
Ruangan itu gelap. Tidak ada tanda-tanda cahaya atau jendela. Dinding juga tidak terasa. Kosong. Setelah mundur beberapa langkah, apa yang dicari akhirnya ditemukan. Dinding. Dingin tetapi cukup kokoh untuk bersandar. Dengan tangan yang meraba-raba dinding tersebut, sakelar yang dicari pun ditemukan. Lampu dengan sinar yang menyilaukan menyala sehingga isi ruangan itu tampak jelas.
Miles nyaris muntah melihat cairan kental berwarna merah di atas lantai di hadapannya. Bau darah yang semula tidak diciumnya, kini menyengat indera penciumannya. Penglihatannya berputar-putar. Dia segera mencari kamar mandi. Di sana dia malah menemukan tubuh istrinya yang telah terbujur kaku. Dengan tangannya dia menutup mulut, untuk menahan dirinya agar tidak muntah.
Dia membisikkan sebuah nama yang selalu berhasil membuatnya tenang dan mengusir mimpi buruknya. Juliett.
Kedua matanya terbuka dan bergerak-gerak dengan liar. Napasnya memburu. Miles menyalakan lampu di atas meja kecil di sampingnya. Dia mendesah lega melihat dia berada di kamarnya. Semua itu hanya mimpi buruk. Dia menyentuh keningnya yang basah oleh keringat. Jam di atas nakas menunjukkan bahwa sekarang masih jam lima pagi. Tidak ingin mengalami mimpi buruk lagi, dia memaksa dirinya untuk berdiri dan masuk ke kamar mandi.
Dalam waktu tiga puluh menit, dia sudah berpakaian rapi. Puas melihat bayangannya di cermin, dia keluar dari ruang pakaian. Dia kembali masuk ke kamar mandi untuk mengambil jam tangannya yang ada di atas tangki toilet. Pandangannya kemudian terarah pada barisan produk wajah, tubuh, dan rambut yang ada di konter dekat wastafel. Benar juga! Mengapa dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya? Dia melihat ke arah cermin lalu tersenyum pada dirinya sendiri. Seminggu lebih mengalami mimpi buruk, akhirnya dia bisa tersenyum.
Ponsel di dalam genggamannya bergetar. Dia melihat nama yang ada pada layar. Keningnya berkerut. Dia menyentuh layar ponselnya lalu menyapa pria yang meneleponnya.
“Alastair, aku sebentar lagi selesai menangani keadaan darurat di rumah sakit. Bisa mampir sebelum ke kantor? Aku tidak akan ada di rumah sakit sampai nanti sore. Dan aku tahu jadwalmu pasti padat dengan persiapan pemakaman istrimu.” ucap dokter pribadinya.
“Apakah ini tentang hasil labku?” tanya Miles, penuh harap.
“Iya.” jawab Pranaja cepat. Miles menarik napas lega.
“Baik. Satu jam lagi aku tiba.” Miles menuruni tangga dan menyapa Wanda yang sedang berjalan melewatinya.
“Aku tunggu di ruanganku.” Pranaja mengakhiri hubungan telepon mereka.
__ADS_1
Sarapan untuknya telah tersedia di meja makan. Dengan lahap, dia menghabiskan tiga porsi panekuk dengan selai blueberry. Rasa selai itu mengingatkannya kepada Juliett. Sekali lagi dia tersenyum. Selesai sarapan, dia keluar dari rumah. Markus telah siap menunggu dengan mobilnya. Miles masuk ke dalam mobil, pria itu menutup pintu untuknya.
“Kita ke rumah sakit.” ucap Miles begitu Markus memasang sabuk pengamannya.
“Baik, Pak.” ucap pria itu menurut.
Esok hari adalah hari pemakaman istrinya. Keluarga almarhumah akan mulai berdatangan pada siang itu. Dia tidak ingin bertemu dengan mereka. Istri Charles akan memastikan mereka dilayani dengan baik. Dia akan lebih tenang bila tetap bekerja seperti biasanya. Namun sebelum ke kantornya, ada hal penting yang perlu diambilnya dari rumah sakit.
Sesuai dengan ucapannya di telepon, Pranaja telah menunggu di ruangannya. Seorang suster mengantarnya masuk ke dalam lalu meninggalkan mereka berdua saja di ruangan itu. Miles duduk di seberang dokter pribadinya. Meja kerja yang rapi berada di antara mereka. Pria itu sedang menatap serius ke arah kertas yang ada di hadapannya.
“Tidak perlu mencari kalimat yang tepat untuk menyampaikannya, Pranaja. Jujur lebih baik. Tidak ada yang akan membuatku terkejut lagi.” ucap Miles tidak sabar.
“Aku tahu.” Pranaja meletakkan kertas itu lalu tersenyum kepada Miles. “Tadi aku bertemu John yang baru saja menolong persalinan salah satu pasiennya. Dia membantuku membaca hasil lab ini.”
“Baiklah.” Pranaja menarik napas. “Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Al. Kamu punya benih yang sehat. Begitu juga dengan organ reproduksimu yang lain.”
“Tidak mungkin.” ucap Miles pelan. Dia mengerutkan keningnya tidak percaya.
“Ini hasil laboratoriumnya. Kamu bisa konsultasikan dengan dokter lain untuk opini kedua.” Pranaja memberinya saran. Miles semakin mengerutkan keningnya sambil menerima kertas tersebut.
“Dua puluh tahun, Pranaja. Dua puluh tahun aku telah mencobanya dengan Angelica. Bagaimana mungkin kami tidak bisa juga memiliki anak?”
__ADS_1
“Maka besar kemungkinan masalahnya ada pada istrimu. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Istrimu telah meninggal.” Pranaja memasukkan hasil pemindaian tubuh bagian dalam Miles dan seluruh hasil pemeriksaan lab ke dalam amplop besar lalu memberikannya kepadanya.
“Keluarga istriku tidak akan setuju bila dilakukan pemeriksaan lagi.” Miles menerima amplop besar tersebut tanpa semangat sama sekali.
“Setidaknya kamu mendapatkan jawaban atas misteri dalam masalah pernikahan kalian. Bukan kamu masalahnya. Kalau kamu masih tertarik memiliki keturunan, kamu bisa menikah dengan wanita lain dan mencobanya lagi.” ucap pria itu mencoba menghiburnya.
“Lalu mengalami proses yang sama lagi? Tidak, Pranaja. Cukup sudah selama dua puluh tahun aku menghadapi neraka itu. Tidak lagi.” Miles menggelengkan kepalanya.
“Semua terserah kepadamu, Al. Aku juga tidak ingin menerimamu di ruanganku hanya untuk merawat memar dan luka kecilmu.” canda Pranaja. Miles tertawa kecil.
“Terima kasih, Pranaja. Aku harus pergi sekarang.” Miles berdiri lalu mengulurkan tangannya.
“Jaga kesehatanmu.” Pranaja menjabat tangan Miles dan mereka saling tersenyum. “Dan izinkan aku mengatakan hal ini. Setelah neraka yang kamu alami bersama Angelica, kamu berhak untuk hidup bahagia.”
Terjawab sudah salah satu pertanyaannya selama ini. Dia tidak mandul. Dia sehat. Dia bisa memiliki anak bila dia mau. Tetapi sulit untuk menerima kenyataan itu setelah bertahun-tahun percaya dialah sumber masalah dalam pernikahan mereka. Pranaja tidak akan sembarangan memberitahu hasil lab itu kepadanya. Apalagi dia sudah konsultasi juga dengan dokter ahli kandungan. Dia pasti mengatakan keadaan yang sebenarnya kepadanya.
Miles melihat amplop yang ada di tangannya. Dia mendekati mesin pemindai di dekat meja kerjanya. Hasil lab tersebut dipindai lalu dikirimkannya kepada Reynand melalui surel. Dia memintanya untuk mencari tahu arti dari semua istilah pada kertas tersebut. Balasannya datang satu jam kemudian. Penjelasannya singkat dan padat. Tepat seperti ucapan Pranaja. Dia memiliki benih yang sehat dan organ reproduksinya berfungsi dengan baik.
“Reynand, kamu perlu mempertimbangkan menjadi seorang dokter. Dari surelmu, kamu terdengar sangat ahli sekali dengan bidang tersebut.” ketik Miles di surelnya untuk kepala bagian IT tersebut. Reynand hanya membalasnya dengan mengirim gambar seorang pria yang sedang cemberut. Miles tertawa kecil. Pria itu memang lucu.
Ada yang tidak bisa dipahaminya di sini. Bila benar dia tidak mandul, mengapa dia dan istrinya tidak juga bisa mempunyai anak? Dua puluh tahun mereka tidak pernah menggunakan pelindung ketika berhubungan intim. Angelica juga tidak minum pil. Lalu di mana letak kesalahan mereka? Dia yakin bahwa mereka telah melakukan segalanya dengan benar.
__ADS_1
Juliett. Mereka juga tidak menggunakan pelindung saat berhubungan intim. Tiga hari bersama, mereka berhubungan intim berulang kali hingga dia berhenti menghitungnya. Bagaimana dengan wanita itu saat ini? Apakah dia juga tidak mengalami dampak dari hasil hubungan mereka? Tetapi, bagaimana caranya dia mencari tahu? Dia tidak punya nomor telepon, alamat surel, atau informasi apa pun tentangnya. Wanita itu tidak mengizinkannya untuk mengenalnya lebih lanjut.