Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 98


__ADS_3

Rekan-rekan kerja Kirana sangat ramah dan suka bicara. Mereka berbagi segalanya yang mereka lakukan dan alami di perusahaan tempat mereka pernah bekerja bersama. Walaupun kini mereka tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut, dengan penuh semangat mereka bercerita apa yang terjadi pada departemen mereka setelah Kirana pergi. Mereka juga menceritakan tentang siapa yang mencuri uang perusahaan. Yang menuduhnya mencuri adalah pelaku yang sebenarnya. Bukan hal yang baru lagi. Miles telah mengetahuinya.


Tidak satu pun dari mereka yang usil ingin tahu kapan tepatnya mereka menikah. Miles sengaja tidak menyebut tahun pernikahan mereka. Mereka tidak perlu tahu tentang detailnya. Sepertinya istrinya juga tidak keberatan untuk merahasiakannya. Mereka hanya ingin melindungi William. Tidak semua orang bisa menerima berita itu. William lahir saat Miles masih menikah dengan wanita lain.


Cara mereka memperlakukannya berbeda dengan pegawainya yang ada di Jakarta. Dia tidak bisa menyembunyikan tanggal pernikahannya dan Kirana. Mereka terkejut mengetahui bahwa Miles memiliki seorang anak yang berusia lima tahun dari wanita yang bukan istrinya. Dari cara mereka melihatnya, dia tahu bahwa mereka sedang menghakiminya. Tetapi mereka cukup pintar dengan tidak membicarakan hal itu terang-terangan di depannya. Dengan Kirana, mereka lebih terbuka.


Beberapa dari mereka menuduhnya sebagai sumber keributan rumah tangga Miles dengan almarhumah istrinya. Mereka menjauh darinya, bahkan salah satu bawahan Kirana menatapnya tidak suka setiap kali mereka berpapasan. Terbiasa dengan keadaan itu, Kirana mengangkat dagu dan berjalan dengan penuh percaya diri. Hanya pada saat mereka berdua saja di kamar, maka dia akan menunjukkan wajah tidak bahagianya.


Akhirnya mereka menyelesaikan pertemuan itu dan saling mengucapkan selamat tinggal. Miles masuk ke mobil yang mereka sewa untuk membaringkan William di jok belakang. Setelah menutupi tubuh putranya dengan selimut, dia memasang sabuk pengaman putranya. Dia berdiri di sisi mobil menunggu istrinya yang sedang terlibat pembicaraan yang serius dengan Dexter.


Memerhatikan bagaimana tingkah laku pria itu, Miles tidak menyukainya. Dia berulang kali mencoba menarik perhatian istrinya selama acara makan malam. Seolah-olah hanya dia dalam ruangan itu yang perlu diperhatikan dan teman Kirana yang lainnya harus diabaikan. Kini melihatnya bicara dengan istrinya di depan restoran dengan berdiri begitu lama, dia kehilangan rasa hormat kepadanya. Kirana sedang hamil dan udara malam itu dingin. Istrinya berulang kali mengusap-usap lengannya mencoba menghangatkan diri.


Tidak tahan lagi melihatnya, Miles mengunci pintu dan mendekati mereka. Tidak satu pun dari mereka yang merasakan kedatangannya. Dexter yang pertama menoleh ke arahnya. Miles hanya menatapnya lalu menoleh ke arah istrinya. Setelah dia melingkarkan tangannya di pinggang Kirana, dia menundukkan kepala menciumnya. Bibir istrinya bergetar. Karena dia kedinginan, marah, atau takut? Hanya ketiga hal itu yang dia tahu bisa membuatnya gemetar.


“Will sudah tidur. Dia tidak akan nyaman tidur terlalu lama di mobil.” bisik Miles. Kirana mengangguk pelan. Dia menoleh ke arah Dexter.

__ADS_1


“Kita bicara besok pagi? Kamu bisa sarapan di rumah kami sebelum berangkat kerja.” ucap Kirana menawarkan. Pria itu melirik Miles sesaat.


“Oke.” Dia mencium pipi Kirana. Miles harus melepaskannya saat pria itu memeluknya. “Sampai jumpa besok.” Dia menganggukkan kepalanya ke arah Miles, lalu membalikkan badan.


Begitu mereka berada di dalam mobil, tidak ada yang berusaha membuka pembicaraan. Lima menit kemudian, Kirana tertidur. Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi luar, Miles mengunci pagar kembali. Pertama, dia membopong William dan membaringkan putranya di tempat tidur. Berikutnya, dia menggendong Kirana dan membaringkan istrinya di ranjang mereka.


Dia memeriksa semua pintu dan jendela untuk memastikan semuanya telah dikunci. Kembali ke kamar putranya, dia mengganti pakaian William dan memaksanya untuk menyikat gigi. Hal yang sama dilakukannya kepada istrinya. Namun dia membutuhkan waktu lebih lama karena wanita itu terus mengeluh bahwa dia sangat mengantuk.


Lalu dia sendiri berganti pakaian, menyikat gigi, dan membersihkan wajahnya di kamar mandi. Dia melihat bayangannya di cermin. Ada yang aneh pada sikap dan gerak-gerik pria bernama Dexter itu. Dia tidak menyukainya.


Tidak, itu bukan cemburu. Persahabatan di antara mereka telah terjalin sejak mereka masih anak-anak. Jadi, Miles mengerti dan tidak peduli dengan kedekatan mereka. Walaupun dia sedikit cemburu, tidak apa-apa bila Dexter mencium atau memeluk istrinya. Selama Kirana tidak keberatan, dia akan mengizinkannya. Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa dia tafsirkan mengenai sikap pria itu kepada Kirana.


Dia meletakkan gelas kertas berisi cokelat hangat di depan Kirana dan mochaccino untuk Dexter. Pria itu terlihat terkejut bahwa Kirana masih mengingat minuman kesukaannya. Miles hanya memutar bola matanya. Dan kopi hitam untuknya sendiri. William sudah memakan cupcake dengan lahap di sisinya.


Mereka bertiga menikmati roti mereka masing-masing. Tidak ada obrolan yang serius di antara mereka. Hanya sebuah topik yang mmbosankan mengenai pekerjaan. Kejadian yang sama terulang ketika Kirana mengatakan kepada sahabatnya bahwa suaminya adalah seorang pengusaha sukses. Dexter ingin tahu rahasia kesuksesannya.

__ADS_1


“Pria yang menarik.” ucap Miles ketika Dexter telah pergi dengan mobilnya.


“Kamu cemburu?” goda Kirana.


“Sedikit. Tapi aku percaya kepadamu.” Miles mencium bibirnya. Wanita itu memejamkan mata menikmati ciuman mereka, lalu membukanya ketika ciuman mereka berakhir. Matanya terlihat sedih. “Apa yang membuatmu sedih?”


“Dia sedang punya masalah dengan istrinya.” aku Kirana pelan.


“Suami mana yang tidak punya masalah dengan istrinya?” Miles mengerlingkan matanya, berusaha untuk mencairkan suasana. Saat Kirana tertawa kecil, dia tersenyum senang.


“Kamu mengerti apa yang aku maksud. Anak pertama mereka meninggal di dalam kandungan. Sejak itu hubungan mereka tidak baik. Mereka telah berpisah selama enam tahun. Katanya Vivi sekarang tinggal di sebuah kamar sewa yang dekat dari tempat kerjanya.” Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan, melewati William yang sedang asyik mewarnai salah satu buku gambarnya.


“Apa yang dilakukannya di sini? Seharusnya dia berusaha membawa istrinya pulang.” Miles mengumpulkan gelas kertas dan kotak roti yang telah kosong, lalu memasukkannya ke tempat sampah.


“Aku sudah mengusulkan hal yang sama. Dia akan mencobanya lagi malam ini.” ucap Kirana. Miles mendekati istrinya lalu mencium kerutan di antara kedua alisnya.

__ADS_1


“Aku sudah bilang, aku tidak suka melihatmu sedih.” ujarnya mengingatkan. Kirana mendesah pelan.


“Dia sahabatku, Miles. Begitu juga dengan Vivi. Bagaimana mungkin aku tidak merasa sedih dengan permasalahan yang sedang mereka hadapi.” katanya dengan sedih. Dan Miles semakin membenci Dexter.


__ADS_2