
Miles memerhatikan foto tersebut. Seorang wanita cantik yang mirip dengan almarhumah ibu Kirana, pria berambut cokelat dan bermata biru, seorang remaja yang mirip dengan pria tadi dengan warna rambut dan mata yang sama, dan seorang gadis kecil berambut cokelat dan bermata abu-abu. Mereka adalah keluarga Kirana.
“Ratri Purnama Delaney. Empat puluh empat tahun. Berkebangsaan Inggris sejak enam belas tahun yang lalu. Menikah dengan Brian Delaney. Empat puluh delapan tahun. Berkebangsaan Inggris. Mereka mempunyai sepasang anak. Edgar Christian Delaney, enam belas tahun, dan Phoebe Jasmine Delaney, dua belas tahun. Terakhir kembali ke Indonesia enam tahun yang lalu saat pemakaman kedua orang tua mereka.” Reynand memperkenalkan mereka.
“Apakah hubungan Kirana dan saudaranya baik?” Miles mengusap-usap dagunya.
“Sepertinya tidak. Saya memeriksa saudaranya beserta keluarganya pergi ke Bali pada hari yang sama kedua orang tua mereka dimakamkan. Penerbangan pesawat yang mereka tumpangi adalah sore hari. Terlalu buru-buru untuk berlibur ketika mereka baru saja mengalami masa duka. Kirana sendirian tinggal di rumah orang tuanya tersebut.” ucap Reynand. Miles mengangguk pelan.
“Hal lainnya, Ratri tidak pernah pulang sejak dia diboyong suaminya ke negaranya dan berpindah kewarganegaraan pada satu tahun kemudian. Dia hanya pulang satu kali, yaitu untuk menghadiri pemakaman orang tua mereka. Suaminya bukan pegawai biasa yang tidak punya uang untuk membiayai keluarganya satu atau dua tahun sekali kembali ke Indonesia.” ucap Reynand bingung.
“Keluarga suami Ratri adalah orang yang baik dan suka beramal.” tambahnya. “Tidak ada tanda-tanda mereka memaksa Ratri untuk menjauhi keluarganya. Bahkan pada foto-foto pernikahannya, kedua orang tua suaminya terlihat akrab dan ramah pada keluarganya.”
“Sayang sekali. Mereka hanya dua bersaudara tetapi tidak bisa akrab.” gumam Miles pelan.
Selanjutnya Reynand memberitahukan riwayat pendidikan dan penilaian orang-orang yang pernah dekat dengannya. Dalam hal kesehatan, dia tidak pernah menderita penyakit parah atau dirawat di rumah sakit. Dia punya banyak teman pria tetapi tidak ada yang berakhir dengan menjalin hubungan asmara dengannya. Hal yang membuat Miles bingung karena wanita itu adalah wanita yang baik dan menarik. Di dalam hatinya, dia berterima kasih kepada mereka semua karena dia telah memberinya akses penuh untuk memenangkan hati Kirana. Dia tidak punya saingan.
Laporan Reynand itu menambah cerah suasana hatinya. Dia bekerja sepanjang hari dengan penuh semangat. Menjelang pulang, dia menghabiskan waktu beberapa menit di kamar mandi dalam kantornya untuk merapikan penampilannya. Tepat pada jam lima, dia keluar dari ruangannya. Dia menuju lantai di mana kantor Kirana berada dengan elevator. Para pegawai yang berpapasan dengannya memberi hormat dan menyapanya dengan ramah. Dia tersenyum kepada mereka.
Pegawai yang satu ini tidak akan memberikan peghormatan yang serupa kepadanya, tetapi tidak masalah. Dia bukan sekadar pegawai biasa bagi Miles. Di depan ruangan Kirana, sudah tidak ada lagi pegawai lain. Asistennya juga tidak ada. Miles bernapas lega. Tanpa mengetuk pintu, dia masuk ke dalam ruangan itu. Dia melihat Juliettnya sedang berdiri di depannya sambil meletakkan tangan di depan dadanya. Miles tersenyum.
__ADS_1
“A, apa,” Wanita itu berdehem, membersihkan tenggorokannya. “Apa yang Anda lakukan di sini?”
“Aku menawarkan tumpangan dalam mobil sederhanaku untuk mengantarmu pulang.” jawab Miles dengan tenang.
“Tidak perlu, Pak. Terima kasih. Saya bisa pulang sendiri.” tolaknya. Wanita itu hanya berdiri diam di tempat, tidak berusaha untuk menjauh atau mendekat.
“Aku bersikeras. Ayolah.” Miles mengulurkan tangannya. Kirana mundur satu langkah.
“Tidak, Pak.” tolaknya lagi. Miles mengerutkan kening.
“Mengapa tidak?” tanyanya.
“Aku sudah bilang kepadamu, aku tidak peduli dengan apa kata orang. Seharusnya kamu juga belajar untuk begitu.” Miles mendekati Kirana dan meraih tangannya. Dia berjalan keluar dari ruangan sambil menggandeng tangan wanita tersebut.
“Pak, Anda adalah atasan saya.” Kirana berusaha menarik tangannya dari genggaman Miles.
“Aku tahu.” ucapnya setuju. Kirana menarik tangannya lebih keras dan membebaskan dirinya dari pria itu. Miles tiba-tiba berhenti dan menoleh ke arahnya.
“Tolong, berhentilah bersikap lebih dari itu.” ucap wanita itu kesal.
__ADS_1
“Aku tidak mengerti.” Kening Miles berkerut.
“Saya pegawai baru di sini. Tidak ada yang tahu kita pernah bertemu sebelumnya. Kalau sampai ada yang tahu, apa Anda tahu sulitnya menjelaskan bahwa saya diterima di perusahaan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertemuan kita enam tahun yang lalu itu?” Pertanyaan itu lagi.
“Aku punya tim yang bisa membuktikan bahwa mereka memilihmu daripada tiga kandidat lain murni karena kemampuanmu, bukan karena aku yang memengaruhi mereka. Bisakah kamu berhenti membuatku terus memberi jawaban yang sama?” ucap Miles.
“Maaf, tapi saya tetap ingin pulang sendiri.” ucap wanita itu bersikeras.
Pandangan Miles melembut. Dia tersenyum lalu meraih tangan wanita itu lagi. Sebelum Kirana sempat menghindar, pria itu mencium pipinya. Hanya sekilas. Dia tidak ingin membuat wanita itu ketakutan setiap kali melihatnya.
“Baiklah. Aku akan ke lift lebih dahulu. Kamu turun setelah aku.” ucap Miles yang kemudian pergi tanpa menunggu respons Kirana.
Miles harus memikirkan strategi lain kalau dia ingin mendapatkan wanita itu kembali. Kirana tidak bisa terus menolaknya. Ya, wanita itu tidak mau ada pembicaraan mengenai hal pribadi atau pun komitmen di antara mereka, tetapi dia tidak bisa terus menghindarinya. Mereka sudah bertemu dan masih merasakan percikan api yang sama. Dia tahu banyak mengenai kehidupan pribadinya dan dia menginginkan wanita itu dalam hidupnya setelah segala hal yang didengarnya dari Reynand.
Mungkin menjadi intim di luar tempat tidur membuatnya tidak nyaman. Ketika pertama kali bertemu, suasana di sekitar mereka jelas berbeda dengan sekarang. Pada saat itu mereka tidak saling mengenal, hanya dua orang asing yang bersenang-senang di mana tidak ada seorang pun yang mengenal mereka.
Iya. Itu sebabnya Juliettnya terus menyinggung mengenai orang lain. Dia begitu ketakutan setiap kali mereka bersama dan menatap pintu atau sekeliling mereka seolah-olah khawatir akan ada orang lain yang melihat mereka. Entah mengapa dia begitu takut dengan pandangan orang mengenai dirinya. Dia harus belajar bahwa dia tidak bisa menyenangkan semua orang. Hanya ada satu orang saja yang perlu dia bahagiakan, yaitu dirinya sendiri. Jika Juliettnya menyukai Romeo, lalu mengapa dia harus menahan diri hanya karena khawatir dengan apa kata orang?
Dia akan memberinya waktu untuk membiasakan diri pada hubungan baru mereka. Sebuah hubungan antara pria dan wanita, bukan antara bos dan bawahannya. Tetapi tidak boleh terlalu lama. Miles sudah tidak sabar ingin wanita itu jatuh dalam pelukannya lagi.
__ADS_1