Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 21


__ADS_3

Dari taman tersebut, Romeo membawa Kirana ke sisi lain hotel. Mereka berhenti di dekat kolam renang. Dia melihat hotel tersebut memiliki dua kolam renang. Satu di lantai dasar dan satu lagi untuk tamu VIP. Hanya tamu dengan kartu khusus yang bisa masuk ke lantai itu.


“Ada apa?” tanya Kirana melihat cara Romeo menatapnya. Pria itu mengangkat satu alisnya. “Tidak. Aku tidak pakai baju renang.”


“Kamu bisa pakai pakaian dalammu. Bukankah fungsinya sama? Aku tidak memintamu berenang tanpa pakaian, tentu saja. Hal itu dilarang di negara ini.” ucapnya geli.


“Tidak.” Kirana melihat ke sekelilingnya dengan ragu-ragu.


“Tidak ada siapa pun di sini.” Romeo melebarkan kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun di sekeliling mereka.


“Tetap saja tidak.” Kirana menolak.


“Baiklah. Kamu sendiri yang rugi.” Romeo mengangkat tangannya lalu menarik kausnya dari bagian punggung melewati kepala. Dia memberikan kaus itu kepada Kirana. Ketika dia memegang kepala ikat pinggangnya, mulut Kirana ternganga. Dia serius? Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, celana jinsnya sudah jatuh di lantai. Ternyata Romeo sudah memakai celana renang.


“Keterlaluan kamu, Romeo. Kamu memberiku serangan jantung.” pekik Kirana. Romeo tertawa kecil. “Curang! Kamu sudah merencanakan ini dari awal. Seharusnya kamu memberitahuku juga.”


“Aku akan berenang beberapa putaran. Lalu kita kembali ke kamar.” Dia mengecup bibir Kirana lalu membalikkan badan ke arah kolam.


“Aku akan tunggu di sini.” Kirana menunjuk kursi di dekatnya. Dia melebarkan kaus dan celana Romeo di atas kursi panjang agar pakaiannya tidak kusut. Lalu dia duduk di kursi kosong di dekatnya.


Dengan santai, Romeo menceburkan tubuhnya ke dalam kolam. Dia berenang satu kali putaran lalu kembali ke arahnya. Sebelum memutar badannya, dia mengerlingkan matanya ke arah Kirana. Dasar laki-laki. Karena punya badan bagus, dia tidak peduli jika orang lain melihatnya atau menikmati saat melihat tubuhnya. Andai Kirana juga punya rasa percaya diri seperti itu. Mungkin dari dulu dia sudah punya pacar dan menikah.


Romeo begitu berbeda dengan Ratri. Dia tidak menyadari orang-orang yang tertarik kepadanya setiap kali dia berpapasan dengan mereka. Dia mengacuhkannya saja. Hanya pada saat ada yang menyapanya dengan sopan dia berhenti untuk membalas sapaan mereka atau sekadar mengobrol. Bila ada yang mencoba merayu atau menggodanya, dia menjawab dengan tegas bahwa dia tidak tertarik. Dia bahkan sulir sekali mengakui bahwa dia sangat tampan. Malangnya dia.


Di sisi lain, Ratri suka dengan perhatian yang ditujukan kepadanya, bahkan menikmatinya. Dia akan membalas sapaan atau rayuan yang ditujukan kepadanya. Kadang-kadang dia menerima ajakan makan atau nonton dari pria yang kemudian diabaikannya pada pertemuan berikutnya. Tidak sedikit pria yang menjadi korban dan patah hati karena tindakannya itu. Tetapi dia tidak pernah berhenti.

__ADS_1


Setelah resmi menikah dengan Brian pun, Ratri tetap suka dengan perhatian yang ditujukan kepadanya. Setiap kali selesai proses persalinan, secepat mungkin dia kembali melakukan olah raga agar badannya kembali berbentuk sempurna. Dia masih rajin ke salon dan pusat kecantikan untuk merawat rambut, wajah, dan kulitnya. Semua itu demi tetap mendapatkan perhatian yang didambakannya.


Dia begitu bangga dengan kecantikannya yang membuat siapa saja berhenti dan menoleh kepadanya. Bila dia berjalan dan tidak seorang pun yang melihat ke arahnya, dia selalu panik. Hal yang tidak pernah bisa dimengerti Kirana mengenai kakaknya itu. Dia sendiri tidak peduli dengan apa yang orang pikirkan mengenai bentuk tubuhnya.


“Handuknya, Bu.”


Kalimat itu membuyarkan lamunan Kirana. Dia menoleh dan melihat seorang pegawai hotel berdiri di hadapannya sambil membawa sebuah handuk bersih. Kirana tersenyum kepadanya.


“Terima kasih.” Kirana berdiri dan menerimanya. Pegawai tersebut kemudian pamit.


Wow! Hotel ini tidak main-main memberikan pelayanan kepada para tamunya. Kamarnya nyaman, kamar mandinya sempurna, belum lagi TV kabelnya yang punya siaran lengkap, luar biasa. Makanan dan minuman yang disajikan sangat lezat dan segar. Lalu sekarang seorang dari mereka mengantarkan handuk bersih? Dia menoleh ke arah kolam untuk mencari Romeo, ingin menunjukkan handuk itu kepadanya.


Begitu melihatnya, Kirana lupa dengan apa yang akan diucapkannya. Dia bahkan lupa dia sedang berada di mana. Romeo keluar dari kolam dan berjalan ke arahnya. Pria itu sempurna dengan kaus dan celana jins. Dia luar biasa di tempat tidur. Sekarang, tidak ada kata-kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan kondisinya saat ini. Rambutnya basah dan air di sekujur tubuhnya memantulkan sinar lampu di sekitar kolam. Dia harus lebih sering tampil dalam keadaan basah.


“Kamu suka dengan pemandangan yang kamu lihat?” Romeo tertawa kecil lalu mengecup bibirnya. Kirana mengedip-ngedipkan matanya. Pria itu masih tertawa saat mengambil handuk dari tangannya lalu mengeringkan tubuhnya.


“Airnya segar. Kamu yakin kamu tidak mau berenang?” tanya Romeo untuk kesepuluh kalinya. Kirana memutar bola matanya. “Percayalah, tidak ada yang akan mengganggumu.”


“Tidak, Romeo..” jawab Kirana lelah.


“Okay, okay.” Pria itu meraih tangan Kirana dan membawanya kembali masuk ke dalam hotel. Dia mengembalikan handuk tersebut ke bagian penyedia handuk bersih untuk pengunjung kolam renang.


Romeo mandi dan berganti pakaian saat mereka berada di kamar. Kirana memeriksa koleksi film yang ada di bufet televisi. Dia memilih sebuah film romantis untuknya dan sebuah film laga untuk Romeo. Dia membuat dua mug teh hangat dan meletakkannya di atas meja. Mereka menonton sambil duduk berdekatan. Romeo menguap berkali-kali saat film romantis ditayangkan. Kirana mencubit lengannya agar dia tetap terjaga. Pria itu hanya tertawa dan mempererat pelukannya.


“Apa kamu suka anak-anak?” tanya Kirana tiba-tiba. Senyum di wajah Romeo menghilang.

__ADS_1


“Mengapa kamu tanyakan itu?” tanyanya tanpa melihat ke arahnya.


“Kalau kamu diberi seorang anak, nama apa yang akan kamu berikan?” tanya Kirana. Badan Romeo menegang seolah-olah dia telah membuatnya takut. Kirana menatapnya dengan heran.


Apa yang salah dari pertanyaan itu? Jelas sekali tubuh pria itu mendadak menegang setelah mendengar pertanyaannya. Dia tidak berencana menjebaknya untuk menikah dengan kehadiran seorang anak. Dia juga tidak bermaksud membawa hubungan mereka ke arah yang lebih serius. Mereka hanya bersenang-senang dan dia tahu itu.


“Apa arti pembicaraan ini? Aku pikir kita sepakat untuk tidak membahas masalah pribadi.” Romeo menatap wajahnya dengan kening berkerut.


“Ayolah. Rileks, Romeo. Aku hanya menanyakan nama anak. Aku tidak memintamu memberiku anak. Jangan bersikap konyol.” Setengah bercanda, dia memukul lengannya.


“Aku tidak suka anak-anak.”


“Mengapa?” tanyanya terkejut. “Aku lihat kamu memperlakukan anak di restoran tadi dengan ramah. Itu tidak dibuat-buat. Kamu suka anak-anak.”


“Baiklah, kalau kamu memaksa.” Romeo mendesah pelan. “William kalau dia laki-laki. Eleanor kalau dia perempuan.”


“Mengapa William?” tanya Kirana. Miles menatapnya tidak percaya. “Aku hanya ingin tahu. Itu bukan pertanyaan tentang hal yang pribadi.”


“Itu pertanyaan yang pribadi. Kamu menanyakan alasan aku memilih nama itu.” tolaknya. Tetapi Kirana tidak menyerah. Dia memeluknya dan meletakkan dagunya di bahu pria itu.


“Hanya satu itu saja. Itu yang terakhir. Aku mohon…” pintanya.


“Baiklah.” Dia mendesah pelan. “Karena nama itu berarti seorang pelindung yang perkasa. Aku ingin dia bisa menjadi pelindung mama dan saudara perempuannya. Sebenarnya aku bingung antara nama aslinya dari Jerman, yaitu Willahelm, atau menggunakan William.” Dia berhenti sejenak saat dia mempererat pelukannya. “Sedangkan Eleanor, karena arti nama itu sendiri, seseorang yang ceria dan bersinar. Aku berharap nama itu akan menginspirasinya menjadi seorang gadis yang selalu ceria bahkan ketika di dalam masalah.”


“Nama yang bagus. Aku akui aku terkejut kamu sudah menyiapkan nama untuk anak-anakmu.” ucapnya dengan jujur.

__ADS_1


“Kamu bertanya. Aku menjawab.” Romeo mengangkat kedua bahunya.


__ADS_2