Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 19


__ADS_3

Mereka bergandengan tangan keluar dari kamar menuju restoran. Mereka tertawa kecil saat meja yang mereka tempati semalam kosong. Tanpa pikir panjang, Romeo mengajaknya mendekati meja tersebut. Lima belas menit berkeliling sambil mengisi piring masing-masing, mereka kembali ke meja dengan piring penuh makanan.


“Kapan kamu pulang?” tanya Romeo dengan santai.


“Hari Senin pagi.” jawab Kirana. “Kamu?”


“Hari Senin siang.” Romeo tertawa kecil mendengar kebetulan itu. “Apa kamu ada rencana lain? Ingin jalan-jalan mengelilingi Singapura mungkin?”


“Iya. Tapi itu bukan tujuan utamaku. Aku hanya ingin beristirahat. Bagiku berlibur bukan untuk membuat badan lelah dengan berkeliling seharian.” Kirana tertawa kecil melihat mata Romeo membulat dan mulutnya ternganga.


“Apa kamu percaya kalau aku mengatakan kita punya pendapat yang sama, sweetheart?”


“Percaya. Matamu membulat dan sedikit berkerlip senang saat aku mengatakannya.”


“Juliett, Juliett. Katakan, apakah kamu seorang psikolog?” goda Romeo. Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya dengan geli.


“Kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan identitas pribadi.” Kirana mengingatkan dia lagi. Romeo mengangguk mengerti.


“Hanya penasaran.” Romeo meraih tangan Kirana yang ada di atas meja. “Pindahlah ke sini. Akan lebih praktis bila kita tinggal di kamar yang sama daripada kamu pulang pergi ke kamarmu hanya untuk mengambil pakaian ganti.”


“Apa? Kamu ingin aku tinggal di sini bersamamu?” Jantungnya kembali meloncat bahagia.


“Iya. Atau kalau kamu lebih suka aku yang pindah ke kamarmu. Yang mana pun itu, aku tidak keberatan.” Romeo mengangkat kedua bahunya.


“Kamarku jauh lebih kecil dari kamar mewahmu. Aku tidak yakin kamu akan merasa nyaman di sana.” goda Kirana. “Apa kamu yakin? Kamu ingin aku pindah ke kamarmu?”

__ADS_1


“Yakin dan aku menginginkannya.” ucap Romeo penuh harap.


Romeo telah mempermudah segalanya tanpa dia minta. Dia tidak merasa nyaman jika harus tidur dengan pria lain, dia dari tadi mencari alasan dan cara untuk tetap tinggal bersamanya. Sepertinya alam masih berpihak kepadanya. Romeo sendiri yang memintanya untuk tinggal. Dan kini keadaan menjadi lebih baik lagi, dia memintanya untuk pindah ke kamarnya.


Semalam belum hari suburnya. Apa yang mereka lakukan pagi tadi bisa saja memberi hasil yang berbeda. Tetapi dia tidak bisa memastikannya tanpa alat tes yang dibelinya. Dia juga tidak bisa hanya mengandalkan hubungan intim mereka tadi pagi. Bagaimana kalau perhitungannya salah dan hari suburnya adalah besok? Lagi-lagi Romeo telah memberinya solusi yang terbaik.


“Apakah tidak masalah?” tanya Kirana lagi. Diamlah, Kirana! Tutup mulutmu. Dia sudah menawarkan apa yang kamu mau. Apalagi yang mau kamu keluhkan? “Maksudku, kita bukan suami istri.”


“Apakah semalam ada yang mengganggu kita atau melihat kita dengan pandangan yang membuatmu tidak nyaman?” tanya Romeo. Kirana berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya. Pria itu tersenyum penuh arti. “Maka tidak akan ada yang melakukannya bila kamu pindah ke kamarku siang ini.”


Benar juga. Kalau tidak ada yang peduli dengan mereka tinggal dalam satu kamar semalam, maka tidak akan ada yang peduli dengan hal itu hari ini. Lagipula tidak ada seorang pun yang mengenalnya di negara ini. Apa yang dikhawatirkannya? Sudah saatnya dia menutup telinga dengan apa kata orang.


“Baiklah. Aku akan check-out dan pindah ke sini.” ucap Kirana pelan. Sebuah senyuman mengembang di bibir Romeo.


“Aku temani.” tawarnya dengan lembut.


“Tapi,” protes Romeo.


“Aku tidak mau kamu melihat barang pribadiku dan tidak sengaja melihat paspor atau identitas pribadiku. Aku harus menyimpannya di tempat yang aman.” Dia harus berhati-hati. Pria itu bisa saja tidak sengaja melihat identitas pribadinya.


“Kamu suka membuatku penasaran, ya?”


“Hanya ingin tetap pada kesepakatan kita.” ucap Kirana bersikeras. Pria itu menatapnya dengan saksama. Kirana tahu bahwa dia tidak percaya dengan ucapannya tetapi hanya itu yang bisa diberikannya kepada pria itu. Hanya kata-kata.


“Baiklah. Aku memberimu satu jam.” ucapnya setelah melirik jam tangannya.

__ADS_1


“Dua.” tawar Kirana.


“Aku tidak yakin aku bisa menunggu selama itu.” Romeo menggelengkan kepalanya.


“Ambil atau tidak sama sekali.” ucap Kirana tegas. Dia tahu bahwa pria itu tidak akan menolak permintaannya. Romeo menggerutu kesal.


“Baiklah. Kamu menang.”


Kesempatan itu digunakannya untuk memeriksa apakah dia sedang masa ovulasi. Begitu tiba di kamar, dia bergegas ke kamar mandi. Alat tesnya ada di antara produk perawatan wajahnya. Cepat-cepat dia buang air dan menggunakan alat tersebut. Sambil menunggu, dia memasukkan semua produk perawatan wajah, rambut, dan peralatan mandinya ke dalam tempatnya kembali. Salah satu pakaian bersih diambilnya dari dalam koper, lalu dia berganti pakaian.


Setelah semua barang miliknya berada aman di dalam koper, dia menutup ritsletingnya dan menguncinya kembali. Dia memeriksa ke sekeliling kamar, tidak ada lagi barang miliknya yang tercecer. Puas dengan hasil kerjanya, dia kembali ke kamar mandi.


Kirana tersenyum melihat hasilnya positif. Rencananya untuk memiliki anak sudah ada di depan mata. Apalagi bila melihat kemungkinan frekuensi mereka melakukan hubungan intim, bisa saja rencananya akan berhasil. Dia akan memiliki anak seperti Romeo, berambut pirang dan bermata biru cerah, anak impiannya. Dia menyentuh perutnya. Bisa jadi sekarang dia sedang menuju jalan menjadi seorang ibu.


Jantungnya berdebar cepat. Iya, dia tahu. Dia tahu dia telah melakukan sesuatu yang tidak bermoral. Menjebak seorang pria yang bukan suaminya untuk tidur bersamanya tanpa alat kontrasepsi. Melakukan hubungan intim di masa suburnya. Tetapi dia telah siap dengan konsekuensinya. Bila Tuhan menghukumnya karena perbuatannya, dia akan menerimanya. Dia tidak akan mengeluh atau menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri.


Pria asing itu akan kembali ke negaranya, Kirana juga akan pulang ke rumahnya. Mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Tidak ada nama asli. Tidak ada petunjuk mengenai kehidupan pribadi. Mereka tidak akan bisa saling mencari. Mereka sama-sama masih lajang, tidak ada yang akan dirugikan dalam hubungan itu selain diri mereka sendiri. Dan yang paling penting, pria itu tidak akan pernah datang untuk mengklaim atau mengambil anak itu darinya. Itu adalah rencana yang sempurna.


Jika rencananya berhasil dan anaknya lahir, dia akan melindunginya sekuat tenaga. Tidak ada yang boleh menyebutnya anak haram. Dia adalah hasil dari hubungan yang dilakukan secara sadar oleh seorang pria dan wanita dewasa untuk menikmati malam bersama. Walaupun dia tumbuh tanpa seorang ayah, dia akan mendapatkan cinta yang melimpah dari mamanya.


“Aku tidak boleh mundur sekarang.”


Wajah Romeo begitu cerah melihat kedatangannya kembali. Luar biasa. Pria itu menunggunya di lobi. Dia tidak menunggunya mendekat, jadi saat Kirana masih berada di ambang pintu masuk, pria itu segera mendekatinya dan memeluk dengan erat. Hanya setelah pria itu merasa puas, dia melonggarkan pelukannya.


“Kamu di sini.” ucap Romeo begitu lega sambil membingkai wajah Kirana dengan kedua tangannya. Dia menciumnya pipinya.

__ADS_1


Dia hanya pergi selama dua jam dan pria itu sudah sekhawatir ini? Apakah Romeo takut dia tidak akan kembali lagi? Ah, dia mengerti. Dia tidak tahu dia tinggal di penginapan mana atau nomor teleponnya, Kirana hanya memberinya janjinya. Yang tentu saja sulit dipegang karena mereka baru bertemu dan tidak saling mengenal. Wajar saja pria itu khawatir apakah dia akan kembali atau tidak.


“Aku di sini.” Kirana menatap sepasang mata biru cerah yang sedang menatapnya penuh kelegaan.


__ADS_2