
Di mobil dalam perjalanan pulang, dia tidak juga berhenti memikirkan apa yang terjadi kepada Juliettnya saat ini. Dia bahkan tidak punya fotonya untuk dijadikan petunjuk. Seharusnya dia berpikir panjang ketika wanita itu mengajukan syarat menggunakan nama samaran dan larangan membicarakan hal pribadi. Kini dia tidak bisa memutar ulang waktu atau berharap bisa mengalami kejadian yang telah lampau.
“Berhenti di supermarket di depan, Mark.” ucap Miles mengingat ada yang perlu dibelinya.
Markus membelokkan mobil ke areal parkir supermarket yang ditunjuk oleh majikannya. Miles memintanya menunggu sambil makan atau minum sesuatu di restoran. Dia akan menyusul dan membayar kuitansinya. Sopirnya menurut.
Di dalam supermarket, Miles langsung menuju rak bagian sabun mandi. Dia segera mengenali merek dan aroma sabun cair yang dicarinya. Dia membuka tutup botolnya dan menghirup aroma sabun tersebut. Matanya seketika memanas karena air mata membasahi pelupuk matanya. Hanya dengan mencium aromanya saja, dia merasakan seolah-olah wanita itu sedang berada di dekatnya.
Di rak berikutnya, Miles melihat barisan parfum wanita. Barang yang dicarinya tidak ada di sana. Dia mendekati wanita yang berjaga dan menyebutkan ciri-ciri produk yang dicarinya. Wanita itu menunjuk ke arah lemari khusus parfum impor. Miles tersenyum sambil menggeleng pelan. Tentu saja. Wanita itu tidak memakai parfum biasa.
Pegawai pria yang berjaga memberinya botol parfum yang dia tunjuk. Miles membuka tutupnya dan menyemprotkan isinya di pergelangan bagian dalam tangannya. Sensasi yang sama dirasakannya kembali. Juliett seolah-olah hadir di situ bersamanya.
Antrian di kasir tidak terlalu panjang. Tetapi dengan dua orang di depannya, Miles menunggu hampir sepuluh menit hingga gilirannya tiba. Setelah membayar, dia menuju restoran. Dia mengajak Markus kembali ke mobil usai membayar minuman yang dipesannya.
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di rumahnya. Melihat beberapa lampu di lantai atas dan teras menyala, dia mendesah pelan. Miles mempersilakan sopirnya untuk beristirahat. Tugasnya hari itu sudah usai. Begitu juga dengan tugasnya sendiri.
__ADS_1
“Akhirnya kamu pulang juga.” Terdengar sebuah suara menyambutnya saat dia membuka pintu depan rumahnya. Miles melihat salah satu kakak istrinya berdiri tidak jauh darinya.
“Kalian sudah datang.” Miles melihat ke sekelilingnya tetapi pria itu hanya datang sendiri.
“Angelica meninggal Rabu minggu lalu dan istri pengacaramu baru memberitahu kami semalam? Apa kamu sudah gila? Seharusnya kami diberitahu secepatnya.” protes pria itu.
“Dan mendengarkan semua tuduhan tanpa bukti dari kalian? Tidak akan. Dengan keluarnya hasil penyelidikan dari pihak yang berwajib, kini kalian tidak bisa menuduhku seenaknya.” ucap Miles sambil mengangkat alisnya.
“Miles, Miles. Semua bukti itu tidak bisa menyangkali adikku depresi karena hasil perbuatanmu.” Salah satu sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Miles menatapnya dengan tenang.
“Tidak ditemukan bukti kekerasan pada tubuhnya, Yanto. Hati-hati bila bicara tanpa bukti. Aku bisa menuntutmu karena pencemaran nama baik. Selama sepuluh tahun terakhir, aku punya banyak bukti siapa yang sebenarnya melakukan kekerasan dalam rumah tangga kami.” Miles meraih ke dalam saku bagian dalam jasnya. “Sebelum kamu menuduh aku tidak bisa membuat istriku hamil, silakan baca hasil tes lab ini. Kalau kamu tidak mengerti, silakan tunjukkan itu kepada Andhika.”
Dia mandi, memakai salah satu celana pendek longgarnya, lalu mencuci tangan menggunakan sabun cair yang baru dibelinya. Puas mencium aroma khas Juliett di tangannya, dia memadamkan lampu kamar mandi. Dia menyemprotkan parfum yang baru dia beli ke atas tempat tidurnya. Malam itu, dia tidur nyenyak tanpa mimpi buruk lagi.
Acara pemakaman Angelica berlangsung dengan lancar. Para pegawainya, sahabatnya dari dalam maupun luar negeri, juga sahabat Angelica, dan rekan kerja istrinya datang menyampaikan rasa duka dan mengantar Angelica menuju tempat peristirahatannya yang terakhir. Ibu kandung istrinya menangis histeris sejak peti mati putrinya ditutup. Begitu Miles menjatuhkan tanah pertama ke atas peti mati istrinya yang ada di bawah tanah, pekikan ibu mertuanya semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Tempat itu berubah hening ketika hanya ada Miles dan keluarga istrinya yang berada di tempat itu. Ibu mertuanya terisak-isak tetapi air matanya sudah berhenti mengalir. Ayah mertuanya mencoba menenangkannya dengan membisikkan sesuatu kepadanya. Keempat kakak istrinya menatapnya dengan tajam. Miles hanya menunduk menatap kuburan istrinya.
“Aku sudah baca hasil lab yang kamu berikan kepada Yanto.” ucap Andhika, kakak Angelica, yang adalah seorang dokter. “Kamu tidak mandul, lalu apa? Tetap saja adik kami depresi berat selama hidupnya bersamamu.”
“Aku tidak melihat kedua orang tuamu datang. Ada apa? Kamu malu kalau mereka melihat hasil perbuatanmu kepada istrimu?” ejek Yanto. Miles hanya diam.
“Kamu pembunuh!” pekik ibu mertuanya. Suaminya kembali mencoba menenangkannya. “Kalau dia tidak menikah denganmu, saat ini dia pasti masih hidup. Angie anak yang baik. Dia berubah sejak menikah denganmu. Kembalikan dia! Kembalikan putriku!”
“Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu. Kamu pasti telah membayar semua polisi dan pihak rumah sakit sampai mereka menyimpulkan bahwa kamu tidak bersalah.” ucap Rizal, kakak istrinya yang lain. Miles membuka kacamatanya lalu menatap mereka secara bergantian.
“Aku tidak pernah berhenti membujuknya untuk mencari pertolongan bersama. Bersama. Tidak hanya untuknya. Kalian sebagai keluarganya, yang tahu dia depresi berat, tidak pernah sekalipun mencoba membujuknya untuk mencari pertolongan. Apa yang kalian lakukan? Menyerangku, seolah-olah itu bisa menyembuhkannya dan membuat pernikahan kami menjadi lebih baik.” ucap Miles tajam. “Kalian lihat sendiri cara itu tidak berhasil.”
Dia mengacungkan telunjuknya melihat Andhika mencoba bicara. “Kamu, Andhika. Aku mengerti kalau keluargamu tidak paham mengenai kesehatan mental. Tapi kamu, kamu seorang dokter. Kamu tahu benar adikmu sedang depresi berat. Apa kamu menyarankan dia untuk memeriksakan diri? Tidak. Apa yang kamu lakukan? Membenarkan semua ucapannya dan menuduh aku tanpa pernah memberiku kesempatan untuk bicara.”
“Kalau selama ini aku diam, itu karena aku tidak ingin menambah beban pikiran istriku. Tapi aku tidak akan diam lagi. Kalian mengaku keluarga dan sayang kepada istriku. Tapi tindakan kalian selama ini tidak lebih dari keluarga yang membenarkan perbuatan jahat anggota keluarganya.” Miles menoleh ke arah Rizal yang mencoba menyanggahnya. “Jadi, Rizal, jangan bicara tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Tindakanmu bicara lebih keras daripada ucapanmu. Kalau kalian ingin menuntutku, silakan. Hasilnya tidak akan jauh berbeda. Percayalah. Aku tidak bersalah.”
__ADS_1
“Aku akan buktikan kalau kamu telah melukai Angie begitu dalam.” ucap Rizal dengan tatapan tajam. “Kalau aku berhasil membongkar kejahatanmu, aku tidak akan melibatkan polisi untuk membuat perhitungan denganmu.”
Miles memasang kembali kacamata hitamnya dan tidak menanggapi ancaman kakak iparnya itu. Dia berjalan menjauhi makam istrinya menuju mobilnya. Markus membukakan pintu mobil untuknya. Sambil berterima kasih, Miles masuk ke dalam. Semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi yang menjadi tanggung jawabnya atas almarhumah istrinya atau pun keluarganya.