
Jantung Miles berdebar begitu kencang. Kirana duduk di sisinya, membuatnya begitu bahagia. Dia menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Saatnya nanti akan tiba. Mereka sedang berada di dalam mobil menuju hotel. Dia belum tahu bahwa mereka akan tinggal di hotel dan kamar yang sama saat mereka menghabiskan malam-malam pertama mereka bersama. Gregory bersikeras agar dia tinggal di kamar suite di mana biasanya dia menginap setiap kali mengunjungi Singapura.
Dua malam adalah waktu yang cukup baginya untuk melancarkan rencananya. Karena wanita itu tidak mau menikahinya, maka dia akan menggunakan alternatif lain untuk membujuknya agar mau menjawab iya. Dia tidak tahu siklus bulanan Kirana, tetapi dia masih punya banyak waktu untuk menggunakan kesempatan lain jika rencananya gagal.
Iya, itu adalah rencananya, membuat dia hamil. Dia bisa lari darinya, menolak untuk bersamanya, tidak mau menerima lamarannya, tetapi tidak di saat dia hamil. Dia akan berkata iya dan setuju untuk menikah dengannya begitu dia tahu bahwa dia mengandung anaknya. Anak mereka. Dan mereka tidak akan hanya memiliki seorang anak, akan sangat menyenangkan memiliki dua atau tiga orang anak di antara mereka.
Tetapi, bagaimana kalau dia masih menolak walaupun sedang mengandung anaknya? Ah, dia akan pikirkan itu nanti. Dia akan menemukan cara untuk mengubah pikirannya. Mereka bertemu lagi setelah tahun-tahun menyakitkan terlewati, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bersamanya. Wanita itu hanya miliknya.
Di dalam pesawat, Kirana protes keras karena mereka duduk bersebelahan di penerbangan kelas satu. Kirana menggerutu setiap kali dia tidak bisa menahan rasa kesalnya. Miles hanya tertawa kecil. Penerbangan yang terasa lama bagi Kirana, justru terasa singkat baginya. Dia sudah bisa bayangkan kemarahan wanita itu nanti saat tahu bahwa mereka tinggal di kamar yang sama.
Ketika mereka tiba di hotel dan menerima sebuah kartu masuk kamar suite, Miles tersenyum penuh kemenangan. Mereka hanya menerima satu kartu, bukan dua. Wajah Kirana memerah ketika amarahnya memuncak. Tetapi wanita itu cukup cerdas dengan tidak menyatakan protesnya di depan pegawai resepsionis tersebut. Miles berterima kasih lalu menggandeng tangan wanita itu menuju lift.
“Kamu bilang aku mendapat kamar sendiri. Mengapa sekarang aku malah satu kamar denganmu?” protes Kirana sepelan mungkin saat mereka menunggu di depan elevator.
“Karena kalau aku bilang begitu di awal, kamu tidak akan mau ikut.” Pintu lift terbuka. Miles masuk.
“Jadi, semua ini hanya jebakan? Seminar itu tidak benar-benar ada?” Kirana tetap berdiri di tempatnya semula. Miles menarik tangannya agar dia masuk ke dalam lift. Dia memindai kartu, menekan lantai tujuan, lalu menunggu hingga pintu lift tertutup. Begitu pegangan Miles melonggar, Kirana segera menepis tangan pria itu.
__ADS_1
“Oh, aku tidak berbohong. Seminarnya ada. Dimulai besok pagi di aula hotel ini. Tapi kalau kamu punya rencana lain dan ingin melewatkan acara itu, aku tidak keberatan. Terutama bila rencana itu melibatkan aku juga.” Miles mengedipkan sebelah matanya.
“Miles,” protes Kirana lagi.
“Juliett,” potong Miles. “Ingat dengan kesepakatan kita? Apa yang terjadi di Singapura tetap tinggal di Singapura. Sekarang kita sedang berada di sini. Berhenti berpikir. Kamu akan lelah sendiri kalau terus menyangkali ketertarikan di antara kita.”
“Tidak. Itu kesepakatan kita enam tahun yang lalu, bukan sekarang. Dan aku tidak melihat ada ketertarikan di antara kita. Setidaknya, aku tidak tertarik kepadamu.” ucap Kirana dengan tegas. Miles tertawa kecil.
“Aku bersedia membuat kesepakatan yang baru. Seperti enam tahun yang lalu, aku akan patuh dan menurut kepadamu. Tapi kesepakatan kali ini harus melibatkan pernikahan.” Miles mendekatinya. Kirana tidak bisa pergi ke mana pun di ruang terbatas itu. Ketika dia terpojok, Miles tersenyum puas. “Aku tidak akan melepaskanmu lagi.”
“Kamu tidak adil, Miles.” Dia berhenti bergerak ketika tangan pria itu melingkari tubuhnya. “Kamu membohongiku enam tahun yang lalu dengan berkata kamu masih lajang. Sekarang kamu berharap aku akan memaafkanmu dan melanjutkan hubungan ini? Kesepakatan kita enam tahun yang lalu didasari kepercayaan, Miles. Setelah kamu berbohong tentang kursi di pesawat dan kamar kita, aku tidak bisa memercayaimu. Tanpa sebuah kepercayaan, aku tidak bisa membuat kesepakatan yang baru denganmu.”
“Beginikah caramu membujuk wanita lain? Berapa banyak yang jatuh dalam pesonamu? Jangan coba-coba berbohong dengan berkata tidak karena aku tidak akan percaya. Kamu kelihatannya lihai dalam merayu wanita.” semprot Kirana tajam.
“Setelah almarhumah istriku, kamu satu-satunya wanita lain yang pernah tidur denganku, Kirana. Kamu percaya atau tidak, itu faktanya.” aku Miles jujur.
“Dari mana aku bisa yakin kamu tidak akan melakukan hal yang sama dengan gadis lain di saat aku tidak ada di dekatmu? Kamu pasti sudah terbiasa melakukan ini dengan wanita sebelum dan setelah aku.” ucap Kirana lagi. Miles hanya menatapnya sambil tersenyum. “Kamu lihat? Aku tidak percaya kepadamu. Tidak akan ada kesepakatan lanjutan.”
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan supaya bisa memperoleh kepercayaanmu lagi?” tanyanya lagi.
“Biarkan aku memiliki kamar sendiri. Jangan sentuh aku lagi. Maka aku akan percaya dengan semua ucapanmu.” tantang Kirana. Miles tertawa kecil. Dia tahu bahwa wanita ini akan mengatakan itu.
“Tidak. Kamu sedang menghindariku. Itu bukan pilihan yang aku tawarkan.” ucapnya geli. Kirana menggeram pelan dan menatapnya tajam karena dia tidak bisa melepaskan diri dari pelukannya.
“Aku tidak mencoba menghindarimu. Bagaimana bisa? Kita tinggal di hotel yang sama.”
“Nah, kalau begitu, tinggal di kamar yang sama seharusnya bukan masalah besar.” pungkas Miles.
“Aku tahu hal pertama yang akan kamu lakukan begitu kita berada di kamar itu. Kamu akan membawaku ke tempat tidur! Kamu pikir dengan memaksaku tidur denganmu, semua kenangan kita akan kembali dan aku mau saja menikah denganmu? Berhenti bermimpi, Miles. Bangun.”
“Bila apa yang terjadi selama kita bersama di tempat ini tidak akan mengubah pendirianmu untuk menikahiku, mengapa kamu takut? Bukankah itu yang sebelumnya kita lakukan? Hanya hubungan badan? Tidak ada percakapan pribadi, tidak ada komitmen.” Miles menantang balik. “Mengapa kali ini harus berbeda? Tidak ada yang mengenal kita di sini.”
“Aku,” Ucapan Kirana terpotong karena pintu lift terbuka. Mereka telah tiba di lantai tujuan.
Tidak ingin memberi Kirana waktu untuk mendebatnya, Miles menggandeng tangannya menuju kamar suite mereka. Begitu dia mengunci pintu dan lampu telah menyala, wanita itu berusaha lepas darinya. Miles berhasil memeluknya lagi tanpa perlu usaha keras. Tahu apa yang Kirana sukai, tidak sulit baginya untuk membawa wanita itu ke tempat tidur.
__ADS_1
Dan dia pun berhasil memulai rencananya.