
Kirana berusaha untuk menggerakkan badannya dan merasakan seseorang sedang memeluknya dengan erat. Kepalanya mulai bekerja membantunya berusaha mengingat apa yang sedang terjadi kepadanya. Begitu dia mengingat semuanya, dia mengerang pelan. Dia membiarkan dirinya melakukan rencana gilanya. Sekarang dia sudah tidak bisa memutar waktu karena dia telah menyerahkan dirinya kepada orang asing. Orang asing yang benar-benar asing.
“Aku tahu arti erangan itu.” Sebuah ciuman mendarat di bahunya. “Kamu menyesal dengan apa yang telah kita lakukan.”
Dia merasa berbeda. Ada yang berubah pada dirinya. Perubahan yang menyenangkan sekaligus menakutkan. Tidak seperti yang diceritakan beberapa temannya mengenai pengalaman bulan madu mereka yang membahagiakan. Pengalaman pertamanya justru bagaikan neraka. Kalau dia harus merasakan sakit sebelum merasakan akhir yang menyenangkan datang, lebih baik dia tidak pernah melakukannya sama sekali.
Katanya pengalaman pertama bagi beberapa wanita akan sangat menyakitkan. Ya, dia sudah merasakannya. Lalu katanya lagi pengalaman berikutnya tidak akan menyakitkan sama sekali. Tidak, dia tidak mau bertaruh dalam hal itu. Bisa saja pengalamannya akan berbeda dibandingkan dengan wanita lain. Dia tidak mau mencobanya lagi.
Lebih baik dia kesepian selamanya. Biar saja dia patah hati berkali-kali. Tidak apa-apa kalau teman laki-lakinya hanya mencarinya saat mereka membutuhkan teman. Lalu melupakannya saat mereka sudah mempunyai kekasih. Tidak masalah kalau dia tidak akan pernah bisa memiliki anak yang dia idam-idamkan. Lebih baik sendiri daripada merasakan sakit lagi. Tidak ada gunanya meneruskan rencananya untuk mempunyai anak.
“Lebih tepatnya, apa yang telah aku lakukan.” ralat Kirana. Dia berusaha untuk duduk tetapi tangan yang melingkari pinggangnya menahannya.
“Jangan pergi. Tidak ada yang salah. Kamu Juliett, aku Romeo. Tertulis dalam kisah kita bahwa kita ditakdirkan untuk bersama sebelum berpisah untuk selamanya.” ucap Romeo sambil mencium leher Kirana. “Tidak akan ada yang tahu. Hanya kamu dan aku. Kamu ingat?”
“Karena aku mengingatnya, maka aku merasa seperti sedang menjebakmu.” ucapnya pelan. Apakah semua orang merasakan apa yang dia rasakan, menyesal setelah pertama kali berhubungan badan dengan seseorang? Ataukah ini dialaminya karena dia dan Romeo adalah dua orang asing? Atau dia merasakannya karena pengalaman pertamanya meleset jauh dari perkiraannya?
“Menjebakku? Kamu sama sekali tidak menjebakku. Tapi mengingat bahwa aku tidak bisa menolakmu sejak pertama kali menatapmu, mungkin aku memang telah terjebak oleh pesonamu, sweetheart.” Romeo tertawa kecil. Kirana ikut tertawa bersamanya.
__ADS_1
“Menurutmu ini lucu, ya?” ucap Kirana setelah dia bisa mengendalikan dirinya lagi. Lalu dia mendesah pelan merasakan Miles mencium belakang lehernya. Awalnya terasa menyenangkan semalam, seperti yang dirasakannya saat ini, membuatnya ketagihan dengan sentuhan pria itu. Tetapi dia khawatir dia akan mengalami hal yang sama lagi.
“Aku hanya ingin membuat suasana hatimu cukup baik untuk ke tahap selanjutnya.”
“Tahap selanjutnya?” tanya Kirana tidak mengerti. Dia memekik pelan saat Romeo tiba-tiba memutar badannya sehingga punggungnya menyentuh tempat tidur. Pria itu meletakkan kedua tangannya di atas kasur di antara kepala Kirana, membuatnya tidak bisa pergi ke mana pun.
“Setelah mencicipimu semalam, aku ingin mencicipimu lagi.” Romeo membelai rambutnya.
“Tidak. Aku tidak ingin melakukannya lagi. Rasanya sakit.” tolak Kirana.
Mungkinkah itu masalahnya? Tetapi bagaimana pria ini bisa tahu? Katanya dia belum menikah. Kalau benar, bagaimana Romeonya bisa tahu dia tidak akan merasakan sakit lagi? Apakah dia sudah sering melakukannya dengan wanita lain?
Ah, dia orang asing! Bukankah di banyak film yang dia tonton orang-orang seperti mereka biasa melakukan hubungan intim dengan wanita yang bukan istrinya? Tidak hanya dengan satu wanita saja. Kadang-kadang mereka melakukannya dengan wanita yang berbeda di waktu yang berlainan atas dasar suka sama suka dan sepakat untuk melakukannya tanpa ada ikatan emosi atau komitmen apa pun.
Tidak mengherankan kalau dia tahu benar apa yang sedang dia lakukan. Dia pasti sudah sering melakukan ini, menghabiskan satu malam bersama seorang wanita dan berpisah pada keesokan paginya seolah tidak terjadi apa-apa. Pasti itu juga yang dia pikirkan ketika mendengar tawarannya semalam. Ini hanyalah sebuah rutinitas biasa dalam hidupnya sehari-hari.
Ah, siapa dia sehingga merasa layak untuk menghakimi Romeo. Dia juga tidak lebih baik karena telah menggoda pria yang tidak dikenal untuk tidur bersamanya. Dia tidak bisa bertanya kebenaran atas dugaannya itu karena mereka sepakat untuk tidak membicarakan mengenai hal pribadi. Kalau memang hanya satu malam yang dia dapatkan, dan tawaran pagi ini adalah bonusnya, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
__ADS_1
“Kalau begitu, berhenti bicara dan lakukan.” ujarnya kemudian.
Pengalamannya yang kedua jauh lebih baik dari yang pertama. Ternyata hubungan intim bisa begitu menyenangkan. Informasi yang dibacanya benar. Ucapan Romeo benar. Dia tidak merasakan sakit sama sekali. Dia bahkan sedikit kecewa Romeo berniat mengakhiri apa yang baru saja mereka mulai. Mungkin dia melihat kekecewaaan di wajahnya atau mungkin dia juga punya perasaan yang sama, pria itu menciumnya lagi.
Rencana gilanya berhasil. Dia mendapatkan lebih dari yang sudah dia rencanakan. Tidak hanya dia mungkin akan berhasil memiliki seorang anak, dia juga akan mendapatkan seorang anak yang mirip Romeo. Tetapi pria itu tidak perlu mengetahuinya. Selama dia menikmati apa yang mereka lakukan bersama, mereka masing-masing mendapatkan apa yang diinginkan. Romeo mendapatkan teman di tempat tidur, Kirana mendapatkan anak yang akan menjadi teman hidupnya.
Sekarang, bagaimana caranya meyakinkan Romeo agar mau melakukan ini lagi dengannya? Dia belum mau mengakhiri ini. Setidaknya dia membutuhkan satu malam lagi. Tidak hanya untuk memastikan bahwa dia berhasil hamil namun juga untuk lebih banyak belajar agar dia bisa lebih baik lagi ke depannya. Siapa tahu dia tidak akan pernah bertemu guru yang sehebat dia lagi.
“Aku tidak mau kamu pergi. Tetaplah di sini bersamaku.” pinta Romeo setengah memohon ketika Kirana menjauhkan diri darinya. Jantung Kirana melompat bahagia karena inilah yang dia inginkan.
“Walau aku tidak ingin pergi, aku tetap harus kembali ke penginapan untuk mengambil pakaian ganti.” ucapnya pura-pura tidak tertarik padahal dia ingin sekali menari penuh kemenangan.
“Hm. Kamu tidak berniat lari dariku ‘kan? Kamu pasti kembali?” Walau dia sedang bercanda, Kirana bisa mendengar nada khawatir pada suaranya.
“Setelah semalam dan pagi ini? Tidak, aku tidak akan lari darimu.” janji Kirana. Segera setelah dia mengatakannya, senyum Romeo mengembang.
“Bagus.” ucapnya lega. Tiba-tiba perut mereka berbunyi karena lapar. Serentak tawa mereka meledak.
__ADS_1