
Oh. Tidak. Apa yang baru saja dipikirkannya? Cepat-cepat Kirana menjauhkan pikiran itu dari kepalanya. Ingat, pria ini berbahaya. Dan dia sudah membohonginya hanya untuk mendapatkan tubuhnya. Menyebalkan. Dia marah kepadanya tetapi tidak bisa menyangkali bahwa pria itu telah memberinya seorang anak yang didambakannya. Argh!
“Apakah kamu takut aku akan menjebakmu dengan pesonaku?” godanya dengan nada sombong.
“Kamu atasanku. Aku tidak bisa makan malam berdua saja denganmu.” ucapnya keberatan.
Tentu saja dia tidak akan memberitahu alasan yang sebenarnya kepadanya. Dia harus menjemput William dari tempat penitipan. Tidak pernah ada yang menjaga putranya pada malam hari selain dirinya. Karena itu dia selalu membawanya bersamanya bila harus menghadiri acara pada jam usai kerja. Tetapi dia tidak akan melakukannya bila kegiatan itu melibatkan Miles.
Apa yang akan dilakukan pria itu andai dia tahu bahwa pertemuan mereka enam tahun yang lalu telah memberi mereka seorang anak? Tidak akan ada yang bisa meragukan bahwa William dengan rambut pirang dan mata biru cerahnya adalah putra Miles. Dengan menghitung usianya akan lebih mudah lagi bagi Miles untuk mengetahui bahwa dia adalah ayah kandung William.
Kalau pria itu mengabaikan fakta tersebut dan tidak memedulikan William, segalanya akan lebih mudah. Andai melihatnya memiliki seorang anak akan membuat pria itu menjauh darinya, dia akan sangat senang. Tetapi bagaimana kalau Miles mengambilnya darinya? Atau, bagaimana kalau dia memaksakan kehendak kepadanya dengan mengancam akan mengambil putranya bila dia tidak menuruti semua permintaan pria itu?
“Aku yang membuat peraturan di perusahaanku. Aku tidak ingat salah satunya adalah larangan sesama rekan kerja untuk menjalin hubungan.” Miles mengusap pipinya. Kirana menolak dorongan untuk menutup matanya dan menikmati sentuhan itu. Dia harus menjaga pikirannya tetap waras.
“Jawabanku tetap tidak.” Dia memberi pria itu tatapan lelah. Mengapa dia tidak bisa menerima kata tidak? Dia tidak akan berubah pikiran mengenai tawaran makan malam itu.
“Apakah kamu takut aku akan lari seperti yang kamu lakukan kepadaku enam tahun lalu? Baik. Kalau begitu, menikahlah denganku.” Dia menatap wanita itu tepat pada kedua matanya, menyatakan bahwa dia tidak sedang bercanda dengannya.
Kirana tertegun. Kalimat terakhir itu berulang-ulang menggema di kepalanya. Menikah? Menikah dengannya? Kirana menatapnya tidak percaya. Siapa laki-laki yang berdiri di hadapannya ini? Apa yang ada di kepalanya sehingga berani mengajaknya menikah tanpa lebih dahulu mengenalnya dengan baik? Mengapa Kirana? Mengapa pria itu ingin menikahinya? Dia tidak cantik, dia juga sama sekali tidak menarik. Bila mereka bersanding, orang-orang jelas akan mencibir pria itu. Dia tidak pantas untuk Miles.
__ADS_1
“Aku serius, Kirana Paramitha. Aku tidak ingin hanya satu malam atau tiga malam bersama. Tapi aku ingin bersamamu setiap malam, selamanya.” Miles mengusap-usap kerutan di antara alis Kirana dengan jempolnya sehingga wanita itu berhenti mengerutkan keningnya.
“Kamu pasti sedang mabuk.” tuduh Kirana. Miles mengerutkan dahinya. “Aku dengar kalian orang Inggris suka sekali mabuk-mabukan.”
“Minum anggur merah atau putih dua sampai tiga gelas tidak akan membuatmu mabuk. Yang kamu dengar itu fitnah.” Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau bukan karena kamu sedang mabuk, apa yang mendorongmu untuk melamarku?” Kirana mengerutkan keningnya. Miles tersenyum. Dia kembali mengusap kerutan itu.
“Makan malam bersamaku, aku akan memberitahumu semuanya.” Miles menyentuhkan ujung hidungnya ke hidung wanita itu.
“Tidak.” jawab Kirana, kali ini sedikit ragu. Dia ingin mengetahui segalanya, tetapi bagaimana jika pria itu mencoba menjebaknya lagi? Dia mengaku belum menikah, ternyata dia sudah belasan tahun menikah saat mereka pertama kali bertemu. Sekarang dia mengatakan akan memberitahu semua yang ingin dia ketahui, bagaimana kalau dia membohonginya lagi?
“Keduanya.” jawab Kirana cepat. Miles tertawa.
“Kamu belum mendengar apa yang ingin aku tawarkan kepadamu dan kamu langsung menjawab tidak?” godanya.
“Aku tahu bahwa kamu sedang bingung. Kamu baru saja berduka dengan kematian istrimu. Lalu bertemu dengan wanita dalam ilusimu. Kamu berpikir menikah dengannya akan menjadi jawaban untuk mengatasi kesepianmu.” Kirana kembali berusaha lepas dari pelukan Miles. Dia mendesah kesal pria itu kembali mempererat pelukannya.
“Aku kesepian bukan karena istriku meninggal. Aku kesepian karena kamu meninggalkan aku, Juliett.” ucap Miles serius. Kirana membulatkan matanya. Dia mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Bagiku kamu nyata, Kirana, bukan ilusi. Kalau kamu tidak mau makan bersamaku malam ini, baik. Akan aku beritahu semuanya kepadamu sekarang.”
__ADS_1
“Tidak.” Dia menggelengkan kepalanya.
“Apa?” tanya Miles terkejut. Dia tidak seharusnya terkejut begitu. Kirana sudah menjawab tidak berulang kali. Pria itu sendiri yang terus memberinya pertanyaan dan menawarkan hal yang tidak Kirana inginkan.
“Aku sudah jawab tidak. Jadi, kamu tidak perlu memberitahu aku apa pun.” ucap Kirana bersikeras.
“Aku berhak mendapat satu kesempatan untuk membuktikan bahwa aku serius dengan ucapanku dan niatku untuk menikahimu, Kirana. Kamu tidak bisa begitu saja menolakku.” ucap Miles setengah mengancam. Dia benar dan, tentu saja dalam saat yang sama, dia salah.
“Setahuku aku juga berhak untuk menerima atau menolak lamaran yang datang kepadaku, Miles. Kamu tidak bisa memaksaku melakukan kehendakmu.” tantang Kirana. Miles menatapnya sesaat lalu tersenyum. Dia melepaskan pelukannya.
“Jadi, apa yang terjadi di Singapura tetap di Singapura?” tanyanya meminta konfirmasi. Kirana segera mundur satu langkah sebelum pria itu meraihnya lagi.
“Benar.” jawab Kirana dengan tegas.
“Silakan kembali ke kantormu.” Miles membalikkan badan, membuka pintu, dan keluar dari toilet. Kirana mendesah lega. Dia segera menyandarkan tubuhnya ke dinding sembari menghela napas panjang. Tangan kanannya menyentuh dadanya, berusaha menenangkan debaran jantungnya.
Pada keesokan harinya, Kirana memastikan bahwa Miles tidak ada di sekitarnya ketika dia kembali ke kantor usai istirahat makan siang. Lega bahwa pria itu tidak ada sejauh mata memandang, Kirana berjalan menuju lift. Ketika pintu elevator terbuka, dia menahan napas. Pria itu ada di sana. Dia hanya tersenyum lalu melangkah keluar dari lift bersama orang lain tanpa menyapa atau mencoba untuk mendekatinya. Kirana kembali mendesah lega.
Di dalam ruangannya, dia menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Mendengar bunyi tanda ada surel yang masuk, dia menoleh ke arah layar laptopnya. Keningnya berkerut membaca nama pengirim surel tersebut. Khawatir itu adalah pesan yang penting, dia membuka surel yang diterimanya dari asisten direktur. Matanya membulat setelah membaca isi pesan tersebut.
__ADS_1
Dia akan pergi ke Singapura pada akhir pekan ini bersama direktur utama untuk menghadiri sebuah konferensi mengenai pemasaran. Dia tidak salah baca. Dua nama yang muncul pada layar adalah namanya dan Miles. Tidak ada orang lain yang ikut bersama mereka. Hanya ada mereka berdua.