Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 28


__ADS_3

Kirana tahu bahwa kebaikan yang ditunjukkan oleh Vivian kepadanya suatu hari nanti akan berubah. Istri sahabat baiknya yang lain sudah lebih dahulu melakukannya. Tidak akan ada wanita yang tidak cemburu melihat kekasih atau suaminya akrab dengan wanita lain. Sekalipun wanita itu adalah sahabat baik atau sahabat sejak kecil mereka.


Dia hanya tidak menduga hal yang sama akan terjadi kepada Dexter. Vivian begitu pengertian dan bersikap baik kepadanya, saat mereka masih berpacaran hingga menikah. Kirana memang kurang berhati-hati. Tetapi dia tidak melakukannya dengan sengaja. Sejak kecil dia dan sahabat baiknya itu terbiasa menyentuh tangan, kepala, merangkul atau memeluk. Mereka tidak melakukannya secara berlebihan seperti yang dilakukan oleh sepasang kekasih.


Mereka juga telah terbiasa berbagi mengenai apa saja yang terjadi dalam kehidupan mereka. Suka maupun duka. Tangis atau tawa. Selama ini Dexter selalu hadir untuknya. Tetapi tidak. Mulai dari sekarang dia hanya punya dirinya sendiri. Dia tidak bisa lagi bergantung kepada sahabat baiknya itu. Mereka akan tetap bersahabat, tentu saja. Dia tidak akan bisa membuang Dexter begitu saja dari hidupnya. Namun dia perlu menjaga jarak agar tidak menyakiti istrinya.


Pada keesokan harinya, Kirana memakai pakaian kerjanya, merias wajah, dan menata rambutnya. Terbiasa mengikat rambutnya di belakang kepala, kali ini dia membiarkannya tergerai. Dia tersenyum melihat bayangannya pada cermin. Romeo benar. Rambutnya indah dan dia terlihat berbeda dengan rambut hitamnya yang jatuh bebas membingkai wajahnya.


Berdesakan di dalam bus menjadi salah satu hal yang dirindukannya di kotanya. Turun tepat di depan gedung kantornya, dia tersenyum melihat keadaan masih sama. Seorang petugas keamanan dengan ramah menyapanya. Kirana membalasnya dengan keramahan yang sama. Masuk ke dalam elevator, dia tersenyum kepada orang-orang yang telah berada di dalam. Sebelum pintu tertutup seseorang bergegas masuk ke dalam lift. Begitu mengenali pria yang berdiri di sisinya, Kirana berdoa dalam hati supaya dia tutup mulut hingga sampai di lantai tujuannya.


“Hei, hei. Lihat siapa yang masuk kantor hari ini.” ucapnya sarkas. Tentu saja pria itu akan mengatakan apa saja yang dia inginkan ketika dia melihatnya. Kirana hanya diam. Pria itu melihat ke arah kantong yang dibawanya. Senyumnya semakin lebar. “Apa liburanmu menyenangkan? Singapura, bukan? Ada oleh-oleh untukku?”


Melihat Kirana hanya diam saja, dia tidak menyerah. “Kirana, Kirana. Kamu memang penuh dengan kejutan. Semua orang kaget dengan hal yang berani kamu lakukan terhadap perusahaan ini. Tidak ada yang menyangka bahwa kamu bisa berbuat serendah itu.”


Kirana masih diam. Pria itu tertawa kecil. “Itu bukan yang pertama ‘kan? Kamu pasti pernah melakukannya sebelumnya. Katakan, ke mana semua uang itu kamu simpan?”


Untuk satu kalimat terakhir itu, Kirana memberikan respons. Dia membulatkan matanya dan menoleh ke arah Caraka. Pria itu tertawa terbahak-bahak. Orang di sekitar mereka segera menyuruhnya untuk diam. Tetapi pria itu tidak peduli. Dia membuka mulutnya lagi siap untuk mengatakan kalimat berikutnya.


“Tutup mulutmu, Caraka. Suaramu menggema di lift ini.” ucap seorang wanita dari arah belakang mereka. Kirana menoleh ke belakang dan melihat Tamara, kepala bagian keuangan, berdiri tepat di belakangnya.

__ADS_1


“Ba, baik, bu. Maafkan saya.” ucap Caraka cepat. Dia berdiri dalam diam dan berhenti mengejek Kirana. Tamara tersenyum kepada Kirana, dia membalas senyumannya.


Pikiran Kirana kembali ke kalimat terakhir yang diucapkan Caraka. Uang? Uang apa? Mengapa dia menanyakan ke mana dia menyimpan semua uang itu? Pasti telah terjadi sesuatu selama dia pergi. Melihat ekspresi wajah para bawahannya ketika dia berjalan menuju ruang kerjanya, Kirana tahu bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Dia segera meminta asistennya untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangannya.


“Aku tidak mau mendengar jadwalku hari ini. Katakan kepadaku, apa yang telah terjadi selama aku tidak ada di kantor?” desak Kirana sambil meletakkan tasnya di atas meja dan berdiri dengan menyandarkan pinggulnya ke meja tersebut. Ruby menutup pintu ruangannya.


“Itu,” ucap asistennya ragu.


“Bicara yang jelas, Ruby. Aku tidak memanggilmu untuk menghukummu. Aku ingin tahu apa yang terjadi yang tidak aku ketahui.” ucap Kirana tidak sabar.


Ruby menarik napas panjang lalu melihat ke arah Kirana tepat ke kedua matanya. “Begini, Kirana. Kemarin pak direktur masuk ke ruangan ini. Aku mengikuti beliau dan dari laci meja kamu ditemukan banyak uang. Banyak, Kirana. Aku tidak menghitungnya, tapi kabarnya jumlahnya sekitar tujuh ratus juta.” Kirana mengangakan mulut dan melebarkan matanya.


“Tidak ada yang tahu, Kirana. Hanya pak direktur dan petugas keamanan yang masuk ke dalam ruangan ini. Tuduhan bahwa kamu telah mencuri uang perusahaan sudah menyebar ke seluruh perusahaan.” ucap Ruby perlahan. Tentu saja, tidak ada yang bisa menyembunyikan isu sepenting itu dari pegawai lainnya.


“Baik. Ada pesan dari direktur atau wakil direktur untukku?” tanya Kirana. Ruby mengangguk.


“Kalau pak direktur sudah datang, aku akan diberitahu untuk meminta kamu datang ke kantornya.”


“Baik. Segera hubungi aku.” ucapnya mempersilakan Ruby keluar. Tetapi wanita itu tetap berdiri pada tempatnya semula.

__ADS_1


“Kirana, aku tahu bahwa kamu tidak melakukannya.” ucap asistennya jujur. “Kamu akan dapatkan dukungan sepenuhnya dariku. Aku akan membantumu sebisa aku. Jika sesuatu terjadi, kamu harus tahu bahwa aku ada di sini untukmu.”


“Aku tahu, Ruby. Terima kasih.” Kirana mengambil bungkusan yang dibawanya. “Ini oleh-oleh untuk kalian semua.”


“Terima kasih, Kirana.” ucap Ruby sambil menerima bungkusan tersebut.


Kirana duduk di kursinya begitu asistennya keluar dari ruangannya. Mencuri. Dia dituduh mencuri uang perusahaan. Selama dua belas tahun mengabdi dan berhati-hati setiap kali membuat laporan keuangan proyek yang dipercayakan kepadanya, tiba-tiba saja sejumlah uang ditemukan di dalam lacinya. Tanpa mendengar penjelasan darinya, dia dituduh mencuri? Kalau dia ingin melakukannya, dia sudah melakukannya sejak dahulu. Tidak perlu menunggu selama dua belas tahun.


Ada yang sengaja menunggu sampai dia pergi untuk meletakkan uang ke dalam laci meja kerjanya. Mengapa tidak diletakkan di dalam lemari berkasnya saja? Ah, tentu saja tidak bisa. Lemari itu selalu terkunci. Iya, hanya kedua laci ini yang bisa dengan mudah dibuka oleh siapa saja, termasuk oleh orang yang ingin menjebaknya.


Sayang sekali tidak ada kamera pengawas di dalam ruangannya. Dia melihat ke arah keempat sudut ruangannya, juga tidak ada kamera pengawas di luar pintu ruangannya. Kamera pengawas hanya ada di dalam elevator. Terlalu sulit untuk menemukan siapa pelakunya karena pegawai yang datang dan pergi ke lantai ini cukup banyak.


Jika atasannya cukup cerdas dan serius mencari siapa pelaku yang sebenarnya, seharusnya dia melaporkannya kepada polisi agar mereka bisa memeriksa kantornya dengan saksama. Tidak akan sulit menemukan sidik jari orang lain yang mencurigakan yang telah memasuki ruangannya. Hanya dia dan Ruby yang rutin berada di dekat meja kerjanya. Bila ditemukan sidik jari lain selain milik mereka, maka kemungkinan besar dialah pelakunya.


Terdengar bunyi mesin interkomnya. Kirana menekan tombol yang menyala. “Ya, Ruby.”


“Pak direktur menunggu kamu di ruangannya.” lapor asistennya.


Kirana mendesah pelan. “Baik. Aku segera ke sana. Terima kasih.”

__ADS_1


__ADS_2