Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 32


__ADS_3

Angelica melihat suaminya dengan mata membulat. Mulutnya yang terbuka lebar ditutupnya dengan kedua tangannya. Air mata menggenangi pelupuk matanya. Miles tidak berekspresi sama sekali saat melihatnya.


“Apa? Jadi dugaanku benar. Kamu tidak pernah mau memberiku seorang anak.” tuduhnya.


“Bukankah kamu sendiri yang begitu yakin bahwa aku mandul? Kalau kamu masih menginginkan seorang anak, kamu harus mencari pria lain.” ucap Miles dengan tenang.


“Supaya kamu bisa mencari wanita lain. Iya ‘kan?” Angelica kembali menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Ekspresi sedihnya sudah diganti dengan wajah marah. “Aku tahu mengapa kamu tinggal lebih lama dua sampai tiga hari setiap kali kamu dinas keluar kota. Kamu menemui wanitamu di luar sana. Aku tahu, Alastair. Bagaimana? Adakah dari mereka yang berhasil memberimu seorang anak? Ada? Atau mereka juga akhirnya menjadi bukti nyata bahwa kamu mandul?”


Setiap kali istrinya menyebut tentang wanita lain, dia selalu teringat kepada Juliett. Lima tahun sudah dia tidak bertemu dengannya, tetapi segalanya mengenai wanita itu masih bisa diingatnya dengan jelas. Wajah cantik memerahnya, rambut panjangnya yang indah, bibirnya yang manis, sentuhannya yang membuatnya rindu, aroma tubuhnya yang khas, suaranya yang menyejukkan dan menghangatkan hatinya. Entah bagaimana kabarnya sekarang.


Jujur saja, dia beberapa kali memperpanjang waktu kunjungannya ke Singapura karena Juliett. Dia masih berharap akan terjadi keajaiban dan wanita itu muncul lagi di restoran atau hotel tersebut. Andai hal itu terjadi, dia tidak akan melepaskan wanita itu lagi, tidak peduli apa alasannya. Hanya satu hal yang akan menghentikannya. Jika wanita itu telah menikah. Dan setiap kali memikirkannya, dadanya terasa nyeri. Dia tidak bisa membayangkan Juliettnya menjadi milik pria lain.


Apa yang terjadi di Singapura hampir lima tahun yang lalu adalah hal pertama dan terakhir dia pernah tidur dengan wanita lain. Semarah apa pun dia, betapa pun besar rasa kecewanya kepada istri dan pernikahannya, dia tidak tertarik untuk tidur dengan wanita lain lagi. Sekalipun dia berlibur selama akhir pekan setiap kali melakukan perjalanan dinas atau ada wanita yang terang-terangan tertarik kepadanya, dia menghabiskan waktu hanya seorang diri.


“Aku tidak punya wanita simpanan, Angelica.” ucap Miles dingin. Lelah dengan semua tuduhan yang sama yang harus didengarnya itu. Dia tahu ini saatnya untuk keluar dari kamar mereka. “Aku tidak ingin cepat pulang karena tidak ingin melakukan ini lagi denganmu. Bertengkar tanpa alasan dan mendengar suaramu yang meninggi. Seolah-olah dengan begitu kamu bisa meyakinkan aku bahwa kamulah yang paling benar.”


“Sialan kamu, Alastair! Berengsek!” teriak Angelica. Miles tidak menunggu lagi. Dia mundur selangkah dan berjalan keluar dari kamar mereka. Istrinya terus berteriak dan mengikutinya dari belakang. Dia tidak memedulikannya.


“Selamat pagi, Pak Miles.” ucap Markus yang membukakan pintu mobil untuknya.


“Selamat pagi, Mark. Terima kasih.” ucap Miles saat duduk di jok belakang.

__ADS_1


“Sebentar, Pak.” Wanda berlari tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Markus menahan pintu tetap terbuka. Wanita itu menyodorkan sebuah tas bekal. “Ini sarapan untuk Bapak.”


“Terima kasih, Wanda. Maaf sudah membuatmu repot.” ucap Miles penuh simpati.


“Ini sudah pekerjaan saya, Pak.” Senyum wanita itu mengembang.


Miles tersenyum dengan kebaikan semua pelayannya. Sepanjang perjalanan, dia menikmati roti isi hamnya yang lezat. Dia tersenyum melihat ke arah sopirnya. Markus menyetir dengan hati-hati dan sabar. Dia kagum dengan sikapnya itu. Memiliki keluarga yang menunggu di rumah memang memberi efek itu kepada seorang pria.


Begitu keluar dari lift di lantai di mana ruangannya berada, dia melihat kepala bagian IT telah menunggunya di luar ruangannya. Miles tertawa kecil melihatnya. Pria itu cemberut. Dia tidak bisa melupakan pertemuan pertama mereka setiap kali dia melihat Reynand. Pengendara sepeda motor yang STNK-nya pernah dia tahan. Dua hari setelah kejadian naas itu, pria itu berhasil mengetahui siapa dia yang sebenarnya.


Dia tidak hanya memberi tujuh juta yang Miles minta, dia juga meminta maaf, dan memohon diberi kesempatan bekerja di perusahaannya. Melihat kemampuannya dalam bidang IT, dia menerimanya. Kini pria itu seorang kepala IT yang telah banyak membantunya dalam memberi informasi maupun melaporkan informasi yang perlu diketahui atasannya.


“Sangat buruk, Pak.” ucapnya dengan nada sangat serius. Miles mengangguk.


“Baik. Kita bicara di ruanganku.” Miles melihat ke arah asistennya. “Kemala, tolong minta dua cangkir kopi diantar ke ruanganku. Kamu baru boleh masuk ke ruangan setelah Reynand keluar.”


“Baik, Pak.” ucap Kemala patuh.


Saat Miles masuk ke dalam ruangannya, pria itu telah meletakkan sebuah laptop di atas mejanya menghadap kursi kerjanya. Miles duduk di kursinya dan melihat layar laptop tersebut. Tanpa menunggu penjelasan dari Reynand, dia mengerti apa yang sedang dibacanya. Mendengar bunyi ketukan pintu, dia mempersilakan masuk. Seorang pria masuk sambil membawa baki berisi dua cangkir kopi. Setelah dia meletakkannya di atas meja, pria itu pamit.


“Minta Kemala untuk memanggil kepala bagian SDM menemuiku.” ucap Miles sebelum pria itu keluar dari ruangannya. Dia mengangguk lalu keluar dari ruangan. Miles kembali melihat ke arah Reynand. “Bisa lakukan sesuatu dengan transaksi keuangan ini?”

__ADS_1


“Akan saya batalkan. Sisa uang lain yang telah masuk ke dalam rekeningnya?”


“Cetak bukti transaksinya. Itu bisa jadi bukti untuk menuntutnya nanti.”


“Apa Anda akan meminta ganti rugi yang lebih besar dari uang yang telah dicurinya?” tanya Reynand penasaran.


“Apa kamu masih perlu menanyakan itu?”


“Tidak, Pak. Segera saya selesaikan.” Reynand mengambil laptopnya kembali. “Tidak boleh ada yang tahu. Benar?”


“Tidak boleh ada yang tahu. Aku ingin tahu siapa lagi yang berani mencuri dariku.” Ini sudah ketiga kalinya terjadi dan jumlah yang dicuri semakin besar. Pelakunya selalu orang yang berada pada posisi yang di atas. Bukan bawahan atau pun pegawai baru. Dia sangat menyayangkan hal itu karena tidak mudah mencari penggantinya.


“Baik. Saya permisi sekarang, Pak.” ucap Reynand dengan sopan.


“Tidak perlu. Cukup kerjakan di sini. Aku ingin melihat langsung hasilnya.” ucap Miles. “Lagipula kopi itu harus kamu habiskan sebelum keluar dari ruanganku.”


“Baik, Pak. Saya akan duduk di sini.” Reynand duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu. Miles tidak bisa menjawabnya karena dia sedang tertawa kecil. “Pak, tolonglah, kejadian itu sudah lima tahun yang lalu.”


“Aku tahu, aku tahu. Sudah. Kerjakan saja tugasmu.” Miles tertawa terbahak-bahak. Reynand kembali cemberut.


Melihat wajah Reynand pagi itu membuatnya lupa pada pertengkaran dengan istrinya. Begitu Nathan, kepala bagian SDM, memasuki kantornya, Miles memberi perintah kepadanya untuk meminta kepala bagian keuangan mengundurkan diri dan membayar ganti rugi uang yang telah diambilnya dari perusahaan. Dia mempersilakan pria itu untuk meminta bukti kejahatannya dari Reynand. Nathan menurut dan berjanji akan memberitahu perkembangannya kepada atasannya.

__ADS_1


__ADS_2