
Keheningan yang terasa nyaman memenuhi mobil. Kirana menikmati pemandangan di sekitarnya saat Miles mengendarai mobil. Dan percakapannya dengan kakaknya perlahan-lahan lenyap dari kepalanya. Miles benar. Ratri tidak layak bahkan untuk setetes air mata pun. Dia mengabaikannya, pergi ke luar negeri untuk tinggal bersama keluarganya dan menikmati hidupnya. Ini saatnya bagi Kirana untuk menikmati hidup impiannya juga.
Dia sengaja tidak memberitahu kakaknya bahwa dia tidak membutuhkan uang dari Miles atau pun harta miliknya. Dia mempunyai cukup uang untuk hidup mewah, dia hanya berpikir bahwa bukan uang yang akan membuatnya bahagia. Dia tidak mau menjalani hidupnya dengan memfoya-foyakan uang warisan orang tuanya. Dia harus bekerja keras dengan kemampuannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya.
Kini dia mengerti alasan orang tuanya tidak mewariskan apa pun kepada kakaknya. Mereka tahu bahwa dia tidak akan menjaga peninggalan mereka seperti yang mereka harapkan. Dia bisa saja mengambil keputusan yang impulsif yang bisa menghancurkan hidupnya atau pernikahannya. Dia suka membuat orang-orang cemburu dengan hidupnya. Itu akan mudah dilakukan jika dia memiliki banyak uang. Dia bisa saja meninggalkan Brian dan mencari pria yang lebih baik.
Lima belas menit kemudian, Miles menepikan mobilnya ke sebuah tempat parkir. Kirana melihat ke sekelilingnya. Mereka ada di sebuah kedai kopi. Ada banyak mobil yang diparkirkan di sisi mereka. Miles mematikan mesin mobil lalu mencabut kunci dari starter. Dia yang pertama keluar dan menolong istrinya keluar dari mobil. Mereka bergandengan tangan memasuki toko tersebut.
“Apa yang istimewa dari tempat ini?” tanya Kirana bingung saat Miles menahan pegangan pintu.
“Kamu harus mencari tahu sendiri.” jawab Miles misterius.
Toko itu tidak jauh berbeda dengan kedai kopi yang biasanya dia datangi saat masih sendiri. Tidak ada yang istimewa di dalamnya. Ketika mereka memesan minuman, Miles memintanya untuk memercayainya. Kirana tertawa geli ketika Miles memesan cokelat hangat dan kopi hitam. Minuman yang sudah menjadi kebiasaan mereka.
“Itu bukan sesuatu yang istimewa. Aku tahu kamu suka kopi hitam dan kamu tahu aku suka cokelat hangat. Tempat ini juga tidak berbeda dengan coffee shop lainnya.” ucap Kirana bingung.
“Aku sering datang ke tempat ini bila sedang kecewa atau ingin sendiri. Sampai keadaanku jadi lebih baik nantinya. Aku membawamu ke sini karena aku ingin menunjukkan kepadamu di mana kamu bisa menemukanku kalau kita bertengkar hebat nanti.” Miles membuka salah satu rahasianya.
“Tapi kita tidak tinggal di sini, Miles.” ujar Kirana, masih bingung.
“Ini coffee shop paling dekat dari rumah kita.” Miles memberinya petunjuk. Kirana akhirnya mengangguk tanda mengerti. “Dan ini adalah kencan pertama kita.” Mata Kirana membulat. Lalu dia menarik napas terkejut.
__ADS_1
“Ya, ampun!” Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Miles memain-mainkan alisnya. Wanita itu menatap Miles tidak percaya lalu tertawa. “Kamu benar! Kita tidak pernah kencan.”
“Jadi, Kirana,” Miles meraih tangan Kirana yang ada di atas meja. Kirana tertawa kecil. “Karena ini kencan pertama kita, hal pertama yang ingin aku ketahui darimu adalah, berapa anak yang kamu inginkan kalau kita menikah nanti?” Kirana tertawa terbahak-bahak. Miles tersenyum
“Ka, kamu serius dengan pertanyaan itu? Pada kencan pertama, Miles?” Kirana kembali tertawa.
“Pertanyaan yang menanyakan tentang pekerjaanmu, warna kesukaanmu, hobimu, berapa jumlah saudaramu, hanyalah pertanyaan tiruan dari kencan orang lain, bukan? Jadi, apa salahnya menjadi kreatif?” Miles mengangkat salah satu bahunya. Kirana mengangguk pelan.
“Boleh juga. Tapi kalau gadis itu adalah aku, aku lebih baik jadi perawan tua daripada menerima pertanyaan itu pada kencan PERTAMA.” ejek Kirana.
“Kamu melukai hatiku, Kirana.” ucap Miles pura-pura sedih. Kirana tersenyum lalu menarik tangan Miles hingga wajah mereka mendekat. Dia mengecup bibir suaminya.
“Terima kasih sudah membuatku tertawa lagi, Miles.” ujarnya dengan mesra.
“Kata Amanda, sudah menjadi tradisi Bradford hanya punya seorang anak. Kita sudah punya dua. Apa kamu masih mau lagi?” tanya Kirana terkejut.
“Satu atau dua anak lagi baik juga. Aku suka anak-anak.” ujar Miles penuh harap. Mata Kirana melebar. Dua orang anak lagi?
“Aku tidak muda lagi, Miles. Aku tidak yakin aku akan bisa hamil semudah itu.” ucapnya ragu.
“Kalau begitu, kita percepat. Satu anak pada tahun depan, dan yang satu lagi pada dua tahun ke depan.” usul Miles. Kirana mengangakan mulutnya. Pria itu tertawa kecil. “Kamu suka proses membuatnya, jangan coba-coba menyangkalnya.”
__ADS_1
“Aku tidak akan menyangkali apa pun. Aku hanya, aku benci mual-mual dan lemah. Dua kali hamil sudah cukup.” Kirana mendesah pelan saat dia mengakuinya. Miles memasang wajah mengiba. “Akan aku pertimbangkan.” Pria itu kemudian tersenyum dengan ceria.
“Terima kasih.”
“Jangan kamu berani lagi menggodaku seperti yang kamu lakukan di Singapura.” Kirana mengancam suaminya. “Aku ingin memutuskannya bersamamu. William adalah rencanaku. Dan bayi ini ulahmu. Jika kita berencana memiliki anak yang ketiga, dia harus ada di rahimku karena kita berdua menginginkannya.”
“Kita sepakat, Mam.” Miles mengangkat tangan Kirana ke bibirnya dan menciumnya. Wanita itu tersenyum.
“Jadi, Pak Bradford. Apa Anda punya pertanyaan yang lain?” goda Kirana. Miles tertawa kecil.
“Ada banyak sekali. Apa Anda sudah siap, Nyonya Bradford?” balas Miles. Kirana mengangguk dengan cepat.
Mereka menghabiskan dua jam di kedai kopi untuk saling mengenal. Miles terus menanyakannya pertanyaan yang konyol. Kirana hampir tidak bisa menjawabnya dengan baik karena dia hanya tertawa terbahak-bahak. Dia belum pernah kencan, jadi dia menikmati waktu tersebut, tawa, sentuhan, ciuman, kecupan, dan secangkir cokelat hangat. Saat Miles memindahkan kursinya ke sisinya, Kirana bisa bersandar kepadanya dan melanjutkan percakapan penuh canda mereka.
Miles menelepon orang tuanya untuk memberitahu bahwa mereka akan pulang larut. Kemudian dia membawa istrinya ke sebuah restoran untuk makan malam. Itu adalah kencan mereka yang kedua. Dia tidak lagi bertingkah konyol atau bercanda. Kali itu dia menanyakan beberapa pertanyaan serius kepada Kirana, mendiskusikan masa depan mereka bersama. Kirana menghargai usahanya untuk menghiburnya. Dia berusaha membuat istrinya merasa lebih baik.
Pada akhirnya, Miles membawa Kirana ke sebuah taman. Itu adalah kencan mereka yang ketiga. Mereka duduk di atas rumput saling berpegangan tangan dan memandang bulan di langit. Mereka tidak sendirian tetapi perhatian Kirana sepenuhnya kepada suaminya. Dia mendengarkan setiap kata yang dia ucapkannya, menyimpan janjinya di dalam hati, dan menikmati aroma prianya yang unik.
Ketika mereka akhirnya pulang, tidak ada lagi yang sedang terjaga. Mereka langsung menuju kamar tidur. Kirana tertawa dengan keras sehingga Miles harus menutup mulutnya dengan tangannya saat dia mengatakan bahwa mereka akan melakukan kencan keempat mereka di atas ranjang. Mereka berendam lama sebelum menikmati cinta di tempat tidur. Empat kencan pertama yang sempurna dalam satu hari.
“Aku mencintaimu, Miles.” Kirana berbisik penuh rasa bahagia.
__ADS_1
“Dan aku juga mencintaimu.” Miles mencium keningnya dan mempererat pelukannya. Kirana tersenyum. Keadaan ini begitu tepat. Bisa bersama Miles dan hidup sebagai suami dan istri terhadap satu sama lain, kemudian menjadi orang tua bagi anak-anak mereka. Tidak masalah mereka memiliki awal yang tidak sempurna. Karena mereka akan memperbaiki semua kesalahan tersebut.