
Mereka diam untuk beberapa saat. Miles menusuk Kirana dengan tatapannya yang tajam, sedangkan wanita itu melihat ke arah lain selain Miles. Dia tidak bisa mundur lagi, dia harus menghadapinya dan mengatakan jawaban terakhirnya. Miles mungkin punya pendapat lain, tetapi bagi Kirana, pendapatnya adalah yang terbaik.
“Aku akan meletakkan surat pengunduran diriku besok pagi di atas mejamu.” Kirana mengumumkan.
“Itu terserah kepadamu. Aku masih punya sisa parfum dan sabun di rumah. Aku bisa memakainya untuk menemaniku.” Miles berjalan mundur beberapa langkah menjauhinya.
Parfum dan sabun? Apakah maksudnya Miles tidak akan membiarkan kenangan tentangnya pergi dari hidupnya? Dia ingin terus hidup dengan bayangannya? Apa yang sedang dipikirkan pria itu? Apakah dia mencoba mengubah pikirannya dengan menumbuhkan rasa simpatinya? Dia tidak akan berhasil. Dia tidak boleh berhasil.
“Jangan lakukan ini kepadaku, Miles.” Kirana memohon.
Miles menghentikan sebuah taksi yang kosong. Dia memberikan koper Kirana kepada sopir taksi untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Kirana hanya menatapnya dan tidak mencoba untuk mendekatinya. Pria itu mengangguk mengerti.
“Selamat tinggal, Kirana.” Miles masuk ke dalam mobilnya. Dia pergi tanpa menoleh ke arahnya lagi.
Dengan tubuh bergetar, Kirana masuk ke dalam taksi. Setelah menyebutkan alamatnya, sopir tersebut menyalakan argo dan menjalankan taksi. Dia butuh lebih dari dua jam untuk berhenti di sebuah toko dan tiba di rumahnya. Bukan rumah miliknya, itu hanya rumah kontrakan. Tetapi dia sudah tinggal di situ selama enam tahun. Dia melihat putranya sedang duduk di kursi di teras sambil melihat ke arah jalan.
“Mommy, Mommy.” sambut William yang segera berlari mendekatinya begitu dia keluar dari taksi. Kirana tertawa bahagia. Mungkin memiliki William saja tidaklah cukup. Tetapi hanya dialah miliknya satu-satunya saat ini.
“Hi, baby.” Kirana berlutut dan membuka lebar-lebar kedua tangannya. Begitu William berada dalam pelukannya, dia mencium rambut pirangnya. “Are you waiting for me?”
“I am. I miss you.” ucap putranya dengan suara lirih.
“I miss you too, sweetheart.” balas Kirana. Dia kemudian merasakan dadanya nyeri mengingat kata favorit Miles khusus untuknya. Sweetheart.
“My name is Will, not sweetheart or baby.” protes William seperti biasanya.
“Okay, okay.” Kirana tertawa kecil.
__ADS_1
“Hai, Bu. Saya minta maaf. Will tidak mau mendengarkan saya. Dia berlari begitu saja keluar pagar. Untung saja tidak ada mobil yang sedang lewat.” ucap Helen penuh sesal.
“Bukan masalah, Helen. Aku tahu dia begini bila merindukanku.” Kirana melepaskan pelukannya dan berdiri. “Apakah kamu mau pulang?” Dia melihat ke arah tas punggung Helen. William memegang erat celana jins Kirana.
“Iya, Bu. Kalau tidak ada lagi yang perlu saya kerjakan.” ucapnya penuh harap. Tidak ada lagi yang perlu dia kerjakan, tidak sekarang atau nanti. Tetapi Kirana tidak mengatakannya.
“Baiklah. Terima kasih sudah menjaga Will.” Kirana memberinya sebuah amplop. Gajinya karena telah menjaga William selama dia pergi. Helen menerimanya dengan senang.
“Sama-sama, Bu.” ucap Helen seraya memasukkan amplop tersebut ke saku celana jinsnya. “Daah, Will.”
“Daah, Miss Helen.” William melambaikan tangannya.
Kirana membayar taksi, menyeret kopernya dengan satu tangan, dan membawa sebuah kantong plastik dengan tangannya yang lain. William yang masih memegang celana jins Kirana berjalan di sampingnya. Lalu dia memasang gembok pada pagar. William tersenyum bahagia saat mereka berada di dekat rumah. Jelas sekali dia merasa sangat lega karena mamanya tidak pergi lagi. Kirana membuka pintu rumah dan membiarkan putranya masuk lebih dahulu. William segera masuk dan menaiki tangga.
Setelah mengunci pintu, Kirana meletakkan kuncinya di dalam kotak kayu di atas meja kecil. Dia duduk di salah satu sofa sambil memijat pelan kakinya. Akhirnya, dia tiba di rumah. Tidak ada tempat yang lebih nyaman selain di rumah.
Cepat-cepat dia membuang pikiran itu. Tidak. Dia harus melupakan apa yang telah terjadi. Apa yang terjadi di Singapura tetap tinggal di Singapura.
“Mommy, Mommy, lihat!” William berlari kecil sambil membawa buku gambar di tangannya.
“Apa ini?” tanya Kirana. Sebuah gambar. Seorang perempuan berambut hitam panjang dengan ikal di ujung rambutnya sedang menggandeng seorang anak laki-laki berambut pirang. Ada tulisan I love my mommy di atas kepala mereka. “I love you too, sweetheart.”
“Will, Mommy.” protesnya lagi.
“Okay. I love you too, Will.” Kirana mencium pipi putranya. William membingkai wajahnya dengan kedua tangan kecilnya lalu mengecup bibirnya. Sepasang mata biru cerah membawanya kembali kepada Miles.
Aku mencintaimu, Kirana. Sekali lagi dia membuang jauh pikiran itu. Mengapa kenangan itu terus kembali memenuhi pikirannya?
__ADS_1
“Aku juga menggambar Nemo.” William menunjuk kertas di balik kertas yang pertama. Kirana tersenyum melihat gambar ikan yang lebih mirip ikan buntal.
“Aku punya kejutan untukmu.” Kirana mengerlingkan matanya.
“Oh, ya? Kamu ingat ulang tahunku, Mom?” tanya William penuh harap.
“Tentu saja.” Kirana berdiri dan berjalan menuju kamarnya. William mengikutinya dari belakang. Dia mengambil sebuah kotak besar dari atas lemari pakaiannya. Putranya membulatkan matanya.
“Kamu membeli kado sesuai pesananku?” tanyanya tidak sabar.
“Iya.” Kirana memberikan kotak itu kepada putranya. William membuka kertas kadonya. Matanya membulat melihat isi di dalamnya. Dia bersorak senang lalu memeluk mamanya dengan erat.
“Terima kasih, Mom. I love you, I love you, I love you!” sorak William.
“Selamat ulang tahun, Will Bradford.” Kirana membulatkan mata menyadari apa yang barusan dia ucapkan. Dia menyebut nama belakang Miles setelah nama putranya. Sepertinya William terlalu senang dengan kado yang diterimanya sehingga tidak mendengar ucapannya. Kirana mendesah lega.
“Kamu beli kue?” William melonggarkan pelukannya dan menatap kedua mata mamanya. Kirana mengangguk senang.
“Iya.” Kirana berdiri dan mengulurkan tangannya kepada William. Anak laki-laki itu meraihnya. “Ayo, kita habiskan.”
“Aku mau cupcake keju dan blueberry.” ucap William riang.
“Aku beli rasa itu beberapa buah.”
Mereka duduk di kursi yang mengelilingi meja makan setelah mencuci tangan. Kirana mengeluarkan kotak besar dari plastik dan membukanya. William membasahi bibirnya dengan lidahnya. Kirana tertawa geli. Dia meletakkan dua buah cupcake kesukaan William di atas piringnya. Dengan lahap, putranya memakannya. Kirana mengizinkannya memakan empat dan menyimpan sisanya untuk hari berikutnya. Dia sendiri hanya memakan satu karena kehilangan selera makan.
Dia membacakan buku cerita untuk putranya di tempat tidur. William menanyakan banyak pertanyaan setiap kali menemukan hal baru dari yang Kirana bacakan. Dia menjawabnya dengan sabar. Beberapa menit kemudian, anak laki-laki itu tertidur lelap. Kirana tersenyum. Dia memperbaiki letak selimut putranya lalu mencium keningnya dengan sayang.
__ADS_1
Mereka akan baik-baik saja. Apa pun yang terjadi, Miles tidak boleh sampai tahu mengenai keberadaan putranya. Dia pasti akan marah besar kepadanya seperti yang dia rasakan kepada almarhumah istrinya. Kirana tidak akan sanggup menghadapinya. Kalau sampai pria itu mengambil putranya darinya, dia lebih baik mati saja.