
Pelayan pria itu membantunya duduk dengan membukakan kursi untuknya. Dia memberikan sebuah buku menu, Kirana membacanya dengan saksama. Dia mempertimbangkan apakah dia cukup lapar dan selera makannya cukup baik untuk memesan makanan porsi besar atau porsi yang normal. Akhirnya, dia memutuskan untuk memesan makanan dalam porsi besar.
“Spaghetti meatballs, roasted chicken wings, and lime juice.” ucap Kirana sambil menutup bukunya.
“Okay, Madam.” ucap pelayan pria yang masih setia berdiri di sampingnya. Setelah menyampaikan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan makanannya, dia pun pamit.
Kirana memerhatikan sekelilingnya. Ada banyak orang dengan berbagai kepentingan makan malam di restoran itu. Berbincang dengan rekan bisnis, kencan, merayakan hari jadi, merayakan sesuatu, tetapi tidak ada yang duduk seorang diri sepertinya. Sampai pandangannya kemudian teralih kepada seorang pria yang sedang duduk sendiri di mejanya. Dua meja di depannya pada barisan meja sebelah kanannya. Seorang pelayan sedang berdiri di samping mejanya mencatat pesanannya.
Jelas sekali dia bukan orang Asia. Rambutnya pirang dan poninya dibiarkan jatuh alami menutupi keningnya. Dari jarak sejauh itu, dia tidak bisa melihat warna matanya. Kulitnya putih pucat seperti kebanyakan orang barat pada umumnya. Dia memakai kemeja berwarna biru tua berlengan panjang, dua kancing teratas dibiarkannya terbuka. Dia terlalu tampan untuk datang sendirian. Mungkin teman, kekasih, atau istrinya sedang berada di toilet atau belum tiba di restoran.
Dia tidak memerhatikan apakah saat dia masuk ke dalam restoran pria itu sudah duduk di situ atau meja itu masih kosong. Tidak ada lagi pria lain yang duduk sendirian sepertinya. Dalam hati Kirana berharap bahwa ini adalah kesempatan yang akan diberikan kepadanya. Sebentar, dia harus bersabar. Dia masih punya tiga jam sebelum restoran tutup. Dia bisa memesan minum atau menambah makanan sampai pria incarannya datang. Entah siapa pun pria malang itu.
Restoran di hotel bintang lima ini adalah pilihan tepat untuk mencari pria yang bisa diajak tidur. Untuk satu malam, tanpa ikatan atau komitmen. Di tempat ini dia bisa menemukan pria lajang yang bersih. Mungkin mereka terbiasa melakukan hubungan intim dengan wanita yang berbeda-beda, tetapi mereka melakukannya dengan aman. Orang kaya selalu peduli pada kebersihan dan kesehatan mereka. Begitu juga yang terlihat dari penampilan pria di hadapannya itu.
__ADS_1
Seolah-olah bisa mendengar pikirannya, pria itu melihat ke arahnya. Dia tidak beralih ke arah lain ketika mata mereka bertemu. Tidak tahu harus bagaimana, Kirana hanya diam. Pria itu yang pertama kali tersenyum. Dia membalas senyumannya. Tidak ingin terlihat jelas bahwa dia adalah seorang perawan tua yang frustrasi yang sedang mencari mangsa seorang pria lajang untuk diajak tidur bersama, dia tidak mengalihkan pandangannya. Ah, tidak mungkin pria itu bisa mengetahuinya hanya dengan menatapnya. Iya, ‘kan?
Seorang pelayan yang datang ke meja mengantar minumannya merusak sihir itu. Kirana mengalihkan pandangannya dan berterima kasih kepada pelayan tersebut. Dia menyesap minumannya dan melihat ke sekelilingnya. Ke mana saja asal bukan ke arah pria itu.
Meskipun kini dia tidak melihat ke arah pria itu, dia bisa merasakan bahwa dia sedang memerhatikannya dengan saksama. Melihatnya dari rambut ke bagian bawah tubuhnya yang sedikit tersembunyi oleh kaki meja. Dia sudah berdandan dengan baik dan memakai gaun yang terbaik, wajar saja jika penampilannya menarik perhatian.
Bukan hanya pria itu, beberapa pria lain juga sesekali mencuri pandang ke arahnya saat rekan, kekasih, atau istri mereka sedang tidak menyadarinya. Kirana tersenyum dan menyembunyikannya di balik gelas minumannya. Sebesar apa pun godaannya, dia tidak akan melaksanakan aksinya dengan seorang pria yang sudah memiliki kekasih atau istri.
Andai saja mereka melihatnya dengan pakaian kerjanya, mereka tidak akan menoleh sedikit pun ke arahnya. Dia tidak pernah mendapatkan perhatian sebanyak yang dialaminya pada saat ini. Apa yang dia baca benar, jika ingin menarik perhatian pria, maka hal pertama yang perlu diperhatikan adalah mengubah penampilan.
Ratri adalah wanita yang sangat beruntung yang dikelilingi begitu banyak cinta. Kasih sayang dari suami dan kedua anak mereka, juga mertuanya. Tidak. Dia tidak cemburu. Dia bahagia dengan kebahagiaan Ratri. Kakak perempuannya itu berhak memperoleh kebahagiaan yang diperjuangkannya sendiri.
Dari ujung matanya dia melihat pria itu berdiri dari tempat duduknya. Jantung Kirana berdetak cepat. Mungkinkah? Oh, Tuhan. Oh, Tuhan. Oh, Tuhan. Pria itu berjalan ke arahnya! Dia harus bagaimana sekarang? Apa yang harus dia ucapkan? Mengingat hal pertama yang harus dilakukannya setiap kali panik melanda, Kirana menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Tetapi itu pun tidak mampu memberinya rasa tenang. Dia masih panik.
__ADS_1
“Hello.” Terdengar suara bariton yang dalam menyapanya. Hanya mendengar dari suaranya saja, Kirana sudah meleleh. Dia mengangkat kepalanya dan melihat pria itu berdiri di depannya dengan senyuman ramah menghiasi wajahnya. Kini dia bisa melihat warna matanya dengan jelas, biru cerah. Dia begitu tampan dan bertubuh tinggi. Kirana tersenyum dengan gugup.
“Hello.” balas Kirana.
“Apakah kamu sendirian? Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Wanita secantik kamu tidak mungkin datang ke sini seorang diri. Tapi,” ucapnya ramah. Kirana tersenyum mendengar aksen Inggrisnya. Brian dan anak-anaknya kembali muncul dalam kepalanya. Tetapi suaranya terdengar jauh lebih seksi dari mereka bertiga.
“Sayangnya, dugaan kamu benar.” Kirana tertawa kecil. Memikirkan keponakannya membuatnya merasa sedikit relaks.
“Aku juga datang ke sini sendiri. Boleh aku bergabung denganmu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah kursi kosong di seberang Kirana. Kesempatan baik datang tanpa harus berusaha keras, tentu saja dia menyambutnya dengan tangan terbuka.
“Tentu saja. Silakan.” Kirana mempersilakannya. Suaranya kini sudah lebih normal, dia sudah tidak gugup lagi.
Malam itu seolah-olah dunia sedang berpihak kepadanya, seorang pria yang sempurna mendekatinya. Langkah pertama dari rencananya, centang. Dia tidak melihat ada cincin kawin di jemarinya, pastilah dia masih sendiri. Dia bersih, sudah bercukur, tampan dengan rambut pirang dan mata biru. Dia bisa menjadi ayah yang sempurna bagi anak masa depannya.
__ADS_1
Semoga saja pria ini bersedia tidur dengannya usai makan malam. Tetapi bagaimana caranya? Tiba-tiba saja semua trik dan cara yang sudah dia pelajari hilang dari kepalanya. Dia tidak harus melakukan apa. Apa yang lebih dahulu harus dia lakukan? Oke, tenang. Panik akan menghancurkan rencananya. Dia bisa melakukan ini atau membiarkan pria itu yang menuntun percakapan mereka.