
Taksi tersebut berbelok ke kanan sehingga Kirana tidak bisa melihatnya lagi. Tetapi dia masih berdiri di tempat melihat ke arah terakhir kali mobil itu berada. Dia mendesah keras. Waktu berlalu begitu cepat. Dua hari bersama telah berlalu. Ratri dan keluarganya pergi ke Bali dan dia sendirian sekarang.
“Kadang-kadang aku tidak mengerti ini. Bagaimana bisa kalian berdua adalah saudara.” ucap seorang pria dari arah belakang Kirana. Dia tersenyum kecil.
“Percayalah. Kami saudara kandung.” ucap Kirana tanpa menoleh.
Ratri tiga tahun lebih tua darinya. Meskipun mereka saudara kandung, secara fisik mereka sangat berbeda. Ratri mendapatkan semua ciri fisik yang baik dari ibu mereka. Kulit gelap eksotis, mata besar dengan bulu mata lentik yang lebat dan panjang, wajah berbentuk hati, hidung membentuk sempurna, bibir merah yang tipis, rambut lurus panjang yang lebat, tinggi badan yang rata-rata sehingga tidak sulit baginya untuk mendapatkan pria yang lebih tinggi. Di sisi lain, Kirana mendapat semua ciri fisiknya dari ayah mereka.
Kulitnya terlalu putih bahkan cenderung pucat, matanya berukuran normal dengan bulu mata tipis, wajahnya berbentuk oval membuatnya terlihat seperti anak-anak, hidungnya pesek, bibir merah pucatnya terlalu besar, rambut lebatnya sulit diatur dan spiral pada ujungnya tidak bisa dirapikan. Bagian paling sulit adalah badannya yang terlalu tinggi. Seratus tujuh puluh lima senti cukup membuat banyak pria menjauh darinya.
Karena itu dia suka berada di antara orang bertubuh tinggi. Dexter, pria yang sedang berdiri di sisinya, adalah salah satunya. Berdiri di dekatnya membuatnya merasa nyaman. Dia tidak segan bersikap lemah dan rapuh saat bersamanya. Menikmati setiap kali sahabatnya merangkulnya atau sekadar meletakkan kepalanya di bahu pria itu ketika mereka duduk berdekatan. Sahabatnya juga senang memanjakan atau memperlakukannya seperti adiknya sendiri. Walaupun mereka sebaya.
Tetapi yang dimaksud Dexter bukanlah mengenai perbedaan fisik mereka. Ratri dan Kirana juga sangat berbeda dalam hal kepribadian. Ratri begitu percaya diri dan memiliki banyak teman. Tetapi dia sangat pemilih dalam menentukan siapa yang bisa menjadi sahabat dekatnya. Hanya mereka yang membawa keuntungan kepadanya yang bisa dekat dengannya. Bila menginginkan sesuatu, dia akan lakukan apa saja untuk memilikinya. Kadang-kadang dia tidak peduli bila hal itu adalah milik orang lain. Dia cerdas dan pandai dalam meyakinkan orang. Salah satu alasan dia begitu sukses sebagai kepala bagian humas di kantornya.
__ADS_1
Sebaliknya, Kirana pemalu dan hanya punya beberapa sahabat dekat. Dia terlalu banyak pertimbangan setiap kali memutuskan sesuatu, termasuk untuk sesuatu yang sangat diinginkannya. Dia juga terlalu sering mengalah dan lebih memikirkan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Hal yang terakhir sering dimanfaatkan oleh Ratri. Walau tidak secerdas kakaknya, Kirana sangat peka melihat peluang dan sudah beberapa kali sukses dalam proyek meningkatkan penjualan produk perusahaan di mana dia bekerja. Butuh waktu baginya untuk mendapatkan posisi sebagai kepala bagian pemasaran. Tetapi pada akhirnya, dia berhasil mendapatkan posisi tersebut.
“Dia pergi ke Bali untuk berlibur pada hari orang tuanya baru saja dikuburkan? Tidakkah menurutmu itu hal yang luar biasa? Apa dia sama sekali tidak berduka dengan kepergian Om dan Tante?” Terdengar nada sarkas pada suara sahabatnya itu.
“Dexter, tentu saja dia berduka. Tetapi dia benar. Hidup harus berlanjut. Tidak ada salahnya mereka membawa anak-anak mereka menikmati Bali selagi berada di sini, di Indonesia.” Kirana merasa wajib untuk membela kakaknya.
“Sebelas tahun dia tidak pernah pulang dan dia hanya menemanimu selama dua hari? Ki, itu keterlaluan. Dia itu kakakmu, bukan kenalanmu. Yang barusan meninggal itu kedua orang tuanya, bukan orang yang baru dikenalnya kemarin sore.” protes Dexter.
“Dex,”
Sampai sekarang dia masih tidak mengerti mengapa Dexter begitu tidak menyukai Ratri. Dia tidak ingat sejak kapan mereka berdua saling membenci. Mungkin sejak mereka masih kecil. Setiap kali mereka bicara, pasti akan berakhir dengan pertengkaran sengit. Karena tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah, harus ada yang melerai. Kirana adalah salah satu orang yang sering menjadi penengah mereka.
“Aku tahu maksudmu baik. Tapi begitu juga dengan maksud Ratri.” Kirana menyentuh lengan atas teman sejak masa kecilnya itu. “Sekali lagi, aku berterima kasih atas pertolonganmu.”
__ADS_1
“Bukan masalah besar, Ki. Walau uang ganti rugi itu tidak bisa mengembalikan Om dan Tante, aku senang kita bisa mendapatkan jumlah yang kalian inginkan. Perusahaan itu berkewajiban menanggung kesalahan sopir truk yang mereka pekerjakan. Aku masih bertanya-tanya, apakah dia baik-baik saja atau mereka sudah memecatnya.”
“Dan itu tidak akan terjadi tanpa bantuanmu.” Kirana tersenyum kecil. “Aku lelah sekali. Sampai jumpa besok, ya?”
“Apa kamu lapar? Istriku memasak makanan kesukaanmu. Bagaimana kalau kamu makan malam bersama kami lalu beristirahat?” Dexter melingkarkan lengannya di bahu Kirana.
“Teman-temanku pasti meninggalkan banyak makanan di dalam kulkas. Aku tidak akan kekurangan makanan selama berminggu-minggu ke depan. Aku ingin tidur, Dex. Hanya itu yang aku butuhkan.” tolak Kirana halus.
“Baiklah.” Dia mengalah. Kirana bersyukur di dalam hatinya karena tidak perlu berdebat panjang lebar dengan sahabatnya kali ini. “Sampai jumpa besok.”
Kirana masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintunya. Saat akan menutup tirai jendela di samping pintu, dia melihat Dexter menutup pintu gerbangnya. Dia menyentuh kaca jendela, berharap dia benar-benar bisa menyentuhnya melalui kaca tersebut. Pria itu adalah cinta pertamanya. Mereka selalu satu kelas di sekolah dasar hingga sekolah menengah umum. Seperti kembar siam, mereka tak terpisahkan.
Semula dia berpikir bahwa pria itu punya perasaan yang sama dengannya. Sampai akhirnya dia mengenalkan seorang siswa dari kelas lain sebagai pacarnya. Dia patah hati untuk yang pertama kalinya. Seperti halnya sikap remaja yang patah hati pada usianya, dia begitu dramatis dan sentimentil sehingga berjanji tidak akan pernah jatuh cinta lagi atau membiarkan laki-laki mematahkan hatinya lagi. Seumur hidup.
__ADS_1
Dexter putus dari pacarnya dan menjalin hubungan dengan gadis dari kampusnya. Tetapi hubungan mereka berakhir sebelum wisuda. Kemudian dia berkenalan dengan adik salah satu rekan kerjanya tiga tahun yang lalu. Dua tahun kemudian, mereka menikah. Kini istrinya sedang mengandung anak pertama mereka. Wanita itu sangat baik dan memperlakukannya seperti sahabat lama. Dia juga tidak terlihat cemburu dengan kedekatannya dengan suaminya. Hal yang sangat langka.