
Melarikan diri darinya enam tahun yang lalu adalah satu hal, menolak lamarannya adalah hal lain, menyembunyikan fakta bahwa mereka punya anak bersama masih bisa diterima, tetapi mengatakan kepadanya bahwa ayahnya sudah meninggal sangat tidak bisa dipercaya sehingga begitu melukainya.
“Kamu mengatakan semua omong kosong itu kepada anak kita?” protes Miles. “Aku sudah mati? Kamu benar-benar ingin aku mati?”
“Tidak seburuk kedengarannya. Kamu perlu dengarkan aku dahulu.” jawab Kirana. Miles meletakkan kedua tangannya di pinggangnya sambil melotot ke arahnya.
“Oh. Dengan senang hati. Aku ingin mendengarkan semuanya. Aku tidak mau kamu meninggalkan fakta penting sekecil apa pun.” tantang Miles. Kirana memutar bola matanya.
“Kembalilah bermain bersama temanmu, Will. Aku perlu bicara dengan Daddy.” Kirana menepuk-nepuk pelan kepala putranya. William membulatkan matanya dan menoleh ke arah mamanya.
“Aku punya seorang daddy?” tanyanya terkejut. Kirana menganggukkan kepalanya.
“Iya. Kamu punya seorang daddy.” Kirana tersenyum. William menoleh dan melihat melihat ke arah Miles penuh harap. Dia mendekati Miles lalu memeluknya. “Puji Tuhan, Dia telah mengirimmu kembali agar kamu bisa bersamaku.”
Miles membulatkan matanya. Dia melihat ke arah Kirana lalu ke arah anak kecil itu. Dengan ragu, dia menyentuh tubuh kecil yang sedang berada dalam pelukannya itu. Dia begitu kecil sehingga dia takut dia akan melukai tubuh rentannya. Anaknya. Rambut dan tubuh William mengeluarkan aroma produk bayi. Manis dan lembut. Dia menghirupnya dalam-dalam. Aroma buah hatinya. William melonggarkan pelukannya lalu berlari menuju teman-temannya. Mendadak hati Miles kembali kosong.
“Ayo, kita duduk di tempat kita.” ajak Kirana. Miles mengangguk. Dia berdiri.
Tanpa pikir panjang, dia meraih tangan Kirana dan berjalan di sampingnya. Kirana menoleh ke arahnya lalu ke arah tangan mereka yang bertautan. Sebuah senyuman muncul di bibirnya. Mereka duduk saling berhadapan di atas alas kain. Miles duduk menyilangkan kakinya dan menunggu dengan sabar.
“Maaf, aku harus melakukannya.” Kirana memulai dengan permintaan maaf. “Aku harus melakukannya. Lebih mudah mengatakan ayahnya telah meninggal daripada menjelaskan perkara yang sebenarnya. Dia tidak akan mengerti setiap kata yang aku ucapkan.”
“Oke. Aku bisa menerima alasan itu.” Miles mengangguk. Mereka tidak punya kesepakatan apa pun mengenai kehadiran bayi. Pada saat itu dia percaya bahwa dia tidak akan bisa menghamili seorang wanita. “Jadi, kapan rencananya kamu akan memberitahu aku?”
__ADS_1
“Tidak akan pernah.” jawabnya jujur.
“Dan boleh aku tahu mengapa?” tanya Miles.
“Karena aku tidak menduga kita akan bertemu lagi, Miles.” aku Kirana. “Aku mengajakmu tidur bersama karena kamu orang asing. Tidak akan ada kesempatan untuk pertemuan berikutnya, tidak ada drama cinta tak berbalas, dan tidak ada komitmen.”
“Hanya itu?”
“Dan juga karena, karena aku,” Kirana terbata-bata.
“Apa itu, Kirana? Katakan saja. Aku ingin dengar semuanya.” desak Miles. Kirana mendesah pelan lalu menganggukkan kepalanya.
“Orang tuaku meninggal enam tahun yang lalu. Kakakku tinggal di luar negeri bersama keluarganya. Dia sudah lama berpindah kewarganegaraan. Sejak menikah dia tidak pernah pulang. Kecuali pada hari kematian Papa dan Mama.” Kirana memulai ceritanya.
“Untuk menikah, aku tidak yakin aku cukup menarik untuk membuat laki-laki jatuh cinta kepadaku. Lalu aku mulai berpikir untuk memiliki anak. Aku belum menikah, mengadopsi anak bukanlah pilihan. Sampai akhirnya ide itu muncul di kepalaku. Tidur dengan laki-laki di masa suburku.” Kirana menelan ludahnya dengan berat.
“Aku tidak ingin menjebak siapa pun agar menikahiku. Tidak. Tujuanku sangat sederhana. Aku ingin memiliki anakku sendiri. Tidak apa-apa kalau aku tidak bisa menikah.” Dia menunduk tidak mau melihat mata Miles saat dia mengakhiri ceritanya.
“Aku melamarmu sebelum aku bertemu dengan William. Apa alasanmu menolakku? Kamu tidak pernah mengatakannya kepadaku.” Miles menyilangkan tangannya di depan dadanya.
“Aku takut kamu akan mengambilnya dariku.” Kirana mengepalkan tangannya yang ada di pangkuannya.
“Aku melamarmu, Kirana. William adalah sebuah anugerah bagiku. Aku tidak akan mengambilnya dari sisimu. Aku ingin menikahimu.” ucap Miles dengan serius. Kirana merapatkan bibirnya. Dia tahu dia tidak bisa membohongi pria itu. “Mengapa kamu menolak lamaranku?”
__ADS_1
“Saat kamu menceritakan kepadaku tentang istrimu yang memanfaatkanmu untuk mendapatkan anak, aku melakukan hal yang sama kepadamu. Kamu begitu marah kepadanya hingga kehilangan gairah saat bersamanya. Aku takut kamu akan marah kepadaku begitu kamu tahu kebenarannya.” aku Kirana. Mata Miles melembut.
“Apakah kamu tahu apa yang membuatmu berbeda dengan almarhumah istriku?” tanya Miles. Kirana menggeleng pelan. “Dia memanfaatkan aku, Kirana. Dia memakiku saat dia tidak hamil dan tidak mau berusaha menemui dokter untuk mencari tahu di mana masalah kami. Kamu tahu mengapa? Karena dia sudah tahu. Dialah yang mandul. Aku menemukan surat hasil pemeriksaan lab di antara barang-barang pribadinya. Itu setelah aku selesai dengan terapiku.” Kirana membulatkan matanya, terkejut.
“Mengapa dia begitu ketakutan, aku tidak mengerti.” Miles menggeleng pelan. “Aku selalu mengatakan kepadanya bahwa kalau dia mandul, kami akan mengadopsi anak untuk kami besarkan bersama. Aku tidak pernah mengancam akan meninggalkannya kalau ternyata dialah yang bermasalah. Tapi tetap saja dia ketakutan.”
“Kamu? Kamu memberiku kebahagiaan. Aku percaya diri kembali. Aku merasa berharga. Yang sudah lama tidak aku rasakan ketika berhubungan intim, kembali aku rasakan saat bersamamu. Kamu tidak pernah menunjukkan tanda-tanda ingin menjebakku atau memanfaatkan aku demi memiliki anak. Yang ada dalam kepalaku saat itu, aku mandul. Berapa kali pun kita berhubungan intim, aku tidak perlu takut dengan konsekuensinya.”
“Aku tahu, akulah yang telah melakukan hal yang salah. Dan aku tidak berhenti mohon ampun kepada Tuhan karena telah selingkuh di belakang istriku, melanggar janji setiaku kepadanya. Benar pernikahan kami sedang dalam masalah, tapi itu tidak bisa digunakan sebagai pembenaran atas perbuatanku itu.” Miles mengusap wajah dengan tangannya dan mendesah.
“Tapi Tuhan juga yang mempertemukan kita kembali. Aku tahu aku tidak pantas untukmu dan William. Andai kamu beri aku satu kesempatan, aku hanya meminta satu kesempatan, aku berjanji aku tidak akan mengecewakanmu.” janji Miles. Kirana melihatnya seolah-olah dia mengatakan sebuah kebohongan. Itu bukan kesalahannya. Malam yang mereka nikmati bersama adalah bukti nyata bahwa dia mempunyai kemungkinan untuk selingkuh.
Miles meraih salah satu tangannya. “Kirana, aku janji aku akan setia kepadamu. Tidak ada pengalaman satu malam bersama wanita lain selain kamu. Dulu, saat ini, atau pun di masa depan. Aku akan tunjukkan kepadamu dan anak kita kalau aku akan selalu mencintai kalian.”
“Juga dia?” tanya Kirana sambil menyentuh perutnya. Miles mengikuti arah pandangan wanita itu. Dia melihat ke arah Kirana dan perutnya bergantian. Wanita itu tersenyum dan mengangguk pelan. Miles mengangakan mulutnya.
“Ka, kamu hamil?” tanya Miles tidak percaya.
“Iya.” Kirana mengangguk. Miles tidak bisa berkata-kata. Dia membuka mulutnya tetapi tidak ada kata yang keluar.
“Berarti rencanaku berhasil.” Miles tertawa. Kirana mengerutkan keningnya.
“Rencanamu?”
__ADS_1
“Iya. Aku memaksamu untuk datang bersamaku ke seminar itu dan memesan kamar yang sama untuk tempat kita menginap adalah untuk membuatmu hamil. Aku berencana untuk memaksamu menikahiku dengan membuatmu hamil.” Miles tertawa. “Itulah sebabnya aku tidak marah pada detik aku mendengar tentang rencanamu enam tahun yang lalu.”