
William merasa sangat senang karena pada hari itu dia tidak harus bermain bersama dengan teman-temannya di tempat penitipan. Kirana membawanya ke mal untuk membeli beberapa pakaian baru untuknya. Terakhir kali dia membeli pakaiannya adalah saat dia berusia tiga tahun. Kini menjelang usia lima tahun, pakaian lamanya sudah kesempitan. Seperti halnya anak-anak, dia bosan setelah dua jam berkeliling mencari baju, celana, kaus kaki, pakaian dalam, dan sepatu untuknya.
Dia bersorak senang melihat mamanya menuju kasir. Setelah membayar semua barang belanjaan mereka, Kirana mengajaknya ke kafe es krim. Dia bersorak gembira. Es krim favoritnya adalah banana split. Ketika dia minta tambah, mamanya mengizinkannya. Kirana hanya memesan segelas jus jeruk nipis untuk dirinya sendiri.
“Bagaimana wawancaranya, Mom?” tanya William.
“Lancar.” Kirana membersihkan es yang ada di pipi William sebelum putranya itu menggunakan lengan kausnya untuk membersihkannya. “Mereka menanyakan banyak pertanyaan dan aku berusaha menjawab semuanya.”
“Apa kamu dapat pekerjaan itu?” William mengangkat kepalanya dan melihat ke arah mamanya.
“Mereka akan segera memberitahu begitu hasilnya keluar.” Kirana mengangkat kedua bahunya.
“Apa menurutmu kamu akan dapat pekerjaan itu, Mom?” tanyanya lagi karena tidak puas dengan jawaban mamanya.
“Tidak terlalu yakin. Sainganku berat.” Kirana mendesah pelan. William mengerutkan keningnya, lalu mengusap-usap tangan mamanya.
“Nanti aku belikan banana split kalau kamu berhasil mendapat pekerjaan itu, Mom.” ucap William untuk menghiburnya. Kirana tertawa kecil.
__ADS_1
“Siapa yang akan membayarnya?” tanya Kirana curiga.
“Tentu saja kamu, Mom.” jawabnya riang. Kirana tertawa. Putranya tahu bagaimana membuatnya bahagia lagi.
William hampir menghabiskan es krimnya yang kedua, Kirana melirik arlojinya. Masih ada cukup waktu untuk menonton film di rumah nanti. Dia hanya butuh waktu setengah jam untuk memasak kue kering juga jagung berondong manis kesukaan putranya. Berarti hanya tinggal satu hal lagi, membeli film anak-anak yang baru.
“Maaf, Bu.” sapa seorang wanita yang berdiri di samping Kirana.
“Ya?” Kirana menoleh ke arahnya.
Wanita itu menjelaskan bahwa dia berasal dari sebuah agen yang melatih anak-anak untuk menjadi model untuk iklan di media cetak atau elektronik. Sebelum wanita itu menjelaskan segalanya lebih lanjut, Kirana menolak. Ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan tawaran yang sama. Sejak William berusia tiga bulan, sudah ada banyak tawaran yang datang kepadanya. Mereka tertarik untuk menjadikan putranya sebagai model iklan mereka. Hal yang tidak akan ditolaknya andai saja keadaannya berbeda.
Kirana semakin takut sekarang setelah dia bertemu lagi dengan Romeo. Pria itu tidak akan tahu sudah berapa pria yang tidur dengannya, tetapi tidak akan sulit untuk menebak siapa ayah kandung William. Kirana bisa menipu pria itu dengan mengubah warna rambut dan bola mata putranya, tetapi tidak dengan kemiripan pada wajah mereka berdua.
Seminggu kemudian Kirana mendapat kabar hasil dari wawancara tersebut. Atasannya sendiri yang menyampaikannya kepadanya. Dia nyaris tidak percaya dengan berita yang didengarnya itu. Simon mengajaknya dan rekan satu timnya di bagian pemasaran untuk makan malam bersama di restoran yang berada tidak jauh dari kantor mereka.
Ucapan selamat berdatangan untuknya tidak hanya dari rekan satu timnya, tetapi juga dari rekan lain satu kantor cabang itu. Dia sampai butuh lebih dari setengah jam untuk berjalan dari pintu ruangannya menuju pintu depan gedung kantornya. Dia harus menjemput William dari tempat penitipan baru bisa mengikuti acara makan malam mereka. Putranya segera bersorak girang begitu mengetahui tentang kabar gembira tersebut. Dia tidak lupa dengan janjinya untuk membelikan mamanya banana split.
__ADS_1
Mereka makan malam dengan riang dan tidak berhenti bicara terhadap satu sama lain. Meskipun wajah para rekan satu timnya begitu bahagia, Kirana tahu bahwa mereka sedang menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya. Mereka tidak ingin membuatnya merasa sedih karena harus meninggalkan mereka. Tetapi tanpa itu pun dia bisa merasakan dadanya sesak. Dia akan merindukan mereka semua.
Dia adalah orang jahat yang meninggalkan rekan-rekannya demi pekerjaan yang lebih baik. Namun dia harus melakukannya. Dia harus memberikan masa depan yang lebih baik untuk putranya. Atasannya begitu bangga dengan prestasi yang diraihnya. Dia senang setidaknya ada satu orang yang bahagia dengan pencapaiannya itu.
Putranya yang duduk di sisinya begitu bersemangat menghabiskan satu porsi cheese burger untuk orang dewasa. Ralat, dua porsi. Dia tertawa kecil sambil mengambil satu potong kentang goreng dari atas piring William.
Keesokan harinya menjadi hari yang berat bagi Kirana. Itu adalah hari terakhirnya bekerja di kantor cabang sebelum dia pindah ke kantor pusat. Semuanya berjalan normal seperti hari yang biasanya. Namun beberapa menit menjelang jam usai kerja, rekan-rekannya juga asistennya masuk ke dalam ruangannya. Mereka memberinya hadiah perpisahan yang dibungkus indah. Kotak itu cukup besar, Kirana tidak bisa menebak apa isinya.
Saat mereka menjabat tangannya mengucapkan perpisahan dan terima kasih, mereka tidak bisa menahan diri lagi. Baik wajah Kirana maupun rekan-rekannya basah oleh air mata. Mereka berjanji akan saling berkomunikasi dan bertemu pada saat mereka bisa meluangkan waktu. Satu babak lagi dalam hidupnya ditutup. Babak baru akan segera dibuka.
William bahagia melihat mamanya menjemputnya dengan taksi. Dia pikir mereka akan pergi untuk makan malam bersama rekan-rekan kerja Kirana lagi. Ketika dia melihat beberapa kotak dan kantong di jok belakang mobil, barulah dia mengerti mengapa mereka tidak pulang menaiki bus kota.
Kirana memasak nasi goreng dengan telur orak-arik, sosis, dan brokoli tumis untuk makan malam mereka. Selesai makan dan mencuci piring, William mengikutinya ke ruang depan. Meskipun dia sudah sengaja menyalakan televisi dan memasang salah satu DVD film anak-anak koleksi mereka, William lebih tertarik melihat apa isi dalam kantong dan kotak yang dibawa mamanya dari kantor.
Dia mendapatkan beberapa jam tangan, tas tangan, tas sandang, botol minuman unik, mug, dan sebuah dress yang bisa digunakannya untuk bekerja. Kotak terakhir yang belum dibukanya adalah pemberian rekan-rekan satu divisinya. William duduk di sisi kotak tersebut, ikut penasaran dengan isi dalam kotak besar tersebut.
Ada banyak barang di dalamnya. Sebuah bingkai foto besar yang di dalamnya terdapat foto yang diambil saat mereka fieldtrip dengan pakaian yang senada dan wajah bahagia, sebuah album foto berisi swafoto mereka masing-masing dengan dirinya disertai pesan dan kesan mereka untuknya, satu kotak berisi sepuluh bungkus cokelat bubuk dengan marshmallow kesukaannya yang sulit didapat, dan sebuah mug besar dengan namanya terukir pada permukaannya.
__ADS_1
Mereka akan sangat dia rindukan.