
Ratri dan Kirana adalah saudara kandung. Tetapi mereka terlalu berbeda. Ratri dengan kepercayaan dirinya selalu beruntung dalam segala hal, termasuk dalah kehidupan cintanya. Sebaliknya, Kirana dengan sifat peragunya hampir membuat dirinya sendiri berada dalam masalah. Miles adalah pria yang istimewa. Tidak seorang pun yang pernah memperlakukannya seperti pria itu. Tetapi Ratri ingin mengambilnya juga darinya setelah dia mendapatkan segalanya yang ditawarkan hidup kepadanya?
Sedihnya, sebagai saudara mereka tidak punya hubungan yang khusus. Ratri sudah hidup di Inggris selama bertahun-tahun dan tidak pernah menelepon, mengirim pesan, atau mengunjunginya. Kirana sudah terbiasa diabaikan olehnya dan tidak pernah mencoba menghubunginya juga. Jadi, hubungan mereka sudah berakhir? Itukah sebabnya mengapa sekarang Ratri berusaha mengubah pikiran Miles mengenai pernikahan mereka? Tidak, bukan itu. Dia sedang menggoda Miles.
“Pernyataan seperti itu yang membuatku muak pada wanita cantik.” semprot Miles. “Kalian pikir wajah saja sudah cukup. Tapi kalian lupa sebentar lagi usia akan memakan kecantikan yang kalian bangga-banggakan itu. Aku tidak mencari yang sifatnya sementara. Aku mencari wanita untuk bersama selamanya. Dan kamu tahu, itu hanya aku temukan pada Kirana.” Kirana tersenyum bahagia. Dadanya menjadi hangat mendengar kata-katanya.
“Dan mengenai Angelica,” ucap Miles lagi. “Kamu hanya mengenalnya dari foto. Wajah cantik dan senyuman bisa menipumu. Akulah yang paling tahu siapa dia yang sebenarnya. Jadi, berhenti sok mengetahui segalanya dan merasa pantas memberi saran kepadaku. Aku tidak membutuhkannya.”
“Kalau kamu bisa mendapatkan keduanya, wanita cantik sekaligus berhati mulia, mengapa harus puas dengan wanita yang berhati baik? Setidaknya Angelica lebih baik dari Kirana. Dia cantik. Kirana? Dia punya wajah yang jelek dan berhati jahat. Wanita yang menggoda pria yang sudah menikah tidak punya hati mulia, Miles. Berhenti bersikap sok suci dan memutarbalikkan fakta.” ucap Ratri tajam. Kirana meletakkan tangan di dadanya.
“Apa bedanya antara kamu dan penilaianmu tentang dia dengan masa lalu Kirana? Kamu telah menikah dan sekarang kamu menawarkan dirimu kepadaku? Aku, yang akan menjadi suami adik kandungmu sendiri?” tantang Miles.
“Oh. Sekarang kamu bersikap seolah-olah kamu adalah pria yang setia di depanku? Kalau kamu pikir kamu akan setia kepadanya dan tidak pernah berpaling kepada wanita lain, aku beritahu kamu, itu tidak akan terjadi. Kamu pernah selingkuh sebelumnya, kamu akan melakukannya lagi.” tuduh Ratri.
“Karena Brian melakukan itu kepadamu?” tanya Miles cepat. Keadaan mendadak hening begitu lama sehingga Kirana nyaris berpikir bahwa mereka sudah selesai bicara.
__ADS_1
“Beraninya kau!” teriak Ratri penuh amarah.
“Urus rumah tanggamu sendiri, sebelum kamu mencoba mengurus kehidupan orang lain.” ucap Miles dengan dingin.
Ketika pintu ruangan itu terbuka, Kirana belum sempat bersembunyi. Dia terlalu terpana pada akhir dari percakapan mereka. Miles menutup pintu dan mata mereka beradu pandang. Pria itu mendekat lalu mencium bibirnya tanpa peringatan. Dia tersenyum sambil meletakkan tangannya di punggung Kirana. Bingung, wanita itu tidak mengatakan apa pun. Mereka kembali ke ruang duduk, di mana keluarga mereka berada. Miles menepati janjinya. Dia sendiri yang menghadapi siapa saja yang mencoba menyakitinya.
Brian selingkuh dari Ratri adalah sebuah berita yang mengejutkan. Kapan hal itu terjadi? Bagaimana bisa dia melakukannya? Kirana tidak mengetahui apa pun tentang itu. Bagaimana bisa Miles mengetahuinya dan tidak mengatakannya kepadanya? Apa mungkin itu hanya tebakan beruntungnya? Bisa jadi.
Miles pasti melihat wajah Ratri dan segera berpikir dengan cepat. Jika seorang istri mengatakan sesuatu yang buruk mengenai pernikahan, dia pasti korban juga. Kasihan Ratri. Dia begitu bangga pada hidupnya sehingga tidak bisa menerima ada noda di dalamnya.
Hari ini adalah hari pernikahannya. Bangun tidur pada pagi harinya, Amanda langsung masuk ke dalam kamar dan menculik Kirana. Miles bahkan belum sempat memberinya ciuman selamat pagi. Di kamar Amanda telah ada seorang pria yang siap membuatnya tampil sempurna. Setelah dia memperkenalkan mereka, Amanda membiarkan Rowan mengurus calon menantunya.
Dua jam kemudian, pria itu membuktikan bahwa benar dia seorang yang ahli di bidangnya. Riasan wajahnya membuat Kirana cantik. Dia memakai kebaya putihnya dan sarung panjang sebagai roknya. Layer tipis indah berwarna putih dilekatkan ke kebaya yang panjangnya menyapu lantai. Sepatu hak tinggi berwarna perak yang aman dipakaikan ke kakinya. Miles akan marah kepadanya bila dia memakai sepatu hak tinggi, tetapi dia ingin tampil sempurna pada hari pernikahannya.
Kirana tersenyum puas melihat penampilannya di cermin. Rambutnya dibiarkan tergerai tepat seperti yang Miles sukai. Di puncak kepalanya diletakkan mahkota kecil untuk menjepit kerudung putihnya ke rambut. Kebayanya melekat sempurna pada tubuhnya, menunjukkan lekukan tubuhnya. Dia begitu lega perutnya belum menampakkan tanda-tanda kehamilan. Dia terlihat sempurna, hal yang membuatnya nyaris berlutut dan menangis.
__ADS_1
Saat Rowan keluar dari ruangan, dia duduk di sofa menunggu Amanda menjemputnya. Mereka sedang mengurus persiapan terakhir di luar. Mobil yang bergerak di pekarangan bisa terdengar sampai ke ruangan tersebut. Miles dan sanak saudaranya berangkat ke gereja lebih dahulu. Dia tidak sabar ingin melihat calon suaminya dalam tuksedo. Tetapi Amanda melarangnya berdiri untuk melihat ke luar jendela. Pintu kamar itu terbuka. Kirana mengangkat kepalanya saat Amanda dan Shane masuk sambil tersenyum.
“Apa kamu sudah siap?” tanya Amanda. Kirana mengangguk pelan.
“Sebelum kita berangkat, ada yang ingin kami sampaikan.” ucap Shane. Dia meletakkan dua kursi di hadapan Kirana. Lalu mereka duduk.
“Kami ingin kamu tahu bahwa kami mencintaimu, Kirana.” ucap Amanda sambil meraih tangannya. Kirana tersenyum. “Kami sedikit banyak tahu bahwa apa yang kamu alami dianggap aib bagi orang-orang di tempat asalmu. Kamu memiliki anak tanpa suami, lalu sekarang kamu sedang hamil dan belum resmi menikah. Kalau mereka tahu mengenai ayah Will dan fakta bahwa dia masih menikah ketika kamu dan Miles bersama, mereka akan menuduhmu sebagai wanita yang memalukan. Kalian akan menghadapi hal yang tidak mudah saat kembali nanti.”
“Kami mengerti bagaimana masyarakat sekitar menilai hidup kita dan menganggap kita makhluk paling berdosa dan mereka yang paling suci. Hanya karena mereka pikir hidup kita adalah aib.” timpal Shane. “Tapi bagi kami, kamu adalah anugerah. William adalah pemberian terindah yang pernah kami miliki. Ketika Angelica meninggal, kami nyaris berhenti berharap bahwa kami akan memiliki seorang cucu suatu hari nanti. Alastair terlalu terluka dan memutuskan untuk tidak menikah lagi. Kamu dan Will tidak hanya memberi harapan dan kebahagiaan kepada kami, tetapi terlebih lagi, kamu memberikan semua hal itu kembali kepada putra kami.”
“Iya, yang kalian lakukan itu salah. Alastair adalah seorang suami dan kamu adalah seorang wanita yang belum menikah. Tetapi kalian sudah saling memaafkan, Tuhan sudah memaafkan kalian berdua. Kini saatnya bagimu untuk memaafkan dirimu sendiri. Ketahuilah, semua orang pernah melakukan kesalahan sangat buruk dalam kehidupan mereka. Bukan hanya kamu dan Alastair.” kata Shane dengan lembut.
“Kami tidak peduli pada apa kata orang.” Amanda mengusap tangan Kirana. Wanita itu tertawa sedih. Kalimat yang sering diucapkan Miles kepadanya. “Kami sangat berterima kasih kepadamu, Kirana. Terima kasih sudah berani datang pada Alastair dan menyembuhkan lukanya pada hari pertama kalian bertemu. Terima kasih sudah mengandung, melahirkan, hingga membesarkan Will. Butuh keberanian yang besar untuk melakukan semua itu.”
“Kamu bisa saja menggugurkannya ketika membayangkan masa depan seperti apa yang akan kalian hadapi berdua. Atau kamu bisa saja memberikannya untuk diadopsi pasangan yang mendambakan anak. Tetapi kamu memilih untuk melahirkannya dan membesarkannya seorang diri. Terima kasih.” ucap Amanda dengan senyum bahagia.
__ADS_1
“Tapi kamu sudah tidak sendirian lagi. Kami ada untukmu dan Will. Juga bayi yang ada dalam kandunganmu. Selamat datang di dalam keluarga kami, Kirana.” Shane tersenyum tulus.
“Terima kasih. Terima kasih banyak.” Kirana terisak. Dia tidak bisa mengatasi kebahagiaan dan kelegaan yang memenuhi dadanya. Amanda dan Shane panik melihat dia menangis.