Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 13


__ADS_3

Turun dari pesawat, Miles mengikuti barisan penumpang lainnya dari kelas satu menuju bagian imigrasi. Petugas memeriksa paspornya dengan saksama, semua halamannya hampir penuh dengan stempel. Dia selesai dengan semua urusan kurang dari satu menit, lalu menuju pengambilan bagasi. Dengan kopernya, dia keluar dari terminal kedatangan. Melihat seorang pria memegang kertas bertuliskan namanya, dia mendekat. Pria itu mengambil alih kopernya lalu memintanya dengan sopan untuk mengikutinya.


Tidak jauh dari pintu keluar terminal, sebuah mobil sedan mewah telah diparkirkan. Miles masuk ke dalam mobil ketika pria itu memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Dia sibuk membuka ponselnya sepanjang perjalanan menuju hotel. Beberapa pesan yang perlu ditindaklanjuti diteruskannya ke nomor telepon asisten pribadinya. Dia melakukan hal yang sama pada surel di alamat surel pribadinya. Pada alamat surel kerja, dia melihat Kemala telah memeriksa dan membalas sebagian besar surel yang masuk pada hari ini.


Tiba di hotel, seorang pegawai hotel menyambutnya dan membantu membawa kopernya. Dia menuju lobi dan menyerahkan paspornya. Kurang dari lima menit paspornya dikembalikan dan seorang pria menunjuknya jalan menuju lift.


Di lantai di mana kamarnya berada, pria itu menunjuk ke arah kamar yang ada di ujung lorong. Sebelum pria itu membuka pintunya, dia sudah tahu itu adalah kamar suite dengan sebuah kamar utama dan sebuah kamar yang ukurannya lebih kecil. Kamar suite itu dilengkapi dengan dapur, ruang makan, ruang tamu, ruang santai, ruang mencuci dan dua kamar mandi di masing-masing kamar. Di dalam kamar utama dan ruang santai tersedia sebuah televisi layar datar dan DVD player.


“Terima kasih.” ucap Miles kepada pria tersebut saat dia pamit.

__ADS_1


Selesai memeriksa surel dan pesan, Miles menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk acara makan malamnya bersama para koleganya. Dia memakai jas dan celana berwarna biru tua, kemeja putih, dasi bercorak garis-garis perak dan hitam dan sepatu resmi berwarna cokelat. Ponsel, dompet, dan paspor disimpannya ke dalam kantong jas bagian dalamnya. Puas dengan penampilannya, dia keluar dari kamar. Di depan restoran, dia melihat koleganya telah berkumpul. Mereka saling menyapa dan berjabatan tangan. Setelah memesan makanan dan minuman masing-masing, mereka mengobrol dengan santai.


Kebijakan perekonomian di negara mereka masing-masing menjadi topik hangat. Sebagai sesama orang asing yang membuka usaha di negara lain, mereka mengerti tantangan yang harus dihadapi sehingga bisnis mereka berjalan baik dan berkembang luas. Ingin menjadi teladan bagi pengusaha lain dan pengusaha muda yang mencoba merintis usaha baru, mereka hanya menerima orang-orang yang taat pajak untuk bergabung bersama mereka.


Sepuluh tahun bersama dan secara teratur melakukan pertemuan dua kali setahun, mereka akhirnya hanya tinggal lima orang. Sebagai satu-satunya yang memiliki usaha di bidang perhotelan, Gregory, rekan mereka yang berasal dari Singapura, menjadi tuan rumah tetap. Koleganya yang lain berasal dari Malaysia, Filipina, dan Thailand. Kantor pusat usaha mereka berada di ibukota masing-masing negara Asia Tenggara tersebut.


Setelah makan malam, mereka pindah tempat ke bar. Pembicaraan mereka selanjutnya adalah mengenai rencana masing-masing untuk mengembangkan usaha. Miles dengan bangga menceritakan prestasi yang sudah diraihnya dalam enam bulan terakhir. Di antara mereka, dialah yang bisa disebut sebagai yang paling sukses. Mereka tidak habis-habisnya menggodanya yang memilih negara paling mudah sebagai tempat berinvestasi. Mereka tidak tahu apa yang harus dihadapinya di negara korup itu hingga bisa meraih tempatnya sekarang. Tetapi dia tidak perlu memberitahu mereka semua detailnya.


Lima menit berada di kamar, terdengar bunyi bel dari pintu depan kamarnya. Miles tertawa terbahak-bahak. Selama sepuluh tahun itu koleganya tidak pernah kapok mengirim wanita cantik ke kamarnya. Sekalipun mereka tahu benar dia tidak mau tidur dengan wanita lain yang bukan istrinya. Tetapi untuk memastikan dugaannya itu dia melihat ke arah lubang pintu. Dugaannya benar.

__ADS_1


Dia mendekati lemari es sambil menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan kelakuan kekanak-kanakan para koleganya. Itu bukan wanita satu-satunya yang akan mereka kirim. Sampai wanita yang keempat, bel pintu kamarnya baru akan berhenti berbunyi. Dia mengambil sekaleng coca cola lalu menuju balkon. Angin malam segera menyambutnya saat pintu dibuka. Dia tersenyum melihat pemandangan indah di hadapannya.


Selama lima malam dia akan menyaksikan pemandangan itu. Lalu pada malam yang keenam dia akan kembali berada di rumahnya. Itu rencananya semula. Dia telah mengubahnya seminggu yang lalu, pada hari di mana lagi-lagi istrinya menemukan dirinya haid. Sekali lagi usaha mereka untuk memiliki anak, gagal. Dan semua kesalahan kembali dilimpahkan kepadanya. Dia muak! Sebenarnya, dia bosan bertengkar untuk hal yang sama. Dia membenci pernikahannya, dan hubungan intim. Dia lebih lagi membenci dirinya sendiri yang tidak bisa menjadi laki-laki normal. Mengapa dia tidak bisa membuat istrinya hamil?


Dia tidak ingin pulang hanya untuk bertengkar lagi dengan istrinya, maka dia menambah waktunya tinggal di hotel itu selama tiga hari. Begitu Gregory tahu, dia tidak mau menerima uangnya. Dia dipersilakan tinggal dengan cuma-cuma selama yang dia inginkan di kamar suite itu. Hal yang membuat Miles hormat sekaligus segan kepada koleganya tersebut.


Keesokan paginya, Miles bangun dengan badan pegal-pegal. Wanita itu terus berdatangan hingga jam dua dini hari. Para koleganya, yang satu ini pasti ulah Gregory, benar-benar pintar mencari waktu di mana dia akan menyerah dan akhirnya mempersilakan masuk wanita yang terakhir. Ya, dia hampir melakukannya karena dia ingin tidur tenang tanpa gangguan bunyi nyaring bel tersebut. Suatu hari nanti dia akan membalas perbuatan mereka.


Dia menyikat gigi di kamar mandi lalu memakai celana renangnya. Dengan memakai salah satu mantel mandi dan membawa sebuah handuk bersih, dia menuju kolam renang di lantai bawah. Sudah banyak orang yang berada di kolam. Tetapi itu tidak mengurung niatnya untuk berenang. Setelah berbilas di bawah air pancur yang disediakan, dia terjun ke dalam kolam renang. Dengan santai, dia berenang beberapa putaran dari satu ujung ke ujung lainnya.

__ADS_1


Kembali ke kamar, dia mandi selama dua puluh menit di bawah air pancuran. Dia memilih memakai kaus berwarna hitam dan celana pendek berwarna cokelat. Di restoran pagi itu, para tamu bisa mengambil makanan sepuasnya. Hal yang tidak pernah disia-siakannya. Ada banyak pilihan makanan di konter yang tersedia dari pintu masuk hingga bagian belakang restoran. Dia sengaja sarapan agak terlambat agar tidak mengantri panjang. Juga agar tidak ada seorang pun dari koleganya yang berada di restoran tersebut saat dia sarapan.


__ADS_2