
Seorang pegawai hotel telah berdiri di depan pintu saat dia membukanya. Miles menganggukkan kepalanya mempersilakan pria itu mengambil kopernya. Dia menuju lift dan memilih lantai dasar. Untuk terakhir kalinya, dia melihat ke arah restoran di mana dia pertama kali bertemu dengan Juliett. Sebentar. Di sana dia pertama kalinya bertemu dengan wanita itu. Bila dia tidak menginap di hotel maka dia harus memesan tempat sebelumnya.
Miles segera berjalan setengah berlari menuju restoran tersebut. Wanita yang menerima tamu menyambutnya dengan ramah. Dia meminta wanita itu untuk melihat daftar tamu pada tiga malam yang lalu. Walaupun heran dengan permintaannya, wanita itu menurut dan memberikan buku daftar pemesanan tempat kepadanya. Ada sekitar dua puluh orang yang memesan meja pada malam itu. Lima di antaranya adalah perempuan. Begitu melihat nama Juliett, Miles mendesah kecewa. Bahkan untuk pemesanan tempat pun dia menggunakan nama samarannya. Jelas sekali dia tidak ingin Miles atau siapa pun untuk menemukannya.
Setelah berterima kasih, Miles kembali berjalan menuju pintu utama. Di depan hotel, sebuah mobil telah menunggunya. Dengan ramah, setiap pegawai hotel yang berpapasan dengannya mengucapkan terima kasih atas kunjungannya dan mengharapkan kedatangannya kembali. Dia membalas sapaan mereka satu persatu.
Beberapa jam kemudian, dia tiba di terminal kedatangan. Miles merasa seolah-olah dia kehilangan tenaganya. Dia tidak ingin kembali ke rumahnya atau kepada istrinya. Tidak akan ada yang berubah dengan pernikahannya. Semuanya akan kembali seperti selama lima tahun belakangan ini. Tetapi dia tidak tahu harus pergi ke mana. Dia juga tidak bisa menyusul Juliettnya.
Sudah lama dia tidak pernah lagi merasa begitu tidak berdaya. Baru kali ini, setelah bertahun-tahun, dia merasakannya lagi dan dia membencinya. Baru pertama kalinya juga dia menyadari bahwa dia tidak punya kendali penuh atas hidupnya sendiri. Dia yang adalah pemimpin atas perusahaannya sendiri, tetapi bukan pemimpin atas hidup dan pernikahannya.
“Selamat datang kembali, Pak.” ucap Markus yang telah menunggunya di depan pintu keluar terminal tersebut. Dia mengambil alih koper milik majikannya dari tangannya.
__ADS_1
“Terima kasih, Mark.” ucap Miles pelan. Dia mengikuti pria itu mendekati mobilnya yang diparkir tidak jauh dari pintu keluar terminal kedatangan.
Dia merasa tertekan begitu dia tiba di rumahnya. Bukan karena dia sadar bahwa dia telah selingkuh dengan wanita lain. Tetapi karena dia menyesal telah menginjakkan kakinya lagi di rumah itu, terutama ketika istrinya segera menyambutnya dengan mengatakan bahwa sekarang adalah hari suburnya. Juliett dengan aroma khas dan sentuhannya masih terbayang jelas di sekujur tubuhnya. Dia belum mau menggantinya dengan wanita lain. Sekalipun wanita itu adalah istrinya sendiri.
Mengatakan tidak, istrinya pasti marah besar dan kembali curiga bahwa dia punya wanita simpanan. Andai saja dia tahu. Dia dengan senang hati ingin mengakuinya di depan wajahnya. Dia mulai bosan dengan keadaan yang sama yang harus dihadapinya di rumah. Tetapi bila dia menurutinya, dia tidak yakin dia akan bergairah melakukannya bersama istrinya.
Terbiasa dengan penampilan Juliett yang harum, rapi, dan sedikit berdandan, dia kehilangan gairah melihat istrinya yang tidak mencoba berusaha berpenampilan menarik saat menyambutnya. Hal yang sudah lama tidak diprotesnya itu, kini menjadi sesuatu yang membuatnya mulai membandingkan istrinya dengan Sang Juliett. Istrinya bahkan tidak menunggunya beristirahat sejenak sebelum membuka kancing kemejanya. Dia baru saja tiba dari perjalanan keluar negeri.
Semalaman itu istrinya memanfaatkan setiap waktu untuk bersetubuh dengannya. Beristirahat beberapa menit, dia mengajaknya melakukannya lagi. Kadang-kadang, Miles bahkan belum siap, istrinya sudah memintanya lagi. Terus begitu sepanjang malam. Wanita itu baru merasa puas ketika dia tidak bisa lagi membuka matanya. Mendengar suara tarikan napas istrinya yang teratur, Miles bangun dan menuju kamar mandi.
Menghirup aroma tubuhnya, tidak ada lagi sisa aroma Juliett di sana. Dia mendesah pelan. Di depan cermin dia melihat bekas cakaran istrinya di dada dan punggungnya, sedangkan pada leher dan bahunya dia menemukan beberapa bekas gigitan. Rambutnya berantakan, kulit kepalanya perih karena rambutnya berulang kali dijambak, bibirnya bengkak hingga ukurannya lebih besar dari ukuran normalnya. Pemandangan biasa setiap kali mereka melakukan hubungan intim sepanjang malam.
__ADS_1
Dia mandi di bawah air pancur dan membersihkan tubuhnya dari kepala sampai jari-jari kakinya. Rasa nyeri yang menyengat di beberapa bagian tubuhnya tidak seberapa dibandingkan dengan sakit yang dia rasakan saat melihat Juliett pergi darinya. Kenangan saat mereka bersama kembali bermain-main di kepalanya, tanpa bisa dia cegah.
“Kalau kamu diberi seorang anak, nama apa yang akan kamu berikan?”
Pertanyaan yang tidak diduga-duganya itu datang dari Juliett. Dulu dia pernah mengharapkan akan memiliki anak-anak bersama Angelica. Dia bahkan sudah menyiapkan nama untuk anak laki-laki atau anak perempuan yang akan mereka miliki. Mereka begitu bahagia menantikan kehadiran anak pertama mereka. Tetapi dia membencinya karena harapan itu telah mengubah istrinya. Mimpi mereka untuk memiliki anak telah merusak pernikahan mereka.
Namun hanya dia yang menyadari hal itu. Angelica sepertinya tidak melihat ada yang salah dalam pernikahan mereka. Dia hanya fokus pada keinginannya untuk memiliki anak saja. Dia sama sekali tidak peduli jika harus menyakiti suaminya. Seperti orang yang dikejar-kejar target, dia menggunakan setiap detik untuk memastikan bahwa usahanya kali ini akan berhasil membuatnya hamil.
Dari begitu banyak pilihan agar usaha mereka berhasil, dia memaksa untuk mendapatkan anak lewat hubungan intim pada hari suburnya. Dia tidak mau menemui dokter untuk mencari letak permasalahannya dan menjalani pengobatan sebelum semuanya terlambat bagi mereka. Dia juga tidak mau mengadopsi anak jika memang anak adalah hal yang diidam-idamkannya.
Hal yang tidak pernah dipahaminya dari istrinya adalah usaha kerasnya melakukan hubungan intim ketika dia begitu yakin bahwa suaminya mandul. Jika dia yang sehat dan Miles yang sakit, lalu mengapa dia terus memaksa? Hasilnya akan sama saja. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Mereka sudah berusaha sebaik mungkin dan dia belum hamil juga.
__ADS_1
Sekalipun selama tiga hari bersama mereka tidak berhenti melakukan hubungan intim setiap kali mereka menginginkannya, Miles tahu Juliett tidak akan pernah hamil. Hanya itu alasan dia memutuskan untuk tidak menggunakan pelindung saat berhubungan badan. Dia mandul, jadi benda itu tidak akan banyak membantu. Tetapi mereka menikmati setiap kali mereka berada di tempat tidur. Sayang, mimpi indah itu telah berakhir. Kenyataan kini ada di hadapannya.