Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 83


__ADS_3

Ketika mendengar bunyi pintu terbuka lalu tertutup, Kirana membiarkan air mata jatuh membasahi pipinya. Menikah dengan Miles? Mengapa pria itu tidak menyerah juga? Dia sudah menjawab tidak berkali-kali. Dia sudah menolaknya berulang kali. Sekarang dia harus bagaimana? Kalau Miles melamar lagi, alasan apa lagi yang akan diucapkannya? Dia tidak berani mengatakan kebenarannya. Mengatakan alasan yang sebenarnya hanya akan membuka kelemahannya sendiri.


Dia takut. Dia begitu takut semua ini hanya mimpi. Dia sudah terbiasa bangun dari mimpi indah hanya untuk membasahi bantalnya dengan air mata. Bagaimana mungkin pria sesempurna Miles mencintai wanita tidak sempurna seperti dia? Ketika dia berjalan, semua wanita yang berpapasan dengannya tidak bisa mengalihkan pandangan mereka darinya. Dia sempurna secara fisik, jiwa, dan hatinya. Iya, tidak ada manusia yang sempurna. Dia juga sering melakukan kesalahan. Tetapi dia menyesalinya dan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya.


Dia tidak pantas bersamanya. Ada anak atau tidak, mereka tidak cocok bila disandingkan. Suatu hari nanti dia pasti bangun dari mimpi itu. Ketika hal itu terjadi, bagaimana dia menata hidupnya lagi? Jadi, lebih baik dari awal dia mencegahnya sebelum segalanya dimulai. Menjaga hatinya agar tidak terluka ketika kehilangan Miles. Melindungi William agar tidak berduka ketika ayahnya meninggalkannya.


Setelah menghabiskan sarapannya, dia menyandarkan tubuhnya di kursi santai itu. Tiupan angin sepoi-sepoi menenangkannya. Kehangatan sinar matahari membuatnya mengantuk. Dia menutup mata dan menikmati cuaca cerah pada hari itu. Ketika beberapa saat kemudian membuka mata, dia terkejut dia sedang berbaring di tempat tidur. Dia mendorong tubuhnya untuk duduk dan melihat ke sekitarnya. Tidak ada seorang pun di dalam kamar selain dia.


Saat menuruni tangga dia mendengar suara tawa dari balik salah satu pintu. Dia mendekat dan meletakkan telinganya di daun pintu. Yakin bahwa dia memilih pintu yang benar, dia mengetuknya. Suara di dalam terdiam, pertanda dia mengetuk pintu yang benar. Dia membuka pintu dan melihat itu adalah ruang makan. Miles dan William duduk mengelilingi meja. Makanan tersaji di atas meja.


“Hai, Mom!” ucap William senang. “Makanan siang ini enak!”


“Duduklah.” Miles berdiri dan membukakan kursi di sampingnya untuknya. Kirana mengangguk dan duduk.


“Jangan makan terlalu banyak. Nanti perutmu sakit, Will. Makan secukupnya.” Kirana berterima kasih kepada Wanda yang mengisi gelasnya dengan jus jeruk.


“Iya, Mom. Dad juga bilang begitu.” lapor William dengan bangga. Dari sudut matanya, Kirana bisa melihat Miles melihat ke arahnya. Kirana menunduk dan menyesap jusnya.


“Kamu tidak makan?” tanya Miles. Tanpa menjawab, Kirana mengisi piringnya dengan sesendok besar fettuccine. Pria itu mengerutkan keningnya.


“Mom, kata Dad kita akan ke mal sore ini. Kata Dad juga aku boleh beli beberapa buku cerita baru. Tapi aku harus minta izin kepadamu. Boleh, ya, Mom? Aku juga butuh krayon baru. Krayon warna hitamku sudah habis.”


“Tentu saja boleh.” ucap Kirana yang segera diikuti sorakan senang William. Dia kemudian menyendokkan beberapa potong bola daging saus tomat ke atas fettuccine.

__ADS_1


“Aku sudah selesai makan, Dad. Sekarang bolehkah aku menonton?” tanya William penuh harap. Miles melihat ke arah piringnya. Lalu tersenyum puas.


“Boleh. Tapi aku masih makan.” Miles melihat ke arah piringnya sendiri.


“Tante Wanda bisa membantuku menyalakan filmnya.” usul William.


“Coba tanya apa dia mau membantumu.” Miles tertawa kecil.


“Tante Wanda, bantu aku menyalakan film, ya? Aku mohon.” ucap William dengan mata besarnya yang menggemaskan. Wanda tertawa kecil, geli melihatnya.


“Tentu saja boleh.” Wanda mengulurkan tangannya kepadanya. “Ayo.” William meraih tangannya tanpa ragu.


“Terima kasih, Wanda.” ucap Miles penuh rasa terima kasih. William melompat-lompat gembira mengikuti wanita itu keluar dari ruang makan. Pria itu kemudian menoleh ke arah Kirana yang sedang menikmati makanannya. “Apa kamu baik-baik saja?”


“Maaf, berita tadi pasti mengejutkanmu. Aku tidak bermaksud bersikap egois dengan memaksamu menikah denganku. Aku mencintaimu dan tidak mau membuatmu sedih. Aku mohon, maafkan aku, Kirana.” ucap Miles tulus. Kirana hanya mengangguk pelan.


Miles menunggu Kirana menghabiskan makanannya. Wanita lain kemudian masuk ke ruang makan dan atas perintah tuannya merapikan meja makan. Saat Kirana berniat berdiri, Miles menyentuh tangannya. Kirana menoleh dan melihat pria itu menatapnya dengan wajah serius. Oh. Dia pasti ingin bicara sekarang. Tidak ada William, mereka bisa bicara dengan leluasa. Setelah wanita itu meninggalkan ruang makan, yang ada hanya mereka berdua.


“Kamu menangis di kolam renang. Mengapa?” tanya Miles ingin tahu.


“Bukan hal besar.” jawab Kirana.


“Kamu tidak menangis seperti kandidat lain saat aku mewawancaraimu dengan pertanyaan yang berat dan menyudutkan. Jika kamu menangis, pasti ada masalah besar di sini. Ada apa, Kirana?” desak Miles.

__ADS_1


“Aku tidak ingin membicarakannya.” Kirana merapatkan bibirnya. Miles mendesah pelan.


“Baik. Aku ganti pertanyaannya.” Miles mengalah. Dia meletakkan tangannya yang lain di atas tangan mereka yang bertautan. Tatapan matanya melembut. “Mengapa kamu tidak mau menikah denganku?”


Bibir Kirana bergetar. Dia menggigit bibirnya menahan air mata yang mendesak untuk keluar. “A, aku tidak ingin membicarakan itu juga.”


“Hal pertama aku izinkan lewat. Tidak dengan yang satu ini.” Dia menolak permintaannya.


“Kamu menyebalkan, Miles.” ucap Kirana dengan suara serak.


“Aku anggap itu sebagai pujian.” Miles menatapnya dengan serius. “Mengapa, Kirana?”


“Aku takut, oke.” aku Kirana. Air mata jatuh membasahi kedua pipinya. “Lihat dirimu. Kamu begitu tampan, cerdas, tubuhmu bagus, kamu kaya raya, sukses. Semua yang didambakan wanita ada padamu. Kamu seharusnya menikahi wanita seperti Angelica. Cantik, berasal dari keluarga kaya yang terpandang, dan sopan. Wanita seperti itu yang cocok bersanding denganmu, Miles.”


“Lalu, aku tidak boleh menikahimu? Aku hanya boleh menikahi wanita yang menurut pendapat orang lain ideal menjadi istriku? Begitu?” tantang Miles. Kirana menarik tangannya dari genggaman pria itu. Tetapi Miles tidak mau melepaskannya.


“Apa kamu tidak bisa melihat aku?” Kirana menunjuk wajahnya dengan tangannya yang bebas. “Aku hanya wanita biasa, tidak menarik sama sekali. Kalau semua orang yang berpapasan denganmu tidak bisa mengalihkan pandangan mereka darimu, aku sebaliknya. Tidak ada yang menoleh ke arahku, Miles. Tidak mereka yang berpapasan denganku, tidak juga mereka yang telah mengenalku selama bertahun-tahun. Begitulah bedanya kita.”


“Hanya karena pria lain tidak bisa melihat sesuatu yang berharga seperti yang aku lihat padamu, bukan berarti aku juga sama seperti mereka.” ucap Miles dengan tegas. “Kamu berharga bagiku, Kirana. Tidak terganti. Aku tidak pernah begitu menginginkan seorang wanita untuk menjadi istriku. Tidak juga saat aku menikah dengan Angelica. Wanita yang menurut banyak orang begitu cocok bersanding denganku.”


“Saat mataku melihatmu, aku tidak bisa berpaling darimu, sejak pertama kali aku menatapmu di restoran itu, hingga detik ini. Kamu cantik, menawan, dan misterius. Kamu begitu percaya diri hingga menarikku untuk mendekatimu dan aku tidak kuasa untuk menolaknya. Entah mengapa kamu tidak bisa menyadari pesonamu sendiri. Tapi hal itulah yang membuatmu berbeda. Aku tidak peduli kalau mereka tidak bisa melihat apa yang aku lihat. Mereka yang rugi. Aku beruntung, aku tidak perlu bersaing ketat untuk mendapatkanmu.”


“Aku tidak cantik, aku tidak menawan.” protes Kirana. “Kalau wanita lain suka dibohongi dengan pujian palsu, aku bukan wanita seperti itu.”

__ADS_1


__ADS_2