
Kirana ikut tertawa bersamanya. Miles merasa lega. Begitu lega. Sudah lama dia tidak tertawa selepas itu. Menertawakan masa lalu, kebodohan, dan ketakutan yang ternyata hanya membuang-buang waktunya. Dia pun sudah mengakui semuanya. Dia tidak hanya menginginkan Kirana tetapi juga menginginkan William.
“Dan semua kunjungan ke ruang kerjamu adalah untuk memastikan bahwa aku akan memiliki anak darimu. Tetapi dari semua kunjungan itu, hanya satu kali saja aku cukup berani berhubungan intim denganmu. Aku tidak ingin kamu berpikir bahwa aku hanya menginginkan tubuhmu. Aku akan lakukan apa saja agar kamu bersedia menikah denganku.” aku Miles. Kirana hanya tersenyum.
“Kamu siap untuk bicara dengannya?” tanya Kirana mengalihkan pembicaraan. Miles tidak protes. Dia menganggukkan kepalanya. Wanita itu membutuhkan waktu untuk mencerna situasi yang canggung itu. Dia masih punya waktu untuk melamarnya lagi. Wanita itu memanggil anak mereka. William menurut dan bergegas mendekat. Kemudian dia duduk di samping mamanya.
“Will, ini Daddy, Miles Alastair Bradford.” ucap Kirana memperkenalkan mereka. William sudah mengetahuinya, jadi dia tidak terkejut lagi.
“Mengapa namanya aneh, Mom?” tanya William. Miles terbatuk karena geli mendengarnya.
“Karena Daddy bukan orang Indonesia.” jawab Kirana jujur. William mengangguk pelan, kemudian dia berdiri dan mendekati Miles.
“Ooo… Itu sebabnya rambut, kulit, dan mataku tidak seperti kamu dan teman-temanku. Aku mirip Daddy.” William menyentuh rambut Miles, kulit, lalu memerhatikan bola matanya. Papanya berusaha untuk tidak bergerak.
“Apakah Tuhan sedang bosan dengan Daddy, makanya Tuhan jawab doaku untuk mengembalikan Daddy kepadaku, Mom?” tanya William polos. Miles menatap Kirana sambil mengangkat kedua alisnya, ingin tahu jawaban apa yang akan dia berikan.
“Ng, itu,” Wanita itu terlihat berpikir sesaat. “Maafkan aku, sayang. Aku telah berbohong kepadamu. Daddy tidak meninggal, dia masih hidup.”
“Aku memaafkanmu, Mom. Kadang-kadang aku juga berbohong kepadamu dan kamu selalu memaafkan aku.” Sepertinya rasa bahagianya bisa melihat ayahnya membuatnya untuk sesaat tidak peduli dengan apa pun yang ada di sekelilingnya.
“Terima kasih, Will sayang.” Kirana mengusap punggung William lalu membalas tatapan mata Miles dengan mengangkat kedua alisnya juga.
“Ke mana Daddy selama ini, Mom?” tanyanya lagi kepada mamanya, tidak kepada papanya yang berada lebih dekat darinya. Kirana menoleh ke arahnya. “Mengapa dia tidak tinggal bersama kita?”
“Ada kesalahpahaman di antara kami. Tapi sudah kami selesaikan. Kami baik-baik saja sekarang.” Kirana menatap mata Miles. Pria itu melakukan hal yang sama.
“Misunderstanding? Apa itu, Mom?” William kembali duduk di samping mamanya.
“Ng, misunderstanding itu, mm,” Kirana sedang mempertimbangkan jawabannya. Miles tertawa kecil. Sebuah ide muncul di kepalanya melihat seorang pria lewat dengan anjingnya di depannya.
__ADS_1
“Pernahkah kamu bicara dengan anjing?” tanya Miles. William menoleh ke arahnya.
“No.” Anak kecil itu menggelengkan kepalanya.
“Karena kamu tidak bisa bicara menggunakan bahasanya, kan?” tanya Miles lagi. Anak itu mengangguk dengan cepat. “Itulah kesalahpahaman.” Miles menyimpulkan. Kirana mengangakan mulutnya tidak percaya.
“Sekarang aku mengerti.” ucap William senang. Dia menoleh ke arah lapangan mendengar namanya dipanggil. “Boleh aku pergi sekarang, Mom? Atau masih ada lagi yang perlu kita bicarakan?”
“Boleh.” Kirana mempersilakan putranya pergi. “Kembalilah kalau kamu sudah lapar.”
“Okay.” William berdiri dan berlari mendekati teman-temannya. Dia menoleh kembali hanya untuk melambaikan tangannya. Dari sudut matanya, Miles bisa melihat Kirana melotot kepadanya.
“What?” Miles tertawa. Dia bisa menebak apa yang sedang mengganggu pikiran wanita itu. Kirana masih menatapnya tidak percaya. “Penjelasan itu berhasil.” Dia mengangkat kedua bahunya.
“Lain kali, aku yang menjawab semua pertanyaannya.” ucap Kirana kesal. Dia mengacungkan telunjuknya ke arah Miles. “Jawabanmu sama sekali tidak membantu.”
“Karena kamu memberi analogi yang tidak tepat.” protes Kirana. “Dia sekarang masih TK tapi dia akan segera masuk sekolah, Miles. Apa kamu pikir dia tidak akan menggunakan jawabanmu untuk membantah apa yang diajarkan gurunya suatu hari nanti?”
“Hei, itu bukan salahku. Aku baru beberapa jam menjadi ayah. Tidak mungkin bisa melampaui kemampuanmu yang sudah menjadi ibu selama lima tahun.” serang Miles.
“Benar juga.” Kirana tertawa geli. “Maafkan aku.”
“Yah, kamu meminta maaf dengan menertawaiku. Hebat sekali.” Miles mendekat dan duduk di sisi Kirana. “Jadi, apa itu artinya kamu akan pindah ke rumahku?”
“Apa? Tidak.” Kirana menjauh. Miles melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu, mencegahnya bergerak lebih jauh. Kirana tertawa geli ketika rambut Miles menyentuh wajahnya.
“Apa kamu akan menikahiku?” bisik Miles.
“Tidak.” Kirana tertawa kecil. Miles mengerutkan keningnya. “Apa kamu pikir, dengan adanya anak aku akan setuju saja menikah denganmu? Miles, itu artinya kamu belum mengenalku. Aku tidak bisa ditaklukkan semudah itu.” Kirana menelengkan kepalanya menantang pria itu.
__ADS_1
“Tapi aku tahu cara mengubah pikiranmu.” godanya.
“Kelihatannya itu belum berhasil.” Kirana menunjukkan kepadanya jemarinya yang kosong tidak ada cincin yang melingkarinya. Miles tertawa lalu menciumnya. Kirana memekik pelan.
“Ada apa? Apa aku menyakiti si kecil?” tanya Miles panik. Kirana tertawa.
“Bukan. Kita sedang berada di tempat umum. Ini Indonesia, Miles. Orang-orang tidak terbiasa melihat pasangan berciuman di bibir.” ucap Kirana mengingatkan.
“Benar juga. Baiklah. Aku akan menunggu sampai kita tinggal berdua saja.” Miles mendesah pelan. Kirana tersenyum geli.
“Kamu percaya diri juga, ya? Aku tidak yakin kita akan pernah berduaan lagi. Aku akan menjaga jarak aman darimu.” ucap Kirana dengan nada serius tetapi bibirnya membentuk sebuah senyuman manis.
“Sweetheart, kamu tidak akan bisa menolakku.” ucap Miles arogan. Ketika Kirana tidak mengatakan apa pun, Miles meletakkan dagunya di pundaknya. Mereka menonton putra mereka bermain sepak bola bersama anak-anak yang lain. Dia merasa mereka sudah seperti layaknya keluarga.
Mereka bertengkar dan Miles keluar sebagai pemenangnya, Kirana mengalah dan masuk ke dalam truknya. Setelah menutup pintu untuk wanitanya, dia menolong William untuk naik ke jok belakang. Kemudian dia memasangkan sabuk pengaman putranya. Saat dia sudah berada di belakang setir, dia tersenyum bahagia ke arah Kirana. Ya, mereka bagaikan sudah sebuah keluarga.
“Wow, Dad. Mobil ini keren!” sorak William. Miles tertawa.
“Aku bisa menyetir ke mana saja yang kamu mau. Apa kamu punya ide mau pergi ke mana?” tanya Miles. William diam sejenak sembari berpikir dia mau pergi ke mana.
“Boleh kita pergi makan es krim, Mom?” tanya William.
“Tidak hari ini. Aku lelah sekali. Bisakah kita pulang saja? Aku mohon?” pinta Kirana. William dan Miles serentak menghela napas panjang. “Kita bisa pergi ke sana besok, kalau kamu masih mau.” Kirana melihat ke arah putra mereka yang duduk di belakang. William segera menyetujuinya.
“Bisakah Dad ikut bersama kita?” tanya William lagi. Miles dan Kirana saling bertukar pandang.
“Kalau dia mau ikut.” Kirana tersenyum memberi dukungan kepada Miles.
“Aku mau ikut.” jawab Miles cepat. Sekali lagi, William bersorak senang. Miles meraih tangan Kirana yang ada di atas pangkuannya dan meremasnya pelan. Kirana menoleh ke arahnya. Pria itu membentuk kalimat terima kasih dengan bibirnya.
__ADS_1