Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 20


__ADS_3

Romeo meraih tangannya dan menggandengnya menuju lift. Dengan tangannya yang lain, dia menarik koper milik Kirana. Begitu tiba di dalam kamar, Romeo tidak membuang-buang waktu dan segera membopongnya ke tempat tidur. Dengan senang hati, Kirana melakukan apa yang dimintanya. Mereka makan siang di kamar sambil menonton salah satu film yang disediakan pihak hotel. Mereka keluar kamar hanya pada saat makan malam. Itu pun karena Kirana bersikeras, dia bosan berada di kamar sepanjang hari.


“Caesar salad, lime squash. Apa semua snack ini tersedia? Okay. Mm. Egg roll.” ucap Kirana kepada pelayan yang berdiri di sisinya.


“Medium tenderloin steak, aku mau dagingnya dengan kentang halus bukan kentang goreng, dan kopi hitam.” Romeo menutup buku menunya. Dia melihat ke arah Kirana. “Kamu yakin kamu sudah memesan yang kamu mau? Jika kamu mau tambah, tolong jangan segan.”


“No, thank you.” Tidak, terima kasih. Kirana menggeleng pelan. Romeo mengangguk kemudian menoleh ke arah pelayan.


“That’s all for now.” Itu saja untuk saat ini.


Pelayan itu mengambil buku menu dengan sopan dari depan Kirana dan Romeo lalu pamit setelah menjanjikan makanan Kirana akan tiba kurang dari sepuluh menit, makanan Romeo dalam waktu dua puluh menit.


“Mengapa tidak pesan makanan lain selain salad? Kamu butuh lebih dari itu. Kamu terlalu kurus, Juliett.” Romeo meraih tangan Kirana yang ada di atas meja.


“Aku bisa memesan lagi kalau masih kurang.” Kirana meremas tangannya.


“Jangan merasa segan, okay? Jangan khawatirkan harganya. Aku mengajakmu tinggal bersamaku di hotel ini karena aku sanggup membayar apa pun yang kamu butuhkan.” Biasanya pria itu bisa membaca pikirannya dengan mudah, tetapi kali ini tidak. Porsi makanan yang dipesannya itu tidak kecil.


“Aku tahu, Romeo. Jangan khawatir.”


Romeo tidak melepaskan tangannya saat mereka menunggu makanan mereka datang. Dia menatapnya dengan saksama sambil tersenyum bahagia yang menggemaskan. Sesekali dia akan mengangkat tangan Kirana dan mencium punggung tangannya. Tidak jarang dia mendekatkan tubuhnya dan mengecup bibirnya saat Kirana tidak siap dengan hal itu. Romeo hanya tertawa kecil melihat wajahnya memerah.


Sesuai ucapan pelayan tadi, setelah minuman mereka diantar, yang berikutnya datang adalah makanan pesanan Kirana. Saat dia sedang menikmati makanannya, pria itu masih tidak melepaskan tatapannya darinya. Bahkan saat dia menyesap kopinya, dia terus menatapnya. Kirana mengangkat kepala dan membalas tatapan Romeo.


“Kalau kamu melihatku seperti itu terus, aku tidak bisa makan.” protes Kirana.

__ADS_1


“Kalau tidak menatapmu, ke mana aku arahkan pandanganku?” Romeo mendekat lalu berbisik, “Ke arah wanita di meja samping kiriku?”


Dari ujung matanya, Kirana melihat wanita yang duduk di meja di sebelah kanannya. Wanita cantik itu sedang asyik berbincang dengan seorang pria yang duduk di hadapannya. Seperti mereka, pasangan itu hanya datang berdua saja tanpa ada orang lain bersama mereka. Bila Romeo berani menatap wanita itu, sudah pasti air dalam gelas di depan pria tersebut akan disiramkan ke arah Romeo.


“Aku mengerti maksudmu.” ucap Kirana mengalah. Romeo tersenyum lalu mengecup bibirnya lagi.


Terdengar suara tarikan napas dari sebelah kanan Kirana. Wanita tadi tentu melihat apa yang barusan Romeo lakukan. Kirana membulatkan matanya. Pria di hadapannya itu hanya menegakkan duduknya dan kembali dengan santai menyesap kopinya. Dia menyembunyikan senyumnya di balik cangkirnya. Saat mengangkat pandangannya kembali, pria itu mengedipkan matanya ke arahnya. Kirana menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tidak percaya.


“Kamu ingin kita ke kamar atau ingin berjalan-jalan menikmati angin malam di sekitar hotel?” tanya Romeo begitu mereka selesai makan.


“Pilihan kedua lebih menggiurkan.” goda Kirana. Pria itu tertawa. “Aku ke toilet sebentar. Aku segera kembali.”


“Baik. Aku tunggu di sini.”


Tidak ada seorang pun di dalam toilet. Kirana mendesah lega. Dia mendekati cermin besar di salah satu dinding dan memerhatikan riasan wajahnya. Sangat mengejutkan, semuanya masih baik-baik saja. Hanya wajahnya masih memerah setelah ditatap begitu lama oleh pria yang tidak bisa diatur itu. Dia memoles lipstik sebelum kembali ke pria tampan tadi.


“Hai, kamu terlihat bahagia.” sapanya dengan ramah. Dia melihat ke arah tangan kanan Kirana. “Sedang berbulan madu?”


Kirana mengerutkan kening saat melihat ke arah tangannya. “Tidak.”


“Kamu sedang berlibur bersama suami?” tanyanya lagi. Kali ini Kirana hanya menggelengkan kepalanya. “Lalu siapa pria yang bersamamu? Kalau bukan suami, mengapa kalian berciuman? Apa kamu tidak merasa malu berciuman di tempat umum?”


“Pria yang baru aku kenal semalam. Apa yang salah dari ciuman itu?” ucap Kirana santai. Wanita itu mengangakan mulutnya. “Permisi.”


Walau dia merasa sedikit bersalah telah memberi kesan buruk kepada wanita tadi, dia tidak menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Tidak ada seorang pun yang berhak mencampuri hidup atau tindakan orang lain. Apalagi dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang wanita yang kebetulan mendapat meja di sampingnya atau bertemu di kamar mandi.

__ADS_1


Mereka hanya berciuman. Mereka tidak melakukan perbuatan yang tidak pantas di tempat umum. Dia juga tahu tata krama di negeri orang. Kalau wanita itu tidak menoleh, dia tidak akan tahu apa yang sedang mereka lakukan. Romeo menciumnya tanpa berusaha untuk menarik perhatian orang lain. Itu hanya kecupan singkat di bibir.


Cepat-cepat Kirana menepis pikirannya itu. Dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak malamnya atau suasana hatinya. Romeo sedang melihat ke arahnya saat Kirana kembali masuk ke dalam restoran. Saat pria itu berdiri, pada saat yang bersamaan seorang anak mendekatinya. Romeo kembali duduk dan mendengarkan anak kecil itu berbicara kepadanya. Kirana tersenyum.


“Apa kamu orang Amerika?” tanya anak laki-laki itu dengan sopan menggunakan bahasa Inggris.


“Bukan. Aku orang Inggris.” jawab Romeo. Anak laki-laki itu menyentuh rambutnya sendiri lalu mengerutkan keningnya melihat ke arah Romeo.


“Apakah itu sebabnya warna rambutmu beda denganku? Oh, dan matamu juga.” tanyanya polos.


“Yah, benar.” ucap Romeo membenarkan.


“Apakah itu asli?” tanyanya menunjuk ke arah rambut Romeo. Pria itu menundukkan kepalanya hingga kepalanya berada dalam jangkauan anak laki-laki tersebut.


“Sentuhlah.” ucap Romeo memberinya izin. Dengan ragu, anak itu menyentuh kepalanya. Dia lalu tertawa kecil begitu mengetahui rambut pirang itu asli.


“Keren!” soraknya. Romeo tertawa. “Aku hanya penasaran. Terima kasih.”


“Sama-sama.” Romeo melihat anak itu kembali berlari ke meja di mana kedua orang tuanya berada. Pasangan itu tersenyum kepadanya. Dia membalas senyuman mereka.


“Ternyata selain pria dan wanita dewasa, anak-anak  juga ada yang jadi fansmu.” goda Kirana.


“Cemburu?” Romeo balas menggodanya.


“Hanya merasa beruntung. Aku yang berada di sini bersamamu.”

__ADS_1


“Bagus.” Romeo berdiri lalu mengulurkan tangannya kepada Kirana. “Kita pergi sekarang?” Kirana mengangguk lalu menyambut uluran tangannya.


Mereka berjalan berkeliling di taman. Beberapa tamu membawa anak-anak mereka untuk bermain di tempat bermain. Kirana melihat langit malam dan kecewa karena tidak terlihat bintang di sana. Tetapi dia bisa melihat cahaya bulan. Bulan sabit yang sempurna. Saat dia tersenyum dan melihat ke bawah, Romeo menciumnya.


__ADS_2