
Saat menikmati makan malam, mereka membahas hal-hal ringan seputar penilaian terhadap makanan mereka masing-masing, interior restoran, dan pelayanan yang mereka terima sejauh ini. Hal yang membosankan tetapi Miles tidak merasakannya saat bersamanya.
Pembicaraan mereka berikutnya beralih pada pendapat mereka mengenai berbagai jenis musik, penyanyi, film hingga aktor dan aktrisnya. Miles mulai menyadari bahwa wanita itu sangat berhati-hati. Tidak ada pembicaraan yang mengarah ke hal-hal pribadi. Membicarakan musik dan film pun, mereka tidak menyebut yang mana yang menjadi kesukaan masing-masing.
Itukah sebabnya dia tidak mau mereka berkenalan dengan nama asli? Karena dia tidak mau mereka membicarakan hal-hal pribadi? Tetapi mengapa? Benarkah dia hanya merasa tidak nyaman berbagi informasi pribadi kepada orang yang tidak dia kenal? Atau ada alasan yang lebih dari itu?
“Kamu mau makanan pencuci mulut?” tanya Miles sambil melihat daftar makanan.
“Kamu masih mau makan lagi setelah dua porsi makanan tadi?” tanya Juliett tidak percaya.
“Hey, aku laki-laki. Aku diperbolehkan makan sebanyak yang aku mau.” Miles membela diri.
“Karena aku perempuan, aku tidak diperbolehkan makan sebanyak yang aku mau?” balasnya.
“Apa kamu seorang aktivis perempuan?” ucap Miles pura-pura takut. Juliett menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli. “Pecan pie. Kamu mau pesan apa?”
“Blueberry cheese cake. Terima kasih.” ucapnya akhirnya.
Pelayan segera datang melihat Miles mengangkat tangan. Dia mencatat pesanan mereka dan meninggalkan mereka lagi. Miles tersenyum penuh arti ke arah Juliett dan mendekatkan tubuhnya. “Jadi, katakan kepadaku. Kamu makan begitu banyak tapi tubuhmu tidak gemuk. Apa rahasiamu? Aku tidak menanyakan hal pribadi, kamu harus menjawabnya.”
“Tidak ada.” Dia tertawa kecil. “Ini bukan berat badanku biasanya. Aku makan banyak justru untuk menambah berat badan.”
“Sekarang aku tahu rahasiamu. Aku sempat berpikir kamu bulimia.”
“Ada apa, Romeo? Kamu takut bertemu dengan orang yang sakit mental?” Dia mengangkat kedua alisnya dengan bercanda.
“Kita semua punya tingkat kegilaan walaupun persentasenya kecil. Tidak. Aku tidak takut bertemu dengan orang yang sakit mental.” Dia ingin sekali mengatakan kepadanya mengenai kegiatan sosial yang dia lakukan, tetapi dia cepat-cepat mengabaikan dorongan tersebut.
__ADS_1
Tidak ingin melanjutkan percakapan yang seserius itu, Miles mengalihkan pembicaraan begitu makanan penutup mereka datang. Dia tertawa ketika Juliett mengambil satu sendok dari pai pesanannya. Setelah memberi pendapatnya mengenai makanan itu, dia mempersilakan pria itu mencoba kuenya. Mereka banyak tertawa dan berbagi lelucon. Sudah lama Miles tidak merasakan sebahagia itu.
Salahkah bila dia berharap malam itu tidak segera berakhir? Dia tahu itu mustahil. Lalu apa yang harus dia lakukan agar wanita itu bisa lebih lama bersamanya? Bagaimana caranya meminta Gregory agar membuka restoran lebih lama? Tetapi itu juga mustahil. Tidak mungkin dia mengorbankan para pegawai bekerja lebih lama demi kepentingannya sendiri.
Juliett tidak menginap di hotel itu. Tetapi dia bisa menawarkan diri untuk mengantarnya kembali ke penginapannya. Pasti ada beberapa tempat makan, kafe, atau bar yang buka hingga dini hari. Ide bagus. Mungkin mereka bisa melanjutkan obrolan di sana. Bila dia beruntung, dia bisa tinggal sebentar di kamar wanita itu. Besok dia tahu di mana bisa menemuinya bila ingin makan malam bersama lagi.
“Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Aku juga tidak ingin ini segera berakhir.” ucap Juliett penuh arti. Jantung Miles nyaris berhenti. Dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya.
“Aku senang kita punya pikiran yang sama.” ucapnya lega.
“Kalau kamu mau, kita bisa pergi ke penginapanku. Aku punya banyak buku mengenai informasi tempat makan yang bagus di Singapura.” ucap wanita itu membaca pikirannya. Dia berhenti sebentar lalu menambahkan, “Dan kalau kamu tertarik, kamu bisa bermalam di tempatku.”
Miles tersenyum mendengar tawaran itu. Kalau bukan karena dia melihat mata dan bibirnya saat bicara, dia pasti akan menuduh wanita itu merencanakan sesuatu untuk menjebaknya demi mendapatkan uangnya. Wanita mana yang tidak ingin dekat dengan pria berduit? Tetapi dia menghindari matanya saat bicara dan bibirnya bergetar. Pada saat yang bersamaan, tangannya berkali-kali menyeka rambut ke belakang telinganya. Dia gugup.
Namun inikah yang dia inginkan? Menghabiskan satu malam bersama wanita yang bahkan tidak dia ketahui nama aslinya? Dia bukan pria lajang. Tambahan lagi, dia telah menikah dan tidak pernah menyentuh wanita lain selain istrinya. Tidak. Dia tidak perlu berpikir panjang. Dia tidak pernah tertarik dengan wanita lain sebelumnya. Kalau wanita itu juga tertarik kepadanya, mengapa dia harus menolak kesempatan untuk menghangatkan ranjangnya? Meskipun itu hanya untuk satu malam, dia tidak mau menyia-nyiakannya.
“Kamu yakin dengan ini?” tanyanya pelan. Masih melihat ke bawah.
“Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya.” jawab Miles cepat. Juliett menelan ludah. Dia terdiam beberapa saat, kemudian sebuah senyuman ceria menghiasi wajahnya.
“Aku tidak punya penyakit apa pun dan sangat sehat. Apa aku bisa memercayaimu kalau kamu juga sehat?” tanya Juliett serius. Miles tersenyum. Pikiran yang bagus. Tentu saja mereka harus berhati-hati.
“Aku bisa menelepon dokter pribadiku sekarang kalau kamu mau.” tawarnya. Wanita itu menatapnya dengan saksama.
“Baiklah. Aku percaya kepadamu. Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada syaratnya.” Miles tahu wanita itu tidak akan membuat ini terlalu mudah untuknya.
“Katakan.” kata Miles cepat. Terlalu cepat. Dia harus bisa mengendalikan dirinya atau dia akan membuat wanita itu ketakutan dengan sikap agresifnya.
__ADS_1
“Tidak ada pembicaraan pribadi. Kita tidak boleh bertanya mengenai nomor telepon, alamat, atau nama asli. Bila kita berpapasan pada suatu hari di luar sana, kita tidak saling mengenal. Hanya kalau kamu dan aku sedang berdua saja, kita adalah Juliett dan Romeo.” Dia menatap matanya saat dia mengatakan semua persyaratan yang melintas di kepalanya tersebut.
“Setuju.” ucap Miles cepat. Sejujurnya, dia juga menginginkan hal yang sama.
“Apa pun yang terjadi pada malam ini tidak untuk selamanya. Hanya untuk malam ini saja. Kita tidak boleh saling mencari andai kita menginginkan hal yang sama lagi di kemudian hari.” lanjutnya.
“Setuju.”
“Apa kamu yakin?” tanyanya ingin tahu. Karena dia menjawab pertanyaan terlalu cepat, dia memahami keraguan wanita tersebut.
“Yakin. Bagaimana denganmu? Apa kamu yakin?” tanyanya dengan nada yang sama.
“Sangat yakin.” jawab Juliett tegas.
Sejujurnya, dia tidak bisa menunggu lagi. Miles berdiri dan mengulurkan tangannya kepada wanita itu. Juliett tersenyum lalu menerima uluran tangannya. Mereka keluar dari restoran sambil bergandengan tangan. Para pelayan yang berpapasan dengan mereka tersenyum ramah.
Di lobi, seorang pegawai hotel mendekatinya dan memberitahukan ada tiga panggilan untuknya. Dengan berat hati, dia meminta Juliett untuk menunggunya sebentar. Wanita itu mengangguk lalu duduk di salah satu sofa yang tersedia di sana. Panggilan yang dimaksudkan adalah dari Gregory. Dia memberitahukan bahwa dia telah tiba di Phuket bersama keluarganya. Dia sudah tahu dua panggilan menunggu berikutnya adalah dari koleganya yang lain. Mereka menyampaikan hal yang sama bahwa mereka telah tiba dengan selamat di rumah mereka.
“Jika ada telepon masuk lagi, tolong minta pesannya saja? Aku sedang berlibur.” pinta Miles kepada wanita yang bertugas di resepsionis.
“Maafkan saya untuk ketidaknyamanan Anda, Pak.” sesal wanita itu.
“Bukan masalah. Aku mengerti. Yang menelepon adalah atasanmu. Tapi untuk telepon berikutnya, tolong minta pesannya saja. Gregory tidak akan memecatmu, aku yang bertanggung jawab.”
“Baik, Pak.” ucap wanita itu dengan sopan. Miles mundur selangkah, tidak sabar untuk segera sendirian saja dengan Juliett. “Semoga malam Anda menyenangkan.”
Wanita itu benar sekali. Dia akan menikmati malam yang menyenangkan.
__ADS_1