
Pintu ruangan terbuka dan wanita itu masuk. Dia tidak menyadari bahwa ada yang sedang duduk di salah satu sofa di dalam ruangannya. Kirana mendekati mejanya lalu meletakkan tas sandangnya di atasnya. Dia melihat ke arah jendela dan mengagumi pemandangan di luar. Lalu dia duduk dan melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Saat itulah mata mereka bertemu.
“Sial.” umpatnya pelan, tetapi cukup keras untuk ditangkap telinga Miles. Dia tertawa kecil. Wanita itu berdiri dan sedikit menundukkan badannya “Se, selamat pagi, Pak.”
“Selamat pagi, Kirana Paramitha. Atau yang bisa juga dipanggil Juliett dengan dua huruf t.” godanya. Dia duduk santai di tempat duduk dengan menyilangkan kedua kakinya.
“Pak Bradford. Apa yang bisa saya bantu, Pak?” Wanita itu mengabaikan kalimatnya yang terakhir. Dia berdiri tidak nyaman di dekat meja kerjanya.
“Cukup panggil aku Miles. Semua memanggilku begitu.” ucap Miles. Wanita itu mengerutkan keningnya.
“Salah satu pewawancara memanggil Anda dengan Alastair.” balas wanita itu mengingatkannya.
“Iya. Teman-teman baikku memanggilku Alastair. Kamu adalah pegawaiku.” Miles menyapu pandangan ke sekelilingnya sehingga dia tidak melihat wanita itu mengernyitkan kening mendengar kalimat terakhirnya. “Aku harap kamu suka ruanganmu. Kalau ada yang ingin kamu ubah, sampaikan kepada asistenmu. Aku tahu tidak banyak yang bisa diubah dari ruangan ini, tetapi aku suka para pegawaiku merasa nyaman di tempat kerjanya. Aku ingin kamu merasa disambut dan diterima dengan baik di sini.”
“Saya baru tiba dan belum sempat memeriksa keadaan ruangan saya. Saya akan beritahu asisten saya jika ada yang saya perlukan.” ucapnya menurut.
__ADS_1
Terdengar bunyi ketukan pintu, Miles mempersilakan masuk. Pintu terbuka dan seorang pria masuk sambil membawa baki. Ada dua mug di atasnya. Aroma perpaduan kopi hitam dan cokelat hangat segera memenuhi ruangan. Dia melihat ke arah Kirana lalu ke arah Miles. Wanita itu mengerutkan keningnya. Miles menunjuk ke arah meja di hadapannya. Pria tersebut meletakkan kedua mug tadi di atas meja. Setelah pamit, pria itu keluar dari ruangan.
“Duduklah. Kita berbincang sambil minum. Kamu sudah sarapan?” tanya Miles. Kirana sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
“Lebih baik saya berdiri.” ucap Kirana bersikeras. Miles tersenyum kecil. “Dan sudah, Pak, saya sudah sarapan.”
“Duduklah, Kirana. Aku tidak menggigit. Aku tahu itu tidak akan membuatmu patuh kepadaku. Kita sedang berada di kantor, aku tidak akan mencoba untuk menyentuh, memeluk, atau apa pun yang tidak kamu inginkan. Tapi bila terpaksa, aku akan melakukannya.” tantang Miles. Wajahnya begitu tenang, tanpa emosi. Kirana merapatkan bibirnya. Tanpa berdebat lagi, dia duduk di sofa di seberang atasannya.
“Banyak yang harus saya kerjakan dan pelajari hari ini, bisakah ini dipercepat, Pak?” ucap Kirana tidak sabar.
“Kamu kepala bagian pemasaran. Ini hari pertamamu. Sudah menjadi tradisi, aku menyambut kepala bagian yang baru dengan mengajak berbincang sambil minum. Silakan tanya pegawai yang lain. Jadi, santailah.” Miles mengambil mug di hadapannya, lalu menyesap kopinya. Dia menggumam pelan memuji rasanya.
“Aku tahu ada yang ingin kamu tanyakan. Silakan.” Miles meletakkan mug yang dipegangnya kembali ke atas meja.
“Kamu pasti memengaruhi keputusan mereka sehingga memilihku daripada kandidat lainnya. Iya ‘kan?” Kirana memicingkan matanya.
__ADS_1
“Mengapa kamu berpikir begitu? Apa kamu punya bukti?” Dia duduk bersandar dan menatapnya.
“Aku sudah memeriksa profil mereka bertiga. Prestasi mereka luar biasa dan kerja mereka terorganisir dengan baik. Bila dibandingkan denganku yang baru bergabung dalam perusahaan ini selama enam tahun, aku bukanlah apa-apa.”
“Kamu terlalu merendah. Aku sudah lihat sendiri bagaimana kamu bisa menjawab setiap pertanyaan dengan sempurna dan memberikan presentasi tanpa cela. Kamu tidak takut menunjukkan siapa kamu yang sebenarnya. Ide-ide yang kamu ajukan juga brilian.” puji Miles. Wajah wanita itu melembut mendengarnya. “Untuk menjawab pertanyaanmu tadi, tidak, aku tidak memengaruhi keputusan siapa pun. Mereka murni memilihmu karena kemampuanmu. Jujur saja, aku bahkan mempertanyakan pilihan mereka. Aku tidak ingin memberi kesan bahwa aku suka pada pilihan pertama mereka.”
“Aku tidak percaya kepadamu.” ucap Kirana curiga.
“Silakan percayai apa yang kamu mau. Aku tidak berada di posisi ini karena mendengar apa kata orang.” Miles berhenti bicara dan mengeluarkan ponsel dari saku bagian dalam jasnya. Alat komunikasi itu bergetar. Melihat nama pada layarnya, dia mendesah pelan. Dia menyentuh layar ponselnya. Mendengar laporan dari seberang, dia hanya menjawab dengan singkat. “Aku datang.”
Walau dia masih ingin berada di dalam ruangan ini untuk berbincang dengan wanitanya, dia tahu dia tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya. Dia menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya. Kirana melihatnya dengan resah. Mungkin dia masih belum puas mendengar jawabannya. Atau dia belum bisa menerima kenyataan bahwa mereka bertemu lagi setelah sekian lama berpisah, terutama karena Kirana yang mengharapkan mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Pertemuan pertama mereka bukanlah pengalaman yang layak untuk diketahui oleh orang-orang di sekitar mereka. Miles tahu benar bagaimana orang-orang di negara ini akan menghakiminya dan Kirana karena telah tidur dengan orang yang bukan pasangannya. Tetapi seperti prinsip hidupnya, dia tidak peduli dengan pendapat orang lain. Dia berdiri dengan kakinya sendiri saat ini karena kekuatannya sendiri, bukan karena bantuan orang lain.
Melihat Miles berdiri, Kirana ikut berdiri. Pria itu mengulurkan tangannya. Dengan enggan, wanita itu menerimanya. Mereka berjabatan tangan sesaat hingga Miles mengurung tangan itu dengan tangannya yang lain. Kening Kirana mengerut. Miles tersenyum. Dia suka melihat wanita itu bersikap waspada. Hal itu membuktikan bahwa sentuhannya masih bisa memengaruhinya.
__ADS_1
“Kamu tidak akan pernah tahu, betapa bahagianya aku bisa bertemu denganmu lagi.” bisik Miles. Kirana menjauhkan wajahnya.
Miles tersenyum lalu melepaskan tangan wanita itu. Dia keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia tidak memeriksa apakah wanita itu sedang menoleh ke arahnya atau masih membuang mukanya. Melihat sikap wanita itu dan merasakan dinginnya telapak tangannya, sudah cukup menjadi bukti atas jawaban yang dia cari. Wanita itu juga masih menginginkannya, sangat menginginkannya.