
Miles menarik napas panjang. Dia terlihat frustrasi tetapi Kirana tidak peduli. Jika dia ingin membicarakan ini, maka mereka akan membahasnya. Kirana tidak akan berhenti sampai segalanya menjadi jelas. Dan jelas artinya Miles harus melupakan tentang niatnya untuk menikahinya. Kirana akan membuatnya membencinya bila itu bisa membuatnya menjauh.
“Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya kepadaku?” Miles kembali meraih tangannya. “Kirana, aku tidak peduli dengan pendapat orang lain. Aku hanya peduli dengan pendapatku sendiri. Dan bagiku, kamu sangat cantik. Kamu telah menawan hatiku pada malam pertama kita bercinta. Enam tahun berlalu dan aku masih menginginkanmu. Aku tidak mau yang lain. Aku hanya mau kamu. Itu bukan pujian palsu, sweetheart. Aku bersungguh-sungguh.”
“Kamu akan menyesal, Miles. Aku tidak seperti yang kamu lihat sekarang.” Kirana bersikeras.
“Aku tetap ingin menikahimu.” ucap Miles serius.
“Akan ada wanita yang lebih baik yang muncul di kemudian hari yang membuatmu lupa kepadaku. Kamu akan lebih memilih dia daripada aku.” Karena yang lain juga begitu. Apa yang akan membuat Miles berbeda dengan yang lain? Tidak ada.
“Itu tidak akan terjadi. Tidak ada wanita lain setelah aku bertemu denganmu. Tidak juga setelah kita menikah nanti. Aku tetap ingin menikahimu.” Miles benar-benar tidak mundur setelah apa yang Kirana sampaikan.
“Aku tidak mencintaimu.” ucap Kirana kesal. Miles tersenyum.
“Aku yakin aku bisa membuatmu mencintaiku. Menikahlah denganku, Kirana.” ucap Miles tidak mau menyerah.
“Mengapa kamu tidak menyerah juga? Mengapa, Miles?” protes Kirana.
“Karena aku mencintaimu.” Dan dengan kalimat itu, Miles meruntuhkan dinding yang telah dibangunnya. Kirana menangis terisak-isak. Dia menutup wajahnya dengan tangannya yang bebas. Miles melihatnya beberapa saat. Dia duduk mendekat dan memeluknya. Kirana melingkarkan tangannya di pinggangnya, menarik pria itu mendekat. Kemudian dia membenamkan wajahnya di leher Miles.
“Aku juga mencintaimu.” isak Kirana. Miles tersenyum sangat bahagia.
“Aku tahu.”
Miles membiarkan wanita dalam pelukannya itu menangis selama yang dia butuhkan. Dia membisikkan kata cinta dan terus meyakinkannya bahwa mereka akan bahagia bersama. Kirana merasa tenang mendengar bisikan itu. Dia juga merasa begitu lega karena dia akhirnya menyatakan cintanya kepada pria itu. Setelah tenang, dia melonggarkan pelukannya.
“Apa yang kamu butuhkan untuk mengurus persiapan pernikahan itu? Akta lahirku? Paspor?” Kirana menyeka wajahnya yang basah.
“Aku tidak butuh apa pun. Aku sudah dapatkan semua informasi dan dokumen yang aku butuhkan.” jawab Miles santai. Kirana mengerutkan keningnya. Dia melihat ke arah Miles dengan heran.
“Dokumen?”
“Aku mengambil paspor dari tasmu.” Kirana mengangakan mulutnya mendengar itu. Miles menyengir lebar. “Aku melihatmu memasukkannya ke dalam tas saat kamu mengepak barang untuk pindah ke sini. Jadi, aku tahu di mana aku bisa menemukannya.” Miles mengangkat bahunya. Kirana menggelengkan kepalanya.
“Oke. Mengapa bulan depan?” tanya Kirana penasaran. Pernikahan bukanlah hal yang mudah untuk diurus. Mereka harus bicara dengan orang tua dan keluarga Miles, memilih tanggal, menyebarkan undangan, dan detail lainnya.
“Aku tidak mau menunggu.” Miles mengusap-usap perut Kirana. “Perutmu akan semakin besar setiap hari. Bulan depan adalah waktu yang tercepat yang bisa mereka usahakan. Kalau mereka bisa, aku ingin menikahimu hari ini juga.”
__ADS_1
“Kedua orang tuamu pasti membenciku.” ucap Kirana sedih. Miles membelai pipinya.
“Mereka sudah menyukai kalian berdua hanya dengan mendengar nama kalian saja.” ucapnya.
“Kamu menyebalkan, Miles.” ucap Kirana. Miles tertawa kecil.
Pada sore itu, mereka ke mal dan menyesalinya. Mereka lupa bahwa hari itu adalah hari Minggu. Setiap mal penuh dengan padatnya manusia yang mencari hiburan. Tetapi tidak dengan William. Dengan riang dia bergerak dari satu rak ke rak lain memilih buku yang dia inginkan. Semua buku yang menarik perhatian yang ditemukannya, diberikannya kepada Kirana untuk diperiksa. Kirana membulatkan matanya. Ada banyak sekali buku yang diambil putranya. Miles hanya tertawa kecil.
“Kita mungkin tidak sempat pergi ke toko buku dalam waktu dekat. Aku harus pergi keluar kota selama dua minggu. Pilihlah buku untuk satu bulan. Kita bisa bawa beberapa ke Inggris. Jangan khawatirkan soal uang.” Miles mengambil buku yang ada pada tumpukan teratas dan melihat sampulnya.
“Kamu akan membuatnya menjadi manja, Miles.” Kirana mengingatkan.
“Aku tidak keberatan memanjakannya dengan buku. Asal bukan mainan.” ucap Miles serius. Kirana mengangguk tanda setuju sambil tersenyum.
“Cukup adil.” Dia mulai memeriksa buku tersebut.
Miles memanggil putra mereka kembali begitu Kirana mendapatkan buku yang cukup untuknya. Tujuan mereka berikutnya mengejutkan Kirana. Miles memasuki sebuah toko perhiasan. Tahu apa yang diinginkannya, Miles menyebutnya kepada penjaga toko. Beberapa cincin emas berpadu dengan titanium bertatahkan berlian diletakkan di depan mereka. William menatap kagum setiap batu permata pada setiap cincin.
“Ada yang kamu suka?” tanya Miles. Kirana menatapnya dengan bingung. “Ayo.”
“Tapi, Miles. Semua ini sangat mahal.” bisik Kirana. Penjaga toko meninggalkan mereka dengan cincin itu dan melayani pasangan yang lain.
“Kamu membeli cincin ini untuk siapa?” tanya Kirana bingung. Miles hanya tersenyum dan melihat ke arah penjaga toko untuk kembali melayani mereka.
“Kami mau yang ini.” Miles menunjuk cincin yang dipilih Kirana. “Bisa tolong ambilkan yang sesuai ukurannya? Terima kasih.”
“Baik. Mohon tunggu sebentar.” Pria itu mendekati lemari kaca di belakangnya. Kirana mengerutkan kening saat dia melirik Miles. Pria itu hanya tersenyum penuh arti. “Ini, Bu. Silakan coba yang ini.” Dia memberi cincin yang mirip dengan yang Kirana pilih tetapi dengan ukuran yang berbeda.
“Biar aku yang lakukan.” Miles menurunkan William lalu memintanya tetap di sisinya. Dia tersenyum mengambil cincin itu dari dalam kotaknya dan memasangnya di jari manis kanan Kirana. Cincin itu pas berada di jarinya.
“Miles, ini,” Mengerti apa yang sedang dilakukan pria itu, Kirana bengong.
“Kamu mendapatkan ukuran yang pas. Terima kasih.” Miles mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompetnya dan memberikannya kepada pria tersebut. Setelah pria itu pergi, dia melihat kembali kepada Kirana, menundukkan tubuhnya, dan menciumnya.
“Untuk apa ciuman ini?” tanya Kirana yang dengan gugup melihat ke sekeliling mereka.
“Sekarang kamu resmi menjadi tunanganku.” Sekali lagi Miles mengecup bibirnya. Kirana tersenyum. “Aku mencintaimu, Kirana.”
__ADS_1
“Aku mencintaimu juga, Miles.”
“Mom, Dad, tidak di sini.” protes William. Dia menghentakkan kakinya dengan kesal ke lantai. Miles tersenyum. Dia kembali mengangkat putranya dan menggendong.
“Yang ini untukmu.” Miles mencium pipi lembut putranya. Anak laki-laki itu tertawa geli. “Aku mencintaimu, Will.”
“Aku juga, Dad.” William mempererat pelukannya pada papanya.
Miles menggendong William dengan satu tangan dan tangannya yang lain memegang kantong plastik yang penuh berisi buku bacaan anak saat keluar dari toko. Kirana melingkarkan tangannya di lengan Miles. William memilih untuk makan di salah satu kafe es krim. Kirana sudah bisa menebak apa yang akan dipesan putranya. Banana split kesukaannya.
Dia senang melihat usaha Miles untuk mengenal putra mereka. Kirana tersenyum setiap kali mata pria itu membulat mendengar pertanyaan William. Dia pasti bertanya-tanya bagaimana bisa putra mereka terus mengajukan pertanyaan hampir mengenai segalanya. Sejak jawaban konyolnya atas pertanyaan pertama William, dia berhati-hati dan memikirkannya dengan baik sebelum menjawab pertanyaan William.
Ketika seorang pria datang dan menyebut dirinya dari sebuah agen iklan, Kirana tidak menunggu sampai dia berhenti memperkenalkan diri. Dia hanya meminta kartu namanya dan berjanji akan mendiskusikan tawarannya dengan suaminya. Miles menatapnya tidak percaya. Setelah pria itu pergi, Kirana menjelaskan segalanya. Mengenai tawaran iklan untuk putra mereka supaya William menjadi model iklan mereka. Miles tersenyum bangga.
Pada malam harinya, Miles kembali membacakan buku pengantar tidur untuk William. Tidak ingin mengganggu mereka, Kirana membiarkan dua pria itu di kamar putranya. Dia mandi, berganti pakaian dengan salah satu gaun malamnya, dan memulas krim malam di wajahnya. Miles masuk ke dalam kamar mandi saat dia sedang menyisir rambutnya. Pria itu meletakkan satu tangannya di perut Kirana, menyeka rambutnya dengan tangannya yang lain, dan mencium bahunya.
“Will?” tanya Kirana. Dia meletakkan sisir yang dipegangnya ke atas konter.
“Sudah tidur.” Miles mencium lehernya lalu tertawa geli. “Kamu benar. Belum habis satu buku, dia sudah tidur.”
“Kamu papa yang hebat, Miles.” puji Kirana tulus. Miles mengangkat kepalanya. Pandangan mereka bertemu di cermin.
“Kamu mama yang keren.” ucap Miles meniru bagaimana William mengucapkannya. “Aku mencintaimu. Terima kasih sudah bersedia menikah denganku.”
“Sebentar. Aku tidak bilang aku mau menikah denganmu.” Kirana mengerutkan keningnya.
“Mm-hm. Ya. Kamu hanya bilang aku menyebalkan.” Miles tertawa kecil. Kirana ikut tertawa.
“Aku juga mencintaimu, Miles. Walau kadang kamu menyebalkan.” Kirana memicingkan matanya. Mereka tertawa bersama.
“Apa kamu sudah selesai?” Miles mencium leher Kirana. “Ayo, kita tidur sekarang.”
“Tidur?” goda Kirana. Miles tertawa kecil.
“Kamu mengerti apa maksudku.”
Tidak ada lagi yang perlu dia takutkan sekarang. Dia bahkan masih tidak percaya bahwa dia berpikir hal yang begitu buruk mengenai Miles. Pria ini sangat baik kepadanya, memperlakukannya seperti seorang ratu, memperjuangkan cintanya meskipun berulang kali disakiti dengan penolakannya, dan sekarang, dia bahkan mudah saja menyesuaikan dirinya menjadi seorang ayah dan sangat menyayangi putra mereka.
__ADS_1
Dia sudah tidak sabar menunggu hari dia bukan lagi seorang Kirana Paramitha semata, melainkan Nyonya Bradford.