lebih suka berpikir bahwa aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. Karena itu aku tidak merindukanmu.”


“Bohong.” Miles mengamati wajahnya. “Aku tahu ketika seseorang sedang berbohong. Suaramu bergetar saat sedang berbohong, sweetheart. Tiga malam bersama cukup untuk membuatku mengenalmu luar dan dalam.” bisiknya dengan nada merayu.


“Berhenti melakukan ini, Pak Bradford. Bagaimana kalau ada yang datang?” Kirana kembali bersikap formal dan segera menjauhkan wajahnya saat Miles mencoba untuk menciumnya. Dengan kedua tangannya di dada pria itu, dia berusaha untuk mendorongnya sekuat tenaga. Tetapi pria itu tidak bergerak sama sekali.


Dia tidak boleh membiarkan pria itu menciumnya lagi. Pengaruhnya terlalu kuat dan sentuhannya membuat dia ketagihan. Bertahun-tahun belajar melupakannya, dia tidak mau mengulang dari awal lagi. Sudah cukup dia menangis hampir setiap malam karena merindukan laki-laki itu selama enam tahun terakhir. Tidak lagi.

__ADS_1


“Apa yang terjadi kalau ada yang datang?” Miles memindahkan salah satu tangannya ke punggung atas Kirana, mempererat pelukannya.


“Mereka akan berpikir bahwa saya sedang menggoda direktur utama yang baru satu tahun menduda.” semprotnya kesal. Tawa Miles meledak. Wanita itu kembali berusaha keras untuk lepas dari pelukannya.


“Baiklah. Akhirnya aku ketahuan.” Miles tertawa kecil. “Sekarang aku mengerti sumber dari kemarahan ini.”


Kekesalan Kirana naik ke ubun-ubun kepalanya. “Keterlaluan! Kamu berbohong kepadaku! Kamu bilang kamu masih lajang. Ternyata kamu sudah lima belas tahun menikah ketika kita bertemu!” pekik Kirana tertahan. Dia memberontak ingin lepas dari pelukannya. “Lepaskan aku!


“Sudah aku bilang, aku terjebak oleh pesonamu, Juliett.” Miles mencium bibirnya. “Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa menahan diri dari wewangian, keindahan senyuman, dan cahaya matamu. Aku merindukan kamu.”


Dunia Kirana seketika itu juga berputar-putar. Kepalanya menolak tetapi hatinya mendambakan ciumannya. Pria itu memanfaatkan keadaannya yang sedang bimbang. Dia tahu betul bagaimana mengalihkan pikiran Kirana dengan sentuhannya. Dia tahu bagaimana membuatnya berhenti menolak dengan ciumannya yang memabukkan. Ketika tangan Miles berpindah ke bagian belakang kepalanya untuk memperdalam ciumannya, Kirana bersandar kepadanya.


Kirana kehabisan udara, tetapi dia tidak berhenti. Dia menarik kerah jas Miles menghalangi pria itu mengakhiri ciumannya. Dia kesulitan bernapas saat Miles mempererat pelukannya, tetapi dia tidak peduli. Untuk saat ini, dia ingin menuruti kemauan hatinya dan mengabaikan peringatan yang ada di kepalanya. Ini adalah pelunasan untuk enam tahun yang hilang.


Seolah-olah mengerti keadaannya, Miles menciumnya dengan santai, memberinya kesempatan untuk bernapas dengan lega. “Makan malam bersamaku malam ini.” ucap Miles disela-sela ciumannya. Kirana sedang berada di awang-awang, tetapi kepalanya masih bekerja dengan baik.


“Tidak.” tolak Kirana dengan tegas. Miles menghentikan ciumannya.


Pria itu menjauhkan kepalanya agar bisa melihat wajah wanita di hadapannya itu dengan jelas. Kirana menggigit bibirnya untuk menahan suara protesnya. Mengapa dia berhenti menciumnya ketika dia masih menginginkannya? Apa dia tidak bisa berhenti bicara sebentar dan menyelesaikan apa yang dia mulai?

__ADS_1


__ADS_2