Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 69


__ADS_3

Miles memakai pakaian kerja terbaiknya pada pagi itu. Dia memakai jas lengkap dengan celana panjang berwarna hitam, kemeja putih, dasi berwarna hitam kemerahan, dan sepatu cokelatnya yang mengkilat. Rambutnya dia beri gel dan disisir rapi di kedua sisi kepalanya. Dia membiarkan poninya jatuh menutupi keningnya. Wanda tersenyum penuh arti melihat penampilannya. Bahkan Markus juga menyadari ada yang berbeda dengannya pagi itu.


Akan ada rapat internal bagian pemasaran pagi itu. Dia lebih dahulu masuk ke ruangannya. Meletakkan tas kerjanya lalu mendengar jadwalnya pagi itu dari Kemala. Dia menikmati kopi hitamnya sembari memeriksa dokumen yang telah menumpuk di atas mejanya. Dia meminum kopinya dan tertawa. Kirana tidak suka kopi hitam. Yang benar saja. Dia menghabiskannya sebelum keluar dari ruangannya. Saatnya untuk melaksanakan misi rahasianya.


Di ruang rapat bagian pemasaran, Miles masuk tanpa mengetuk. Ruangan itu mendadak senyap dan semua kepala menoleh kepadanya. Tanpa memedulikan mereka, dia berjalan mendekati satu-satunya wanita yang terlihat panik dengan kehadirannya. Miles meraih tangannya lalu menariknya menuju pintu. Wanita itu cukup cerdas dengan tidak membantah atau melawannya di depan para stafnya.


“Lanjutkan pertemuannya. Kirana tidak akan kembali sampai satu jam ke depan.” ucap Miles serius. Mereka berjalan menuju kantor Kirana.


Mereka masuk, Miles menutup pintu dan menguncinya. Dia berjalan menuju ruang kecil yang ada di samping ruang kerja di mana ada tempat tidur. Dia melepaskan Kirana, lalu menutup dan mengunci pintu ruang istirahat tersebut. Kirana segera menjauh darinya, tetapi tidak bisa lebih jauh lagi karena ruangan itu kecil. Miles melepas kancing jasnya dan melepaskan dasinya, lalu meletakkan jas dan dasi di sandaran kursi. Kemudian dia membuka kancing kemejanya.


“A, apa yang kamu lakukan, Miles?” tanya Kirana gugup begitu Miles berjalan mendekatinya. Pria itu tidak mengalihkan matanya dari wanita itu. Kirana melihatnya dengan tatapan ketakutan, marah, dan penasaran. Dia suka yang terakhir.


Miles tidak menjawab pertanyaannya. Dia lebih suka melakukan saja apa yang wanita itu sukai. Dia menyentuhnya, menciumnya, dan dalam sekejap, membaringkannya ke tempat tidur. Hal yang selalu alamiah bagi mereka. Mulut Kirana mungkin menolaknya berulang kali, tetapi tubuh dan hatinya tidak bisa berbohong.


“Kamu berengsek.” ucap Kirana saat mereka berbaring berdekatan di ranjang. Punggungnya menyentuh dada Miles. Posisi favorit mereka setelah berhubungan intim. Miles tertawa kecil.


“Aku anggap itu sebagai pujian.” godanya.


“Aku tidak sedang memujimu.” ucap Kirana kesal.


“Kecilkan suaramu. Kamu tidak mau ada yang mendengar kita, ‘kan?” bisik Miles.


“Memangnya apa lagi yang akan mereka pikirkan ketika tahu bahwa kita hanya berdua saja di ruangan ini? Kamu telah merusak reputasiku.”


“Berdua saja di ruanganmu? Sebentar. Kita ada di sini sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit? Hm, membicarakan proyek pemasaran untuk bulan depan?” sarannya. Kirana menggeram pelan. Miles tertawa kecil. “Kamu terlalu banyak memikirkan apa kata orang. Aku mencintaimu apa adanya. Lupakan pendapat orang lain.”

__ADS_1


“Miles, aku serius. Apa yang sedang kita lakukan di sini?”


“Apa lagi? Kita sedang bercinta.” Miles mencium pipinya.


“Tapi kita bukan suami istri. Jadi kita harus berhenti melakukan ini.”


“Semua ada jalan keluarnya. Aku memintamu untuk menikahiku. Apa kamu ingat? Jadi, apakah sekarang kamu sudah punya jawaban yang berbeda? Aku masih memberimu kesempatan untuk berubah pikiran.” bisik Miles.


“Jawabanku akan dan selalu tetap tidak.” jawab Kirana cepat.


“Makan malam denganku malam ini?”


“Tidak.” jawab Kirana keras kepala.


“Kalau begitu, kita akan terus melakukan ini.” Miles mencium bahu Kirana lalu berdiri.


“Itu disebut dengan bercinta, sweetheart.” Miles menundukkan kepalanya dan mengecup bibirnya. Dia segera membalas ciuman itu. Miles tersenyum puas.


“Sihir apa yang kamu gunakan kepadaku?” keluh Kirana pelan.


“Itu bukan sihir. Itu cinta.” Miles merapikan rambutnya dengan jemarinya. Kirana menolong menghapus bekas lipstik pada wajahnya dengan jempolnya. Lipstik wanita itu membekas di seluruh wajahnya.


“Terima kasih.” Miles mencium keningnya. “Besok aku akan datang lagi.”


“Tidak, Miles.” pinta Kirana memohon. Miles berhenti di depan pintu dan menoleh ke arahnya. Kirana mengerutkan keningnya, tidak mengerti arti tatapan itu.

__ADS_1


“Rambutmu.” Miles menunjuk ke arah kepala Kirana. Cepat-cepat Kirana merapikan rambutnya dengan jemarinya lalu mengikatnya dengan jepitan rambut.


Puas dengan penampilan Kirana, Miles membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. Susan berdiri dan tersenyum sopan saat melihatnya. Miles tersenyum kepadanya lalu berjalan menuju lift. Beberapa anggota Kirana mengikutinya dengan tatapan mereka. Hal yang sudah satu tahun ini terjadi sejak statusnya duda.


Iya, dahulu dia sama sekali tidak punya rencana untuk menikah lagi karena tidak ingin mengalami kehidupan pernikahan yang sama. Namun setelah dia bertemu Kirana, dia mengubah pikirannya. Dia menginginkan kehidupan pernikahan lagi, dan itu harus bersama Kirana. Keinginan itu semakin kuat sejak dia tahu bahwa mereka memiliki anak bersama.


Dia mengejutkan wanita itu pada hari berikutnya. Pagi-pagi sekali, dia sudah ada di dalam ruang kerja Kirana saat wanita itu belum datang. Seperti kejadian pada hari pertama dia bekerja, wanita itu tidak menyadari Miles ada dalam ruangan tersebut. Kirana berjalan mendekati meja kerjanya, Miles berjalan mendekati pintu. Dan menguncinya. Mendengar bunyi itu Kirana membalikkan badannya. Dia menarik napas terkejut.


Bagus. Jika wanita itu terkejut, dia tidak akan sempat memikirkan strategi untuk menghindar darinya. Miles tersenyum sambil berjalan mendekatinya. Kirana menggelengkan kepalanya. Ketika mereka sudah berdiri berhadapan, Miles menciumnya.


“Aku tidak akan memaksamu ke tempat tidur. Jangan takut. Menikahlah denganku, Kirana.” bisiknya.


“Tidak. Kita tidak bisa bersama.” Kirana menggelengkan kepalanya.


“Mengapa tidak?” Dia sudah tahu jawabannya, tetapi itu tidak menghentikannya untuk terus bertanya.


“Aku lelah menjawab pertanyaan yang sama, Miles. Aku mohon. Berhentilah mempersulit keadaan kita.”


“Kamulah yang telah membuat keadaan semakin sulit. Apakah ini artinya kamu menolak ajakan makan malamku juga?” Kirana menutup mulutnya rapat-rapat. “Baiklah. Aku akan coba lagi besok.”


Miles tersenyum ketika wanita itu membulatkan matanya. Dia tidak mau wanita itu berpikir bahwa dia hanya menginginkan tubuhnya. Karena dia menginginkan seluruh yang ada padanya dan dia terlalu mencintainya, dia tidak bisa kehilangannya lagi. Perlahan dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Kirana menerimanya dengan enggan.


Kirana membuka kotak tersebut dan terkejut melihat isinya. Sebuah gelang dengan gantungan di sekelilingnya yang merupakan ciri khas Singapura dan kenangan mereka. Ada Patung Merlion. Simbol dunia dan tulisan Universal Studio, Marina Bay Sands, Singapore Flyer, cincin pertunangan, bunga mawar, hotel tempat mereka menginap, koper, dan tentu saja, tempat tidur. Miles memasangnya di pergelangan tangan wanita itu. Lalu dia mengambil buket bunga mawar yang ada di atas sofa.


“Aku ingin kamu tidak berhenti memikirkan aku dan saat-saat kita bersama di Singapura.” Miles memberikan buket tersebut kepada Kirana. “Aku ingin apa yang terjadi di sana juga bisa terjadi di kehidupan nyata, sweetheart.”

__ADS_1


“Miles,” protes Kirana.


“Aku mencintaimu.” Miles mencium pipi Kirana lalu keluar dari ruangan itu, tidak membiarkan dia sempat mengatakan apa pun yang akan merusak suasana hatinya.


__ADS_2