Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 100


__ADS_3

Ekspresi pada wajah istrinya membuatnya berada pada ambang batas kesabarannya. Miles ingin sekali memukul seseorang tepat di wajahnya pada saat ini. Apa yang salah yang telah dilakukan Kirana yang membuat semua orang sangat marah kepadanya? Mengapa kebahagiaannya membuat orang lain merasa terancam?


Yang tidak bisa diterimanya, mengapa kegagalan mereka malah menjadi kesalahan Kirana? Apa yang salah pada orang-orang yang pernah dekat dengan istrinya itu? Apakah mereka tidak menyadari kesalahan mereka sendiri sehingga memilih dengan kejamnya melampiaskan segalanya kepada istrinya? Yang benar saja!


Kehidupan wanitanya tidaklah mudah. Tetapi dia bukan orang jahat yang akan mudah saja menyakiti orang terdekatnya, apalagi sampai menghancurkan kehidupan mereka. Karena dia mengerti artinya terluka, karena itu dia tidak mau melukai orang lain. Itulah yang membuatnya dahulu tidak mau menyerah sampai bisa memenangkan hati wanita ini.


Dia menolaknya bukan karena dia ingin menyakitinya, tetapi karena ingin melindungi reputasi Miles di depan banyak orang. Dia sudah melihat sendiri akibat dari perbuatannya enam tahun lalu tersebut. Orang-orang yang mengetahui hubungan singkat mereka yang membuahkan seorang anak, mencibir mereka, memandang mereka rendah, hilang sudah tatapan penuh hormat yang dahulu dterimanya.


Namun dia tidak keberatan dengan semua itu. Orang bisa mengatakan apa saja atau berbuat apa saja, tetapi itu tidak akan menyakitinya. Semua itu adalah konsekuensi yang siap untuk diterimanya. Dan semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan jika harus berpisah lagi dengan separuh jiwanya. Dia tidak menyesal telah menikahi Kirana dengan segala masa lalu mereka yang penuh noda.


Jadi, itulah yang dia rasakan berbeda pada sikap Dexter. Dia bertingkah aneh di dekat Kirana karena dia ada masalah dengan istrinya. Tetapi mengapa? Apakah dia memikirkan tentang penyesalan atau hal lain saat dia melihat Kirana lagi? Pria itu tahu bahwa Kirana sudah ada yang memiliki, apakah itu lantas membuat wanitanya terlihat lebih menarik?


Pria itu tidak punya pilihan lain. Yang bisa dia lakukan hanyalah menyelesaikan urusannya dengan istrinya sendiri dan menjauh dari Kirana. Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil Kirananya darinya. Istrinya hanya miliknya.


Markus menjemput mereka di bandara. Miles memangku William yang sudah tidur nyenyak di pangkuannya. Kirana duduk di sisinya dan masih diam sejak mereka tiba. Dua jam kemudian, mereka tiba di rumah dengan selamat. Wanda menyambut mereka dengan sapaan hangat dan senyuman. Pengurus rumahnya yang lain menolongnya membawakan koper mereka ke lantai atas.


Setelah membaringkan William di tempat tidur, Miles mengganti pakaiannya, menutup tubuhnya dengan selimut, dan mencium keningnya. Ketika dia masuk ke kamar mereka, Kirana sedang duduk di tepi tempat tidur. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Miles duduk di sisinya. Wanita itu kemudian meletakkan kepalanya di bahu Miles. Untuk menenangkannya, Miles membiarkannya begitu untuk beberapa menit.


“Kamu perlu mandi, sweetheart.” ucap Miles lembut. Walaupun dia sangat senang bila mereka langsung tidur, mereka berdua perlu mandi. Mereka mengunjungi pemakaman yang berdebu pagi tadi. Apalagi mereka berkeringat saat bertengkar dengan istri Dexter siang tadi.

__ADS_1


“Mandikan aku.” bisik Kirana. Miles menurutinya.


Karena mereka berdua terlalu lelah untuk bergerak, mereka hanya mandi sebentar saja. Kemudian cepat-cepat mengeringkan badan mereka menggunakan handuk bersih. Kirana kembali duduk di tepi tempat tidur setelah mereka mengenakan pakaian tidur masing-masing.


Ketika Miles memadamkan lampu dan menutup pintu ruang pakaian, dia masih menemukan Kirana pada posisinya yang sama. Dia berlutut di depan istrinya. Wanita itu tidak melakukan gerakan apa pun. Karena rambut lembapnya menutupi wajahnya, Miles menyekanya ke belakang telinganya. Tidak ada air mata di wajah kedua pipinya. Tetapi Kirana menatapnya dengan sedih. Miles mengusap pahanya penuh sayang.


Tangan kecil istrinya perlahan terangkat lalu menyentuh wajahnya. Kemudian dia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh kening, alis mata, mata, hidung, dan bibir suaminya dengan jemarinya. Miles berusaha untuk tidak bergerak saat dia menelusuri wajahnya. Karena Kirana meletakkan kedua tangannya lagi di pipinya, Miles memejamkan mata dan bersandar pada tangan kirinya. Andai saja dia bisa, dia akan membuang jauh penderitaan istrinya.


“Aku sangat bahagia. Karena setiap kali kita punya masalah, bukan kamu yang sedang menyakitiku. Bila aku merasa sedih atau kecewa, bukan kamu yang menyebabkannya.” Kirana perlahan menunduk dan mencium bibir Miles. Suaminya tersenyum bangga di antara bibir mereka. “Jangan khawatir. Kita baik-baik saja. Apa yang tidak diketahui orang lain tidak bisa menyakiti kita. Iya ‘kan?”


“Iya.” Miles menyengir. Kirana menciumnya lagi.


“Dan ingatlah, kamu tidak berjuang sendirian lagi.” ucap Miles dengan serius. Kirana mengangguk patuh. Air mata menggenang di pelupuk matanya.


“Aku sangat mencintaimu.” ujar Kirana dengan penuh emosi.


“Hm. Bagaimana kalau kamu tunjukkan kepadaku sebesar apa cintamu kepadaku?” goda Miles bercanda. Kirana tertawa terbahak-bahak. Dia memukul pelan lengan suaminya.


“Boleh aku makan dahulu? Aku lapar.” Kirana menyentuh perutnya.

__ADS_1


Untuk wanita yang dicintainya itu, dia bersedia melakukan apa saja. Selama dia bisa melihat senyum bahagia di wajahnya. Setelah tragedi dan masalah yang dihadapinya dalam hidup, dia layak untuk bahagia. Karena dia rela melewati segalanya hanya demi bisa bersama wanita tersebut, dia tidak akan menyakitinya dengan sengaja. Dia telah berulang kali membuktikan cintanya kepada Kirana, dia tidak akan mengecewakannya. Tidak ada lagi air mata. Dia akan berusaha sekeras mungkin untuk memenuhi sumpah pernikahannya.


“Wanda pasti sudah menyajikan makanan di ruang makan.” Miles sudah memintanya melakukan itu saat dia menyambut mereka di pintu. Dia berdiri dan menarik Kirana untuk berdiri juga.


“Dia tahu aku lapar?” tanyanya terkejut. Miles tertawa kecil.


“Aku yang tahu kamu lapar. Kalau kamu tidak memintanya, aku berencana memaksamu makan.” ucap Miles bercanda. Kirana memeluknya. Miles tersenyum seraya membelai pelan punggung istrinya.


“Aku sangat bahagia. Akhirnya, aku sudah berada di rumah.” Kirana mempererat pelukannya, seolah-olah tidak ingin melepaskannya. Miles menyambut rasa sakit akibat pelukan itu.


Miles mencium telinganya. Iya, dia sudah berada di rumah. Rumah adalah tempat di mana kita dicintai apa adanya, diterima penuh cinta meskipun punya banyak kelemahan, dan dimaafkan saat melakukan kesalahan demi kesalahan. Bila dia adalah rumah bagi istrinya, maka istrinya adalah tempat persembunyiannya.


“Bukan hanya kamu. Kita berdua sudah di rumah. Aku mencintaimu, Juliett.” bisik Miles. Kirana sampai mengayunkan kepalanya ke belakang dan tertawa dengan keras. Karena tawanya menular, Miles ikut tertawa. Inilah apa yang dia inginkan untuk istrinya lakukan. Menertawakan segalanya. Tidak ada lagi air mata, kesedihan, atau penderitaan.


“Ampun, aku masih tidak percaya betapa beraninya aku pada pertemuan pertama kita.” Kirana berusaha untuk menghentikan tawanya.


“Aku merindukan keberanianmu.” aku Miles dengan jujur. Kirana tersenyum.


“Aku juga mencintaimu, Romeo.” Ketika dia berjinjit dan menciumnya lagi dengan mesra, Miles kehilangan akal. Kemudian Kirana dengan sengaja menarik suaminya bersamanya untuk berbaring di tempat tidur, Miles kehilangan kendali. Makanan bisa menunggu. Gairahnya yang membara untuk istrinya tidak bisa menunggu lagi.

__ADS_1


__ADS_2