Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 67


__ADS_3

Miles terus mengarahkan matanya pada taksi yang ada di depan mobilnya. Tidak sedetik pun dia mengalihkan pandangannya. Markus mengendarai mobil dengan hati-hati dan memberi jarak aman. Setelah satu jam mereka bergerak, taksi itu berhenti di depan sebuah toko roti. Markus memarkirkan mobil di tepi jalan tidak jauh di belakang taksi tersebut. Setengah jam kemudian, wanita itu masuk ke dalam taksi dan mobil sedan itu kembali bergerak. Markus mengikuti mereka.


Setengah jam berikutnya, mereka memasuki barisan rumah minimalis. Beberapa rumah bertingkat dua, yang lainnya tidak. Taksi yang ditumpangi Kirana berhenti di depan sebuah rumah bertingkat dua. Hanya ada sedikit pekarangan di depannya. Ketika wanita itu turun dari dari taksi, seorang anak laki-laki berlari memeluknya. Miles menegakkan tubuhnya. Dari mana datangnya anak itu? Siapa dia? Saat mereka bergandengan tangan masuk ke dalam rumah, sesuatu menyadarkannya.


Miles mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Kirana punya seorang anak laki-laki. Bukan hanya anak biasa. Anak itu memiliki rambut pirang dan kulit putih pucat. Bila dia bisa melihat warna matanya, dia pasti bisa memastikan kecurigaannya. Tetapi tanpa itu pun, dia tahu, anak itu anak kandungnya. Selama ini Kirana menyembunyikan keberadaan putranya darinya. Mereka telah bekerja bersama selama dua minggu dan dia tidak mengatakan sepatah kata pun mengenai anak mereka.


Tangannya menyentuh kenop pintu mobil tetapi dia tidak membukanya. Kakinya nyaris berlari untuk mendapati kedua orang yang paling penting dalam hidupnya itu. Dia menghentikan diri dan tidak melakukannya karena satu hal. Kirana akan lari lagi dari hadapannya. Dan kali ini dia pasti akan pergi untuk selamanya. Itu risiko yang tidak ingin diambilnya.


Mungkin itulah alasannya menolak lamarannya. Dia mengira begitu Miles mengetahui tentang putra mereka, dia akan mencoba merebutnya darinya. Apa yang sedang Kirana pikirkan? Dia akan senang saat tahu mereka memiliki anak bersama. Itu impian yang tidak berani diharapkannya menjadi nyata. Dan anak itu akan semakin memperkuat alasan mereka untuk menikah.


Dia marah, sangat marah karena wanita itu menyembunyikan keberadaan putranya. Marah karena Kirana tidak percaya pada semua ucapannya yang berjanji akan mencintainya dan melindunginya. Tetapi tidak cukup marah untuk meninggalkannya dan membawa lari anak mereka. Dia mencintainya.


“Kita pulang, Mark.” perintah Miles kepada sopirnya.


Markus mengendarai mobil menjauh dari tempat di mana wanita yang dicintainya dan anaknya tinggal. Mereka melewati rumah itu. Dia melihat lampu di sebuah kamar atas menyala. Bayangan Kirana muncul saat dia menutup tirai jendela. Sebagaimana wanita itu menutup pintu hatinya rapat-rapat darinya.


Malam itu, Miles tidak bisa tidur. Dia tidak menemukan cara atau strategi yang tepat untuk menangkap basah wanita itu saat sedang bersama anaknya. Dia begitu yakin Kirana akan lari darinya kalau dia tidak berhati-hati. Apabila dia tidak melakukan sesuatu, peluang wanita itu pergi jauh darinya tetap ada. Dia mengancam akan mengantar surat pengunduran dirinya besok. Apa yang harus dia lakukan?

__ADS_1


Keesokan paginya dia berangkat kerja dengan hati resah. Sampai di perusahaannya, dia tidak segera menuju ruangannya. Dia pergi ke ruang informasi. Beberapa orang sudah berdatangan dan sedang asyik mengobrol sambil memegang cangkir di tangan mereka.


Melihat kedatangan Miles, mereka berhenti bicara dan menyapanya dengan sopan. Dia membalas sapaan mereka tanpa berhenti berjalan. Dia membuka sebuah pintu di ujung ruangan dan tidak sedikit pun berpikir untuk mengetuk. Pria yang ada di balik pintu itu layak mendapatkan perlakuan tersebut.


“Kamu tahu dia punya anak.” ucap Miles kesal. Reynand melihat ke arahnya dengan terkejut. Lalu dia mengerti apa yang dimaksud oleh atasannya itu.


“Dia hamil saat bekerja di salah satu kantor cabang perusahaan Anda. Saya punya alasan sendiri untuk tidak memberitahu Anda mengenai hal yang satu itu.” ucap pria itu membela diri.


“Kamu sudah melihat foto anakku.” tuduh Miles.


“Benar, Pak. Saya mengumpulkan kepingan demi kepingan puzzle dan mendapat kesimpulan bahwa ketertarikan Bapak kepada Ibu Kirana adalah karena Anda punya pengalaman di masa lalu bersamanya. Anak itu adalah buktinya. Dia mirip dengan Anda.”


“Tapi, Pak.” ucap Reynand keberatan. “Ibu Kirana satu-satunya orang yang berhak memberitahu Anda atau tidak mengenai anak itu. Saya tidak punya hak untuk melakukannya.”


“Aku memintamu untuk mencari informasi tentang dia. Setiap hal tentang dia. Itu artinya, tidak ada pengecualian di sini. Tidak boleh ada fakta yang disembunyikan. Dan kamu, kamu menutupi fakta yang paling penting tentangnya. Hebat, Reynand. Aku bisa saja memecatmu karena ketidaktaatanmu.” ancam Miles.


“Anda terlalu membutuhkan saya untuk melakukannya, Pak.” ucap Reynand geli. Dan dia benar.

__ADS_1


“Suatu hari nanti kamu tidak akan seberuntung hari ini.” Miles menegakkan tubuhnya. “Aku butuh informasi mengenai anak itu. Lahir di mana dan tanggalnya. Segera telepon aku begitu kamu mendapatkan informasi tersebut.”


“Baik, Pak.”


Miles baru saja masuk ke dalam lift saat ponselnya bergetar. Dia mengeluarkannya dari kantong jasnya dan membaca nama pada layarnya. Reynand. Dia memberi nama rumah sakit di mana putranya lahir dan tanggalnya. Setelah hubungan telepon berakhir, Miles menyimpan ponselnya kembali. Dia menekan angka menuju lantai dasar. Dia menggeleng pelan. Putranya lahir di rumah sakit di mana Pranaja bekerja. Selama ini, mereka berada begitu dekat dengannya.


Bagian resepsionis rumah sakit tidak mau memberinya informasi apa pun mengenai bayi yang pernah lahir di sana. Dia menyebut namanya tetapi tidak ada informasi mengenai seorang anak dengan nama ayah berakhiran Bradford. Saat itulah dia sadar. Enam tahun yang lalu dia dan Kirana tidak saling mengenal. Mereka menggunakan nama samaran. Dia memijat kepalanya dengan jemarinya, tidak bisa membayangkan nama ayah anaknya adalah Romeo. Dia menyebut nama lengkap Kirana dan dari ekspresi di wajah wanita itu dia tahu bahwa di hadapannya terpampang informasi mengenai bayi itu. Tetapi wanita itu masih menutup mulut.


“Aku hanya ingin tahu nama bayinya.” pinta Miles tidak menyerah.


“Dan Anda adalah..?” tanyanya. Miles menarik napas panjang.


“Aku ayahnya.” ucapnya tidak sabar.


“Maafkan saya. Tapi tidak ada informasi mengenai sang ayah pada informasi ini. Hanya ada nama ibu. Saya tidak bisa membocorkan informasi mengenai pasien kepada orang asing.” tolaknya. Benar-benar tidak bisa dipercaya.


Miles memukulkan tangannya ke konter sambil menggeram kesal. Dia kemudian teringat sesuatu. Pembicaraannya dengan Kirana mengenai nama anak. Iya. Dia menanyakan tentang nama anak laki-laki dan perempuan andai dia punya anak. Percakapan yang saat itu dianggapnya aneh, kini bisa dia mengerti. Anak mereka adalah laki-laki, maka kemungkinan besar nama laki-laki yang diberitahukannya pada saat itulah yang diberikan Kirana kepada putra mereka.

__ADS_1


“William. Nama anak itu William, benar?” tanya Miles penuh harap. Wanita itu hanya diam lalu pergi meninggalkan konter. Miles mengerang kesal.


__ADS_2