
Pria itu akhirnya menghadap meja dan melihat ke arah berkas di hadapannya. Pria yang duduk di tengah mengatakan sesuatu kepadanya dan pria itu mengangguk pelan. Menit-menit menunggu pria itu melihat ke arahnya sangat menyiksa. Dia tidak sabar menanti untuk menatap mata biru cerahnya lagi.
“Kirana Paramitha.” ucap pria itu sambil membaca map di depannya. Dia meletakkan ponselnya ke atas meja. Kirana menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Iya.” ucapnya.
Dia melihat pria itu berhenti membuka-buka lembaran kertas di hadapannya begitu mendengar suaranya. Ya, enam tahun dan mereka tidak saling melupakan. Pria itu mengangkat kepalanya perlahan. Ketika pandangan mata mereka akhirnya bertemu, Kirana memasang ekspresi wajah seformal mungkin.
Dia melihatnya lebih dahulu, jadi dia selangkah lebih siap dengan dampak dari bertemunya tatapan mata mereka. Dia meremas tangannya yang ada di atas pangkuannya, mencegahnya menyentuh dada kirinya. Kebiasaannya setiap kali dia ingin menenangkan gemuruh detak jantungnya.
Tetapi pria itu tidak bisa mencegah dirinya bersikap jujur. Matanya membulat. Mulutnya terbuka lalu tertutup seolah-olah ingin mengatakan sesuatu tetapi segera mengurung niatnya. Pria itu menelan ludah memperlihatkan bahwa dia sedikit gugup. Kirana juga merasa gugup. Pria itu menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Setelah berdehem, dia membuka berkas di depannya.
“Berdasarkan daftar riwayat hidupmu, kamu pernah bekerja di perusahaan lain selama dua belas tahun sebelum bekerja di kantor cabang kami.” Dia mengangkat kepalanya lalu melihat Kirana tepat di mata. “Mengapa kamu meninggalkan perusahaan itu setelah bekerja begitu lama di sana?”
Kirana tidak bisa segera menjawab pertanyaan itu. Pria bernama Miles itu bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Dia bahkan bisa mengucapkannya dengan fasih. Tidak terdengar ada aksen pada suaranya. Dia biasanya mendengar aksen khas dari mereka yang bahasa ibunya adalah bahasa Inggris. Kemungkinan besar dia sudah lama tinggal di Indonesia. Mungkin sama lamanya dengan usia perusahaannya.
“Saya tidak meninggalkan perusahaan itu, Pak. Saya dipecat dengan pesangon yang selayaknya sebagai ucapan perpisahan.” Dia akhirnya bisa menjawab setelah hening sejenak.
“Apa alasan mereka memecat kamu?” tanyanya serius. Kirana menghela napas panjang.
“Itu bukan hak saya untuk menceritakannya, Pak. Jika perusahaan tidak memberitahu Anda, maka saya tidak bisa memberitahu Anda.” jawabnya ragu-ragu. Sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap perusahaan besar akan mengonfirmasi ke perusahaan sebelumnya saat menerima pegawai baru yang sudah punya pengalaman kerja.
“Jadi, maksud kamu, tidak ada kesalahan pada pihakmu hingga kamu dipecat? Kamu melimpahkan kesalahan seluruhnya pada perusahaan lama?” tantangnya.
__ADS_1
“Sekali lagi saya mohon maaf. Itu rahasia perusahaan, Pak.” ucap Kirana bersikeras.
“Apa kamu orang yang jujur, Kirana?” tanyanya sambil menantang Kirana dengan tatapannya.
“Iya.” jawabnya tanpa ragu.
“Profesional dan berintegritas?”
“Iya, Pak.”
“Lalu bagaimana mungkin kamu dipecat oleh perusahaanmu?” tanya pria tersebut bingung. Kirana tidak bisa menjawabnya dengan jujur. “Itu kualitas yang sulit ditolak oleh perusahaan yang bagus.”
“Saya mendapatkan surat referensi dari rekan senior yang sudah lebih dahulu bekerja di perusahaan tersebut.” Kirana meletakkan surat tersebut di atas meja. Direktur tersebut segera mengambilnya. Dia menatapnya sesaat sebelum membaca surat tersebut. “Jujur, profesional, dan berintegritas adalah salah satu dari banyak karakter saya yang disebutkan di dalam surat tersebut.”
“Kepala bagian keuangan. Hebat juga kamu bisa berteman baik dengan orang dari bagian keuangan.” Pria itu memberikan surat tersebut kepada pria yang duduk di tengah. “Baiklah. Kalau kamu tidak mau memberitahu apa sebabnya hingga kamu dipecat. Berapa gaji yang kamu minta?”
“Hanya tiga juta?” ucapnya pria itu terkejut. “Apa kamu yakin? Jika ditotalkan, maka gaji kamu masih jauh dari standar gaji kepala bagian pemasaran di kantor pusat ini.”
“Dengan senang hati, saya menerima jumlah yang Anda tawarkan.” jawabnya. Pria itu tersenyum dengan senyuman indahnya. Kirana benar-benar ingin lari keluar dari ruangan atau mengusir kedua pria itu agar dia bisa membalas senyumnya. Situasi yang canggung itu membunuhnya.
Mereka berdua saling mengenal, yang benar saja, dan dia harus bersikap formal? Jantungnya juga tidak menolongnya sama sekali dengan berdetak begitu cepat seolah-olah memintanya untuk melakukan sesuatu untuk menenangkan detaknya. Tetapi dia tidak bisa. Bagaimana bisa dia berlari mendekati pria itu untuk memeluknya dan menciumnya di sini. Meskipun hanya itu yang sedang dia pikirkan saat ini.
Dan pria tampan itu juga tidak membantunya. Bagaimana bisa dia menatapnya dengan tatapan seperti itu sepanjang waktu? Dia seharusnya melihat ke arah berkas yang ada di meja, atau surat yang tadi dia berikan. Ke mana saja asal bukan melihat ke arah matanya. Mata pria itu mengingatkannya pada semua masa-masa indah yang mereka habiskan bersama di tempat tidur. Ini bukan waktu yang tepat untuk bernostalgia.
__ADS_1
“Apa kamu pernah mencuri, Kirana?” Pria itu memicingkan matanya. Situasi mendadak berubah.
“Tidak pernah, Pak.”
“Apa yang sebaiknya aku lakukan kalau aku mengetahui bahwa kamu mencuri sejumlah uang dari perusahaan ini?”
“Anda telah memasang kamera pengawas di mana-mana dan saya yakin Anda punya seorang ahli yang selalu mengawasi pergerakan uang para pemegang jabatan penting di perusahaan Anda, mudah saja untuk mengetahui bila saya mencuri, Pak. Pertama saya akan mengundurkan diri. Saya akan mengembalikan semua uang yang saya curi dan membayar uang ganti rugi yang Anda minta.”
“Apabila kamu tidak ketahuan?” Pria itu mengangkat alisnya.
“Anda perlu meningkatkan sistem pengawasan dan keamanan di perusahaan Anda, Pak. Apa yang tidak bisa Anda buktikan, tidak bisa Anda tuduhkan kepada saya. Kalau Anda tidak suka, Anda bisa memecat saya.”
“Dan membiarkan drama berkepanjangan terjadi ketika kamu menuntut balik perusahaan saya?” Dia tertawa geli.
“Seperti halnya yang terjadi pada perusahaan pertama, saya juga tidak akan menuntut perusahaan Anda.” jawab Kirana cepat. Dia benar-benar membutuhkan pekerjaan ini dan dia akan melakukan apa pun untuk meyakinkannya bahwa dia adalah calon yang terbaik untuk posisi lowong tersebut.
“Terima kasih. Sekarang aku mengerti mengapa kamu dipecat.” Dia melebarkan senyum penuh kemenangannya.
Pria ini hebat, pikir Kirana. Dia tidak mengira sedang digiring melalui pertanyaan tadi untuk menjawab pertanyaan utama. Dia pikir semua itu adalah pertanyaan lanjutan. Ternyata pria itu masih penasaran menemukan jawaban mengapa dia dipecat dari tempat kerjanya yang pertama. Tentu dia tidak mau hal yang sama terjadi pada perusahaannya ini. Direktur hebat.
“Kamu baru bekerja sebagai kepala bagian pemasaran selama tiga tahun di kantor cabang, apa menurutmu yang membuatmu layak dipilih pada posisi baru dibandingkan ketiga kandidat sebelumnya yang telah mengabdi lebih dari sepuluh tahun di sini?”
Kirana menghabiskan sepuluh menit untuk menceritakan pengalamannya, mulai dari strategi demi strategi yang pernah dia lakukan dan peningkatan penjualanan yang dilakukannya, respons dari rekan sekerja maupun atasannya. Dia memang baru sebentar bekerja di perusahaan miliknya, tetapi dia bukan orang yang tanpa pengalaman. Terakhir, dia menyebutkan beberapa kelebihannya dan bagaimana hal tersebut akan menjadi keuntungan bagi perusahaan.
__ADS_1
“Mengapa aku harus percaya kepadamu? Kamu baru bekerja selama total kurang lebih enam tahun di kantor cabang.” tantang pria itu.
“Surat rekomendasi dari atasan saya di kantor cabang bisa menjadi salah satu jaminan, Pak. Atau bila Anda ingin menguji saya pada saat ini, saya bersedia menunjukkan kemampuan saya.” ucap Kirana penuh percaya diri. Pria itu tersenyum. Kirana mengerutkan keningnya. Apa yang sedang ada dalam pikirannya sekarang?