
Malam itu Kirana memasak sup brokoli daging sapi dan tempe goreng tepung beserta sambalnya. William makan dengan lahap. Betapa dia suka memakan hampir segala jenis makanan membuat Kirana kagum. Dia merawat putranya sebagaimana dia menjaga dirinya sendiri. Ada janin yang sedang tumbuh di dalam kandungannya. Dia juga butuh banyak makan untuknya.
“Bagaimana kalau kamu punya adik laki-laki atau perempuan? Apa kamu mau punya adik?” tanya Kirana saat mereka mencuci piring bersama usai makan.
“Adik laki-laki atau perempuan, Mom? Boleh minta adik perempuan?” tanyanya penuh harap. Kirana mengerutkan keningnya.
“Apa yang salah dengan adik laki-laki?” tanya Kirana bingung.
“Mom, mainanku ada banyak. Aku tidak mau dia mengambilnya dariku.” William memutar bola matanya seolah-olah mamanya seharusnya bisa mengetahui hal itu.
“Adikmu, baik laki-laki atau perempuan, juga akan punya mainannya sendiri. Dia tidak akan mengambil mainanmu. Lagipula kalau ada adik, kalian bisa bermain bersama.” ujar Kirana memberi usul.
“Ello sering cerita tentang adiknya yang suka ambil mainannya terus dirusak. Aku ngga mau mainanku rusak, Mom.” William terlihat serius mengenai mainannya tidak boleh sampai rusak.
“Will, memiliki adik itu sama seperti memiliki teman. Apakah Ello pernah mengambil makananmu tanpa izin? Apakah dia pernah mengambil mainan yang sedang kamu mainkan saat di sekolah?” tanya Kirana. Mulut William menganga lebar. Mamanya tertawa kecil. Anak itu sangat lucu.
“Kamu tahu tentang itu, Mom?” William membulatkan mata biru cerahnya yang indah.
“Tentu saja aku tahu. Aku juga begitu dengan teman-temanku.” Kirana mengedikkan bahunya. “Lalu apa yang selanjutnya kalian lakukan? Apa kalian terus-menerus berebut dan berkelahi?”
“Tidak, Mom. Kami saling minta maaf dan berbaikan. Terus main sama lagi.” jawabnya.
“Begitu juga nanti dengan adikmu. Kalian mungkin akan ribut, tapi kalian akan berbaikan lagi.” ucap Kirana menyimpulkan. William menganggukkan kepalanya.
“Kapan adikku datang, Mom?”
__ADS_1
“Tahun depan. Dia masih tumbuh di perutku.”
“Seperti mama Ello.” William menyentuh perut Kirana. Mamanya tertawa kecil. Mama Ello saat ini memang sedang mengandung anaknya yang ketiga setelah dia berjanji tidak akan punya anak lagi setelah kelahiran anak yang kedua.
“Iya, seperti mama Elo.” ucap Kirana pelan. “Tapi ini rahasia kita berdua, tidak boleh beritahu Ello. Mengerti?” Kening William berkerut.
“Mengapa tidak boleh beritahu Ello, Mom? Dia selalu cerita semuanya kepadaku. Mengapa aku tidak boleh cerita semuanya juga?” Dia terlihat bingung. Kirana sudah siap dengan pertanyaan itu.
“Karena adik masih sangat kecil. Nanti kalau dia sudah besar di perutku, baru boleh kasih tahu Ello.”
“Oh, iya! Kamu benar.” Mata William bersinar. “Ello juga baru beritahu waktu perut mamanya besar. Aku mengerti, Mom. Aku tidak akan beritahu Ello.”
“Anak pintar.” Kirana tersenyum. William diam saat dia memerhatikan mamanya dengan saksama. Kirana mencuci sabun dari sebuah mug menunggu anaknya bicara.
“Kamu tidak suka warna rambut dan matamu?” tanya Kirana. Dia terlalu muda untuk mengerti bahwa warna rambut dan matanya diinginkan begitu banyak orang di dunia ini.
“Aku suka.” William menyentuh rambutnya dan mengusap kepalanya. “Tapi aku berbeda dengan teman-teman yang lain. Mengapa aku berbeda, Mom?”
“Kamu berbeda karena kamu istimewa, Will. Aku sudah sering mengatakannya.” Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya. Seseorang mungkin mengatakan sesuatu yang membuatnya kecewa dengan warna mata dan rambutnya lagi.
“Aku hanya ingin sama dengan teman-teman. Aku ingin sama dengan kamu.” ucapnya pelan.
Kirana mengeringkan piring terakhir kemudian memasukkannya ke dalam kabinet dasar. Berikutnya, dia mengeringkan tangannya dan tangan William menggunakan handuk kecil. Dia mendudukkan putranya di salah satu kursi yang mengelilingi konter dapur dan duduk di sampingnya. Kepalanya sibuk berpikir bagaimana sebaiknya mereka mendiskusikan hal ini.
“Apa kamu ingat buku yang kita baca semalam? Anak laki-laki dalam buku itu punya rambut dan mata yang warnanya sama denganmu.” Dia memulai diskusi mereka.
__ADS_1
“Iya, aku ingat.” William menganggukkan kepalanya.
“Dia mirip siapa?” tanya Kirana.
“Papanya.” jawabnya cepat. Kirana tahu putranya akan mengingatnya. “Adik perempuannya punya rambut warna merah dan mata warna hijau, mirip mamanya. Begitu ‘kan, Mom?”
“Benar. Jadi, kamu punya warna rambut dan mata yang mirip Daddy.” Kirana mengakuinya. William membulatkan mata dan melebarkan mulutnya. Mamanya mengangguk.
“Ooo… Sekarang aku mengerti. Sayang Daddy sudah meninggal.” ucap William pelan. Kirana merasakan sesuatu meremas jantungnya mendengar suara putranya yang sedih. “Tidak bisakah Tuhan kirim Daddy untuk menemuiku, Mom? Apa Tuhan tidak bosan main sama Daddy setiap hari di surga?”
Kirana menggeram pelan. Mengapa putranya tidak menirunya dalam hal sifat? Mengapa dia harus mirip Miles dengan rentetan pertanyaan tiada henti setiap kali pertanyaan sebelumnya telah dijawab? Untuk menghindari pertanyaannya, dia menyuruhnya bergegas ke kamar dan bersiap-siap untuk tidur. Dia sudah lelah dan ingin segera beristirahat.
Tetapi dia tidak bisa tidur pada malam itu. Dia punya satu masalah dan masalah itu sedang tumbuh di perutnya. Dia sedang mengandung anak Miles yang kedua. Dalam beberapa bulan, dia tidak bisa menyembunyikannya lagi. Haruskah dia memberitahu Miles? Bagaimana kalau dia memaksanya menikah dengannya pada detik itu juga? Kirana tidak punya alasan lagi untuk menolaknya. Pria itu akan senang karena ini kesempatan besar baginya untuk menikahinya.
Lalu apa yang akan terjadi kepada William? Apakah Miles akan menerima dan mencintainya? Tidak. Dia tidak seharusnya memikirkan hal yang buruk mengenai pria itu. Miles adalah pria yang baik. Pria itu mencintainya. Dia tidak akan menyakiti putra mereka ‘kan? Iya, dia akan menyayangi William. Siapa yang tidak alkan sayang kepada anak yang paling pintar dan manis sedunia seperti dia? Kirana tidak perlu mengkhawatirkan Miles lagi.
Yang paling menakutkan adalah apa pandangan orang-orang di tempat kerjanya nanti begitu mereka tahu? Dia masih lajang dan hamil! Sial, sial, sial! Apa juga pandangan mereka kalau sampai melihat kemiripan pada William dan Miles? Oh, Tuhan. Dia memang bodoh! Dia tidak hanya merusak reputasinya sendiri tetapi juga menyeret nama baik Miles.
Mudah saja bagi mereka untuk menghitung dan menyadari bahwa mereka pernah bersama saat pria itu masih menikah. William lahir saat istri Miles masih hidup. Lalu keluarga wanita itu yang membenci Miles dengan segenap hati mereka, akan punya alasan untuk menyakiti pria malang itu melalui William.
Dia tidak bisa meneruskan rencananya semula untuk pergi dari hidup Miles. Perusahaan sedang membutuhkannya. Romeonya sedang membutuhkannya. Walaupun dia selalu mengecewakan pria itu dalam hubungan asmara mereka, dia tidak mau mengecewakannya dalam urusan pekerjaan. Tetapi, apa bedanya pergi sekarang dengan beberapa bulan kemudian ketika perutnya sudah membesar?
Dan suatu hari nanti, William akan bertanya siapa ayah dari adiknya. Sial! Dia tidak bisa menggunakan alasan yang sama. Tidak mungkin setiap pria yang menjadi ayah anak-anaknya selalu meninggal. Yang paling sulit untuk dijelaskan adalah bila keduanya juga berambut pirang dan bermata biru. Ampun. Bagaimana kalau mereka berdua mirip? Kebohongan itu tidak akan berhasil lagi. Seharusnya dari awal, dia tidak berbohong.
Apa yang sebaiknya dia lakukan sekarang?
__ADS_1