Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 94


__ADS_3

Sebelum kembali ke Indonesia, Kirana mengajak Ratri untuk bertemu. Kakaknya menolak bertemu di rumahnya atau rumah keluarga Miles. Walaupun Miles melarang, dia tetap ingin menemuinya. Biar bagaimana pun juga, Ratri adalah kakak kandungnya, saudara satu-satunya. Dia perlu memperjelas segalanya di antara mereka siapa tahu mereka tidak bisa bertemu lagi dalam waktu dekat.


Miles memaksa ingin menemaninya. Dan Kirana menolak tawarannya tersebut. Tetapi pria itu duduk tidak jauh darinya di kafe itu. Siap datang kapan saja untuk mendekatinya bila Ratri mencoba untuk menyakitinya. Sesuatu yang tidak bisa dipahaminya, bagaimana bisa Miles berpikir serendah itu mengenai Ratri. Kirana menatapnya penuh protes, tetapi suaminya tidak peduli dan tetap berada dekat darinya.


Ketika Ratri memasuki kafe, Kirana berdiri. Dia melambaikan tangannya agar kakaknya bisa melihat di mana dia berada. Ratri menoleh ke arahnya dan berjalan mendekat. Meskipun wanita itu tidak menawarkan tangannya, Kirana memeluknya. Dia merasakan tubuh Ratri menegang.


“Silakan duduk, Kak.” ucap Kirana sopan. “Terima kasih sudah bersedia datang ke sini untuk menemuiku.”


“Dan ini untuk yang terakhir kalinya.” ucap Ratri tegas sembari mengibas-ngibas pakaiannya. Kirana terkejut. “Aku tidak mau dekat-dekat dengan orang yang suka berzinah. Najis.”


“Kakak mau makan atau minum sesuatu?” Kirana mendekatkan buku menu kepadanya, mencoba mengabaikan ucapan sinis kakaknya barusan.


“Tidak. Aku hanya ingin mengatakan ini kepadamu.” Ratri melihat Kirana dengan saksama dari kepala hingga pinggang. “Kalau kamu pikir dengan menikahinya maka masa depanmu lebih terjamin, kamu salah. Dia akan mendepakmu suatu hari nanti. Akan ada seorang wanita, atau banyak wanita, lain yang mampu menarik perhatiannya. Dan William, jika dia harus memilih, dia pasti akan memilih ayahnya. Karena Miles lebih mapan darimu. Pada akhirnya, kamu akan dibuang dan ditinggal sendiri. Lebih baik bangun sekarang daripada terus bermimpi, Ki.”


“Aku tidak,” ucap Kirana. Apa yang sedang dia bicarakan? Miles bukanlah pria seperti itu.


“Ketika suatu hari nanti ada wanita datang membawa seorang anak yang dia akui sebagai anak Miles, ingatlah ini.” Ratri segera memotongnya. “Dosa akan mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Cara kotor yang kamu pakai untuk merebut seorang suami dari istrinya, akan dipakai juga untuk merebut suamimu darimu. Di dunia ini tidak ada yang abadi, Ki. Tdak terkecuali dengan cinta suamimu kepadamu.”

__ADS_1


“Mengapa, Kak?” tanya Kirana dengan nada tidak percaya. “Mengapa Kakak jadi begini? Apa yang telah aku lakukan kepadamu?” Pertama, dia menggoda Miles dan berusaha mengubah pikirannya mengenai niat mereka untuk menikah. Sekarang dia menuduh Miles akan melakukan hal yang jahat kepadanya. Mengapa?


“Apa kamu pernah satu kali saja merenungkan apa yang telah kamu lakukan? “ Ratri menatapnya dengan pandangan jijik. “Meskipun kamu bukan wanita yang menarik, tidak seharusnya kamu menggunakan tubuhmu atau anakmu untuk memaksa seorang pria untuk menikahimu! Sungguh memalukan! Aku malu punya adik sepertimu! Apa kamu jadi buta karena ketampanannya? Atau harta yang dia miliki menyilaukanmu? Atau kamu melakukan semua ini untuk pamer kepadaku?”


“Brian hanya seorang pegawai biasa di perusahaan papanya, ketika di sisi lain Alastair adalah seorang pengusaha sukses? Begitukah?” teriak Ratri. Kirana mengerutkan keningnya. Mengapa ini menjadi tentang Brian? Dia tidak pernah berpikiran buruk mengenai kakak iparnya. “Kamu puas sekarang kamu akhirnya mendapatkan yang lebih baik dariku? Karena itukah kamu menggunakan cara kotor? Supaya kamu bisa mengalahkanku?”


“Kak, aku tidak,” protes Kirana. Tetapi kakaknya tidak mendengarkan dan terus saja bicara.


“Jangan pernah temui aku lagi. Jangan menghubungiku. Aku datang ke sini untuk mengatakan itu kepadamu. Aku tidak percaya aku punya seorang adik sepertimu. Yang lebih pantas disebut perempuan murahan daripada istri dari seorang pria terhormat.” semprot Ratri. Dia segera membulatkan matanya begitu melihat sesuatu di belakang Kirana.


Tanpa melihat ke belakang, Kirana tahu bahwa Miles sedang berjalan mendekatinya. Dari ekspresi Ratri, Miles pasti menatapnya dengan tajam dan ingin membunuhnya. Tetapi bukan itu yang sedang dipikirkannya. Bibir Kirana bergetar, dadanya sesak. Dan hatinya terluka begitu parah setelah mendengar tuduhan Ratri. Kakak kandungnya sendiri, menyebutnya perempuan murahan?


“Aku tidak mau mendengarkan apa pun darimu.” Ratri membuang mukanya. Sebuah tangan menyentuh bahu Kirana dan tangan yang lain meraih kedua tangan yang ada di pangkuannya.


“Sudah saatnya kita pergi, sweetheart.” bisik Miles yang membantunya berdiri. Kemudian dia melepaskan tangan Kirana bergerak mengambil tas milik wanita itu yang ada di kursi.


“Kakak tahu apa yang membuat Kakak merasa tidak pernah puas?” ujar Kirana menambahkan. “Karena Kakak selalu melihat apa yang dimiliki orang lain lebih baik dari yang Kakak miliki. Dan Kakak selalu menginginkan apa yang orang lain miliki. Kak, Kakak tidak akan pernah bahagia. Karena aku sudah pernah mengalaminya, aku tahu itu.”

__ADS_1


“Aku bilang, aku tidak mau mendengarkan apa pun darimu!” pekik Ratri kesal. Matanya menatap Kirana dengan tajam. Kirana tidak menarik napas terkejut atau shock. Dia sudah menduga reaksinya.


“Bagus. Kalau begitu, dengarkan aku.” ucap Miles dengan nada marah. Kirana menoleh ke arahnya dan memohon di dalam hatinya agar pria itu tidak mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti kakaknya. “Berhenti menuduh Kiranaku sembarangan. Kalau kamu tidak bisa menjadi kakak yang baik, berhenti berpura-pura menjadi wanita suci. Aku beritahu kamu, istriku jauh lebih baik darimu. Dia tidak pernah berpura-pura sepertimu. Kamu dan Angelica sama saja. Kalian semua hanya membuatku muak.” Ratri menarik napas terkejut tetapi dia tidak berani mengatakan apa pun.


Miles melingkarkan tangannya di pinggang Kirana, mencium pipinya, lalu menggandengnya menuju pintu keluar. Tidak ada yang menoleh ke arah Ratri, Kirana juga tidak. Mereka berjalan menuju mobil dan Miles membukakan pintu mobil untuknya. Dia segera masuk, Miles menutup pintu. Sambil mengelilingi bagian depan mobil menuju sisi pengemudi, Miles menggelengkan kepalanya. Kirana hanya memasang sabuk pengaman dan menarik napas panjang.


Saat Miles duduk di belakang setir dan menyalakan mesin mobil, satu butir air mata jatuh ke pipi Kirana. Dia melihat ke arah lain. Jika suaminya melihatnya, dia akan sedih. Atau yang paling buruk, dia bisa keluar dari dan mobil dan mendekati Ratri hanya untuk memarahinya. Tetapi tentu saja dia tahu dia sedang menangis. Miles memegang tangannya dan meremasnya pelan.


“Dia tidak layak bahkan untuk satu tetes air mata itu, sweetheart.” Miles menyentuh pipi istrinya dan memutarnya agar melihatnya. Kirana menyeka air mata di pipinya.


“Aku tahu.” isaknya.


“Kita pulang?” tanya Miles lembut. Kirana menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak mau Will melihatku begini.” tolaknya.


“Baiklah. Kalau begitu, kamu mau pergi ke mana?” tanya Miles lagi.

__ADS_1


“Aku tidak tahu. Ke mana saja.” jawabnya bingung. Dia tidak bisa memikirkan tempat mana pun untuk menenangkan diri. Miles tersenyum sambil menjauhkan tangannya dari wajah Kirana. Dia mengendarai mobilnya keluar dari tempat parkir kafe tersebut.


__ADS_2