
Miles telah dijadikan alat untuk membuat anak oleh almarhumah istrinya. Dia begitu marah dan benci dengan apa yang telah diperbuat istrinya. Enam tahun yang lalu, Kirana juga melakukan hal yang sama. Tanpa sepengetahuannya, dia telah memperalat Miles, menjebak Romeonya, untuk memberinya seorang anak. Apa yang akan dilakukannya kalau dia tahu yang sebenarnya? Mungkinkah Miles akan membencinya? Lalu bagaimana dengan William? Apakah dia akan membenci putranya juga?
William begitu menggemaskan dan sangat cerdas. Tidak ada orang yang bisa menolak kepolosannya sebagai seorang anak kecil. Siapa pun yang bertemu dengannya, pasti langsung jatuh cinta kepadanya. Apakah Miles juga akan begitu? Mungkinkah dia akan menerima dan menyayanginya tidak peduli bahwa Kirana telah menjebaknya agar dia bisa hamil?
Inilah hukuman atas perbuatan amoralmu, Kirana. Waktu penghukumanmu telah tiba. Kamu berpikir bahwa kalian tidak akan pernah bertemu lagi. Lihatlah, alam berkata lain. Lima tahun menjadi orang tua tunggal, sekarang papa kandung William muncul kembali. Kamu akan mendapatkan hukuman yang tidak kamu duga-duga.
“Aku mohon kepada-Mu. Jangan biarkan Will diambil dariku.” Kirana memeluk tubuh dengan kedua tangannya. Air mata jatuh membasahi pipinya. “Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dia.”
Kematian kedua orang tuanya tidak berada dalam kendalinya. Kepergian kakaknya juga tidak bisa dicegahnya. Istri yang dipilih Dexter, Fauzi, dan teman prianya yang lain juga tidak bisa ditentukan olehnya. Tetapi William adalah miliknya. Putra yang dia kandung dan lahirkan sendiri. Miles tidak bisa mengambilnya darinya.
Tetapi pria itu mencintainya. Bila dia benar-benar mencintainya, dia tidak akan membuatnya menderita, ‘kan? Pria itu akan selalu memikirkan kebahagiaannya, ‘kan? Seperti yang baru saja dilakukannya. Mereka makan malam di restoran yang lama diidam-idamkannya. Enam tahun yang lalu, dia berharap bisa makan malam di restoran mewah tersebut, dan permintaannya sudah terkabul. Miles tidak akan memberinya kejutan itu kalau dia tidak serius dengan perasaannya. Iya ‘kan?
Dia baru saja mengenalnya secara pribadi. Hanya fisiknya yang bisa dikenalnya dengan baik, tetapi siapa Miles yang sebenarnya, dia belum tahu. Setelah dibohongi berulang kali, dia tidak yakin bahwa dia bisa memercayainya lagi dalam waktu dekat. Bagaimana jika ternyata pria itu tidak sebaik yang telah ditunjukkannya kepadanya? Apa yang akan terjadi kepadanya dan putranya?
Oh, Tuhan. Semoga saja dia bukan pria jahat. Dia tidak sanggup membayangkan bahwa William mempunyai seorang ayah yang tega menyakiti putranya sendiri. Dia selalu memperlakukan putranya dengan penuh kasih sayang. Sekalipun dia melakukan hal yang membuat kepalanya sakit atau hal yang membuatnya malu, dia tidak pernah memukul atau menyakiti putranya. Iya, mereka sering berdebat, tetapi hanya itu. Sebisa mungkin dia tidak menaikkan intonasi suaranya saat bicara dengan anaknya.
__ADS_1
Mendengar bunyi pintu kamar terbuka, Kirana cepat-cepat menghapus air mata di wajahnya. Pria itu akan bertanya apa yang membuatnya menangis. Dia sudah lelah dengan kebohongan. Kirana tidak mau berbohong kepadanya lagi. Dia mendengar bunyi langkah kaki Miles yang mendekatinya dari belakang.
“Kirana? Mengapa kamu sudah bangun? Ini masih jam tiga pagi.” tanya Miles dengan suara mengantuk. Kirana tetap melihat jendela di depannya dan tidak menolehkan kepalanya untuk melihat pria itu.
“Aku terbangun tiba-tiba dan tidak bisa tidur lagi.” jawabnya pelan. Dia bersyukur suara yang keluar terdengar normal, tidak bergetar. Tangan Miles memeluknya dari belakang. Bibirnya mencium lehernya.
“Hm. Ayo, kembali ke kamar. Aku akan membantumu tidur lagi.” Dia menghirup rambut Kirana dalam-dalam. Wanita itu menyandarkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di dada Miles. Dia mengusap-usap pelan kedua tangan yang ada di bagian depan tubuhnya.
“Miles?” tanyanya saat pria itu mencium rahangnya.
“Apa kamu masih membenci istrimu? Setelah apa yang dilakukannya kepadamu?” Kirana merasakan pria itu berhenti menciumnya. Miles pasti memikirkan jawabannya di kepalanya. Dia tahu karena itu adalah pertanyaan yang mengejutkan.
“Aku sudah memaafkannya. Itu satu-satunya cara agar aku bisa pulih dari depresi.” jawab Miles. Dia meletakkan dagunya di bahu Kirana. “Mengapa kamu tanyakan itu?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran.” Dia mengutuk dirinya sendiri di kepalanya karena sudah berbohong lagi.
__ADS_1
Dia memaafkan istrinya karena ingin pulih dari depresi. Bukan karena dia ingin memaafkannya. Kalau dia tahu tentang William, apakah dia akan memaafkannya juga atau malah marah besar? Dia tidak tahu yang mana sikap yang akan diambil Miles. Dan dia tidak berani memilih yang mana yang akan menjadi keputusan Miles.
Hanya ada satu hal yang terus bermain di kepalanya. Miles akan marah dan merebut William darinya. Setelah bertahun-tahun mencoba untuk memiliki seorang anak, dia pasti tidak akan menyerah sampai bisa memiliki William. Apalagi dia anak laki-laki, penerus keturunan Bradford. Ahli warisnya.
Mungkin sudah saatnya dia pergi lagi. Sebelum Miles tahu mengenai keberadaan putranya. Sebelum dia mengambilnya darinya. Bila dia melibatkan hukum, Kirana sudah pasti kalah telak. Dia tidak akan bisa membela diri karena benar dia telah menyembunyikan William dari ayahnya setelah berhari-hari mereka bertemu kembali. Tidak ada cara lain selain pergi dari Miles dan tidak pernah kembali lagi.
“Tidak apa-apa? Kamu tidak pernah penasaran sebelumnya.” Miles mempererat pelukannya. “Ada apa, Kirana?”
Kirana membalikkan tubuhnya sehingga Miles melonggarkan pelukannya. Wanita itu membingkai wajahnya dan membelai setiap sentinya. Dia akan sangat merindukannya. Dia berjinjit lalu mencium bibirnya. Dengan begitu, Miles akan lupa dengan pertanyaannya. Mereka punya kesamaan. Berciuman dan berhubungan intim membuat mereka melupakan segalanya. Dan Kirana belum siap untuk menjawab pertanyaannya tersebut.
“Tawaranmu untuk membantuku tidur masih berlaku?” bisik Kirana. Miles tersenyum. Tiba-tiba dia membopong tubuhnya. Kirana memekik tertahan karena terkejut. Mereka kemudian tertawa bersama.
Miles membaringkannya perlahan di atas tempat tidur lalu mulai mencium bibirnya. Tangannya masuk melewati bagian bawah piyama Kirana dan mengelus punggung wanita itu. Kirana tertawa kecil. Tentu saja. Bantuan yang dia maksudkan adalah dengan bercinta. Bercinta. Setelah selama ini mereka hanya sekadar berhubungan intim, hal itu mendadak berubah. Mereka sedang bercinta. Lebih manis dan dalam menyentuh hatinya. Tetapi itu tidak banyak membantu. Dia masih belum bisa tidur.
Air mata membanjiri wajah Kirana ketika Miles memeluk tubuhnya dari belakang. Pria itu mencium kepalanya sambil menarik napas dalam-dalam. Dia menutup mulut dengan tangannya agar isakannya tidak keluar. Dia tidak mau laki-laki itu tahu bahwa dia sedang menangis. Dia juga tidak mau membicarakannya. Perlahan-lahan napas Miles teratur. Pria itu telah terlelap. Kirana memejamkan mata, berusaha untuk tidur juga.
__ADS_1
Bagaimana caranya pergi dari Miles akan dipikirkannya nanti. Saat ini dia perlu beristirahat. Beberapa jam lagi dia akan pulang dan bertemu dengan putranya.