
Setelah berjanji bahwa dia akan datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan keesokan paginya, Miles menggendong William ke truknya. Dia menolongnya untuk duduk di jok belakang. Anak itu masih menangis, ketakutan dengan apa yang baru terjadi kepadanya. Dada Miles nyeri ketika dia melihat air mata mengalir membasahi kedua pipi putranya. Miles memeriksa wajah, tangan, lutut, dan kaki William untuk mencari luka atau lecet. Nihil.
“Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Aku di sini, Nak.” Miles menenangkan putranya. William tidak melonggarkan pelukannya.
“Aku mau Mommy!” tangisnya.
“Kita akan pulang untuk bertemu Mommy, okay.” Miles membelai rambutnya.
Polisi memaksa pria yang tangannya terborgol untuk masuk ke jok belakang mobil polisi tersebut. Salah satu dari polisi itu melihat kepadanya dan tersenyum. Miles membalas senyumnya. Dia perlu menelepon Charles dan membiarkan dia yang menangani semuanya. Yang dia butuhkan adalah tinggal bersama keluarganya. Mereka belum tahu siapa yang mengirim para pria ini untuk menculik William, jadi dia harus menjaga mereka.
“William, dengarkan aku. Apa kamu sedang mendengarkan?” Miles membingkai wajah anak itu. William mengangguk. “Cobalah berhenti menangis, Nak. Aku perlu tahu jika kamu merasakan sakit atau ada luka. Apa kamu merasakan ada yang tidak nyaman di tubuhmu?”
“Tidak.” William menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja. Aku mau Mommy.”
“Oke.” Miles menyeka air matanya. “Sekarang duduk yang rapi. Aku perlu memasang sabuk pengamanmu.” William terisak-isak, tetapi dia menurut.
Anak itu berusaha sebaiknya untuk berhenti menangis. Miles mengendarai truknya secepat yang dia bisa. Dia tidak lupa berterima kasih kepada sahabatnya, Luke. Dia telah menemukan putranya dengan selamat. Melihat keadaan di depan rumah kosong, Miles mendesah lega. Itu artinya Kirana menurutinya dan mengunci pintu rumah.
Miles menghentikan truknya di depan rumah, menarik kuncinya dari tempat kontak, dan melompat keluar. Dia membukakan pintu untuk William dan membantunya keluar. Setelah mengunci pintu truk, dia menggendong putranya ke pintu depan. Tirai sedikit terbuka, lalu wajah Kirana muncul di sana. Dia menghilang begitu kunci pintu dibuka. Pintu pun terbuka.
__ADS_1
“Will!” teriak Kirana. Dia berlutut dan memeluk putra mereka. “Anakku. Apa kamu baik-baik saja? Apa mereka menyakitimu?” William tidak bisa menjawab pertanyaannya karena dia menangis lagi.
“Dia tidak apa-apa. Tidak ada luka atau lecet.” jawab Miles. “Ayo, kita masuk. Kita tidak sebaiknya berada di luar.”
Kirana menggendong William dan masuk ke dalam rumah. Miles mengunci pintu dan memeriksa jalan di depan rumah melalui jendela. Tidak ada yang terlihat mencurigakan. Dia menutup tirai dan membalikkan badannya. Kirana dan William duduk bersisian di sofa saling memeluk.
Dia membiarkan mereka sendiri dan menaiki tangga. Dia membuka pintu yang pertama. Itu adalah kamar tidur dengan banyak barang milik wanita. Dia mengambil dan meletakkan koper paling besar di atas tempat tidur. Dari setiap lemari dan laci, dia mengeluarkan baju, pakaian dalam, kaus kaki, scarf yang bisa diraihnya dan memasukkannya ke dalam koper. Dia memasukkan setiap kosmetik ke dalam kantong riasan.
Selesai dengan kamar pertama, dia memasuki kamar kedua. Dari dekorasinya, dia tahu itu adalah kamar William. Dia kembali mengambil koper yang paling besar dan melakukan hal yang sama. Dia mengepak pakaian dan mainan William dengan hati-hati. Dia memeriksa kamar mandi dan menemukannya di balik pintu ketiga. Dia memasukkan setiap sabun, sampo, sikat gigi, dan segalanya yang masih baru ke dalam kantong yang tersedia.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Kirana dari ambang pintu. Miles berjalan melewatinya menuju kamar William dan memasukkan kantong ke dalam koper. “Miles, aku bertanya kepadamu.”
“Bukankah ini sudah jelas?” Miles balik bertanya. Kirana mengerutkan keningnya. “Kamu dan William akan tinggal bersamaku mulai dari sekarang.”
“Kita bisa pergi ke pengadilan besok pagi dan mendaftarkan pernikahan kita. Aku tidak peduli bagaimana caranya. Tapi aku tidak akan meninggalkan kamu dan anak-KU sendirian di rumah ini setelah kejadian menakutkan tadi.” Miles bersikeras. “Polisi belum tahu siapa pelakunya. Kamu dan Will belum aman.”
“Apa? Apa maksudmu? Kamu sudah mendapatkannya kembali tapi polisi belum menangkap pelakunya?” tanya Kirana dengan suara bergetar. Miles melihat ke sekitar Kirana. “Apa?”
“Mana William?” tanya Miles khawatir.
__ADS_1
“Di kamarku.” Kirana menunjuk ke arah pintu pertama yang diperiksanya tadi. Miles mendesah lega. “Miles, tentang pindah ke rumahmu,” Dia meletakkan tangannya di dada Miles untuk menghentikan pria itu bergerak menjauh.
“Apa kamu tahu apa yang ada di dalam pikiranku ketika mengejar mereka dan tidak tahu bagaimana mendekati mobil tersebut? Apa kamu tahu apa yang menjadi ketakutan terbesarku ketika aku berpikir mungkin saja mereka menyakiti William, atau yang paling buruk, membunuhnya?” tanya Miles. “Kamu, Kirana. Aku takut jika aku kehilangan Will, aku akan kehilangan kamu juga. Aku tidak bisa kehilanganmu lagi. Itulah ketakutan terbesarku.”
“Daddy!” sorak William sambil melompat turun dari tempat tidur dan memeluknya. Miles mengangkatnya dan menggendongnya ke ranjang. Mereka baru bertemu hari ini tetapi putranya sudah merasa nyaman di dekat papanya. Miles tersenyum puas. Dia hampir saja kehilangannya. Dia mencium pipi putranya dengan sayang.
“Hai, kamu baik-baik saja?” tanya Miles. William mengangguk pelan dan meletakkan pipinya di dada papanya. Miles mencium kepalanya lagi dan mengusap punggungnya. “Kamu akan baik-baik saja. Mamamu akan baik-baik saja. Kita perlu pindah ke tempat yang lebih aman, oke?”
“Okay, Dad.”
Dengan enggan, Kirana memasukkan pakaian tambahan yang akan dibutuhkannya ke dalam koper. Dia memilih dua sepatu dan memasukkannya ke dalam kotaknya. Kemudian dia memilih beberapa pakaian William dan memasukkannya bersama barang lain yang sudah Miles tumpuk begitu saja di koper milik William.
Miles menarik kedua koper itu bersamanya dan memasukkannya ke dalam bagian belakang truk. Di saat Kirana mengunci pintu depan, Miles menolong William duduk di jok belakang. Miles menyetir mobilnya setelah dia memasang sabuk pengaman di depan tubuhnya sendiri. Dia memeriksa kedua kaca spion luar mobil. Tidak ada yang mengikuti mereka, kemudian dia melirik ke arah Kirana dan William. Mereka aman selama mereka berada di dekatnya.
“Aku senang kamu sudah tenang, Will.” Dia melihat putranya melalui cermin kecil yang ada di tengah depan mobilnya. William tersenyum tetapi tidak menoleh ke arah papanya.
“Aku laki-laki kuat, Dad. Aku tidak sering menangis.” ucap William dengan tegas. Miles dan Kirana bertukar pandang. Miles mengedipkan matanya dan Kirana tidak bisa menahan tawanya.
“Itu baru anakku.” ucapnya bangga. Dia meraih tangan Kirana dan meremasnya.
__ADS_1
“Aku lupa mengatakan kepadamu, terima kasih sudah menolong kami, Miles.” ucap Kirana tulus. Dari wajahnya dia sudah terlihat tenang dan tidak panik lagi.
“Sudah kewajibanku, Kirana. Kamu adalah keluargaku. Aku selalu melindungi apa yang menjadi milikku.” Dia membawa tangan Kirana mendekat ke wajahnya dan mencium jemarinya yang terkepal. Dan dia selalu memegang janjinya.