
Cepat-cepat dia menepis suara itu dari kepalanya. Dia kembali melihat ke arah gelasnya, lalu dalam satu tegukan dia meminum habis anggur merah tersebut. Dia mengangkat tangan menarik perhatian seorang pelayan yang berdiri tidak jauh darinya. Dengan cepat, pria itu datang mendekat ke mejanya. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya.
“Apa Anda sudah siap untuk memesan, Pak?” tanyanya sopan sambil mengeluarkan sebuah catatan.
“Iya. Tapi pertama aku butuh air putih.” Miles menunjukkan gelas kosongnya. “Untuk makan malam, aku pesan fettuccine prawn tomato sauce. Aku juga mau beef lasagna tapi siapkan setelah aku selesai makan fettuccine tadi.”
“Baik, Pak.” Dia menuliskan sesuatu pada catatannya.
“Jangan lupa air putih yang aku minta.” Miles mengingatkannya.
“Segera saya antar, Pak.” Ketika pria itu pergi, Miles melihat ke jendela. Malam masih panjang untuk menikmati lebih dari segelas anggur. Dia akan memesan lagi, tetapi dia harus makan dahulu.
Merasakan ada yang sedang melihat ke arahnya, Miles mengangkat kepalanya. Wanita yang dari tadi diperhatikannya, kini sedang menatapnya. Dia bisa melihat bahwa wanita itu tidak menduga akan tertangkap basah. Tidak ingin membuat wanita itu merasa tidak nyaman, dia tersenyum. Di luar dugaannya, wanita itu membalas senyumnya.
Tiba-tiba saja momen itu berakhir karena seorang pelayan mengantar minuman ke meja wanita tersebut. Dia menoleh ke arah pria itu dan dari gerakan mulutnya dia mengucapkan terima kasih dalam bahasa Inggris. Ketika pelayan itu meninggalkan mejanya Miles berharap dia akan kembali melihat ke arahnya. Tetapi tidak. Wanita itu melihat ke sekelilingnya tetapi menghindar melihat ke arahnya. Oke. Jadi dia ingin mengakhiri momen tadi begitu saja? Tidak masalah.
Pelayan tadi kembali dan membawa gelas berisi air putih untuknya. Dia mengatakan makanan pesanannya akan segera diantarkan. Miles tidak tahu apa yang mendorongnya mengatakan itu tetapi dia tidak sempat mencegahnya.
“Aku akan pindah ke meja wanita bergaun merah itu. Antarkan makananku ke sana dan masukkan tagihannya ke tagihanku.” ucap Miles. Pelayan itu melihat ke arah meja yang dia tunjuk lalu kembali melihat ke arahnya.
“Baik, Pak.” ucapnya sambil tersenyum, tanpa ada pertanyaan.
Apa yang sedang dia pikirkan? Bagaimana kalau wanita itu tidak datang sendirian? Bagaimana kalau temannya datang menyusul kemudian? Sebentar. Kalau dia ada janji dengan seseorang, mengapa dia sudah memesan minumannya? Bila dilihat dari apa yang diucapkannya kepada pelayan, sepertinya dia juga sudah memesan makanannya. Kalau dia tidak datang sendiri, mengapa dia tidak menunggu temannya sebelum memesan? Hanya kalau dia datang ke restoran ini seorang diri maka wajar dia memesan tanpa menunggu, seperti yang Miles lakukan.
Bukan masalah besar. Karena dia sendirian dan tidak punya teman berbincang, tidak ada salahnya bicara dengan orang baru. Mereka berada di tempat umum, tidak ada yang akan terjadi andai teman wanita itu muncul. Mereka hanya berbincang. Tetapi dia menunggu beberapa saat, siapa tahu ada yang mendatangi wanita tersebut.
Dia memberanikan diri untuk menyapa wanita itu, ketika tidak ada orang lain yang muncul. Wajah wanita itu berubah tegang ketika dia mendekat. Miles tersenyum. Wanita itu pasti sudah tahu dia sedang berjalan menuju tempatnya, sekalipun dia sedang tidak melihat ke arahnya.
__ADS_1
“Hello.” sapa Miles begitu dia berdiri di depannya.
Wanita itu mengangkat kepalanya lalu tersenyum. Saat itu juga jantung Miles nyaris berhenti. Dia begitu cantik. Bukan kecantikan polesan yang biasa dilihatnya pada wanita yang mencoba mendekatinya. Benar dia memakai riasan lengkap, tetapi riasan itu tidak mampu menyembunyikan kecantikan alaminya. Miles, kamu sedang bermain api. Dan kamu tahu itu.
“Hello.” balasnya. Suara wanita itu begitu lembut. Memberi ketenangan dan kehangatan di dadanya.
“Apakah kamu sendirian? Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Wanita secantik kamu tidak mungkin datang ke sini seorang diri. Tapi,” ucap Miles ramah.
“Sayangnya, dugaan kamu benar.” Wanita itu tertawa kecil. Suaranya bagaikan surga di telinganya.
“Aku juga datang ke sini sendiri. Boleh aku bergabung denganmu?” tanya Miles penuh harap.
“Tentu saja. Silakan.” Dia mempersilakan Miles duduk di kursi di seberangnya.
Wanita itu tidak berhenti memberinya kejutan. Setelah menghindari tatapannya, dia mempersilakannya duduk bersamanya? Menarik. Dia sempat berpikir wanita itu seorang yang pemalu. Ternyata dugaannya salah. Wanita cantik, ramah, dan penuh rasa percaya diri sepertinya memang mudah menarik perhatian para pria, termasuk dia sendiri.
“Tidak. Katanya makanan di sini sangat enak, aku ingin mencobanya.” Dia tersenyum lagi.
“Katanya? Kamu bukan orang Singapura?” tanya Miles. Dari aksennya, dia menggunakan gaya Amerika, sulit untuk mengetahui asal negaranya. Dia berhati-hati agar tidak memberi kesan terlalu ingin tahu.
“Tidak. Aku berlibur di sini. Kamu tinggal di sini?” Dia menyilangkan tangannya di atas meja.
“Tidak. Aku juga sedang liburan.” jawab Miles.
Dia mengerutkan keningnya saat wanita itu melirik ke arah tangan kanannya lalu ke arah tangan kirinya. Apa yang dilihat wanita itu dari kedua tangannya? Apakah dia ingin tahu apakah dia suka kebersihan atau tidak? Untung saja dia memotong kukunya secara teratur.
“Apakah dari informasi yang kamu dapat, mereka juga memberi informasi makanan apa yang paling enak di sini?” Dia meniru gaya perempuan itu dengan menyilangkan kedua tangan di atas meja.
__ADS_1
“Iya. Tapi aku tidak akan mengikuti saran itu. Urusan makanan tergantung selera masing-masing orang. Apa yang mereka sebut enak, belum tentu enak bagiku. Aku memilih untuk mencoba makanan kesukaanku sendiri.” jawabnya.
Wanita cerdas dan berpendirian. Perpaduan yang jarang ditemuinya. Orang-orang yang dikenalnya lebih suka mencoba semua informasi yang mereka terima mengenai sebuah restoran dan lebih dahulu mencoba makanan yang mendapat rating tinggi. Tetapi tidak dengan wanita itu. Dia memilih memesan makanan kesukaannya daripada yang disarankan oleh informasi yang didapatnya.
“Benar juga.” Miles tertawa kecil. “Oh, iya. Namaku,”
“Jangan beritahu aku nama aslimu.” potong wanita itu cepat. “Cukup nama kesukaanmu. Maaf, tapi aku merasa tidak nyaman berbagi informasi pribadi kepada orang yang tidak aku kenal.”
“Apa aku punya tampang seorang pembunuh berencana? Itukah yang kamu takutkan?” canda Miles. Wanita itu tersenyum.
“Sebagian besar pembunuh berencana adalah orang yang dikenal baik dan tidak punya catatan kriminal. Jadi, iya. Kamu punya tampang itu.” simpulnya.
“Alasan yang masuk akal.” Miles mengangguk setuju.
“Namaku Juliett, dengan dua huruf t.” Wanita itu memperkenalkan dirinya lebih dahulu. Miles tersenyum penuh arti. Jadi, ini adalah sebuah permainan. Okay. Dia akan ikuti aturan mainnya.
“Selamat, Juliett. Kamu telah menemukan Romeomu.” goda Miles. Juliett tertawa kecil. Miles menyukai suara tawanya seperti halnya dia menyukai tawa kecilnya. Dengan segera.
Percakapan mereka terhenti sejenak. Makanan mereka datang secara bersamaan. Miles memerhatikan menu yang dipilih wanita tersebut. Spaghetti meatballs dan roasted chicken wings dalam porsi besar. Juliett tertawa. Apakah akan ada kejutan lain setelah ini? Ini pertama kalinya dia melihat seorang wanita cantik memesan banyak makanan. Yang paling mengejutkan, badannya ramping. Apakah dia suka makan atau setelah ini dia akan memuntahkan semua makanannya supaya tetap langsing?
Seorang pelayan datang menanyakan apakah mereka mau menambah pesanan, mereka menjawab tidak. Lalu dia mengisi gelas Miles atas izinnya.
“Kamu menginap di sini?” tanya Juliett setelah pelayan tadi pergi. Miles mengangguk. “Pantas saja pelayan tadi bersikap begitu perhatian.”
“Gregory, pemilik hotel ini, salah satu teman baikku.” Miles berkata dengan jujur.
“Wow! Kamu sangat beruntung!” ucapnya terkejut. Kamu lebih mengejutkan aku lagi.
__ADS_1