
Keesokan harinya, mereka pergi ke bandara dan penerbangan mereka sore itu tepat waktu. William segera tertidur setelah menghabiskan makan malamnya di pesawat. Miles menutupi tubuhnya dengan selimut. Kirana yang duduk di seberangnya tersenyum kepadanya. Perjalanan mereka di udara akan sangat panjang tetapi dokter kandungan mereka telah meyakinkan mereka bahwa Kirana dan janinnya akan baik-baik saja.
Tiba di Bandara Heathrow, Miles menggendong William yang masih mengantuk sambil mendorong troli dengan tangannya yang lain. Kirana yang berjalan di sisinya terlihat resah. Miles menghentikan langkahnya. Wanita itu melakukan hal yang sama sembari melihatnya dengan heran. Miles tersenyum, menundukkan badannya, lalu mencium bibirnya. Kirana segera membalasnya. Pria itu menjauhkan diri setelah dia tenang.
“Jangan khawatir. Mom dan Dad akan menyukaimu. Percayalah.” Miles membelai pipinya. Kirana menarik napas panjang dan mengangguk.
“Aku percaya.” Kirana tersenyum.
Tiba di pintu keluar terminal kedatangan, Miles melihat ayah dan ibunya berdiri tidak jauh dari pintu tersebut. Miles segera mendekati mereka. Ayahnya memeluknya dengan erat, sedangkan ibunya memeluk Kirana. Dia tersenyum puas melihatnya. Kirana akhirnya akan percaya betapa orang tuanya mencintainya.
“Nak,” sapa Shane. Miles menepuk punggungnya pelan.
“Hi, Dad.” balas Miles. Shane melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah William. Anak itu tidur pulas dan tidak menyadari apa yang terjadi di dekatnya.
“Biar aku yang gendong dia. Kamu pasti lelah.” Shane menawarkan diri. Miles menerima tawaran itu dengan senang hati.
“Trims, Dad.” Miles membiarkan Shane mengambil William dari pelukannya.
“Kamu pasti Kirana. Namaku Amanda.” ucap ibunya memperkenalkan diri.
“Iya. Senang bertemu denganmu, Ibu Bradford.” sapa Kirana gugup.
“Tidak usah formal begitu. Kamu boleh memanggilku Amanda.” Amanda melepaskan pelukannya. “Jangan pernah memanggilku Mandy atau Manda, oke? Aku benci nama panggilan.” Dia melirik William saat menoleh ke arah Miles. “Dan itu William?” tanyanya.
“Iya, Mom.” jawab Miles. Amanda mengangguk lalu memeluk putranya dengan erat.
“Hai, Kirana.” ucap Shane sambil memeluk Kirana. Mereka berhati-hati agar tidak membangunkan William. “Karena Amanda memintamu memanggilnya dengan namanya. Aku juga begitu. Panggil aku Shane.”
“Shane. Amanda.” ucap Kirana enggan. Miles tersenyum.
“Kamu akan terbiasa.” Miles mengusap-usap punggung Kirana.
“Ya, ampun, Alastair. Dia mirip sekali denganmu.” pekik Amanda. Dia melihat ke arah William, suaminya, lalu ke arah Miles. “Baru kali ini aku melihat Bradford empat orang sekaligus!”
__ADS_1
“Empat orang Bradford?” tanya Kirana bingung.
“Kakekku masih hidup.” Miles mengangkat bahunya.
“Kamu tidak bilang sebelumnya.” protes Kirana. Miles hanya tersenyum. Itu tidak disengaja. Segalanya di antara mereka terjadi begitu cepat. Dia hanya ingat untuk berbagi mengenai orang tuanya dan tidak sanak saudaranya yang lain.
“Ayo, kita bicara di rumah saja.” Shane berjalan lebih dahulu. Mereka mengikutinya.
Ketika mereka sampai di mobil, Miles memasukkan dua koper mereka ke bagasi. Saat dia menutup pintu bagasi, William berteriak memanggil papanya. Miles tersenyum, mengangkat kepalanya, dan melihat Shane kesulitan memegang William yang berontak dalam gendongan kakeknya. Tetapi putranya belum tahu siapa itu.
“Aku di sini.” Miles berjalan mendekat. William memutar kepalanya.
“Daddy, Daddy!” teriak William dengan keras. Tangan kecilnya terulur kepadanya, berusaha meraih papanya. Dia terisak-isak dan melihat ke sekelilingnya dengan wajah takut. Miles menggendongnya lalu mengelus punggungnya.
“Siapa mereka, Dad?” isak William sambil melihat Shane dan Amanda.
“Kakek dan Nenek. Ingat? Kita ke sini untuk menemui mereka.” Miles mengingatkan putranya.
“Hai, William. Aku Amanda, nenekmu.” ucap Amanda riang, kemudian matanya membulat. “Alastair, matanya biru sepertimu. Mata berwarna biru cerah. Kalian benar-benar empat Bradford!”
“Hai, Will. Maaf, sudah membuatmu takut.” ucap Shane menyesal. Anak itu mengedip sebelum melihat Miles dengan mata membulat.
“Mereka bicara mirip aku, Dad.” ucap William heran. Mereka tertawa bersama. Ada sebuah hal yang jarang terjadi bagi William untuk bertemu orang yang bicara menggunakan aksen Inggris saat bicara bahasa tersebut. Miles adalah orang pertama yang pernah ditemuinya menggunakan aksen itu. Kirana tidak memilikinya meskipun dia yang mengajarinya lewat film yang mereka tonton.
“Tentu saja. Mereka orang Inggris.” Miles tertawa geli. William mengangguk.
“Ayo. Kita harus pergi sekarang.” ajak Shane.
Miles membukakan pintu dan mempersilakan Kirana masuk lebih dahulu. Dia mendudukkan William di samping Kirana lalu masuk ke dalam mobil. Dia menutup pintu di sampingnya, William segera meminta didudukkan ke pangkuannya lagi.
“Will, duduklah. Dad lelah.” ucap Kirana. William segera menatap papanya dengan sedih. Tatapan yang selalu berhasil melemahkan hati Miles.
“Tidak apa-apa. Kemarilah.” Miles meletakkan kedua tangannya di bawah lengan putranya lalu mendudukkannya di pangkuannya.
__ADS_1
“Wow, Dad! Lihat itu!” William menunjuk ke arah gedung unik yang mereka lewati. Sekejap saja wajahnya berubah menjadi ceria.
Sepanjang perjalanan William menanyakan begitu banyak pertanyaan seputar bangunan, jalan, mobil, dan transportasi publik. Miles menjawab semuanya. Sesekali Shane atau Amanda ikut menambahkan jawabannya dengan fakta yang lebih mereka ketahui. Kirana tertarik dan ikut mendengarkan penjelasan mereka. Bangunan dan rumah yang mereka bicarakan memang sangat memukau.
Memasuki sebuah pekarangan rumah, William bersorak senang. Rumah itu mirip rumah Miles di Jakarta. William ingin berjalan sendiri, Miles mendesah lega. Amanda menggandeng tangannya, anak laki-laki itu tidak keberatan. Shane menolong Miles mengeluarkan kopernya dari bagasi mobil.
Miles menoleh ke arah jalan di belakang mereka. Dia melihat mobil menunggu untuk bisa masuk ke pekarangan mereka. Para pengawal itu harus menunggu sampai mereka semua masuk ke dalam rumah. Dia tidak ingin Kirana mengetahui kehadiran mereka.
Di pintu depan, mereka disambut oleh dua orang pria. Mereka segera mengambil alih koper yang dibawa oleh ayah dan anak tersebut. Shane mengajak Miles dan Kirana menuju ruang duduk. Teh hangat dan makanan ringan telah disiapkan untuk mereka. Miles menggandeng tangan Kirana.
“Baik. Sebelum kita membicarakan hal lainnya, aku penasaran dengan satu hal.” Amanda mengangkat tangannya untuk menarik perhatian semua orang. William duduk manis di sisinya sambil memakan sebuah cookies cokelat.
“Ya, Mom?” tanya Miles. Amanda melihat ke arah Kirana.
“Apa kamu sedang hamil?” tanya Amanda penuh harap. Miles dan Kirana saling tukar pandang. “Ya, ampun. Ya, ampun. Kamu sedang hamil!”
“Iya, Amanda. Aku hamil.” jawab Kirana gugup.
“Akhirnya! Ada juga pria Bradford yang mau punya anak lebih dari satu.” ucap Amanda riang. “Dia harus lahir di sini.”
“Mom,” protes Miles.
“Akan kami pertimbangkan.” jawab Kirana. Miles menoleh ke arahnya. Tetapi wanita itu hanya mengabaikan tatapannya. Itu adalah keputusan yang besar. Mereka harus memikirkannya baik-baik.
“Terima kasih! Dengan senang hati aku akan menjaga Will untuk kalian kalau kalian mau melahirkan di sini.” ucap Amanda senang.
“Jadi, kamu bukan mau menawarkan bantuanmu pada saat melahirkan, Mom?” ucap Miles geli.
“Dan bertengkar denganmu selama proses persalinan mengenai siapa yang memegang tangannya dan siapa yang mengingatkannya bagaimana bernapas? Tidak, terima kasih.” Amanda memain-mainkannya alisnya.
“Itu usul yang bagus, Miles. Aku bisa memercayakan Will kepada orang tuamu. Kita tidak punya siapa pun yang bisa kita percayai di rumah.” ucap Kirana setuju. Miles menggelengkan kepalanya.
“Ada Markus, Wanda, Siti, oh, dan juga Joko, sweetheart. Kita punya banyak orang yang bisa membantu di rumah.” sanggah Miles keberatan. Kirana tertawa geli.
__ADS_1
“Apa itu artinya kamu memutuskan untuk melahirkan di sini?” ucap Amanda penuh harap. Dia melihat bergantian ke arah Kirana dan Miles.
“Akan kami pertimbangkan, Mom. Tapi jangan banyak berharap dahulu.” Miles menjawab lebih cepat dari Kirana. Wanita itu menatapnya penuh protes.