
Dua jam kemudian mereka tiba di rumah Miles. Mereka lelah, lapar, dan kotor. William terbangun ketika tubuhnya dibaringkan ke tempat tidur. Dia ingin makan tetapi Kirana memintanya mandi dan berganti pakaian dahulu sebelum makan malam.
Miles meninggalkan mereka dan berjalan menuju kamarnya sendiri. Di dalam kamar mandi di kamarnya, dia berdiri di bawah pancuran selama yang dia butuhkan dan membersihkan semua ketakutan, kelelahan, dan kebencian dari kepalanya. Karena dia ingin melindungi keluarganya, dia harus bisa menjernihkan kepalanya. Setelah mandi, dia memakai kaus putih longgar dan celana panjang dari katun yang biasa dia pakai saat tidur.
Dia keluar dari kamar dan memeriksa keadaan mereka di kamar sebelah. Kirana sedang duduk di tepi tempat tidur sambil melihat ke arah jemari kakinya. Dari posisinya berdiri, Miles tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah wanita yang dicintainya itu. Piyama bersih yang sepertinya milik William diletakkan di atas tempat tidur. Tidak jauh dari wanita itu.
“Hei, biar aku yang temani dia.” ucap Miles di ambang pintu. Kirana mengangkat kepalanya. “Kamu mandilah. Kamarnya di sebelah.”
“Terima kasih.” Kirana berdiri dan berjalan menuju pintu. Miles memeluknya saat mereka berdiri bersisian.
“Di sini kalian aman.” Miles mencium pelipis Kirana. Wanita itu mengangguk pelan. Dia keluar dari kamar tersebut.
Lima menit kemudian pintu kamar mandi terbuka. William keluar, kelihatan lebih segar dan harum. Karena dia hanya mengenakan pakaian dalamnya, Miles memberikan piyamanya. Dengan cekatan, anak itu memakai sendiri kaus dan celana tidurnya. Kemudian dia mendekati papanya dan memeluknya.
“Apa kamu lapar?” tanya Miles. William mengangguk cepat. Miles menggandeng tangannya menuju ruang makan di lantai bawah.
“Wow, Dad. Rumah ini besar sekali.” ucap William saat mereka menuruni tangga. “Menurutku, pasti menyenangkan bisa tinggal di rumah ini.”
“Kamu akan tinggal di sini mulai dari sekarang.” ucap Miles memberitahukan. Apa pun yang akan Kirana pikirkan atau penolakannya terhadap ini ide, akan dia urus nanti. Dia akan mengubah pikiran wanita itu. Jika dia tidak bisa, tinggal di rumah mereka juga bukan pilihan yang buruk.
“Sama Mom juga?” William membuyarkannya dari lamunannya.
“Ya. Sama Mom juga.” Miles menyetujui. Putranya bersorak senang.
__ADS_1
“Kamu tinggal di sini bersama siapa, Dad?” tanya William ingin tahu.
“Bersama orang-orang yang akan banyak membantu supaya kita bisa tinggal di sini lebih nyaman.” jawabnya. William mengerutkan keningnya.
“Aku tidak mengerti.” katanya jujur. Miles tertawa kecil.
“Aku akan memperkenalkan mereka satu-persatu kepadamu nanti.” Miles membukakan pintu menuju ruang makan keluarga. Hanya ada meja makan kecil dengan enam kursi di ruangan itu. Seorang wanita menyambut mereka. “Nah, perkenalkan, wanita ini adalah Wanda. Dia pengurus rumah sekaligus koki utama di rumah ini.”
“Hai, namaku William.” Anak itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Wanda. Wanita itu menyambutnya. Meskipun wajahnya tersenyum, dia menatap tuannya penuh tanda tanya.
“Akan aku jelaskan kepadamu nanti.” janji Miles. Wanita itu mengangguk mengerti.
Wanda menyajikan steak daging sapi, kentang halus, hidangan selada, dan kentang goreng untuk makan malam mereka. William bersorak senang melihat banyaknya makanan yang disajikan di atas meja. Wanda menyajikan dua gelas air minum untuk mereka berdua sesuai dengan permintaan tuannya, kemudian meninggalkan ruangan tersebut. William dan Miles makan dengan lahap dan tidak ada yang berusaha membuka percakapan untuk beberapa menit.
“Mungkin dia ketiduran. Kita biarkan saja dia istirahat, ya.” Miles menutup keran air dan mengeringkan tangan William menggunakan handuk kecil.
“Oke. Tapi itu berarti kamu yang harus baca buku untukku, Dad.” soraknya senang.
“Baca buku?” tanya Miles bingung.
“Iya. Mom selalu membacakan buku untukku sebelum tidur.” jawab William. Pantas saja dia begitu pintar. Dia belajar banyak hal dari mendengarkan mamanya membaca untuknya.
Mereka menonton sebuah film keluarga hingga William mengantuk. Begitu memasuki kamarnya, William segera melompat ke atas tempat tidur dan berbaring. Miles mengambil sebuah buku yang sampulnya penuh warna dan membuka pada bagian di mana terletak sebuah pembatas buku.
__ADS_1
Baru membaca dua kalimat, William sudah mengajukan sebuah pertanyaan. Sebisa mungkin dia menjawabnya. Miles selalu mengingat ucapan Kirana agar berhati-hati memberi jawaban karena putra mereka akan mengingatnya. Jadi, dia harus memberi jawaban yang tidak akan melenceng dari logika. Setelah beberapa kali memotong kalimat papanya dengan pertanyaan, anak kecil itu akhirnya diam dan mendengarkan papanya membacakan buku.
Miles mendesah pelan ketika akhirnya William tertidur pulas. Dia memperbaiki letak selimut yang menutupi tubuh putranya. Dia menunduk saat mencium keningnya. Bagaimana mungkin seorang anak sekecil ini bisa punya banyak pertanyaan di kepalanya adalah di luar logikanya. Tidak yakin apakah putranya tidur dalam keadaan lampu padam atau hidup, dia memilih memadamkan lampu kamar. Kemudian dia menutup pintu sesenyap mungkin.
Miles turun menuju dapur dan melihat Wanda telah menyiapkan apa yang dipesankannya. Dengan kedua tangannya, dia mengangkat baki yang di atasnya telah diletakkan sepiring steak daging sapi lengkap dengan kentang halus, dan selada, serta segelas air putih dan satu mug berisi cokelat hangat.
Di kamarnya, dia tidak melihat Kirana di mana pun. Jadi dia meletakkan nampan di atas nakas dan memeriksa kamar mandi. Dia juga tidak ada di sana juga. Tetapi dia tersenyum. Wanita itu pasti ada di kamar yang lain. Dasar perempuan. Ketika dia membuka pintu kamar lain, dia menemukannya sedang tidur di tempat tidur dengan kakinya menggantung di tepi tempat tidur. Dia sudah berganti pakaian tetapi rambutnya masih basah.
Perlahan Miles mendekatinya. Setelah menyeka dengan lembut rambut yang menutupi wajahnya, dia mengecup bibirnya. Kening wanita itu berkerut tetapi dia tidak membuka matanya. Kemudian Miles menciumnya lagi, menggodanya. Dia sudah menyukai kebiasaan barunya membangunkan wanitanya. Kirana menggeram kesal.
“Bangun, Kirana.” Miles membelai pipinya.
“Aku mau tidur.” ujarnya mengantuk.
“Boleh. Tapi sebelumnya, kamu harus makan.” kata Miles tidak menyerah. Kirana mengangkat kedua kakinya ke tempat tidur lalu memutar badannya memunggungi pria itu.
“Aku tidak lapar.” tolak Kirana.
“Kamu tidak, tapi janin dalam kandunganmu?” ucap Miles mengingatkannya. Dia mengerang lagi dan mendesah pelan. Miles tahu bahwa kalimat itu akan berhasil. Karena dia selalu lebih mencintai yang lain daripada dirinya sendiri. Dengan bayi yang sedang tumbuh di dalam rahimnya, dia tidak bisa sembarangan dengan kesehatannya.
“Miles, aku membencimu.” umpat Kirana.
“Aku tahu itu. Kamu sudah sering mengucapkannya, terima kasih.” Miles tertawa kecil. Dia meletakkan tangannya di punggung Kirana dan di bawah lekukan lututnya. Tanpa kesulitan yang berarti, karena dia seringan bulu, dia membopongnya ke kamar tidurnya, bukan, kamar tidur mereka. Karena di sanalah seharusnya dia berada. Tepat di sisinya.
__ADS_1